Di lelang gelap, seorang gadis dijual kepada penawar tertinggi. Pembelinya adalah Hendra Wirakusuma, mafioso yang ditakuti seisi kota, dingin, berbahaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau.
Sekar tak punya siapa-siapa lagi. Ia dikhianati keluarganya sendiri dan kini terkurung di rumah pria yang seharusnya paling ia takuti. Namun di balik tatapan dan tangan yang berlumur dosa itu, ada sisi Hendra yang tak pernah dilihat orang lain.
Antara bahaya, rahasia, dan perasaan yang tumbuh tanpa izin, mampukah Sekar bertahan? Dan sampai di mana seorang mafioso rela melangkah demi satu perempuan yang ia beli?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Valéria Bezerra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa yang Akan Dia Lakukan?
POV Sekar
Aku mengikuti si brengsek itu dengan ketakutan setengah mati, jujur saja. Tapi aku tidak akan menunjukkannya. Biar mati, aku tidak akan menunduk.
POV Hendra
"Turun."
POV Sekar
"Apa yang akan Anda lakukan?"
POV Hendra
"Kubilang turun dan ikut aku sekarang, atau kamu mau kuseret?" Ia mengikutiku, dan aku tahu ia ketakutan setengah mati tapi menolak menunjukkannya. Kami masuk ke klub itu, dan wajahnya pucat pasi melihat banyak pria hampir bercinta di tempat dengan para pelacur di sana. Aku naik ke ruang pribadiku dan memberi isyarat pada salah satu anak buahku, yang langsung mengerti bahwa aku minta dipanggilkan perempuan terbaik di tempat itu. Begitu kami masuk ruangan, kududukkan dia di kursi dan kuikat tangan serta kakinya.
POV Sekar
Sekarang aku benar-benar nyaris mengompol. "Apa yang Anda lakukan? Tolong, hentikan..." Ia tak menjawab, dan sekarang aku betul-betul yakin ia akan menyiksaku. Aku menangis sejadi-jadinya. Ia duduk di kursi lain, dan tak lama masuk seorang perempuan yang kukira pelacur.
POV Hendra
Perempuan itu masuk dan langsung melayaniku. Sekar menutup mata, dan aku membentaknya agar membuka mata dan menyaksikan semuanya. Tak lama perempuan itu selesai dan keluar. Aku merapikan pakaian dan mendekati Sekar.
POV Sekar
"Tolong jangan lakukan ini padaku. Aku belum pernah tidur dengan siapa pun, dan aku tidak mau diperkosa untuk pertama kalinya." Aku menangis.
POV Hendra
Kata-kata itu meruntuhkanku. Jadi dia masih perawan? Astaga, apa yang kulakukan? Kulepaskan ikatannya dan kusuruh salah satu anak buahku mengantarnya pulang. Aku menuang minuman dan mulai minum sambil memikirkan bocah itu. Kupanggil lagi perempuan tadi, dan beberapa saat kemudian urusanku dengannya selesai dan kusuruh dia pergi. Bocah itu terus terbayang di kepalaku. Aku pasti sudah gila. Tentu saja aku tidak akan menyentuhnya, perawan atau bukan. Aku hanya ingin menakut-nakutinya.
Di rumah besar...
POV Sekar
Aku turun dari mobil itu dengan jantung berdegup kencang, langsung ke dapur, dan memeluk Bu Beti erat-erat.
POV Beti
"Sayang, demi Tuhan, jangan bilang dia sampai..."
POV Sekar
"Tidak, Bu Beti. Tapi dia memaksaku menonton seorang pelacur melayaninya di depanku. Aku jijik sekali, Bu." Aku menangis.
POV Beti
"Lalu bagaimana, Nak?"
POV Sekar
"Dia mendekatiku. Kupikir dia mau memaksaku, jadi aku memohon dia jangan melakukannya karena aku masih perawan. Lalu dia menatapku dan menyuruhku pergi."
POV Beti
"Ibu yakin dia tidak akan menyakitimu, Nak. Dia cuma ingin menakut-nakutimu."
POV Sekar
"Aku perlu mandi, Bu Beti. Aku merasa kotor."
POV Beti
"Pergilah, Sayang, lalu istirahat. Biar Ibu yang urus semuanya, jangan khawatir."