Yuna gadis yang usianya sudah cukup matang nan pekerja keras memiliki sifat terbilang sedikit galak. Sejak dulu hingga sekarang kedua orang tua Yuna meminta dirinya untuk menikah. Namun, permintaan itu Yuna tolak keras dengan alasan Yuna masih ingin bebas dan masih mau berkarir sebagai guru PNS di Sekolah SMA Bakti.
Akan tetapi, takdir berkata lain. Sebuah peristiwa mempertemukan dirinya dengan seorang pria bernama Biansyah Hermawan yang terkenal tukang onar di sekolahnya SMA Taruna.
Hingga pada akhirnya pernikahan beda umur itu terjadi dalam sekejap.
Bagaimana Yuna menyikapi pernikahannya bersama Bian yang lebih muda darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Masrianiani Hijab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terulang Lagi
"Bi... Bian, Ja... jangan seperti ini." kembali kata itu keluar dari bibir Yuna.
Begitu Bian akan lebih mendekat lagi. Ibu lusia datang memanggil.
"Yuna, Bian... Ka... Maafkan ibu. Lain kali tutup pintunya. Kalian kebiasaan," tegur Ibu Lusia malu sendiri dan segera berlalu.
Yuna mendorong tubuh Bian dan berkata. " Kenapa Bu?"
Ibu Lusia tidak menoleh lagi dan langsung menutup pintu kamar Yuna.
Seketika, Tangan kokoh Bian merangkul pinggang ramping milik Yuna. Kini posisi keduanya saling. menatap. kedua tangan Inayah berada di atas dada.
"Bian, lepaskan aku, tidak!" Yuna berusaha untuk lepas dari Bian yang semakin mengeratkan merangkul pinggang Yuna lebih dekat.
"Tidak akan. Harimau sedang lapar," jawab Bian santai.
"Lapar? Ya makanlah." ujar Yuna mengalihkan perhatiannya kerena Bian terus menatap dirinya.
"Lihat kedua mataku, Yuna. Ayo lihat?" perintah Bian dan itu berhasil membuat Yuna menatapnya.
"Ada tai mata di matamu." tunjuk Yuna yang berhasil membuat Bian tertawa lepas.
"Yank Yun, kau meledekku? Aku orang paling bersih, lo ...."
"Itu, ada tai mata. Gak percaya?" alasan Yuna agar di lepaskan oleh Bian. Degup jantung Yuna semakin maraton saat Bian terus menatapnya.
"Aku gak percaya. karena aku melihat di matamu ada kebohongan. Kebohongan, bila kau suka padaku. Iya kan?"
"Bian, tolong lepaskan aku! Kalau tidak?"
"Kalau tidak, apa? mau aku makan, sekarang. Iya?" ancam Bian agar Yuna berhenti bergerak, karena Bian sudah merasakan ada ketegangan.
"Kau bisa rasakan itu, Yank Yun? hanya kau wanita yang berhasil menegangkan aku seperti ini," jujur Bian pada Yuna lagi.
"Saat kau bersama perempuan lain, apa tidak seperti ini?" tanya Yuna yang juga menatap hidung mancung milik Bian dengan raut wajah Bian yang menarik hati.
"Tidak sama sekali," jawab Bian apa adanya.
"Kok bisa?"
"Ya mana aku tahu, Mbak. sudahlah. Berhenti bahas itu."
"Ya sudah kalau begitu. lepaskan aku."
"Mbak?" tegur Bian.
"Apa? Aku belum siap," jawab Yuna segera paham akan panggilan Bian.
"Mau, ya?" Bian kembali memberi kode pada Yuna.
"Tidak, Bian! Aku belum siap. Aku mohon. Jangan paksa aku. Aku tahu itu adalah merupakan kewajibanku! Namun, kau tahu sendiri pernikahan kita seperti apa. Ini mimpi bagiku. Di saat aku belum siap dengan semua ini. Kau hadir dalam kehidupanku secara tiba-tiba. Cobalah berfikir, jika kau di posisiku," kata Yuna.
"Kamu tahu perbedaan umur kita. Sangat jauh, Bian." Yuna akhirnya lepas dari rangkulan Bian.
"Tapi, aku tidak peduli. Aku cinta, Mbak Yuna."
"Bagaimana jika teman-temanmu tahu. Kau akan sangat malu, Bian."
"Aku katakan, Aku tidak peduli. Bahkan Dion, sahabatku sudah tahu."
"Apa? Kamu gila, Bian."
"Aku gila, karena cinta sama, Mbak," ucap Bian menatap Yuna yang sedang termenung duduk di atas kasurnya.
"Masa depan kamu masih cerah, bian."
"Akan lebih cerah jika aku selalu bersamamu," timpal Bian.
"Dah lah. Aku tidak tahu harus bilang apa padamu, Bian. Aku capek berdebat denganmu."
"Makanya, bukalah hatimu itu untuk aku isi dan memilikimu seutuhnya," jawab Bian lagi.
Yuna kembali teringat dengan masa lalunya. Kata itu mirip dengan pria masa lalu Yuna waktu SMA dulu.
"Jika kau memiliki pria lain di hatimu, aku akan pastikan, hanya aku yang ada dalam memorimu. aku akan menghapus seluruh jejak pria yang pernah mengisi hatimu. Ingat itu, Mbak. Aku suamimu. Aku tidak akan membiarkan pria lain dekat denganmu. Mulai hari ini, detik ini!" Bian berdiri. Dan sekejap kembali Bian mengecup pipi Yuna dan berlalu tanpa rasa bersalah terhadap Yuna yang mematung.
Yuna mematung akibat tingkah Bian yang kebiasaan spontan membuatnya terkesiap.
"Bian...!" Yuna baru sadar dengan apa yang dilakukan Bian padanya.
****
Cukup ya... Author mau istirahat dulu. TERIMAKASIH ATAS SUPPORT NYA SEMUA.😘😘😘😘