Arka Fadhlan, seorang pakar kriptografi, menemukan potongan manuskrip kuno yang disebut Vyonich, teks misterius yang diyakini berasal dari peradaban yang telah lama menghilang. Berbagai pihak mulai memburunya—dari akademisi yang ingin mengungkap sejarah hingga organisasi rahasia yang percaya bahwa manuskrip itu menyimpan rahasia luar biasa.
Saat Arka mulai memecahkan kode dalam manuskrip, ia menemukan pola yang mengarah ke lokasi tersembunyi di berbagai penjuru dunia. Dibantu oleh Kiara, seorang arkeolog eksentrik, mereka memulai perjalanan berbahaya melintasi reruntuhan kuno dan menghadapi bahaya tak terduga.
Namun, semakin dalam mereka menggali, semakin banyak rahasia yang terungkap—termasuk kebenaran mengejutkan tentang asal-usul manusia dan kemungkinan adanya kekuatan yang telah lama terlupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Rifa'i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ERA BARU
Sisa-sisa Menara Orbis kini hanya berupa reruntuhan. Kristal biru yang sebelumnya menjadi sumber kekuatannya telah hancur, dan langit yang semula tertutup kilatan energi kini terlihat jernih.
Arka, Kiara, dan Ezra duduk di antara puing-puing, masih merasakan getaran dari pertarungan terakhir mereka. Tubuh mereka dipenuhi luka, napas tersengal, tapi mereka masih hidup.
Kiara menatap ke sekeliling. "Semua sudah berakhir... kan?"
Ezra mendesah panjang. "Aku harap begitu."
Arka diam, matanya menatap langit. Aldrich telah lenyap bersama inti Orbis. Tapi benarkah ini akhir dari segalanya?
Di kejauhan, mereka melihat Eldrin dan Dr. Helena berlari ke arah mereka.
"Arka! Kiara! Ezra!" Dr. Helena berteriak, wajahnya dipenuhi kelegaan saat melihat mereka masih hidup.
Eldrin menghampiri, matanya menatap reruntuhan menara dengan ekspresi tak percaya. "Jadi… kalian benar-benar menghancurkannya?"
Arka mengangguk. "Kami tidak punya pilihan lain."
Dr. Helena berlutut di samping Kiara dan Ezra, memeriksa luka mereka. "Aku masih tidak percaya kalian bisa melakukannya. Ini… ini mengubah segalanya."
Eldrin menatap Arka. "Tapi pertanyaannya, apakah dunia siap menghadapi perubahan ini?"
DUNIA TANPA ORBIS
Beberapa hari setelah kejadian itu, mereka kembali ke markas tersembunyi di pegunungan.
Tanpa inti Orbis, Ordo Lux Veritatis kehilangan kekuatan mereka. Para pengikutnya tercerai-berai, dan dunia mulai bangkit dari ketakutan yang selama ini membelenggu.
Namun, efek dari kehancuran Orbis lebih besar dari yang mereka duga.
Beberapa kota yang sebelumnya bergantung pada energi Orbis kini mengalami kekacauan. Teknologi yang berasal dari kristal Orbis tidak lagi berfungsi, membuat banyak peradaban modern harus beradaptasi kembali.
Di berbagai belahan dunia, ada orang-orang yang masih percaya bahwa kekuatan Orbis harus dikembalikan.
Dan di antaranya, ada mereka yang menganggap Arka dan timnya sebagai musuh.
PERTANYAAN YANG BELUM TERJAWAB
Di dalam markas, Arka berdiri di depan meja, menatap peta dunia yang penuh dengan catatan baru.
Kiara masuk dan bersandar di dinding. "Kau kelihatan gelisah."
Arka menghela napas. "Aku hanya merasa... sesuatu masih belum selesai."
Kiara melipat tangan. "Aldrich sudah lenyap. Orbis hancur. Apa lagi yang masih kau khawatirkan?"
Arka menatapnya. "Saat inti Orbis meledak… aku merasakan sesuatu. Seolah ada bagian dari energinya yang tidak hancur."
Kiara mengerutkan kening. "Maksudmu, ada sesuatu yang masih tersisa?"
Sebelum Arka sempat menjawab, Ezra masuk dengan ekspresi serius.
"Kalian harus melihat ini."
PESAN TERAKHIR
Di ruang utama, Dr. Helena telah mengaktifkan salah satu perangkat lama yang mereka temukan di reruntuhan menara.
Di layar holografik, muncul rekaman terakhir dari inti Orbis sebelum hancur.
Sebuah suara terdengar. bukan Aldrich, bukan siapapun yang mereka kenal.
"Kalian telah menghancurkan satu bagian dari kebenaran. Tapi inti sejati Orbis… masih tersembunyi."
Gambar di layar berubah, menampilkan sebuah lokasi misterius, sebuah tempat yang tidak ada di peta mana pun.
Arka menatap layar itu dengan ekspresi tegang.
"Jadi… ini belum berakhir."
Kiara dan Ezra saling pandang.
Dr. Helena menghela napas. "Jika ini benar… maka kita baru saja membuka pintu ke sesuatu yang lebih besar."
Eldrin menatap mereka dengan mata tajam. "Pertanyaannya sekarang adalah… apakah kalian siap untuk perjalanan berikutnya?"
Arka mengepalkan tangannya.
Perjuangan mereka belum selesai.
Dan dunia baru saja memasuki babak berikutnya.
BAYANGAN ORBIS
Ruangan terasa sunyi setelah pesan misterius itu selesai diputar. Arka, Kiara, Ezra, Dr. Helena, dan Eldrin berdiri mengelilingi layar holografik, masing-masing tenggelam dalam pikirannya.
"Kalian telah menghancurkan satu bagian dari kebenaran. Tapi inti sejati Orbis… masih tersembunyi."
Kata-kata itu terus terngiang di benak Arka.
Kiara akhirnya memecah keheningan. "Jadi… Orbis yang kita hancurkan bukanlah yang sebenarnya?"
Dr. Helena mengusap dagunya. "Bisa jadi. Atau mungkin hanya sebagian dari kekuatannya."
Ezra menyilangkan tangan. "Lalu tempat di rekaman itu… ada yang mengenalinya?"
Mereka semua menatap layar, di mana lokasi misterius itu terpampang jelas—sebuah dataran luas dengan struktur batu menjulang, diterangi oleh cahaya redup yang tampak tidak berasal dari matahari.
Arka menyipitkan mata. Ada sesuatu yang familiar tentang tempat itu, tapi dia tidak bisa mengingatnya dengan pasti.
Eldrin menghela napas panjang. "Aku tahu tempat itu."
Semua mata beralih kepadanya.
"Itu adalah Kuil Luthadel."
LEGENDA LUTHADEL
Eldrin menyalakan peta holografik lain, memperbesar wilayah di bagian selatan benua.
"Kuil Luthadel adalah salah satu situs kuno yang jarang diketahui. Menurut legenda, tempat itu dulunya digunakan oleh para penjaga Orbis sebelum kejatuhan peradaban mereka. Konon, di sana tersimpan rahasia terbesar tentang asal-usul kristal itu."
Arka mendekati peta. "Kenapa kita tidak pernah mendengar tentang tempat ini sebelumnya?"
Dr. Helena menjelaskan, "Karena Luthadel tersembunyi di dalam medan anomali. Setiap orang yang mencoba menemukannya… tidak pernah kembali."
Ezra mengangkat alis. "Kedengarannya seperti tempat yang menyenangkan."
Kiara menatap layar. "Kalau memang masih ada sesuatu yang tersisa dari Orbis di sana, kita harus pergi ke sana sebelum pihak lain menemukannya lebih dulu."
Arka mengangguk. "Aldrich mungkin sudah lenyap, tapi jika ada orang lain yang menemukan kekuatan Orbis sebelum kita… dunia bisa menghadapi ancaman yang lebih besar lagi."
Eldrin menatap mereka dengan serius. "Perjalanan ke Luthadel tidak akan mudah. Tempat itu berada di tengah wilayah yang penuh badai energi, dan tidak ada jalur yang aman."
Dr. Helena menyela, "Belum lagi, setelah kehancuran Menara Orbis, banyak pihak pasti tertarik untuk mencari sisa-sisanya. Kita mungkin akan menghadapi lebih banyak musuh dalam perjalanan ini."
Ezra tersenyum kecil. "Bukankah kita sudah terbiasa menghadapi hal seperti itu?"
Arka mengepalkan tinjunya. "Kita tidak bisa mundur sekarang. Jika ini adalah kunci untuk mengakhiri semua ini, maka kita harus pergi ke Luthadel."
Kiara tersenyum tipis. "Aku harap kita tidak akan menyesal."
Eldrin mengangguk. "Baiklah. Aku akan mulai menyiapkan perlengkapan dan mencari jalur terbaik."
Dr. Helena menambahkan, "Aku akan mengumpulkan semua data yang bisa kita temukan tentang tempat itu. Kita tidak bisa masuk ke sana tanpa persiapan yang matang."
Arka menatap peta holografik sekali lagi.
Petualangan mereka belum selesai.
Dan di depan mereka, bayangan Orbis masih menanti.