Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Matahari pagi menyusup halus di balik tirai sutra kamar utama, membiaskan sinar hangat yang jatuh tepat di atas ranjang king size.
Laila membuka matanya perlahan, mengumpulkan kesadaran yang sempat melayang usai rasa lelah maraton operasi dan dinamika emosi semalam.
Hal pertama yang menyapa inderanya adalah kehangatan menjalar dari tubuh kokoh di sisinya.
Laila mendongak pelan, dan seketika dadanya berdesir.
Ia mendapati dirinya sedang memeluk erat pinggang suaminya.
Musa berbaring terlentang dengan dada bidang bertelanjang dada, hembusan napasnya terdengar begitu halus dan beraturan.
Namun, pandangan Laila seketika tertahan pada area dada kiri Musa.
Di sana, terukir indah sebuah ukiran rumit berwarna cokelat pekat—sebuah ukiran berpadu ornamen maskulin yang menyerupai tato.
Laila menatapnya lekat-lekat, jemari lenturnya refleks terangkat, mengusap pelan permukaan kulit suaminya dengan penuh rasa ingin tahu.
"Selamat pagi, Bidadariku."
Suara serak khas bangun tidur mendadak bergaung rendah, menggetarkan dada Musa.
Laila tersentak pelan, mendongak cepat dan mendapati sepasang mata tajam Musa sudah terbuka, menatapnya penuh kehangatan dan binar kasih yang begitu dalam.
"S-selamat pagi, Musa." cicit Laila, mendadak gugup dengan rona merah yang merayap di kedua pipinya.
"Maaf semalam aku ketiduran di mobil sampai kamu harus membopongku."
Musa mengulas senyum tipis yang amat menawan.
Tangan tegapnya bergerak mengusap lembut helai rambut Laila yang terurai, lalu condong mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka terkikis habis.
"Itu tugasku sebagai suami, Sayang," bisik Musa rendah.
Tanpa memberi kesempatan Laila menjawab, Musa mencium bibir istrinya.
Sebuah kecupan hangat nan penuh penekanan kasih sayang yang membuat Laila memejamkan mata dan meremas pelan lengan suaminya.
Saat Musa menarik kembali wajahnya beberapa senti, pandangan pria itu beralih pada jemari Laila yang masih tertahan di dadanya.
"Apakah kamu menyukai tatoku?" tanya Musa dengan bisikan godaan, alisnya terangkat sebelah.
Laila menganggukkan kepalanya pelan tanpa ragu.
"Tenang saja, ini bukan tato. Ini dari daun."
"A-aku tahu, Musa," potong Laila cepat sembari menyunggingkan senyum tipis.
Sebagai seorang dokter, ia bisa mengenali tekstur dan aroma khas racikan henna alami dari dedaunan herbal.
Musa tersenyum tipis mengamati binar cerdas di mata istrinya. Ia mengecup kening Laila sekali lagi sebelum akhirnya bangkit dari ranjang.
"Sekarang ayo kamu mandi dulu, setelah itu kita ke pondok pesantren. Abah Adam dan Umi Sinta sedang menunggu kita."
Laila menganggukkan kepalanya dan masuk ke kamar mandi.
Usai Laila selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit rapi menutup tubuhnya, pandangannya langsung tertuju pada ranjang.
Di sana, Musa sudah menyiapkan satu stel pakaian syar'i anggun berwarna pastel lengkap dengan kerudung senada yang terhampar rapi.
Musa yang sudah mengenakan baju koko putih bersih melangkah mendekat.
Pria bertubuh tegap itu mengambil jilbab dari atas ranjang, lalu dengan telaten merapikan helai demi helai kain menutup kepala Laila.
Gerakannya teramat lembut, bertolak belakang dengan reputasinya yang menakutkan di luar sana.
Setelah jilbab terpasang sempurna, Musa menyodorkan kain cadar hitam miliknya.
Jemari tegap Musa mengikatkan tali cadar itu di belakang kepala Laila secara perlahan.
"Jangan lupa cadarnya, Bidadariku." bisik Musa rendah tepat di depan wajah Laila, menatap lurus ke dalam iris mata istrinya.
"Senyum ayumu hanya boleh aku yang menikmati."
Laila tersenyum manis di balik cadarnya, merasakan aliran hangat yang membuncah di dalam dada.
Ia merasa begitu diistimewakan dan diperlakukan bagaikan seorang ratu oleh sosok pria yang di luar sana sangat ditakuti.
"Terima kasih, Suamiku," bisik Laila lembut, mengusap pelan dada Musa.
Saat Musa dan Laila melangkah keluar kamar menuju area luar rumah, pemandangan di lorong utama membuat Laila menghentikan langkahnya sejenak.
Tampak Yusuf dan belasan pria bertubuh tegap berjas rapi sudah berbaris tertib di pelataran dalam.
Penampilan mereka amat bersih, berwibawa, dan teratur.
Dengan pakaian formal yang sangat rapi, Yusuf melangkah mendekat, membungkuk hormat lalu tersenyum sopan.
"Bos, Umi Laila, kami izin berpamitan berangkat bekerja ke kantor dulu," ucap Yusuf formal, memberi hormat ala eksekutif sebelum diikuti oleh jajaran pria berjas di belakangnya.
Laila tertegun memperhatikan mereka satu per satu.
Para pria yang semalam terlihat tangguh seperti pengawal dunia bawah tanah kini tampak begitu berkelas dan profesional seperti jajaran direksi perusahaan besar.
Musa merangkul pinggang Laila, membimbing istrinya berjalan berdampingan menyusuri koridor pelataran.
"Ternyata mereka juga bekerja?" tanya Laila penuh rasa penasaran, mendongak menatap profil samping suaminya.
Musa mengulas senyum tipis, mengusap punggung tangan Laila yang berada dalam genggamannya.
"Iya, Sayang. Yusuf bekerja sebagai guru di sekolah. Ada juga yang bekerja sebagai tentara, pegawai bank, dan masih banyak lagi," tutur Musa dengan nada suara tenang.
Laila membelalakkan matanya pelan, benar-benar tak mengira.
"Jadi, pekerjaan mafia itu?"
"Dunia hitamku dan mereka itu hanya sampingan," jelas Musa sejujurnya.
"Bisnis legal kami jauh lebih besar untuk menopang kehidupan mereka dan santri-santri di berbagai daerah."
Laila mencerna kata demi kata dari suaminya. Rasa kagum sekaligus kebingungan kian menguasai pikirannya.
Ia menghentikan langkahnya tepat di taman depan rumah, membalikkan badan dan menatap Musa dengan pandangan dalam.
"Musa, sebenarnya apa yang terjadi sampai kamu menjadi mafia?" tanya Laila lirih, menyuarakan pertanyaan yang selama ini mengganjal di lubuk hatinya.
"Apakah Abah dan Umi tahu?"
Musa menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh ke masa lalu.
Raut wajahnya berubah serius, sarat akan beban masa lalu yang amat berat.
"Abah Adam maupun Umi Sinta tidak ada yang tahu, Laila. Bagi mereka, aku hanyalah seorang putra dan ustaz yang mengurus bisnis keluarga dan pesantren," buka Musa dengan suara berat.
Musa menggenggam kedua tangan Laila, membawanya ke dalam dekapannya sembari mulai bercerita.
"Semua ini bermula bertahun-tahun lalu, saat aku masih menimba ilmu di luar negeri dan mengurus ekspansi bisnis legal pesantren. Waktu itu, sebuah sindikat gelap internasional menyusup ke kawasan pesantren dan jaringan usaha kita. Mereka mencoba menjadikan lembaga keagamaan Abah sebagai kedok pencucian uang dan perdagangan barang terlarang."
Musa memicingkan mata, mengingat pengkhianatan yang hampir menghancurkan keluarganya.
"Saat aku mengetahuinya, hukum legal di sana terlalu lambat dan memiliki banyak celah yang dimanfaatkan oleh mereka. Sindikat itu bahkan mengancam akan menghabisi Abah, Umi, dan membakar habis pesantren jika aku berani melapor," lanjut Musa dengan rahang mengeras.
"Di situlah aku sadar, untuk melawan iblis yang bersembunyi di dalam kegelapan, aku tidak bisa hanya berdiri di bawah cahaya terang."
Laila menahan napasnya, mendengarkan setiap nada ketegasan dari suara suaminya.
"Aku akhirnya membentuk jaringan keamanan sendiri bersama Yusuf dan orang-orang terpercaya. Kami menghancurkan sindikat itu dari dalam—mengambil alih wilayah, aset, dan jaringan mereka secara mutlak. Sejak hari itu, aku mengambil alih takhta dunia bawah tanah agar tidak ada satu pun penjahat yang berani menyentuh keluarga, pesantren, maupun orang-orang yang kulindungi."
Musa menunduk, menatap Laila dengan pendar mata yang mendadak rapuh.
"Aku memilih mengotori tanganku di dalam kegelapan, agar Abah, Umi, dan para santri bisa tetap beribadah dengan tenang di bawah cahaya. Dan, aku merahasiakannya dari Abah Adam serta Umi Sinta karena aku tidak ingin beban dunia hitam ini merusak ketenangan hati orang tuaku."
Laila terpaku. Rasa haru dan sesak mendadak memenuhi dadanya.
Pria di hadapannya ini bukan sekadar sosok ketakutan, melainkan seorang pelindung yang rela memikul dosa dan bahaya sendirian demi keselamatan orang-orang yang dicintainya.
Dengan penuh rasa kasih, Laila mengusap pipi Musa di atas kain penutup wajahnya.
"Terima kasih sudah berjuang sedemikian keras, Musa," bisik Laila tulus.
"Sekarang, kamu tidak lagi sendiri. Aku akan selalu ada di sisimu."
Musa memejamkan mata, menikmati sentuhan hangat istrinya, sebelum akhirnya mengulas senyum lega dan merangkul pinggang Laila erat-erat.
"Terima kasih, Bidadariku. Ayo, kita berangkat sekarang." ajak Musa.
😒😒😒😒😒🥱🥱🥱
makany jgn coba2 ngusik umi Laila ,,
jd hancur lebur kn Hrga diri kalian ,, 😏😏😏😏😏
umi Sinta bisa menerima Laila dg baik ,,
bisa2 ny pak kiyai nikahin perempuan model gtuu ,,
semangat Musa berantas semua org2 yg udh nyakitin Laila ,,
sedangkan Nakula ny B aj ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
msh aj di pilih ,, buka mata mu lebar2 umiiiiii