Cinta Adharra dan Rafael sudah terjalin saat mereka masih kecil. Usia keduanya yang terpaut beberapa tahun dan masalah silih berganti datang menguji cinta keduanya. Terlebih setelah kesalahan besar yang Rafael lakukan membuat Adharra goyah dalam kekecewaan. Walaupun saat bersama Rafael membuatnya lemah dan terluka tapi dia tidak bisa berhenti mencintainya, dia telah terjebak dalam cinta Rafael.
Akankah mereka bisa mempertahankan kisah asmaranya? Simak ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shinbisar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Terdiam sejenak dan saat matanya mengekori langkah cepat gadis kecil itu, Tita pun tersadar.
"Astagfirullah, Arra jangan lari...," seruan Tita mencegah anak kecil itu, namun tak di dengar karena langkah kaki mungilnya sangat cepat.
Tita mengurungkan niatnya masuk ke kamar, ia malah bergegas mengejar Arra. "Arra berhenti," panggilnya mengejar. "lantainya licin nanti kepeleset." serunya lagi.
Huft...
Suara Tita bagai angin lalu. Malahan Arra semakin menggeret langkahnya cepat. Dengan gesit pula, anak tangga dipijak-ki nya bagai berjalan di lantai mulus.
"Abangggg.., Bang Angga, Bang Rafa" teriaknya, membuat sekumpulan remaja laki-laki itu menoleh.
Rafael yang baru menegak kopi langsung sigap berdiri menghampiri baby kesayangannya. Begitu pula Angga yang menyusul.
"Baby kenapa lari hemm...?" tanya Rafael sambil menggaet lengan mungil Arra dan membawanya ke sofa ruang tamu.
"Ada apa..." cecar Angga menambahi. Dibalas hardikan Arra yang tubuhnya langsung ditarik Rafa, masuk ke dalam dekapan tubuhnya. "Jangan lari-larian, nanti kalau Arra kenapa-kenapa, Abang jadi sedih."
Arra meronta dengan bergerak melepas kuncian tangan Rafael. "Lepas Bang Rafa. Abang lebay ih. Arra gak apa-apa kok."
"Tas Arra penuh semua Bang! Mainan Arra masih ada yang belum dikemas," Keluh Arra masam.
Tita ikut bergabung duduk di samping Angga. Nafasnya sedikit ngos-ngosan sehabis berlari mengejar gadis mungil yang kini sedang merenggut masam. "Huhhh..., pakai tas kakak aja, Ra," sahut Tita menghela nafas.
Angga berdiri, dan mendekati Arra. "Punya abang juga masih muat, dek. Ayo, abang bantu kamu berberes," sambung Angga.
***
Vira, melempar tas nya ke sembarangan tempat. Ia lalu naik ke lantai atas menuju kamarnya. Perjalanan pulang dari puncak, cukup membuat lelah tubuhnya. Sedangkan Seli, dan Fika, keduanya langsung pulang ke rumah masing-masing.
Ranjang empuk menjadi sasaran utama Vira. Membanting tubuhnya sendiri dan bergelung dengan empuknya kasur.
Mata Vira mengerjabkan matanya, sekilas bayangan seorang lelaki yang ia temui di puncak membuat Vira penasaran.
"Tuh cowok perawakannya sebelas, dua belaslah sama Gerald. Bisa jadi sasaran nih. Kalau gak bisa dapatin Gerald, setidaknya masih bisa ngejar cowok itu."
"Eh, tapi gue gak tau namanya siapa. Ah bodoh banget sih. Harusnya waktu itu, gue gerak cepat. Jadi gini kan, pusing sendiri, saking penasaran sama toh orang," Monolog Vira berbicara sendiri.
"Ah bodo amat, mending tidur."
***
Tita makan dengan lahap. Sedari kedatangannya dikediaman orang tua Arra dan Angga, ia tak hentinya dihidangkan makanan oleh tante Annisa.
"Makan lagi, Ta. Jangan sungkan ya, udah lama lho tante gak ketemu sama kamu," ucap Nisa menyodorkan piring lauk ke dekat Tita.
Angga hanya tersenyum tipis melihat interaksi sang ibu dengan teman masa kecilnya itu. Berbeda dengan Arra yang sibuk bermain di ruang tengah, menonton televisi ditemani Rafael.
"Makasih tante. Semua makanannya enak, kapan-kapan nanti Tita main lagi kerumah tante," sahut Tita bertutur sopan.
"Harus, Ta. Ditunggu ya, nanti tante ajakin kamu ke toko biar sekalian kamu bantu tante juga, siapa tau kamu bisa jadi penerus tante." Annisa sangat senang dengan kehadiran Tita. Sedari gadis itu, masih SD dan berteman akrab dengan Angga. Annisa selalu berharap suatu hari, ia akan memiliki menantu yang sebaik dan se-santun Tita.