Menikah karna ingin balas dendam. Inilah yang Verdiansyah lakukan pada seorang gadis cantik. Ia sengaja menikahi gadis tersebut untuk membalaskan dendam adiknya yang telah meninggal dunia.
Apakah yang akan terjadi? Akan kah Verdi mampu melanjutkan dendamnya? Atau malah jatuh cinta pada gadis yang ia nikahi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Sehari setelah perginya Sandra, no ponselnya sangat sulit untuk dihubungi, membuat Verdi merasa geram sekaligus bosan karena kesepian dirumah. Sesaat Verdi sambil menatap langit-langit kamarnya. Tiba-tiba Verdi teringat akan Melati.
"Bagaimana kabarnya?" Gumamnya. Lalu bangun dari tidurnya dan bergegas mengganti pakaiannya dan keluar dari kamar.
Sedangkan di Bali. Kini Sandra dan Alex sang pacar telah memadu kasih dikamar hotel. Ponsel Sandra yang sedari tadi berdering tak dihiraukan sama sekali. Karena sangat asyiknya mereka berdua mengarungi surga dunia.
"Sayang, kau sangat pintar memuaskan diriku." Ucap Alex saat permainan panas mereka telah selesai
"Justru kamu lah yang sangat pandai memuaskanku sayang " Balas Sandra yang kini kembali duduk di atas tubuh Alex.
"Mau lagi?" Tanya Alex dan Sandra menganggukkan kepalanya.
Dan kembali lagi, permainan panas mereka diulang. Tanpa memikirkan jika ada hati yang telah mereka sakiti dengan kelakuan mereka yang seperti itu.
...🥀🥀🥀🥀...
Kini Melati sedang duduk dilantai loundry room, memerhatikan mesin cuci yang terus berputar menggiling pakaian, Melati melamun tentang kehidupannya kedepan seperti apa dan bagaimana. Dan tiba-tiba lamunannya buyar ketika Verdi datang mengagetkan dirinya.
"Apa yang kau lakukan disini" tanya Verdi dengan suara meninggi sentak membuat Melati kaget.
"A-a.." Belum sempat Melati berucap, Verdi langsung menarik lengan Melati, membuat Melati sampai hampir terjatuh dari kursi, untung saja kaki Melati kuat menopang dirinya. "Sakit" Teriak Melati karena cengkraman Verdi di tangannya sangat keras.
Verdi tak menggubris sama sekali, ia justru semakin menarik keras Melati agar mengikuti langkah kakinya.
"Kenapa kau terus menyiksaku? Kenapa?" Teriak Melati sambil memukul lengan Verdi dengan sekuat tenaga, sampai Verdi melepas cengkramannya.
"Kenapa?" Teriak Melati kembali dengan amarah yang mulai menggebu-gebu. "Jika kau ingin balas dendam, lebih baik bunuh saja aku langsung, jangan seperti ini?"
Verdi menatap Melati dengan tatapan marah, dan siap untuk memangsa Melati. Verdi mendekat lalu 'plakkkk' satu tamparan mendarat sempurna dipipi mulus Melati. "Jangan sekali-kali berani berteriak dihadapanku." Kata Verdi sambil mencengkram kedua pipi Melati dengan sangat keras. Dan tangan satunya menarik rambut Melati sehingga membuat kepala Melati terangkat.
Kedua tangan Melati memengang tangan Verdi yang menarik rambutnya. "Lepaskan! Tolong!" Mohon Melati dengan suara yang tersendat karna cengkraman Verdi di kedua pipinya.
Lalu Verdi melepas dan kembali menarik lengan Melati agar mengikuti langkahnya menuju kamar utama dirumah itu.
Setelah masuk kedalam kamar, Verdi menghempaskan tubuh Melati diatas tempat tidur. "Komohon padamu, jangan lakukan itu padaku." Mohon Melati kembali.
Verdi melepas satu persatu kancing bajunya, lalu melepas belt nya, dan melemparnya kesembarang arah. Lalu naik keatas tempat tidur menindih tubuh Melati.
"Jangan." Teriak Melati sambil menggerakkan tubuhnya untuk melawan, namun tenaga Melati kalah kuat oleh Verdi sehingga membuat Verdi dengan muda melakukan aksinya.
Setelah melakukan aksinya. Verdi turun dari tempat tidur dan berjalan masuk kedalam kamar mandi. Sedangkan Melati, kini hanya terbaring ditempat tidur dengan air mata yang menetes dikedua pipinya.
Melati menatap pintu kamar mandi, lalu tanpa sengaja mata Melati melihat bolot minuman yang terletak diatas meja. Melati langsung merapikan dirinya dan berjalan mendekat kemeja dan mengambil botol tersebut.
Saat pintu kamar mandi terbuka. 'Pranngggggg' Melati memukul kepala Verdi dengan botol minuman tersebut sehingga membuat kepala Verdi mengeluarkan darah segar.
Verdi memegang kepalanya yang terasa sangat sakit. Dan melihat tangannya terdapat darah segar disana.
"Kau!!" Verdi menatap Melati dengan tajam.
"Jangan mendekat." Kata Melati sambil mengancam Verdi dengan sisa pecahan botol yang kini Melati pegang. "Jika kau mendekat, maka aku akan membunuhmu" Ancamnya.
Dan Verdi tetap di tempatnya. Sedangkan Melati berjalan mundur menuju pintu. Pikiran Melati saat ini hanyalah untuk kabur.
smw pada gantung ceritanya