Karena kesepakatannya dengan Eleanor Iva Alexander membuat Mada Jeffrey yang hanya anak pemilik restoran ayam cepat saji menjadi semakin sulit menghapus perasaan tidak tahu dirinya terhadap putri kesayangan keluarga Alexander itu sekaligus atasan di tempatnya bekerja.
Sepertinya Mada harus segera mencari pendamping hidupnya, dan Regita, gadis pemilik restoran di seberang tempat usaha milik keluarga Mada adalah pilihan yang ia rasa tepat. Melihat dari respon gadis itu, Mada menyimpulkan bahwa Regita juga mempunyai perasaan padanya.
Tapi apa semudah itu kisah cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dehan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sebal tapi senang
Eleanor mendengus sebal ketika Mada membatalkan janji bertemu dengannya. Dirinya bahkan sudah berada di restoran jepang sesuai kesepakatan. Untung saja Elea belum memesan makanan apapun. Karena sudah berada di restoran Jepang itu sangat kurang rasanya jika tidak memesan apapun, masa Elea hanya menumpang saja disana, apa kata pegawai restoran sana nantinya.
Elea memesan beberapa menu yang akan memuaskan lidahnya. Gadis itu tersenyum senang ketika pesanannya tiba. Elea menanggalkan kacamata bulatnya dan mulai menyantap satu persatu sushi sudah tersaji diatas meja. Eleanor tidak memperdulikan sekitar ia hanya fokus pada makanan dan rasa enak dari makanan tersebut. Eleanor tersenyum senang karena perutnya sudah terisi dengan makanan enak sekaligus makanan favoritnya. Ternyata benar ya slogan perut kenyang, hati pun senang itu tidak bohong, Elea sendiri membuktikannya.
Gadis dua puluh empat tahun itu diam sejenak sembari memainkan ponselnya. Ia mengirim beberapa pesan untuk Mada berupa foto dan video berdurasi pendek pada kekasihnya itu saat dirinya melahap makanan dari negeri sakura itu. Eleanor tersenyum kala mendapat balasan pujian dari lelaki yang pintar fotografi itu. Eleanor sampai tidak sadar ada seseorang yang sudah lancang ikut bergabung di depannya.
"Hai.. Hera."
Suara yang tidak asing itu Elea dengar sangat dekat dengannya. Elea diam masih dalam posisinya melihat sisi kanan dan kirinya tidak ada siapapun.
"Aku di depanmu." Ucapnya lagi.
Elea mendongak untuk melihat siapa seseorang itu. Matanya membulat, hampir saja Elea menjatuhkan ponsel miliknya.
"Hei.. kau kenapa? Seperti melihat hantu saja." Ucap lelaki itu, Jonathan.
"Kenapa kau ada disini?" Tanya Elea masih dengan keterkejutannya.
"Lagi-lagi kita tidak sengaja bertemu ya." Ungkapnya tersenyum yang membuat matanya terlihat hanya segaris. Menurut Eleanor senyumannya itu horor. Walaupun memang tampan, tapi maaf Jonathan bukan tipe Elea.
"Kita? Lebih tepatnya kau yang memaksa bergabung di mejaku." Kata Elea dengan nada tidak suka.
"Hm.. memang tidak boleh ya?" Tanyanya sok polos membuat Elea jengah.
"Tidak.. sudah kubilang aku sudah menikah." Elea beralasan.
"Kau bohong!!" Tuduh Jonathan langsung. Oh.. Elea lupa Hendery pernah mengatakan padanya bahwa Jonathan pernah bertanya secara langsung pada Hendery mengenai hal ini.
"Aku hanya ingin mengenalmu." Ucap Jonathan jujur.
"Namaku Hera, bukannya kau sudah tahu."
"Mengenalmu lebih jauh, Hera." Jonathan bersikukuh.
"Sejauh matahari dan bumi?" Jawab Elea membuat Jonathan skakmat.
"Hera kau bercanda ya?" Tanyanya terkekeh canggung.
Elea menggeleng, "tidak sama sekali. Aku sudah punya kekasih. Ini sungguhan aku tidak bohong." Jawab Elea tegas.
"Jadi kau mengakui kebohonganmu yang sudah menikah itu." Jonathan berkelit.
"Ya. Aku memang berbohong soal itu, maaf! Tapi, sekarang aku jujur padamu aku sudah memiliki kekasih." Ungkap gadis itu menyakinkan Jonathan.
"Lihat ini." Eleanor membuka galeri ponselnya dan menunjukkan pada Jonathan foto pertama antara dirinya dan Mada. Posisi dimana mereka berpelukan namun Mada membelakangi kamera.
"Maaf kurang sopan. Itu adalah aku dan kekasihku." Jelas Elea. Jonathan diam tak bergeming dirinya benar-benar dipaksa mundur oleh gadis itu.
"Hm.. baiklah. Maaf membuatmu merasa tidak nyaman ketika bertemu denganku." Jonathan mengangkat dirinya dan berlalu meninggalkan Elea. Eleanor sebenarnya tidak tega tapi jika tidak begini Jonathan sepertinya akan tetap berusaha mengganggunya dan itu membuat Elea tidak nyaman.
...****************...
Eleanor pulang tapi tidak ke rumah keluarganya melainkan ke apartemen miliknya. Dirinya mendesah lega saat sudah sampai disana. Eleanor berencana akan menghabiskan malamnya disini dan menginap. Dengan terlebih dahulu ijin pada orangtuanya tentu saja agar keduanya tidak khawatir.
Eleanor menanggalkan pakaiannya satu persatu dan menggantinya dengan mengenakan bathrobe. Gadis itu mengisi air hangat di bathtub dan mencelupkan bathbomb kedalamnya. Dirinya menyiapkan lilin aromaterapi yang menenangkan. Saat semua sudah terisi penuh Elea meloloskan bathrobe miliknya dan mulai memasuki bathub.
Eleanor menikmati waktunya, sangat tenang dan nyaman. Hampir saja dirinya terlelap jika saja ponselnya tidak berdering. Dengan perasaan sedikit sebal Elea mengambil ponsel yang ia simpan dekat bathub dan mengangkat panggilan itu.
"Halo.."
"Babe, kok gelap?" Tanya Mada diseberang sana. Elea mengernyit bingung. Gelap? Gadis itu melihat layar ponselnya dan rupanya Mada melakukan panggilan video. Mada tersenyum saat melihat wajah Elea.
"Hai..?" Sapa lelaki itu.
"Hm.." jawab Elea.
"Babe, kamu sedang apa?" Tanya Mada.
"Tidak perlu bertanya. Ada apa kamu video call?" Elea sedang sebal dengan lelaki di seberang sana.
"Oh kamu keberatan ya aku video call kamu?" Tuduh Mada.
"Iyaa.." jawabnya dalam hati.
"Enggak tapi aku lagi berendam. Waktunya tidak tepat, sayang." Jawaban Elea yang keluar dari mulutnya.
Uhuk!!
Mada melotot terkejut. Pantas saja Elea terlihat basah dan tadi juga Mada sempat melihat belahan dada Elea saat gadis itu tak sengaja menggerakkan ponselnya.
Mada berdehem meredakan kegugupannya. "Ya sudah, kalau begitu lanjutkan dulu saja mandinya."
"Iya.."
"Tutup saja panggilannya, babe." Titah Mada akhirnya. Dan Elea pun langsung mematikan panggilan video itu. Di seberang sana Mada mendesah lega. Disini Elea juga gugup sebenarnya dengan tiba-tiba Mada yang melakukan video call di saat yang tidak tepat.
Mada berjalan melanjutkan langkahnya yang terhenti tadi. Dirinya masuk kedalam apartemen Elea. Tadinya dirinya ingin mengajak Elea bertemu disini tapi sepertinya gadis itu tengah sibuk. Ya sudahlah. Mada memasuki kamarnya dirinya merebahkan tubuhnya di kasur. Lelaki itu tersenyum membayangkan Elea. Sifatnya, kelakuannya, suaranya semuanya terngiang di kepalanya saat ini. Saat Mada tengah asyik dengan pikirannya. Dirinya samar mendengar suara lagu dan musik yang mengalun di balik kamar Elea.
Mada mendengarkan dengan seksama itu memanglah suara musik dari balik kamar Elea. Mada mencoba masuk kesana dan memastikan keberadaan Elea di apartemen atau tidak.
"Maaf aku lancang, Ele." Gumamnya saat membuka pintu kamar Elea. Suara musik itu berasal dari kamar mandi pribadi Elea.
"Elea kamu di dalam?" Mada mengetuk pintu kamar mandi. Tidak ada sahutan dari dalam sana. Hanya suara lagu yang mengalun dengan iringan musik.
Mada mulai mengetuk lagi pintu itu, "Eleaa.. jawab aku, kamu di dalam kan?"
Lagi, tidak ada sahutan sama sekali. Kok Mada jadi merasa horor ya. Mada memilih pergi saja atau membuka pintu kamar mandi itu? Tapi ia begitu penasaran.
"Elea.." panggilnya.
Elea didalam kamar mandi sana terkekeh karena telah menjahili Mada. Dasar, pasti Mada penasaran.
"Elea.. ini tidak lucu. Kamu jawab dong." Ucap Mada. "Kalau kau sudah selesai aku di kamarku." Beritahunya, siapa tahu saja Elea nanti mencarinya.
Elea menghentikan kekehannya. Saat mendengar Mada akan pergi dari kamarnya.
"Mada.." panggilnya.
"Iya.. akhirnya kau menjawab juga." Elea tersenyum saat Mada masih berada di sana.
"Kau sudah mandi?" Tanya Elea menyeringai.
"Belum, nanti saja." Jawabnya.
"Bagaimana kalau kau bergabung saja denganku sekarang."
Uhuk!!
Elea mendengar Mada seperti tersedak sesuatu, udara mungkin. Gadis itu terkekeh.
"A-aku pergi ke kamarku dulu." Elea tersenyum geli, senang dengan mendengar lelaki itu bertingkah gugup begitu.