NovelToon NovelToon
Milik Sang Iblis Sisilia

Milik Sang Iblis Sisilia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:890
Nilai: 5
Nama Author: Kakamy

Andrea hanya gadis yatim piatu yang hidup menumpang di rumah bibinya, dijadikan pembantu, dihina, dan diajari untuk tidak berharap apa pun. Sampai suatu malam di Catania, tatapan seorang pria mengubah segalanya.

Fabrizio Lutero, Don mafia Sisilia yang dijuluki Sang Iblis, bisa membuat musuhnya memohon mati hanya dengan satu perintah. Tidak ada yang berani menolak, tidak ada yang berani melawan. Namun di depan gadis kecil bermata ketakutan itu, pria paling dingin di Sisilia justru kehilangan kendali.

Dia menginginkannya. Dia akan menjaganya. Dan siapa pun yang berani menyentuhnya akan menyesal pernah dilahirkan.

Tapi dunia Fabrizio berlumuran darah, penuh pengkhianat, dan musuh yang mengintai dari balik bayang-bayang. Bisakah Andrea bertahan di sisi pria yang memilikinya sepenuhnya, dan menjadi ratu di dunia yang tak kenal ampun?

Posesif. Berbahaya. Panas. Dan tak ada jalan keluar.

"Dia milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kakamy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Akhir pekan ini luar biasa menyenangkan, sudah lama aku tidak merasakannya. Jujur saja, rasanya seumur hidup aku belum pernah sesenang ini. Aku dan Sara mengobrol tentang hampir segalanya, jalan-jalan, makan es krim di taman kota, dan tertawa terbahak-bahak berkali-kali. Aku merasa segar kembali dan diberkati karena punya sahabat seperti dia.

Sara Montessori

Namaku Sara Montessori, umurku 20 tahun, lahir di Sisilia, Italia, dari keluarga tradisional yang sangat kaya. Waktu aku berumur 18 tahun, ayahku memberiku sebuah apartemen sebagai hadiah, dan sejak itu aku tinggal sendiri. Dia juga mengirimiku uang setiap bulan. Aku tidak punya masalah dengan keluargaku, tapi aku lebih suka menjauh dari urusan bisnis mereka dan menyerahkannya pada kakak laki-lakiku, Caio.

Sahabat terbaikku adalah Andrea Gutierrez. Kami bertemu di sekolah, waktu itu aku sembilan tahun dan dia tujuh tahun. Suatu hari aku membelanya dari beberapa anak perempuan yang mengganggunya di toilet sekolah. Aku benci ketidakadilan, apalagi tiga lawan satu. Sejak itu kami tak terpisahkan.

Sekarang hari Minggu menjelang malam, kami berada di taman kecil dekat rumah sambil makan es krim. Tiba-tiba lewat sebuah Ferrari Roma merah. Aku kenal betul mobil itu dan pemiliknya. Mobil itu berhenti di depan kami, seorang pria turun, memasukkan tangan ke saku, dan berkata,

"Halo, Adik Kecil, lama tidak bertemu!"

Aku menatapnya sambil berusaha menyembunyikan amarahku, juga semua yang pernah dia dan ayahku lakukan padaku, tapi kenangan masa laluku mulai muncul seperti film di kepalaku.

Kilas balik

Ketika aku berumur 12 tahun, ayahku bilang keluarga kami punya warisan yang diturunkan dari ayah ke anak. Karena kakakku putra sulung, dialah yang bertanggung jawab melanjutkan warisan itu, dan aku harus membantunya. Saat itu aku tidak begitu mengerti artinya, tapi ayahku bilang aku harus menjalani pelatihan dan kakakku yang akan melatihku. Aku setuju tanpa ragu, meski tidak tahu pelatihan macam apa itu, dan tidak pernah terpikir olehku bahwa aku akan mengalami apa yang kualami.

Sebagian pelatihan itu berupa penyiksaan dan tekanan psikologis. Aku tidak bertahan seminggu di tangan kakakku. Aku jatuh sakit, dilarikan ke rumah sakit, dan dirawat dua minggu. Setelah keluar dari rumah sakit, kakakku bertanya apakah aku siap melanjutkan pelatihan. Saat itu juga aku histeris dan mengalami serangan panik, dan ayahku memutuskan lebih baik pelatihan dilanjutkan setelah aku berumur 16 tahun. Pada umur 16 tahun, pelatihanku dilanjutkan. Tapi kali ini aku belajar bela diri, karate, menembak, dan melempar pisau. Aku cukup jago dengan pisau. Namun begitu tahu seluruh pelatihan ini untuk melukai orang, aku tidak sanggup meneruskannya. Aku tidak punya keberanian untuk menyakiti seekor lalat, apalagi manusia. Aku jatuh depresi, tidak keluar kamar, tidak makan, dan hanya layu di atas kasur. Aku lebih baik mati daripada melukai orang. Melihat aku benar-benar akan mati, ayahku mengusulkan untuk menjauhkanku dari semua itu untuk sementara dengan memberiku sebuah apartemen, dan setelah aku berumur 18 tahun aku boleh tinggal sendiri. Itulah dorongan yang kubutuhkan. Aku pulih sepenuhnya, dan begitu berumur 18 tahun, aku pergi tanpa menoleh ke belakang.

Kilas balik selesai

"Aku tidak bisa bilang aku senang bertemu denganmu."

"Aku juga tidak."

Andrea Gutierrez

Begitu mobil itu berhenti di depan kami, kulihat Sara menegang. Seorang pria turun, tingginya sekitar 1,80 meter, berambut pirang, bermata cokelat terang. Dari kemejanya yang agak ketat tampak jelas tubuhnya sangat kekar. Dia mengenakan celana bahan dan kemeja hitam, pria yang sangat tampan dengan tatapan dingin, bahkan bisa dibilang suram.

Mereka mulai bicara, dan aku sadar dia kakak Sara. Sara tampak sangat tidak nyaman, jadi aku berdiri dan memperkenalkan diri untuk mencairkan suasana.

"Akhirnya aku bertemu kakakmu, Sara. Senang sekali berkenalan, namaku Andrea," kataku sambil mengulurkan tangan.

Pria itu menatapku dari ujung kaki sampai kepala. Aku merasa telanjang di bawah tatapan itu. Dia memperhatikanku beberapa detik lagi, lalu perlahan mengeluarkan satu tangan dari saku.

"Senang bertemu denganmu, Andrea. Aku Caio, kakak Sara."

"Ya, tentu saja. Sara sering cerita tentangmu."

Saat itu keduanya menatapku seolah aku baru saja mengucapkan hal terburuk di dunia.

"Menarik... Nanti aku ingin tahu, Nona Andrea, apa saja yang adikku ceritakan tentangku."

"Sudah, Caio! Cukup! Kamu mau apa?"

"Kenapa kamu kira aku mau sesuatu? Memangnya aku tidak boleh mengunjungi adikku tersayang?"

"Langsung saja, Caio!"

"Baiklah... Papa menitipkan pesan. Dia akan mengadakan makan malam keluarga dan menuntut kehadiranmu."

"Memangnya dia tidak bisa menelepon atau kirim pesan? Harus kamu yang disuruh?"

"Dia ingin memastikan kamu mengerti pesannya."

Caio menatap Sara dengan dingin. Tatapan itu membuat sekujur tubuhku merinding.

Sara hanya memutar bola mata dan berkata,

"Oke, pesan sudah disampaikan, kamu boleh pergi."

Sekarang giliran Caio yang memutar bola mata. Dia masuk ke mobil mewahnya dan pergi dengan ban berdecit.

"Astaga, Say, tadi itu apa?!"

"Ah, Say, trauma keluarga. Nanti kuceritakan, ayo pergi?"

"Ayo."

Aku paham betul maksud Sara dengan trauma keluarga. Lagi pula aku juga punya trauma keluargaku sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!