Kisah cinta dan peliknya kehidupan Nadia Mark Wijaya. Menjadi anak 'brokend home' bukanlah bagian mimpinya.
Saat suami menghianati istrinya..
Papa yang melukai anaknya..
Dan, kekasih yang mematahkan kepercayaan atas cinta!
Hidup Nadia benar-benar berantakan, mulai dari perceraian kedua orang tuanya karena perselingkuhan papanya. Ditambah kenyataan sang kekasih bermain api dengan kakak tirinya.
Berbagai pengkhianatan dari orang-orang terdekatnya membuat Nadia tidak lagi mempercayai cinta. Hanya kebencian yang kini menyelimuti hati wanita itu.
"Aku adalah pemeran utama dalam sandiwara kecil berjudul KITA, namun kau bawa dia dan mengubah alur cerita."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiya Corlyningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peje Bikin Kere
Nadia berlari kecil menuju ruang kelasnya, gara-gara semalem dia begadang, alhasil dia bangun kesiangan. Untung saja gerbang sekolahnya belum dikunci dari dalam.
Membayangkan ketika Fernand menembaknya didepan umum, membuat Nadia tidak bisa memejamkan matanya. Setiap kali wanita itu memejamkan matanya, pasti bayangan Fernand ketika mengutarakan perasaannya kembali terngiang di kepala wanita cantik itu.
Nadia melangkahkan kakinya dengan lebar, dalam hatinya dia berdoa semoga saja guru mata pelajarannya belum memulai pelajaran. Jika tidak, dia bakalan masuk ke ruang Bimbingan dan Konseling sekolahnya karena terlambar masuk ke dalam kelas.
Bolehkah Nadia menyalahkan Fernando atas insomnia yang menyergapnya?
"Nahhhh ini diaa," teriak teman-teman sekelas Nadia membuat wanita itu terhenyak ditempatnya.
"Why?" gumam Nadia kebingungan dengan tatapan menggoda dari seluruh teman sekelasnya.
Nadia menatap seluruh teman sekelasnya bingung, dia berjalan menuju tempat duduknya. Disana Olivia menatap Nadia sambil mengedip-ngedipkan matanya genit.
"Ada apaan sih Liv?" tanya Nadia penasaran dengan tingkah teman-teman sekelasnya yang tidak seperti biasanya.
Olivia mendengus dan melipat tangannya ke depan dada.
"Nggak usah sok **** deh Nad, kita semua tahu kok kalau kamu pas malam minggu ditembak sama kak Fernand di dalam ruang bioskop kan?" tanya Olivia sontak membuat Nadia terbelalak.
Siapa yang membocorkannya? Pantas saja seluruh teman-teman kelasnya pada menatap Nadia rengan menggoda. Jadi berita dia dan Fernando pacaran sudah bocor di kelasnya.
"Hah? Tahu dari mana?" tanya Nadia kaget.
"Tadi semua anak denger, Kak Fernand ngumumin kalau kamu ceweknya lewat speaker ruang tata usaha tauk," kata Oliv menggebu-gebu.
Diumumin lewat speaker tata usaha? Fernand benar-benar sudah kehilangan akal. Satu sekolah termasuk semua guru-guru pasti mendengarnya. ****** sudah! Fernand benar-benar biang masalah dalam hidup Nadia.
"Apaaaa? Gila tuh orang!" geram Nadia kesal, wanita itu menggebrak mejanya kasar hingga membuat seluruh teman-temannya menatapnya penasaran.
Awas saja nanti kalau dia bertemu Fernand, dia akan membunuh lelaki itu dengan garpu dan mencakar-cakar wajahnya yang sangat tampan itu.
Kening Nadia berkerut ketika Olivia tiba-tiba berdiri dan berjalan ke depan kelas. Olivia mengangkat tangannya, meminta teman-teman sekelasnya untuk memperhatikan ucapan wanita itu.
"Teman-temannnn, kita ditraktir Nadia nihhh buat pajak jadian," teriak Olivia membuat Nadia melongo.
Nadia menatap Olivia, matanya melotot kesal dengan kelakuan teman sebangkunya. Ya kali dia harus menraktir teman satu kelasnya?
"Hoooreeeeeeee, yessssss ini yang kita tunggu-tunggu," pekik semua teman-teman satu kelas Nadia.
Ketua kelas mereka ikut maju ke depan dengan ponselnya yang kini berada ditangannya.
"Guys, Pak Tomo nggak masuk kita dibebasin hari ini, yang penting jangan ramai dan membuat keributan," kata ketua kelas mereka semakin membuat kelas itu heboh tidak terkendali.
"Yeaaaayyyyyy, kita bisa makan gratis sekarang juga," teriak teman-teman Nadia bersorak.
Nadia menatap Oliv garang, dia hanya tertawa terbahak-bahak.
"Awas aja kalau aku bangkrut, kamu yang jadi kuli cuci di kantin," kata Nadia menatapnya tajam.
Olivia menggeleng, mana mungkin seorang Nadia bisa bangkrut hanya karena menraktir teman-teman sekelasnya.
"Nggak akannn, masa iya anak dari keturunan Mark sampai bangkrut," katanya sambil tersenyum geli.
Nadia, Olivia, dan satu kelas Nadia kecuali Pevita berada di kantin yang sekarang bagaikan pasar pindah. Nadia dan Olivia juga tidak tahu kenapa Vita tidak masuk sekolah hari ini. Semoga aja sekalian pindah dari sekolah sini, begitulah kira-kira doa Nadia dalam hati.
Kebetulan sekali, Rehan lewat di depan kantin dan langsung menghampiri Olivia.
"Lohh ini ada apa Love?" tanya Rehan kepada Olivia karena penasaran kenapa teman-teman sekelas Olivia berada di luar kelas dan malah pada datang ke kantin sekolahan.
Bukankah seharusnya mereka semua berada didalam kelas karena ini jam pelajaran berlangsung?
"Loh kakak nggak tahu? Nadia sama kak Fernand kan jadian malam minggu kemarin," jelas Olivia sambil tersenyum ke arah Nadia.
Nadia hanya mencebikkan bibirnya kesal, Nadia melihat ke belakang Rehan, berharap Fernand datang dan membayar semua tagihan teman-temannya karena semua ini berawal dari kegilaan Fernand.
"Kakak tahu, tapi apa hubungannya?" tanya Rehan bingung.
Lelaki itu melebarkan matanya dengan binar bahagia, bukankah ini tandanya bahwa Nadia dan Fernando menraktir seluruh teman-teman mereka tanpa kecuali? Ini yang Rehan tunggu-tunggu, traktiran pajak jadian dari Nadia dan juga Fernando.
"Wah kabar bagus tuh, bentar ya," kata Rehan pamit entah mau pergi ke mana.
Rehan berlari menuju kelasnya dan berdiri di depan Fernando yang sibuk dengan ponselnya. Dari tadi malam hingga pagi ini, ponsel Nadia mati dan tidak bisa dihubungi.
"Teman-teman, si Fernand udah jadian nih sama Nadia the most wanted girl kelas satu, dan kita akan ditraktir makan sepuasnya di kantinn," teriak Rehan membuat Fernand melongo tak percaya akan apa yang dilakukan sahabatnya itu.
"Horeee, asyikkkkk," teriak satu kelas.
"Ayoo kita ke kantin," ajak Rehan sambil menarik Fernando menuju Kantin.
Rehan menarik tangan Fernando dengan paksa, lebih tepatnya Rehan menyeret temannya itu untuk ikut bersama dengannya dan teman-teman satu kelas mereka di kantin.
"Apa maksud lo tengil?" tanya Fernand masih tidak mengerti dengan tingkah Rehan.
"Apa lagi? tentu saja minta pajak jadian lah," jawab Rehan membuat Fernand melongo tidak percaya.
"Lo gila apa?" tanya Fernand
"Ya elo lah yang gila, jadian enggak ngasih kabar. Bentar-bentar gue hubungin yang lain," kata Rehan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi ketiga temannya yang lain.
Fernand melihat Nadia duduk dengan wajah cemberut, lelaki itu menatap seluruh kantin dan benar di sana ada teman-teman satu kelas kekasihnya.
'Kayak anak kecil,' batin Fernand sambil tersenyum.
Fernand dengan segera menghampiri Nadia, duduk di samping wanita itu.
"Hai darling," sapa Fernando tersenyum kearah Nadia.
"Apaa?" jawab Nadia garang, menatap Fernand dengan kesal karena sudah membuatnya berada dalam situasi seperti sekarang.
"Kamu marah? Kenapa ponselmu sejak semalam tidak aktif?"
"Menurut lohhh?" tanya Nadia balik dengan memutar bola matanya jengah.
"Nggak usah marah dong darl," goda Fernand mencubit gemas pipi Nadia.
"Ya enggak usah marah, kamu yang bayar ini semua!" kata Nadia.
"Oke-oke aku yang bayar," kata Fernand membuat Nadia tersenyum
"Gotcha," kata Nadia sambil menatap Fernand dengan berbinar.
"Kita makan gratis dong," kata Regan menatap Nadia dengan tatapan entahlah.
Nadia yang melihat tatapan itu hanya diam mematung.
'Mungkin hanya kebetulan pas Kak Regan bad mood,' batin Nadia.
Fernand menuju pemilik kantin untuk membayar semua makanan yang telah mereka pesan.
"Berapa semua Bu?"
"Tujuh ratus ribu aja, Den," kata ibu kantin itu membuat Fernand melongo saking tidak menyangkanya.
"Ini Bu terimakasih," kata Fernand mengeluarkan uang cash yang seharusnya dia gunakan bayar otomotif motornya nanti.
'Peje bikin kere,'gumam Fernand yang masih bisa didengar teman satu mejanya. Membuat mereka tertawa terbahak bahak.