NovelToon NovelToon
Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rangga Aditama

Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.

Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.

Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…

Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31 — Kamu Bukan Sadar Salah, Kamu Cuma Takut

Arya baru berjalan beberapa langkah ketika tangis Karina berubah menjadi teriakan.

"Kalau aku mati di sini, Mas tetap nggak peduli?"

Langkahnya berhenti.

Anindya merasakan genggaman Arya menegang. Ia tidak menarik pria itu pergi, tetapi berdiri di sisinya dan menunggu keputusan.

Arya menoleh. "Jangan mengancam dengan keselamatanmu. Kalau kamu merasa ingin menyakiti diri, Sherly harus membawamu ke tenaga medis sekarang."

Sherly membantu Karina berdiri. "Dia cuma emosi. Lo nggak perlu bicara seolah dia gila."

"Aku bicara serius karena ancamannya serius."

Karina menyeka air mata. "Aku nggak benar-benar mau mati. Aku cuma ingin Mas merasakan betapa takutnya aku kehilangan semuanya."

Arya kembali mendekat dua langkah, tetap menjaga jarak.

"Itulah masalahnya," katanya. "Kamu bukan sadar salah. Kamu cuma tahu takut."

"Aku sudah mengakui kesalahanku."

"Kamu takut uang habis. Takut mengurus ayahmu sendiri. Takut membesarkan bayi tanpa orang yang bisa disuruh. Takut melihat aku bahagia bersama orang lain. Dari semua permintaan maaf tadi, sekali pun kamu tidak bertanya apa yang kurasakan selama menjadi suamimu."

Wajah Karina menegang. "Aku tahu Mas menderita."

"Apa yang paling melukaiku?"

Pertanyaan itu membuatnya diam.

"Saat kamu menyebutku tidak berguna setelah PHK?" Arya bertanya. "Saat kamu membandingkanku dengan laki-laki lain? Saat keluargamu menagih uang sementara utang pernikahan kita belum lunas? Atau saat kamu menawarkan dua miliar untuk memindahkanku kepada sahabatmu seperti barang?"

Karina membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban.

"Kamu bahkan tidak tahu," lanjut Arya. "Karena waktu itu perasaanku tidak pernah penting. Sekarang pun yang penting bagimu hanya apa yang bisa kulakukan setelah pulang."

"Aku bisa belajar. Beri aku kesempatan."

"Kesempatan bukan kewajiban korban."

Sherly memotong, "Semua pasangan pernah saling menyakiti. Kalau setiap kesalahan nggak bisa dimaafkan, nggak ada pernikahan yang bertahan."

Anindya akhirnya bicara. "Memaafkan tidak sama dengan kembali. Arya boleh melepaskan marah tanpa menyerahkan hidupnya lagi."

"Enak buat lo ngomong begitu karena lo yang dapat untung!"

"Aku tidak menyangkal bahwa aku ingin Arya tinggal. Tapi keputusan tetap miliknya. Itulah perbedaan yang terus kalian abaikan."

Karina memandang mantan suaminya. "Mas, jangan dengarkan dia. Ingat bayi kita."

"Belum ada kata kita sebelum tes DNA."

"Kenapa Mas terus menghina aku dengan tes itu?"

"Tes bukan penghinaan. Tes adalah jawaban."

"Kalau aku menolak?"

"Aku tidak akan mengakui tanggung jawab biologis tanpa bukti."

Karina memegangi perut. "Mas tega kepada anak sendiri."

Arya menggeleng. "Aku justru sedang melindungi anak itu. Kalau dia benar anakku, dia akan mendapat ayah yang hadir dan hak yang jelas. Kalau bukan, ayah biologisnya tetap harus diketahui. Anak bukan alat untuk menutupi kebohongan orang dewasa."

Beberapa pejalan kaki yang sempat berhenti kini mengangguk. Seorang pria tua bahkan berkata pelan kepada temannya bahwa tes adalah jalan paling adil.

Karina kehilangan dukungan dari penonton yang diharapkannya.

Sherly menarik lengannya. "Sudah, Rin. Kita pulang."

"Nggak!" Karina menepis. "Kalau hasilnya nanti benar anak Mas, apa Mas akan meninggalkan Anindya?"

"Tidak."

"Apa Mas akan sering datang ke rumahku?"

"Pengasuhan bisa diatur melalui kesepakatan resmi, bukan lewat syarat rujuk."

"Apa Mas masih akan memelukku?"

"Tidak."

Setiap jawaban memotong satu harapan.

Karina mencoba menangkap tangan Arya lagi. Kali ini pria itu menggeser tubuh, lalu salah satu petugas keamanan maju ke batas yang sudah ditentukan.

"Jangan sentuh saya tanpa izin," kata Arya. Nada sapaan itu berubah dari aku menjadi saya, dingin seperti bicara kepada orang asing.

Karina membeku.

"Mas memanggilku saya?"

"Karena kamu tidak menghormati batas yang sudah kukatakan berulang kali."

Anindya menatap perubahan itu. Arya tidak lagi hanya menolak Karina. Ia sedang mencabut akses terakhir perempuan itu terhadap kedekatan mereka dahulu.

"Kalau kamu benar menyesal," kata Arya, "rawat ayahmu tanpa mengeluh. Jaga kehamilanmu. Berhenti memfitnah Anindya. Terima hasil tes nanti apa pun itu. Lakukan semua bukan supaya aku pulang, tetapi karena memang benar."

Karina menggigit bibir. "Kalau aku lakukan semuanya, Mas akan mempertimbangkan?"

Arya tersenyum pahit. Bahkan setelah penjelasan panjang, Karina masih mencari imbalan.

"Tidak. Itulah yang kumaksud. Kamu masih menganggap perubahan sebagai harga untuk membeliku kembali."

Sherly tidak mampu membantah. Ia hanya membantu Karina yang lututnya mulai lemas.

Arya menatap mereka untuk terakhir kali. "Pertemuan ini selesai. Kalau ada pemeriksaan kehamilan yang benar-benar perlu diketahui, kirim melalui jalur resmi. Jangan lagi membuat alasan palsu."

Ia berbalik dan berjalan bersama Anindya.

Kali ini Karina tidak mengejar. Ia berdiri sambil memegang cincin lama, menatap kedua punggung yang semakin jauh.

Di dekat parkiran, Anindya bertanya, "Mas baik-baik saja?"

"Lebih baik daripada yang kukira."

"Aku bangga."

Arya menoleh. "Karena aku menolak mantan istri?"

"Karena Mas membedakan rasa iba dan menyerahkan diri. Dulu Mas mungkin akan kembali hanya supaya semua orang berhenti menangis."

"Dulu aku mengira itu tanggung jawab."

"Sekarang?"

Arya membukakan pintu mobil untuknya. "Sekarang aku tahu tanggung jawab tidak boleh dibangun dari kebohongan."

Arya masuk ke sisi pengemudi, tetapi belum menyalakan mesin. Ia memandang taman melalui kaca depan.

"Tadi aku terdengar kejam?"

"Mas memberi jalan yang jelas tentang kehamilan dan anak. Itu bukan kejam."

"Aku tidak ingin anak itu suatu hari merasa ditolak karena kesalahan ibunya."

"Kalau memang anak Mas, kita pastikan dia tidak merasa begitu."

Kata kita membuat Arya menoleh. "Kamu masih bersedia terlibat setelah semua ini?"

Anindya tersenyum kecil. "Aku sudah bilang sejak awal. Anak tidak memilih keadaan kelahirannya. Kalau dia darah Mas Arya, dia juga bagian dari hidupku selama aku masih istrimu."

"Selama?"

Anindya menyadari pilihan katanya dan mengalihkan pandangan. "Kontrak kita memang punya batas."

Arya ingin berkata bahwa ia tidak lagi memikirkan batas itu sebagai akhir. Namun, pengakuan mengenai pria dekat jendela masih menjadi duri di kepalanya.

"Anindya," katanya, "orang yang kamu sukai sejak sekolah itu…"

Ponselnya berbunyi sebelum pertanyaan selesai. Pesan dari Bayu muncul: Pak Hendra bersedia bertemu lusa untuk membahas masalah gudang dan distribusi.

Arya membaca pesan itu. Kesempatan profesional yang ditunggunya akhirnya datang.

"Kenapa berhenti?" tanya Anindya.

"Nanti saja." Arya menunjukkan pesan Bayu. "Aku dapat jadwal pertemuan."

Wajah Anindya langsung cerah. "Bagus. Kita pulang dan siapkan semuanya."

Arya menyalakan mesin. Pertanyaan tentang cinta pertama ditunda, sedangkan pintu menuju hidup barunya mulai terbuka.

Di taman, Karina duduk di bangku. Sherly memberinya air dan meminta ia bernapas perlahan.

"Masih ada bayi," bisik Karina setelah tangisnya mereda. "Kalau bayi ini benar anak Arya, kami nggak mungkin putus hubungan selamanya."

Sherly tidak langsung menjawab. Ia mengetahui ketidakpastian yang disembunyikan Karina, dan untuk pertama kalinya wajahnya menunjukkan keraguan.

"Kalau bukan?" tanyanya.

Karina menggenggam botol sampai plastiknya penyok.

"Harus anak Arya."

Namun, keyakinan tidak bisa mengubah darah.

1
Casudin Udin
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!