Demi menjalankan misinya mencari tahu mengenai pelaku pembantaian massal keluarga Anthony, dengan rela Tuan Vigor menikahkan putri tunggalnya dengan seorang mafia yang merupakan putra sahabatnya untuk melancarkan misinya dan mendapatkan harta yang ia inginkan. namun lain halnya dengan si mafia, yang mempunyai tujuan lain dengan adanya ia masuk kedalam keluarga elit itu untuk bisa menguasai dan mengendalikan keluarga itu lewat Calon istrinya yang saat ini mendapat julukan Bloody Queen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionnaclareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencapaian terhebat
Akhirnya setelah sekian lama Yoona bisa bernafas lega, setelah berhasil melarikan diri dari pantauan Leo, Yoona memanfaatkan waktunya itu untuk pergi ke suatu tempat yang bisa mengeluarkan semua keringat tubuhnya, dan kini disinilah ia berada sekarang di sebuah tempat yang begitu cocok dengan outfitnya sekarang, tempat yang dipenuhi dengan berbagai macam alat olahraga yang bisa ia gunakan untuk mengisi waktu kosong nya.
"Akhirnya aku bisa bernafas lega sekarang, ayo kita lihat apa yang bisa kita lakukan disini." Ucapnya sembari meregang kan jari jemari nya.
Yoona mulai pemanasan dengan cara berlari kecil diatas treadmill, setelah beberapa menit kemudian dia perlahan mempercepat laju treadmill itu.
Beberapa jam kemudian setelah puas berolahraga dengan Treadmill dan sepeda statis, Yoona pun mulai menghampiri pull up bar dengan tujuan sebagai alat olahraga terakhir nya disana.
"Ahh sial, aku lupa kalau alat ini terlalu tinggi, seandainya Laurent disini, aku bisa meminta bantuannya." Ucapnya sebab biasanya yang sering gym dengan nya hanyalah Laurent.
Yoona yang pasrah menyerah oleh keadaan itupun akhirnya mengurungkan niatnya dan berniat untuk mengakhiri kegiatan, namun saat ia hendak pergi tiba tiba saja sebuah lengan melingkar di pinggang rampingnya dan dengan begitu entengnya langsung mengangkat tubuh kecil Yoona hingga menggapai besi.
"Dari dulu sampai sekarang permasalahan mu hanya ada di tinggi badan mu Yoona." Ucapnya yang sontak membuat Yoona menatap ke arah sumber suara itu.
"Luan,,," serunya yang langsung turun dari genggaman besinya saat melihat pria yang begitu tidak asing baginya.
"Apa yang kau lakukan disini, kau sedang membuntuti ku?"
Luan menggeleng tipis sembari melihat ke sekeliling nya. "Tempat ini tempat umum bukan, siapapun bisa datang kemari termasuk diriku, lagi pula tempat ini tempat paling dekat dengan apartemen ku." Timpal nya tanpa memperhatikan raut wajah Yoona yang terlihat tidak mengenakan untuknya.
Yoona tertawa tipis "apartemen mu?"
"Kau sepertinya tidak suka melihat ku disini" tebak Luan saat melihat respon Yoona yang terlihat meremehkan dirinya.
"Apa aku pernah mengharapkan mu muncul di depanku? Tidak pernah bukan."
Luan menghela nafas panjang sembari menatap wanita yang saat ini ada di depannya itu. "Jujur aku benar benar tidak tahu apa alasanmu sampai membenci ku seperti ini Yoona,"
"Aku juga tidak tahu bagaimana nasibku jika aku tidak membencimu, bukankah akan lebih mengerikan dari pada ini."
"Hal yang paling ku syukuri adalah aku bisa membencimu Luan, itu adalah pencapaian terhebat ku, aku bangga dengan diriku sendiri." Lanjutnya yang langsung pergi meninggalkan Luan begitu saja.
Luan terdiam mendengar kalimat yang tidak pernah ia dengar di seumur hidupnya, pikirannya dibuat bingung dengan ucapan Yoona yang seakan akan ia telah membuat satu kesalahan yang begitu fatal.
Namun hal itu tidak membuatnya mundur dan membiarkan Yoona pergi, Sebelum gadis itu pergi Luan langsung meraih pinggang ramping Yoona dengan tangan kirinya hingga membuat gadis itu membelalakkan matanya menatap ke arah pria yang membuat tubuhnya bersentuhan dengannya.
"Luan,,,,apa yang kau lakukan,,,," protes Yoona sembari berusaha untuk lepas dari pelukan tangan kirinya. Hal itu membuat Luan langsung meraih batang besi pul up bar dan dengan perlahan mulai menarik dan mengangkat tubuhnya begitu juga dengan yoona dengan hanya menggunakan satu tangan.
"Yyakk, yyakk Luan, apa yang kau lakukan, turunkan aku." Yoona yang terkejut saat kakinya sudah tidak menapak di lantai.
Luan semakin mempererat dekapannya. "Yoona lihat aku,,,," ucapnya dan sontak membuat gadis itu menatap ke arah dua bola mata yang sedari tadi terus menatapnya.
"Kau masih mencintaiku bukan?" Satu kalimat tanya yang tiba tiba terucap hingga membuat gadis itu terdiam menatapnya.
"Dari diam mu aku tahu, dari seribu kata benci mu untukku, masi ada 1 kata cinta untukku." Lanjutnya.
"Turunkan aku Luan,,,,"
"Aku tidak akan menurunkan mu, sebelum kau jawab pertanyaan sederhana ku Yoona."
Yoona tertawa tipis "kau bertanya tentang bagaimana isi hatiku bukan? Jangankan cinta, rasa percaya dan kasihku saja tidak ada di dalam hatiku Luan, lalu bagaimana aku bisa menyimpan satu rasa untuk satu orang." Jawabnya.
"Sekarang lepaskan aku, atau aku lepas paksa disini." Lanjutnya yang terus memberontak hingga membuat Luan lengah dan sontak melepas pelukannya itu dan membuat gadis itu jatuh begitu saja.
"Yoona!!!" Teriaknya saat melihat gadis nya itu lepas dari pelukan nya, namun sebelum tubuh gadis itu menyentuh lantai seseorang tiba tiba berlari dan menangkap tubuh kecil itu tepat di atas gendongan nya.
Luan menghela nafas lega sembari turun dari cengkeraman besinya, sementara Yoona yang mencium aroma parfum yang tidak asing baginya langsung menatap ke arah pria yang saat ini sedang membopong nya.
"Lihatlah, apa ku bilang, kau hampir mendapatkan karmamu, jika kau benar terjatuh pasti kali ini pinggangmu yang patah."
"Leo,,,"
"Dimana jaket mu Eoh,,,sudah ku bilang gunakan pakaian mu sampai pulang, dan tadi aku juga sudah bilang jangan pergi terlalu jauh dari kantor." Lanjutnya saat melihat istrinya yang tadinya memakai jaket Hoodie sekarang hanya memakai tank top hitam.
"Untuk apa aku tetap disana, tidak ada yang bisa ku lakukan selain melihat mu dengan sekretaris cantikmu itu." Cetusnya.
"Kau cemburu? Makanya kau pergi dan melampiaskan nya disini dengan mantan pacarmu"
"Cemburu? Cih untuk apa aku cemburu pada pria seperti mu, membuang buang waktuku, sekarang cepat turunkan aku."
Leo menatap Luan "dan kau, dia saja tidak pernah menganggap ku yang sudah menjadi suaminya, apa lagi kau yang sudah lenyap dari kehidupannya."
"Luan, nasib kita itu sama, jadi saranku jangan mencoba mencari penyakit yang bisa menghancurkan hidupmu, apa kau ingin mati suri untuk yang ke tiga kalinya?" Lanjutnya.
" Benarkah, apa kau mau taruhan kira kira siapa yang akan mendapatkan hatinya terlebih dulu" sahut Luan sembari melipat kedua tangannya.
"Kau ingin mendapatkan hatinya, silakan saja, lagi pula aku tidak sedang mengincar hatinya, siapapun pemilik hatinya dia tetaplah milikku." Ucapnya langsung pergi begitu saja sembari membopong tubuh kecil Yoona keluar dari dalam tempat itu.
Sementara itu Luan masih terdiam di tempatnya sembari menatap kepergian mereka berdua.
Leo menggendong tubuh istrinya itu hingga masuk ke dalam mobil miliknya. "Darimana kau tahu aku disini?" Tanya Yoona sebab dari awal ia tidak pernah memberitahu pria itu kemana ia akan pergi.
"Apa itu penting? Apa aku tidak boleh mengetahui dimana kau berada?" Sahutnya.
Leo memakai sabuk pengaman nya dan bersiap untuk melajukan mobilnya. "Kau ingin kemana lagi sekarang, jangan bilang kau ingin membawaku ke kantor lagi"
"Diam lah, nanti kau juga akan tahu." Jawabnya singkat yang langsung melajukan mobilnya begitu saja pergi dari tempat itu.
Mobil hitam itu melaju begitu cepat melewati jalanan yang begitu ramainya menuju ke suatu tempat yang arahnya tidak asing lagi yoona.
Drtttt, Drttt
Suara getar handphone terdengar begitu jelas di antara mereka, hingga membuat pemilik handphone itupun langsung mengangkat panggilan yang baru saja masuk itu.
[Bagaimana Luca?]
[Saya sudah memesan, dan berhasil membuat janji tuan, saya akan segera mengirim lokasi tempatnya.]
[Diluar dugaan ku, baguslah kalau begitu, kirimkan segera padaku dan iya jangan lupa dengan lokasi vila yang kau maksud.]
[Tentu saja Tuan.] Jawab Luca singkat yang membuat Leo langsung mematikan handphone nya itu secara sepihak.
Sementara Yoona yang mendengar percakapan itu hanya diam meskipun ia begitu ingin tahu apa yang sebenarnya mereka maksud itu.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama karena macet akhirnya mobil Leo pun berhenti di tempat tujuannya, mobil itu berhenti di sebuah mall besar yang letaknya begitu jauh dari pusat kota.
"Jika hanya pergi ke mall, tidak perlu jauh jauh kemari, di kota juga ada mall besar , kenapa kau malah memilih disini?"
"Ada seseorang yang ingin ku temui, ayo turun, aku juga ingin membelikan mu beberapa barang disini." Ucapnya yang langsung turun dari dalam mobil itu.
Pasangan itupun akhirnya melangkah kan kedua kakinya masuk kedalam tempat yang saat ini sedang sepi sepinya, sangking sepinya tidak ada satupun orang di tempat itu kecuali mereka berdua.
"Aneh sekali, tempat sebesar ini kenapa bisa sesepi ini." Gumam Yoona sembari sesekali melihat ke sekeliling tempat itu.
"Karena aku sudah menyewa seluruh tempat ini untuk beberapa jam kedepan."
"Apa? Kau menyewanya?" Ucap Yoona yang tidak habis pikir dengan maksud Leo, sementara Leo mulai melepas jas miliknya dan memakaikan nya pada Yoona yang saat ini masih memakai tank top hitam nya dengan celana training nya.
"Ayo, waktuku tidak lama disini." Ucap Leo sembari berjalan mendahuluinya menuju ke suatu tempat.
"Tunggu tunggu, aku masih heran, kenapa kau tiba tiba membawaku kemari uhh? Sampai harus menyewa satu mall seperti ini."
Leo menghela nafas sembari memalingkan wajahnya menatap gadis yang ada di belakang nya." Kau suka menghabiskan uang bukan, dan aku kemari ingin mengajakmu menghabiskan uangku." Jawabnya lalu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Yoona.
"Apa? Yyakk tunggu,,astaga orang itu benar benar." Protes nya yang langsung berjalan menyusul langkah panjang Leo.
Leo masuk ke salah satu butik yang berada di lantai 3. "Selamat datang Tuan, senang bertemu dengan tuan lagi." Sapa seorang manajer butik tersebut.
"Kau sudah menyiapkan baju yang ku inginkan bukan?"
"Tentu saja sudah tuan," menunjukan isi tab nya. "Ini 20 desain baju yang terbaik yang ada di sini, dan kita sudah memproduksi 5 dari 20 baju ini." Ucapnya.
"Akan ku ambil semua, dan berikan ini agar dia bisa memakainya."
"Apa? Tunggu tunggu, jadi maksudmu aku harus memakai dan membeli baju pilihan mu? Ku kira kau mengajakku agar aku bisa memilih sesuka hatiku." Protes Yoona saat menyadari maksud dari Suaminya itu.
"Itu benar, jangan khawatir harga per biji baju ini lebih dari 50 juta, jadi kau tidak perlu memakai pakaian murah." Jawabnya.
"Bukan itu maksudku, aku akan memakai pakaian pilihanku mengerti, lagi pula bagaimana bisa kau mengetahui ukuran tubuhku tanpa harus mengukur nya terlebih dahulu."
"bukankah sudah ku katakan dengan sekali sentuh aku sudah bisa hafal ukuran tubuhmu sayang, sudah turuti saja kemauanku dan pakai pakaian yang Ku pilih untukmu."
"Kenapa aku yang harus menurut pada mu? Aku bilang tidak ya tidak." Ucapnya.
"Sebab aku ingin memperkenalkan mu dengan klienku, sebentar lagi tidak mungkin kau akan berpakaian seperti ini Yoona."
"Tidak masalah, aku bisa pilih bajuku sendiri."
"Tidak tidak, sudah pergi dan ganti bajumu itu," Leo menatap ke arah karyawan disana "bawa dia ke ruang ganti."
"Mari Noona." Pinta nya sembari menggandeng tangan Yoona.
"Apa Tunggu tunggu, kau tidak bisa memaksaku Leo!!!" Protesnya sembari berjalan menjauh dari pria itu dengan di ikuti dia karyawan Di belakang nya.
Melihat hal itu Leo hanya menggeleng tipis karena tingkah istrinya yang mungkin saja akan mempermalukan dirinya. Leo berjalan melihat dan mengitari butik itu dan duduk di sebuah sofa yang berada di sudut ruangan.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Yoona mau tidak mau harus mengenakan pakaian yang Leo pilihkan untuknya, meskipun ia harus berdebat dengan karyawan dan suaminya itu, namun pada akhirnya dia pasrah dengan nasibnya saat ini.
"Yyakk, sebenarnya kau mau membawaku kemana Eoh? Ke kebun binatang? Atau ke taman safari!!" Protesnya saat keluar dan menghampiri Leo yang sedang asik membaca majalah di tangannya.
Mendengar ocehan itu membuat pandangan Leo terarah ke gadis yang saat ini memakai dress berwarna merah jambu di atas lutut bermotif bunga mawar dan dilengkapi dua pita kecil yang menempel tepat di tulang selangka nya.
"Katakan padaku, kau ingin membawaku kemana Eoh, kau ingin memalukan diriku dengan berpakaian seperti ini" protesnya lagi sementara Leo masih tidak bergeming dia benar bener terpana melihat penampilan baru istrinya itu.
"Benar benar sangat manis,,," gumamnya sembari tersenyum tipis menatap Yoona sehingga membuat gadis itu terdiam.
Yoona menghela nafas panjang "aku tidak mau memakainya, aku akan. Ganti dengan bajuku sebelumnya." Lanjutnya yang langsung berpaling dari pandangan Leo dan bermaksud untuk masuk kembali ke ruang ganti.
"Siapa yang menyuruhmu pergi, ayo, aku tidak punya banyak waktu disini." Sahut Leo yang langsung meraih tangan Yoona dan membawanya keluar dari tempatnya itu.
Leo membawa gadis itu turun kembali ke lantai bawah seakan akan ia ingin pergi menemui seseorang. Langkah kaki mereka terus beriringan melintasi luasnya mall yang saat ini memang kosong tidak berpenghuni itu.
Namun beberapa saat kemudian terlihat seorang laki laki yang sedang mengenakan sweater hitam dengan celana jeans-nya sedang berjalan seorang diri di depan mereka. Melihat hal itu membuat dia sudut bibir Leo naik. "Akhirnya ketemu juga." Gumamnya sembari menatap ke arah pria yang sedang berjalan menghampiri mereka berdua.
"Eohhh, Laurent!!!!" Panggil Yoona yang langsung berlari menghampiri pria yang ia kenal itu.