NovelToon NovelToon
OUR WEDDING CONTRACT

OUR WEDDING CONTRACT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fio Purple

Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.

Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.

Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.

Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?


Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PART 7. Rahasia di Balik Flashdisk dan Semangkuk Mie hangat.

 Angin malam berembus cukup kencang di antara deretan kontainer Capital Harbour. Beberapa lembar dokumen yang baru saja dilemparkan Alessia masih berserakan di lantai. William memungut salah satunya dengan tangan yang perlahan mulai bergetar.

Namun sebelum William sempat berkata apa pun, Alessia mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dari saku jaketnya.

Tatapannya tajam, tetapi senyum tipis menghiasi wajahnya.

"Masih ingat ini, William?"

William menatap benda itu.

"Apa itu?"

Alessia mengangkat flashdisk tersebut di antara kedua jarinya.

"Rekaman asli."

Vellano yang berdiri tidak jauh darinya langsung menoleh.

"Rekaman?"

Alessia mengangguk.

"Rekaman dari kamera yang terpasang di helmku saat kecelakaan itu terjadi."

Seketika ekspresi William berubah.

Alessia melangkah mendekatinya. Nada suaranya terdengar tenang, tetapi setiap kata yang keluar dipenuhi keyakinan.

"Jangan lupa, aku seorang pembalap. Tentu helmku punya kamera."

William terdiam.

Alessia kemudian melanjutkan dengan senyum mengejek.

"Dan laki-laki yang kau sebut sebagai korban tabrak lari itu..."

Ia berhenti sejenak, menatap tepat ke mata William.

"...adalah orang yang bekerja dengan perusahaanmu."

Wajah William seketika pucat.

Vellano dan Maxime saling bertukar pandangan.

Jadi, selama ini ada hubungan antara korban dengan perusahaan William?

Alessia mengangkat dagunya sedikit.

"Jadi jangan coba-coba memutarbalikkan keadaan seolah-olah aku sengaja menabraknya lalu melarikan diri."

William mengepalkan tangannya.

Alessia kemudian mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa langkah.

"Dan ingat satu hal ini, William."

Senyumnya menghilang. Tatapannya berubah dingin.

"Sampai mati pun aku tidak akan pernah menjadi milikmu."

Suasana seketika membeku.

Vellano menatap Alessia dengan ekspresi sulit dibaca. Namun kalimat terakhir wanita itu membuat pikirannya dipenuhi pertanyaan.

William?

Mengejar Alessia?

Selama ini?

Maxime bahkan tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

William tertawa pendek, tetapi terdengar penuh frustrasi.

"Kau masih saja seperti dulu."

Alessia mengernyitkan dahi.

"Seperti dulu?"

William menatapnya dalam-dalam.

"Kau benar-benar tidak berubah sejak masa kuliah."

Vellano langsung menoleh.

"Masa kuliah?"

Alessia terdiam.

William akhirnya membuka sebuah rahasia yang selama bertahun-tahun ia simpan.

"Aku sudah mengejar mu sejak kita masih kuliah, Alessia."

Tatapan Vellano berubah tajam.

Ia baru menyadari bahwa William bukan sekadar rekan bisnis yang kebetulan menginginkan istrinya.

Pria itu ternyata sudah mengenal Alessia jauh sebelum dirinya hadir dalam kehidupan wanita tersebut.

Dan lebih mengejutkan lagi, obsesinya ternyata telah berlangsung selama bertahun-tahun.

William menatap Vellano dengan senyum penuh tantangan.

"Menurutmu, kenapa aku tidak pernah berhenti?"

Vellano melangkah maju.

"Karena dia tidak pernah menginginkanmu."

William terdiam.

Untuk pertama kalinya malam itu, Vellano berdiri bukan sebagai rekan bisnis William.

Melainkan sebagai seorang suami yang siap melindungi wanita di sampingnya.

William terdiam cukup lama. Wajahnya memerah menahan malu sekaligus amarah setelah semua rencananya berbalik menyerangnya. Ia menatap Alessia dengan sorot penuh kebencian, kemudian menatap Vellano sebelum akhirnya berbalik.

"Ini belum selesai."

Tanpa menunggu jawaban, William berjalan meninggalkan mereka bertiga, menghilang di antara deretan kontainer Capital Harbour.

Suasana kembali hening.

Vellano masih berdiri sambil menatap punggung William yang semakin jauh. Setelah itu, pandangannya beralih kepada Alessia. Ada rasa takjub yang jelas terlihat di wajahnya.

"Jujur, aku tidak menyangka kau punya bukti sebanyak itu."

Alessia hanya merapikan sarung tangannya.

Vellano tersenyum tipis. "Kau hebat."

Alessia langsung menoleh, seolah tidak nyaman menerima pujian tersebut.

"Aku bukan membela rumah tangga kita," jawabnya tegas. "Aku hanya sedang mempertahankan reputasi kedua keluarga kita."

Ia menghela napas pelan.

"Semuanya kan kacau kalau sampai media tahu?"

Vellano terdiam, tetapi senyum kecil kembali muncul di wajahnya.

Untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari bahwa di balik sikap gengsi Alessia, ada seseorang yang ternyata sama-sama berusaha melindungi mereka.

 Setelah William pergi meninggalkan Capital Harbour, ketegangan perlahan mereda. Vellano masih memikirkan semua yang baru saja terjadi, terutama pengakuan William tentang masa lalunya dengan Alessia.

Vellano kemudian berjalan menuju mobilnya.

"Alessia, masuk."

Alessia mengernyitkan dahi. "Aku membawa motorku sendiri."

"Aku tahu."

Ia menunjuk ke arah motor balap Alessia.

"Maxime yang akan membawanya pulang."

Alessia langsung menggeleng. "Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri."

"Alessia."

Nada suara Vellano berubah tegas.

"Aku tidak sedang meminta."

Alessia menatapnya kesal. "Kau selalu seperti ini."

"Dan kau selalu keras kepala."

Maxime yang berdiri di samping mereka hanya terdiam, berusaha menahan ekspresi geli melihat perdebatan pasangan tersebut.

Akhirnya Vellano membuka pintu mobil untuk Alessia.

"Masuk."

Alessia masih berdiri di tempatnya.

"Aku bisa menyetir sendiri."

"Setelah datang sendirian ke pelabuhan pada malam hari dan membuatku hampir kehilangan akal? Tidak."

Alessia mendengus kesal. Namun setelah beberapa saat, ia akhirnya menyerah dan masuk ke dalam mobil.

Maxime mengambil alih motor Alessia dan mengendarainya menuju mansion.

Sementara itu, Vellano masuk ke sisi pengemudi.

Mobil pun perlahan meninggalkan Capital Harbour.

Di dalam perjalanan, keduanya terdiam.

Namun kali ini, keheningan di antara mereka terasa berbeda. Ada terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab—terutama mengenai masa lalu Alessia dan William.

......................

  Mobil akhirnya memasuki halaman mansion megah milik Vellano dan Alessia. Setelah melewati gerbang utama, kendaraan berhenti di depan bangunan besar yang diterangi lampu taman.

Malam itu terasa jauh lebih sunyi setelah kejadian menegangkan di Capital Harbour.

Begitu masuk, keduanya memilih untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Ketegangan dari pertemuan dengan William masih terasa menggantung di antara mereka.

Beberapa saat kemudian, Vellano keluar dari kamarnya dengan pakaian rumah yang sederhana. Ia duduk di ruang keluarga sambil memijat pelipisnya.

Tiba-tiba—

Grrrkk...

Suara perutnya berbunyi cukup jelas.

Alessia yang kebetulan berjalan melewati ruang keluarga langsung menoleh.

"Belum makan?"

Vellano berdeham, berusaha mempertahankan harga dirinya.

"Aku tidak lapar."

Alessia menatapnya datar.

Perut Vellano kembali berbunyi.

Kali ini Alessia tidak dapat menahan senyum kecil.

"Kalau begitu, suara itu mungkin bukan perutmu."

Vellano mendengus.

Alessia kemudian berjalan menuju dapur.

"Aku buatkan mie pedas. Mau?"

"Tidak perlu."

Jawaban Vellano cepat.

Namun Alessia hanya mengangkat bahu.

"Ya sudah."

Ia tetap membuka lemari dapur dan mengambil sebungkus mie. Beberapa menit kemudian, aroma kuah pedas dan hangat memenuhi ruangan.

Vellano yang awalnya menolak akhirnya menyerah.

"Kalau sudah dibuat, aku makan."

Alessia meliriknya sambil tersenyum tipis.

"Gengsi."

"Aku hanya tidak ingin membuang makanan."

"Alasan."

Mereka akhirnya duduk berhadapan di meja makan dengan dua mangkuk mie hangat di depan masing-masing.

Untuk beberapa saat, tidak ada pembicaraan. Hanya suara sendok dan sumpit yang sesekali beradu dengan mangkuk.

Namun ketika keduanya hendak mengambil sesuatu secara bersamaan, tangan mereka tidak sengaja bersentuhan.

Keduanya terdiam.

Tatapan mereka bertemu.

Suasana mendadak canggung.

Alessia segera menarik tangannya dan menepis tangan Vellano dengan kasar.

"Jangan sentuh."

Vellano mengangkat alis.

"Aku bahkan belum melakukan apa-apa."

Alessia memilih kembali menyantap mienya dengan wajah dibuat seolah tidak terjadi apa-apa.

Vellano hanya tersenyum kecil.

Malam itu ia kembali melihat sisi lain dari wanita yang selama ini dikenal liar, keras kepala, dan penuh gengsi.

Di balik semua sikap kerasnya, ternyata Alessia masih memiliki sisi lembut.

Dan entah mengapa, sisi itu justru membuat Vellano semakin penasaran.Setelah menghabiskan semangkuk mie pedas hangat, mereka akhirnya kembali ke kamar. Seperti biasanya, Alessia mengambil tempat di atas kasur, sementara Vellano memilih tidur di sofa.

Malam semakin larut. Hujan mulai turun deras, disertai suara petir yang sesekali menggelegar dan mengguncang kesunyian mansion.

Tepat pukul satu dini hari—

BRAKK!

Suara petir menggelegar.

Disusul jeritan dari arah kasur.

"Ahhh!"

Vellano langsung terbangun dan bangkit dari sofa.

"Alessia?"

Ia bergegas menghampiri istrinya.

Tubuh Alessia meringkuk di atas kasur. Wajahnya pucat pasi, napasnya tidak teratur, dan keringat membasahi pelipisnya. Ketika Vellano menyentuh dahinya, ia langsung terkejut.

"Panas sekali..."

Alessia ternyata demam.

Namun wanita itu tidak memberikan respons. Matanya terpejam rapat, seolah tenggelam dalam mimpi buruk. Setiap kali petir menggelegar, tubuhnya semakin gemetar.

Vellano baru menyadari bahwa suara petir ternyata merupakan salah satu ketakutan terbesar Alessia.

"Alessia, bangun."

Tidak ada jawaban.

Untuk pertama kalinya, Vellano benar-benar panik.

Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi dokter pribadi keluarga, Dokter Gustavo.

"Dok, datang ke mansion sekarang. Alessia demam dan tidak sadarkan diri."

Tidak lama kemudian, Dokter Gustavo tiba dan segera memeriksa Alessia. Setelah memastikan kondisinya, ia memberikan beberapa obat dan instruksi perawatan.

"Dia membutuhkan istirahat. Pastikan suhu tubuhnya dipantau dan obatnya diminum sesuai aturan."

Vellano mengangguk serius.

"Baik, Dok."

Setelah dokter pergi, Vellano kembali duduk di sisi kasur. Ia mengganti kompres di dahi Alessia, memastikan wanita itu tetap nyaman, lalu menyelimutinya dengan hati-hati.

Tidak ada cinta di antara mereka.

Setidaknya, itulah yang selama ini mereka yakini.

Namun malam itu, hati Vellano tidak mampu membiarkannya berpaling.

Ketika hujan semakin deras, Alessia yang masih tidak sadarkan diri tanpa sengaja mencari kehangatan dan meraih lengan Vellano.

Vellano terdiam.

Ia tidak tega melepaskannya.

Akhirnya, entah bagaimana, keduanya tertidur dalam posisi saling berpelukan.

Untuk pertama kalinya, sofa itu kosong.

Dan pagi nanti, Vellano sudah bisa membayangkan satu hal.

Alessia mungkin akan marah besar ketika mengetahui mereka tidur bersama.

...****************...

  Penasaran besok pagi Alessia ngamuk nggak,wkwkwk. Stay tune ya.

 Untuk uang sudah mampir jangan lupa tinggalkan jejak, terimakasih

 Semoga sehat selalu,salam damai🥰🫶🏽

1
Verawati Naycyl
penasaran nich thor.....Axel kamu blak blak abis..karen sampai malu tuch🤣🤣
Rho Fioca Purple: Wkwkwk,sabar ya kak Nanti ada part khusus untuk Axel dan Karen.Pantengin terus ya kak😁
total 2 replies
Verawati Naycyl
itu pasti vellano dan Axel...
Verawati Naycyl
lanjut thor
Enz99
Bagus
Rho Fioca Purple: Trimakasih kak🥰
total 1 replies
Rho Fioca Purple
Good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!