Sayangi aku.. Dua kata yang tidak bisa Aurora ucapkan selama ini.. Ia hanya memilih diam saat mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang- orang di sekitarnya bahkan keluarganya. Jika dulu dia selalu berfikir bahwa kedua orang tuanya itu sangat menyayangi dirinya karena mereka yang tidak pernah memarahi bahkan menuntut dirinya untuk melakukan apapun dan sangat berbanding terbalik dengan perlakuan ke dua orang tuanya pada kakak dan adiknya.. Tapi semakin dewasa Aurora menyadari bahwa selama ini ia salah.. Justru keluarganya itu sedang mengabaikan dirinya.. Keluarganya tidak peduli dengan apapun yang ia lakukan ...
INGAT !!! Ini hanya cerita fiksi dimana yang mungkin menjadi tidak mungkin dan yang tidak mungkin menjadi mungkin..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunFlower, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20
Happy Reading..
.
.
.
"Apa kita menikah saja sekarang?" Tanya Dika.
Mendengar pertanyaan dari Dika membuat Rora semakin mengeratkan pelukkannya.
"Kenapa diam?" Tanya Dika. Rora menggelengkan kepalanya.
"Ra.. " Panggil Dika setelah mereka berdua cukup lama terdiam. "Apa kamu sungguh- sungguh ingin agar aku menjauhi kamu? Apa kamu tidak ingin menikah dan hidup bersamaku? Atau kamu sungguh ingin aku bersama dengan Lyra. "
Rora menggelengkan kepalanya masih dalam pelukkan Dika. Ia semakin mengeratkan pelukkannya.
"Aku tidak tahu." Ucap Rora lirih.
"Dengar kan aku." Ucap Dika. "Melihat kamu menangis seperti ini membuat hatiku merasa sakit. Apalagi kamu menangis karena aku." Dika menjeda ucapannya. "Kalau kamu merasa bahagia tanpa aku.. Kalau memang kamu tidak mau dengan ku, aku akan pergi. Aku tidak akan mengganggumu lagi.. Sungguh. Tapi kamu harus berjanji bahwa kamu akan bahagia.." Ucap Dika tersenyum getir. "Aku akan benar- benar menyerah." Kedua mata Dika berkaca- kaca.
Rora yang semakin mengeratkan pelukkannya membuat air mata Dika berjatuhan. Dika takut bagaimana jika ia harus benar- benar berhenti. Ia takut bagaimana jika dirinya harus benar- benar menjauh dari Rora. Ia tidak akan pernah bisa baik- baik saja. Saat membayangkan Rora dengan yang lain hati Dika semakin sakit. Sakit sekali. Dika hanya ingin membuat Rora bahagia, tapi bagaimana jika ia bukan bahagianya Rora?
Rora semakin menyembunyikan wajahnya pada dada Dika yang membuat air mata Dika semakin berjatuhan, meskipun ia sudah mencoba untuk menahannya. Tapi Rora tahu orang yang sedang di pelukknya sekarang sedang menangis.
"Apa memang tidak bisa aku?" Tanya Dika di sela tangisannya. "Apa memang bahagiamu bukan dengan ku?"
Rora masih terdiam. Ia kembali teringat ucapan Elina.
"Bahagia itu sederhana. Selama kamu hidup degan orang yang menyayangi kamu." Ucap Elina sambil mengusap kepala Rora. "Biarkan kamu di ratukan olehnya. Biarkan dia menunjukkan rasa cintanya kepada kamu secara ugal- ugalan. Tapi kamu jangan.. Kamu jangan melakukan hal yang sama.. kamu cukup mencintainya saja tanpa harus menunjukkan rasa yang sama seperti yang ia berikan.. Karena wanita baik- baik itu pantas untuk di perjuangkan."
Rora hanya bisa membalas ucapan Elina dengan senyuman.
"Dengarkan tante. Di antara banyaknya hal yang terjadi pada hidupmu. Di antara banyaknya pilihan hidup yang kadang meragukan semoga selalu ada hal- hal baik yang selalu bisa menjadi pilihan terbaik untuk kamu. Tante berharap semoga terselip kebahagiaan untuk kamu."
"Ayo.. Ayo kita jalani bersama." Putus Rora. "Ayo kita bahagia bersama."
"Tuhan.. Aku ingin egois.. Aku tidak akan menyia- nyiakan laki- laki baik dan tulus seperti Dika.. Aku hanya ingin bahagia.. Aku ingin merasakan hidup dengan penuh kasih sayang.. Bolehkah.." Ucap Rora dalam hatinya.
.
.
.
"Sayang.." Teriak Elina setelah memasuki rumahnya. "Rora.. Kamu dimana sayang?" Panggil Elina lagi.
"Ma.. Ini sudah malam. Bagaimana kalau Rora sudah tidur." Ucap Devano mengingatkan.
"Ah.. Mama akan pergi untuk melihatnya..."
"Tante.." Saut Rora yang muncul dari arah taman belakang rumah Elina.
"Sayang.." Ucap Elina sambil tersenyum lebar lalu bergegas berjalan menghampiri Rora. Ia memeluk tubuh Rora erat sambil menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan menyalurkan rasa bahagianya. " Tante senang. Selamat ya sayang." Ucap Elina antusias.
"Selamat untuk apa tante?" Tanya Rora setelah Elina melepaskan pelukkannya.
Elina menakup wajah Rora lalu menekan kedua pipinya yang membuat bibir Rora mengerucut. "Tentu saja selamat untuk pernikahan kamu." Jawab Elina. "Citra sudah memberitahu tante. Katanya kamu setuju untuk menikah dengan Dika." Elina menurunkan tangannya lalu meraih tangan Rora dan menggenggamnya. "Terima kasih karena sudah menerima lamaran keponakan tante."
Bara diam mematung setelah mendengarkan perkataan mamanya. Lagi- lagi bara menatap Rora dengan tatapan yang sulit di artikan.
.
.
.
Lyra menatap Dika tajam.
"Ada apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Tanya Dika.
"Kamu sungguh akan melakukan ini padaku?" Lyra balik bertanya.
"Melakukan apa?" Sungguh Dika tidak mengerti maksud dari sahabatnya.
Lyra meremat ke dua tangannya. "Kamu akan menikah? Dengan Rora.."
"Ah.. Soal itu." Dika menganggukkan kepalanya.
"Lalu bagaimana dengan ku Dik?"
Dika mengerutkan keningnya.
Lyra meraih tangan Dika yang berada di atas meja lalu menggenggamnya. "Lalu bagaimana dengan kita? Apa kamu tidak bisa merubahnya? Apa kamu tidak bisa dengan ku saja?" Tanya Lyra sambil menatap Dika sendu.
"Apa maksudmu dengan kita?" Tanya Dika semakin tidak mengerti.
"Aku menyukai kamu..."
Dika menggelengkan kepalanya sambil melepaskan tangannya dari genggaman Lyra. "Aku mencintai Rora. Kamu tahu itu."
"Kenapa harus Rora? Kenapa tidak dengan aku saja?" Tanya Lyra. "Apa kamu tidak pernah sedikitpun memiliki rasa untukku?"
"Aku hanya menganggapmu sebagai sahabatku. Tidak lebih." Jawan Dika.
"Aku mohon pikirkan lagi. Aku janji jika kamu memilihku aku akan memperlakukan kamu dengan lebih baik. Aku akan menjadi penurut. Dan aku yakin cinta bisa datang dengan sendirinya nanti." Bujuk Lyra masih berharap Dika akan mempertimbangkan kembali niatnya untuk menikahi Rora.
"Iya kalau datang, kalau tidak bagaimana?"
"Maka aku akan lebih berusaha lagi." Balas Lyra.
"Dengarkan aku." kali ini Dika yang meraih tangan Lyra untuk ia genggam. "Kamu hanya terbiasa saja denganku. Mungkin kamu salah paham dengan perasaan kamu kepadaku. Kamu menganggap rasa sayangmu kepadaku sebagai rasa cinta.."
Lyra menggelengkan kepalanya berulang- ulang. "Aku sungguh menyukai kamu.. Aku sungguh mencintai kamu.. Aku tidak mungkin salah dengan perasaanku ini." Elak Lyra.
"Maaf.. Aku sungguh tidak bisa dengan kamu."
.
.
.
Dika menyandarkan kepalanya pada bahu Rora.
"Kenapa? Apa ada masalah?' Tanya Rora.
Dika menggelengkan kepalanya. Lalu memeluk lengan Rora dan menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher sang kekasih. "Kenapa?" Tanya Rora lagi.
Dika menghirup aroma baby powder yang menguar dari tubuh Rora. "Hanya sedikit lelah." Jawab Dika semakin mengeratkan tubuhnya dan Rora memilih untuk membiarkan saja. Ada perasaan sedih saat mengingat kembali ucapan Lyra. Sungguh ia tidak siap untuk kehilangan sahabat seperti Lyra. Tapi ia juga tidak bisa hidup tanpa Rora.
"Oh ya.. Mama tadi memberitahuku, mama sudah memesankan gaun pengantin untuk kita. Nanti kalau sudah siap mereka akan memberitahu. Jadi kita hanya tinggal fitting baju saja." Ucap Dika dengan kedua mata yang masih terpejam.
Rora menganggukkan kepalanya. "Hmm."
Dika membuka matanya sambil melirik ke arah Rora. "Oh ya mama tadi juga bertanya kapan kita akan mencari cincin?" Tanya Dika. "Apa kita pergi sekarang saja?" Usul Dika.
Rora tersenyum sambil mengarahkan kepala Dika untuk kembali bersandar di bahunya.
"Katanya lelah. Lagi pula kita masih masih waktu." Ucap Rora sambil mengusap kepala Dika penuh sayang.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak..
beautiful story
karena ini kan bukan yg pertama kali di kecewakan
dan si Aluna Aluna itu juga belum kelar.
masa ga dibikin bahagia dikit 😭
apa dulu naksir Ama bapaknya ga kesampaian 🤣🤣.jadinya benci Ama Mak nya
trus ke rora😔
ada yg bisa dimaki maki🤣🤣
seru kali yaaa
beresin dulu lah si Aluna Aluna itu
kalau ga
sampai kapanpun rora ga bakalan mau balik sama lu
apapun alesan nya
gw juga ogah
atau emang asal nya dr kota batu,malang kah?
lu nya aja plin plan
heran aku mah
karena bukan dia yg di pelaminan 🥹🥹
wah rame lagi ini ntar
perasaan ku udah ga enak 😭😭
Dika kah yg meninggal 😭😭
ga, bukan Dika yg JD pendonor nya
karena ga bisa diselamatkan 🥹