DILARANG PLAGIAT!!! 📢📢
Bagaimana jadinya jika kau menikah dengan seorang petinggi sementara kau sendiri hanyalah seorang gadis desa biasa yang bekerja sebagai pemetik daun teh?
Itulah kisah tentang Raymond William (30tahun) dan juga Kiara Putri (24tahun). Mereka menikah karena suatu kejadian yang tidak ingin membuat keluarga Kia malu.
Pada akhirnya Kiara atau sering di sapa Kia menikah dengan Ray yang dia temukan di sungai dalam keadaan berantakan dan juga sadar dalam keadaan Amnesia (lupa ingatan).
Perbedaan kasta mereka berdua membuat Mama Ray tidak merestui pernikahan keduanya dan sengaja memasukkan orang ketiga untuk menganggu kehidupan rumah tangga Ray dan Kia.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Ray dan Kia mampu mempertahankan bahtera rumah tangga mereka berdua?
Simak berikut!
Happy reading..
So stay tune ! 🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #20
Hari sudah menjelang siang dan Need telah sampai di Desa.
"Selamat siang, pak." Need menyapa arsitek yang kala itu tengah duduk istirahat.
"Eh, selamat siang Tuan Need." arsitek langsung berdiri dari duduknya.
"Bagaimana pembangunan puskesmas ini?" Need berjalan mengitari bangunan yang sudah hampir selesai itu.
"Alhamdulillah sebentar lagi selesai, Tuan. Tinggal menunggu waktu kurang lebih tiga minggu untuk langsung bisa dihuni."
Need hanya mengangguk.
Mobile ambulance terdengar tak jauh dari bangunan puskesmas.
"Ambulance? Apa ada yang meninggal di desa ini?"
"Saya tidak tahu, Tuan. Sebentar saya tanya anggota dulu," arsitek langsung memanggil salah satu anggotanya.
"Mas Pur!" teriak sang arsitek melambaikan tangan ke arah Purwanto.
Purwanto mengangguk dan langsung berlari kecil ke arah arsitek.
"Ya, Pak Bima?"
"Apa warga desa ada yang meninggal? Saya dengar tadi ada suara mobil ambulance." .
"Benar, Pak. Nenek nya Kiara meninggal karena sakit jantung," ucap Pur.
"Ya sudah, Mas Pur bisa kembali." Bima mempersilakan Pur pergi.
Pur mengangguk dan pergi kembali ke tempat nya bersama dengan teman-teman.
"Pak Bima, sebaiknya anggota harus anda libur'kan hari ini. Kita akan bersama-sama melayat ke rumah warga yang sedang berduka." Need yang memang suka berbaur dengan kalangan bawah ataupun menengah langsung memberikan ide.
"Baik, Tuan." Bima pergi untuk memberikan intrupsi kepada anggota nya agar libur dan melayat ke kediaman Kiara.
"Sudah?" Need bertanya ketika Bima telah kembali.
"Sudah, Tuan. Mari kita pergi,"
Mereka pergi ke rumah Kiara.
*
Di rumah Kiara telah ramai oleh warga sekitar yang ikut berduka atas kepergian sang nenek.
"Nenek.. Bangun, kenapa nenek begitu cepat ninggalin Kia..." Kiara duduk di sebelah mayat sang nenek.
"Nak, bibi mohon kamu harus sabar dan mengikhlaskan kepergian nenek. Setiap manusia pasti akan kembali ke pangkuan Allah, kamu harus bisa berlapang dada menerima kenyataan ini. Nenek sudah tenang di alam saja, kamu jangan menambah bebannya dengan kesedihan yang berlarut-larut. Kuatkan hatimu nak, kamu harus tegar.." ucap bibi Maryam dengan lirih dan juga tetesan air mata.
Kiara memeluk tubuh Maryam.
Ibu-ibu warga sekitar menangis karena kepergian nenek , bagi mereka semua nenek adalah orang yang baik dan juga ramah serta tidak pernah menyakiti siapapun baik dari ucapan ataupun tingkah laku.
Nenek telah dikafani dan mereka semua sedang membaca yasin untuk membuat jiwa nenek tenang di alam sana.
Ray hanya setia di samping Kiara, dia yakin di saat seperti ini Kia pasti membutuhkan sandaran. Sesekali Ray menggenggam jemari Kia dan mengusapnya lembut, Ray ingin menyalurkan semangat agar Kiara bangkit dari keterpurukan ini.
'Aku berjanji akan menjagamu, Kia. Aku tidak akan meninggalkan mu ataupun menyakiti hatimu, jika aku sudah pulih dari amnesia ini maka kita akan segera menikah secara resmi. Untuk saat ini aku tidak akan menyentuh mu karena aku takut jatuhnya akan zina atau kumpul kebo.' batin Ray menatap wajah sembab Kia dari samping.
Seseorang datang menghampiri Ray.
"Mas Fildan, di depan ada tamu dan dia mencari Mbak Kiara juga Mas Fildan." ujar pria berusia 20tahun itu.
"Mau apa dia? Apa kamu mengenalnya?" Ray bertanya dengan sedikit berbisik.
"Saya mengenalnya, Mas. Sepertinya dia adalah bos dari kota yang membangun puskesmas, dan datang ke rumah ini ingin mengucapkan turut berduka atas kematian nenek."
"Baik, katakan aku akan menemui dirinya."
Pria muda itu mengangguk dan langsung pergi dari hadapan Ray.
"Kia, kita keluar sebentar yuk? Ada tamu dari kota yang mau bertemu dengan kamu, Roni bilang tamu itu ingin mengucapkan belasungkawa atas kepergian nenek." Ray berbicara lembut.
"Kamu aja yang menemuinya, Mas. Aku mau disini sama nenek." Kia menjawab dengan nada lirih tanpa mengalihkan pandangan dari jenazah sang nenek.
"Baiklah, aku keluar dulu." Ray mengelus punggung tangan Kia dan beranjak pergi keluar dari rumah.
•
•
•
**TBC.
HAPPY READING DAN SELAMAT HARI SENIN SEMUANYA 🤗🤗
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK MANIS SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH BANYAK 🙏🏻**