Ketika kenyataan tak seindah bayangan...
Mampukah Radit, sosok lelaki yang sudah berstatus duda dan Jenna, gadis yang selalu merasa dirinya terkekang dalam menentukan pilihan hidup mampu melawan restu yang bahkan enggan menghampiri.
Atau terus berjuang hingga titik darah penghabisan.
Atau berlari demi cinta mereka yang tak lagi mampu dipisahkan.
"Kenapa harus datang jika hanya memberi luka, kenapa hadir jika selalu memberi perih"
~Jenna~
"The girl who make my world like a rainbow"
~Radit~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga kaku
Pandangan mata Jenna mengedar ke semua ruangan, rumah itu begitu rapih dan wangi. Beberapa tanaman hijau ada di sudut ruangan, lantai beraksen finil hingga perabotan yang terbuat dari kayu, dari kursi sofa hingga meja dapur. Dari sini Jenna bisa menilai jika Radit adalah orang yang suka dengan keunikan.
Jenna menyusuri ruangan hingga ke dapur, ia membuka pintu kaca yang bergeser menghubungkan sebuah taman kecil. Gemericik air di kolam ikan kecil itu menambah kesan asri dan sejuk rumah ini. Seekor kucing berwarna abu tertidur di sudut dinding, Jenna mendekatinya, membelai lembut bulu-bulu halus kucing itu.
"Kamu ngapain sendirian di sini," kata Jenna meraih kucing itu untuk duduk di pangkuannya.
"Pasti belom makan ya, Mas Radit lupa kasih kamu makan? iya?" Jenna meraih satu botol plastik berisi makanan dia tuangkan ke tempat makan kucing itu.
"Makan yang banyak biar gak lemes ... nanti aku ambilin kamu minum ya," ujarnya menepuk-nepuk kepal kucing itu.
"Namanya Rio, kucingnya Ellen, di bawa kesini sama Ellen karena kalo kerja gak ada yang ngurus," ujar Radit dari balik tubuh Jenna.
"Mas ... ngangetin loh."
Radit tertawa, mengusak kepala gadis itu.
"Kaget ya," ujarnya lalu mengeringkan mukanya dengan handuk yang melingkar di lehernya.
"Udah mandi?"
"Udah ... tambah wangi kan? tadi aja aku gak mandi udah wangi," ucap Radit menarik satu kursi taman untuk dia duduk.
Iya, harum tubuh Radit memang wangi, Jenna suka. Apalagi saat tubuh mereka begitu dekat tadi, harum Radit membuat Jenna seperti menempel di tubuhnya.
"Terus, kalo kucing Mbak Ellen di sini, emang ada yang urus?" tanya Jenna yang akhirnya ikut duduk di samping Radit.
"Ada, yang bersih-bersih rumah ... istrinya Pak Supri supir di coffee shop."
"Oh ... pantesan rumahnya rapih, bersih ternyata ada yang bersihin."
"Kamu kira aku yang bersihin pasti ... harusnya aku gak bilang ya biar nilai plus aku bertambah." Radit terkekeh.
"Emang nilai plus Mas Radit apa? Pede banget sih ya," ujar Jenna menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Mau minum apa, Na?"
"Gak usah Mas ...." Jenna melirik jam di tangannya.
"Buru-buru banget ya ...."
"Bilang ke mama tadi sebentar ... dan mama tau nya aku pergi dengan Raka."
"Sudah berapa lama pacaran sama Raka?"
"Jalan dua tahun," jawab Jenna.
"Kalian putus kenapa?"
Jenna memandangi Rio yang akhirnya tidur kembali di atas tempat tidurnya.
"Raka punya mimpi yang harus di capai," ujar Jenna.
"Lalu kamu mengalah?"
Jenna mengangguk.
"Lelaki pekerja keras," ucap Radit. "Tapi sayang menyia-nyiakan gadis setulus kamu."
"Sok tau," ujar Jenna menatap mata Radit sambil tersenyum. "Darimana Mas Radit tau aku tulus."
"Dari mata kamu, dari sikap kamu yang gak banyak tingkah, dari cara kamu bicara itu sama dengan yang ada di dalam hati kamu."
Jenna menatap Radit, menatap netra lelaki itu. Bagaimana dia bisa tahu, bagaimana Radit bisa membaca yang ada di dalam hatinya.
"Biasa aja ngeliatnya, ntar beneran jatuh cinta," goda lelaki itu dan Jenna tertawa.
Gadis itu beranjak dari tempat duduknya, berdiri di sisi kolam kecil, lalu menoleh kepada Radit. Radit meletakkan handuknya lalu berjalan ke arah Jenna.
"Ayo pulang, Mas."
"Gak betah banget sih," ujar Radit lalu memberikan makanan pada ikan-ikan kecil itu.
"Lain kali ke sini lagi," kata Jenna.
Radit mengalah, lelaki itu akhirnya mengantarkan Jenna pulang tepat pukul 1 siang. Menepikan motornya di depan pagar rumah Jenna.
"Makasih ya Mas," ucap Jenna.
"Aku berasa kayak ojol gitu ... makasih ya Mas, udah di bayar di aplikasi ya," celoteh Radit diikuti gelak tawa Jenna. "Jangan lupa kasih 5 bintang ya, Mbak." Jenna terpingkal-pingkal tertawa, Radit memang paling tahu menghibur orang.
"Mas ... please aku sakit perut kamu ngelucu nya keterlaluan." Jenna masih tertawa.
Radit melihat Jenna yang dengan lepasnya tertawa seakan gadis itu memang sangat jarang merasakan candaan receh namun lucu itu.
"Na ... cukup, nanti mama kamu keluar loh," ujar Radit.
"Iya ... iya Mas, aku udah ketawanya," ujar Jenna masih dengan sisa-sisa tawanya. "Hati-hati ya," kata Jenna lagi saat Radit kembali menghidupkan mesin motornya.
"Aku pulang ... ketemu lagi besok," ujarnya dan meninggalkan Jenna di sana.
...----------------...
Memasuki rumah itu, dengan seutas senyum yang masih tersisa. Jenna melangkah pelan, membuka pintu rumah yang ternyata sepi. Jenna berjalan ke ruang tengah lalu ke ruang makan, tak di dapatinya sang Mama di sana.
Sayup terdengar suara Mama Kartina sedang berbicara melalu telepon di taman samping.
"Ada-ada saja anak-anak jaman sekarang ini, di kasih yang terbaik malah bubar begini," Mama Kartina terdengar kesal lalu memutuskan pembicaraannya.
"Pa, bilang dong ke Jenna ... ini kan demi kebaikan dia, apa salahnya sih menunggu Raka sampai Raka benar-benar mencapai tujuannya." Mama Kartina yang ternyata di temani oleh Pak Sofyan mengutarakan pembicaraan telepon tadi dengan ibu Raka.
"Raka itu kurang apa coba, baik, ganteng, anaknya sopan, pendidikannya bagus, pekerjaannya mapan, punya cita-cita tinggi ... Mama gak habis pikir dengan Jenna ini."
"Ya kalo anaknya gak mau, jangan di paksa Ma ... kamu jangan terlalu kaku lah sama anak, liat Akbar untung dia mau kita jodohkan coba kalo gak bisa kabur dia dari rumah ini, nah jangan sampai Jenna melakukan hal seperti itu ... pelan-pelan di bujuk jangan dengan emosi, toh Raka juga yang meminta untuk putus kan? kata ibunya tadi, ya jangan salahkan anakmu."
"Malu Mama, Pa ... keluarga Raka itu baik sama kita." Mama Kartina menghempaskan tubuhnya di kursi taman. "Sampai jam segini aja Jenna belum pulang, pergi sama Raka, Raka sudah ada di rumahnya dari tiga jam lalu, entah kemana dia ... anak gadismu itu!"
Jenna yang sedari tadi mendengarkan kedua orangtuanya berdebat akhirnya menampakkan dirinya.
"Jenna tadi ke rumah teman, Ma," ujar Jenna dan Mama Kartina pun menoleh ke belakang.
"Sini kamu ...."
"Ma ... pelan-pelan aku bilang kalo ngomong sama anaknya."
Mama Kartina tak mendengarkan ucapan suaminya. Dia terlalu emosi untuk membahas masalah putusnya hubungan Jenna dan Raka.
"Kasih tau sama mama kenapa kalian bisa putus."
"Ya karena memang sudah gak cocok Ma ... maunya aku dan maunya Raka udah beda."
"Bohong kamu sama Mama ... ini pasti karena memang kamu yang rencanain kan?"
"Rencanain gimana Ma? Jenna mempertahankan hubungan ini jauh hari sebelum Mama bilang kamu harus bertahan Na ... tapi apa yang Jenna dapat, Jenna mempertahankannya tapi Raka enggak ... Raka setengah hati mempertahankan ini Ma ... Raka terlalu sibuk, dia terlalu terobsesi dengan pekerjaannya, Raka egois Ma ... bagaimana nanti kalo kami berumah tangga jika salah satunya tidak ada yang mengalah, kalo pun mengalah mau sampai kapan Jenna bertahan dengan segala ambisi Raka demi mencapai cita-citanya, demi pundi-pundi yang dia kumpulkan namun di dalam rumah tangga kami yang ada hampa ... Mama mau Jenna hidup seperti itu?"
Air mata Jenna jatuh, cukup sudah dia menuruti semua yang Mama Kartina mau, Jenna bukan gadis yang hanya hidup dengan limpahan materi namun hatinya kosong, meski Raka mencintainya, Jenna bukan Akbar yang menggadaikan hidupnya demi ambisi sang Mama.
**enjoy reading 😘
jangan kelewat like sama komennya yaaaah 🙏**
dalem banget artinya
Pun patah hati, sering datang tanpa aba aba