"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"
Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.
"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"
baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Belum sempat Rama menjawab pertanyaan Rava, ponsel di atas meja bergetar keras. Nama “Mama” terpampang di layar. Rava menarik napas, wajahnya langsung berubah malas.
“Papa, bentar ya,” katanya lirih sebelum menekan tombol hijau. “Halo, Ma.”
Suara Lani di seberang terdengar nyaring dan cerewet seperti biasa. “Rava, kamu di mana? Kenapa dari tadi Mama telepon nggak diangkat? Kamu tau nggak, banyak yang harus dibahas soal pernikahan kamu!”
Rava memejamkan mata sebentar, berusaha menahan nada suaranya tetap sopan. “Aku lagi sama Papa sekarang, Ma.”
Suasana di meja langsung berubah hening. “Sama… Rama?” nada suara Lani langsung berubah tegang. “Kasih Mama bicara sama dia.”
Rava menatap ayahnya ragu. Rama hanya mengangguk tenang. “Kasih aja.”
Rava menyerahkan ponsel itu. “Mama mau bicara, Pah.”
Rama mengambilnya perlahan. “Halo, Lani.”
Suara di seberang langsung menusuk telinga. “Rama! Kamu udah dengar kan? Minggu depan dia nikah sama Cantika. Kamu harus datang, dan kamu harus duduk di panggung pelaminan sebagai orang tua! Dia anakmu, darah dagingmu, jadi kita harus duduk berdampingan bersama nanti. Kamu paham kan, Ram?”
Nada bicara Lani seperti tak memberi ruang untuk bantahan.
Rama tetap tenang. “Lani, aku menghargai undangan itu. Tapi aku rasa tidak pantas kalau aku mendampingi kamu di panggung. Kamu sudah punya suami, dan aku juga… sudah menikah.”
Keheningan panjang menyusul di seberang. Lalu suara Lani meninggi, nyaris melengking. “Apa?! Kamu sudah menikah?”
“Iya,” jawab Rama datar, menatap keluar jendela kafe yang diterpa cahaya siang mentari.
“Kapan, Rama? Sejak kapan kamu menikah? Kamu pasti enggak ngomongin ini sama Rava kan? Kenapa kamu kasih tahu aku?!” seru Lani. “Kamu pikir kamu bisa sembarangan nikah gitu aja? aku berhak tau, Rava berhak tahu!”
Rama menarik napas pelan. “Lucu ya, Lani. Waktu kamu dan Rava kabur gitu aja dari pernikahan di rumah pak Haris, apa kamu sempat diskusi dulu sama aku? Apa kamu tanya pendapatku dulu? Kalian sama sekali tidak menganggapku. Dan sekarang kamu menuntut hak?”
Hening kembali. Lani terdiam, kehabisan kata.
Rama melanjutkan dengan nada tegas tapi tenang. “Kita sama-sama pernah membuat keputusan sepihak, Lani. Bedanya, kalian keputusan kalian mencurangi pihak lain. Tapi, aku... Keputusan ku kali ini, aku nggak pernah menyesalinya..”
Ia lalu menutup percakapan itu dengan kalimat singkat, “Aku rasa cukup, Lani. Sampai jumpa di acara nanti,” dan menekan tombol merah.
Rama menyerahkan kembali ponsel itu pada Rava. “Sudah, ya. Papa harus balik ke kantor.”
Rava hanya mengangguk pelan, menatap punggung ayahnya yang pergi dengan langkah mantap. Di matanya ada campuran bingung dan kagum—Papa-nya yang dulu pendiam kini tampak begitu tenang menghadapi badai.
***
Di rumah, Lani duduk di ruang tamu dengan wajah merah padam. Rava baru pulang, baru sempat menaruh tas ketika suara ibunya langsung meledak.
“Jadi Papa kamu beneran sudah nikah, Va?”
Rava mengangguk pelan. “Kayaknya sih gitu, Ma. Papa bilang sendiri.”
Lani memukul meja. “Nggak masuk akal! Rama itu pasti cuma iseng! Dia itu… dia itu masih cinta sama Mama!”
Rava tertegun. “Ma…”
Tapi Lani terus berbicara dengan nada penuh emosi. Dalam hati, ia merasa dikhianati. Selama ini, ia yakin Rama tak akan menikah lagi—mengira pria itu masih menyimpan cinta lama. Ia menyesali keputusannya dulu meninggalkan Rama demi kenyamanan semu.
“Kalau dia nikah lagi, nanti gimana kamu? Kalau istri barunya jahat? Kalau dia rebut hak waris kamu? Dia itu apa enggak mikir sampai sejauh itu?” Suara Lani gemetar. “Mama nggak akan tinggal diam! Mama harus ketemu sama istri Rama dan negasin posisi kamu sebagai anak Rama yang sah!”
“Ma, tolong, jangan lebay. Papa orangnya nggak kayak gitu,” sahut Rava lelah.
Tapi Lani hanya mendengus dan melangkah ke kamar dengan wajah muram, menyisakan Rava yang termenung di ruang tamu. Ia sendiri tak tahu siapa istri baru Rama. Penasaran mulai tumbuh di hatinya, tapi lebih dari itu—ia takut melihat ibunya tenggelam lagi dalam rasa cemburu yang belum usai.
***
Sementara itu, di rumah lain, Citra sedang menatap layar laptop di meja belajarnya. Di layar tertera nama beberapa universitas. Ia menggigit ujung pensil, mencoba menimbang pilihan. Rama memang sering mendorongnya untuk lanjut kuliah. “Saya yang tanggung semua biayanya,” katanya waktu itu.
Ponselnya tiba-tiba berdering. Nama “Bunda Maya” muncul di layar. Citra tersenyum lebar dan langsung mengangkat. “Halo, Bun!”
Suara Maya terdengar ceria. “Citra, apa kabar? Kamu sehat kan di sana? Suami kamu baik?”
“Baik banget, Bun. pak Rama malah suruh aku lanjut kuliah. Lagi cari kampus nih,” jawab Citra antusias.
Maya tertawa lembut. “Wah, Suami kamu memang luar biasa. Eh, Bunda mau cerita juga. Kamu tau Cantika kan?”
“Kenapa sama Cantika, Bun?”
“Nah, katanya minggu depan mau nikah.”
Citra terperangah. “Hah? Nikah? sama siapa?”
“Iya, Bunda juga heran. Katanya sama anak orang kaya, tapi nggak ada yang tahu siapa.” Maya menghela napas. “Dunia memang aneh, ya. Orang bisa nikah tiba-tiba gitu aja.”
Citra hanya tersenyum tipis. “Iya, Bun. Aku juga penasaran siapa calon suaminya.”
“Ya udah, nanti kalau tahu, kabari Bunda ya,” ucap Maya sebelum menutup telepon dengan pesan hangat.
***
Sore menjelang malam, restoran kecil di pusat kota tampak tenang dengan cahaya lampu temaram. Rama dan Citra duduk berhadapan, menikmati suasana santai setelah hari yang panjang.
“Pak Rama, makasih ya udah ajak makan di luar. Citra senang banget bisa jalan-jalan terus makan diluar kayak gini,” ucap Citra sambil tersenyum manis.
Rama menatapnya lembut. “Saya juga, Cit. Saya senang lihat kamu bahagia.”
Sambil menunggu makanan datang, Citra bercerita ringan. “Oh iya, tadi Bunda nelpon. Katanya Cantika, sepupu aku itu, mau nikah minggu depan. Bunda aja kaget.”
Rama mengangkat alis sebentar, lalu tersenyum kecil. “Iya, saya juga dengar kabarnya.” Ia merogoh saku jas dan mengeluarkan sebuah undangan yang dilipat rapi. “Malah saya dikasih ini tadi.”
Citra menerima amplop itu dengan penasaran. Begitu dibuka, matanya membulat. Warna wajahnya memucat perlahan.
“Pak…” suaranya tercekat. “Ini… ini beneran?”
meninggal Juni 2012
😭😭