NovelToon NovelToon
Pilihan Hati

Pilihan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Inisial EY

"Aku milih kamu."

"Tapi kita berbeda, Tuan."

"Berbeda?" Arnold mengernyitkan dahinya heran, pasalnya gadis di depannya ini dari kasta yang setara dengannya. "Apanya yang berbeda?"

"Agama." lirih Arini dengan menggelengkan kepalanya, "agama kita berbeda, Tuan."

"Gampang! Aku bisa mengikuti agamamu kalau kamu mempersoalkan itu."

Ikuti perjalanan kisah beda agama antara Arini dan Arnold ya readers, apakah mereka akhirnya bisa menikah? atau itu hanya angan-angan seorang Arnold saja? Dan apa sebenarnya motif Arnold memilih Arini untuk menjadi istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inisial EY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Syarat Arnold

"Pak Raka sialan!" Arnold mengumpat sembari menendang gerbang rumah Pak Raka yang sudah ditutup rapat.

"Aku harus melakukan cara apa lagi?" Arnold berpikir keras seraya menyisir rambutnya ke belakang.

Rasanya jalannya sudah buntu saat Pak Raka memberikan ultimatum pada seluruh penjaga rumahnya jika ia tidak diizinkan masuk ke dalam rumah Pak Raka.

Lantas, bagaimana ia bisa bertemu dan mengajak Arini pergi dari rumah itu jika ia saja sudah tidak bisa masuk?

Arnold mengesah lalu meninju udara dengan geraman yang tidak ia tahan.

Suami Arini itu berteriak kesetanan namun para pengawalnya tidak berani menghentikannya.

"Aku harus telpon Jessica! Ya. Hanya Jessica yang bisa bawa aku masuk rumah itu." Arnold bermonolog lalu kembali ke dalam mobilnya untuk menuju restoran karena ia dan para pengawalnya belum ada yang makan siang.

***

"Apa kita tidak bergerak sedikitpun, Daddy?" tanya Devano seraya menatap tetua di rumahnya.

Semenjak Arini dibawa pergi Raka, Daddy dan mommynya serta Tante dan Omnya tidak ada yang beranjak sedikitpun dari rumah setelah pulang dari Bandara.

"Kita tunggu informasi dari Arnold, Dev." jawab Daddy Chandra dan Devano yang sedari tadi resah pun akhirnya berdiri. "Devano mau nyusul Arnold, Daddy. Devano enggak bisa diem aja kayak gini sementara Arini nunggu pergerakan kita buat bebasin dia dari sangkar emasnya Pak Raka."

"Kamu enggak tau Raka, Dev. Jangan gegabah." Daddy Chandra berusaha mencegah apalagi saat mendengar dari Ayah Darius kalau Arnold sudah memiliki perjanjian dengan Jennifer agar bisa bersama.

"Devano enggak gegabah, Daddy. Tapi Devano kasihan sama Arini."

"Arini anaknya. Tidak mungkin dia berani macam-macam dengan Arini." Daddy Chandra menatap lurus ke depan dengan mata tajam sarat kekesalan yang begitu kentara.

Uncle Arini itu geram dan kesal dengan dirinya sendiri yang tidak ikut mengantarkan Arini dan kedua orangtuanya ke Bandara untuk bertolak ke Jerman.

Dulu, saat Arini kecil, saat Jennifer dan Darius berangkat ke Jerman dan diantar oleh Luna, Raka mempunyai celah untuk bertemu Jennifer dan meminta adiknya itu untuk mengakui dia sebagai Ayah Arini walaupun akhirnya ditolak oleh Jennifer.

Dan kemarin, saat Arini dewasa bahkan sudah menikah dan kembali ke Jerman bertiga seperti dulu, ganti Arini yang mempunyai celah bertemu dengan Raka dan membuat Raka berhasil membawa pergi Arini dari Jennifer.

Dulu memang Arini kecil dalam genggaman Darius, dan Jennifer ke toilet sendiri.

Tapi kemarin, Arini memang ke toilet sendiri sedangkan Ayah Darius pergi buat beli kopi.

Arini sudah besar, dan mereka dalam lingkup tempat yang sama, sehingga Bunda Jennifer sedikit melonggarkan pengawasannya.

Hah!

Uncle Arini itu marah, kenapa di tempat yang sama Raka mempunyai celah bertemu dengan adiknya dan kemarin keponakannya?

Dan kenapa ia juga tidak bisa mengantarkannya sedangkan ia hanya meeting online.

Seharusnya ia kemarin ikut ke Bandara kan mengantar adik serta keponakannya.

Huft!

Uncle Chandra menghela napas kasar dan seketika menoleh pada adiknya yang terus tergugu dengan wajah pucat yang begitu kentara karena sedari kemarin hanya makan beberapa suap itu saja karena dipaksa Ayah Darius.

"Sabar Jen," katanya sembari mengusap pucuk kepala adiknya.

***

"Kak Arnold!" Jessica menatap Arnold penuh cinta saat Arnold masuk ke dalam ruang kerjanya.

Arnold menampilkan muka datar menanggapi Jessica yang meneriakinya girang.

Demi misi bertemu dengan Arini, ia harus mendekati Jessica untuk melancarkan aksinya.

Ya, cara itu yang diambil Arnold kini saat ia sudah merasa buntu untuk bisa bertemu Arini.

Jessica berdiri dari kursi kerjanya lalu menghampiri Arnold yang duduk di sofa tunggal yang ada di ruangannya.

"Kak Arnold ada apa?" Jessica mengalungkan tangannya pada lengan Arnold, "Kak Arnold beneran lagi ada masalah ya sampai-sampai dua hari ini Kak Arnold mepet Jessica terus? Hm?" tanyanya manja.

Arnold hanya diam seraya menampilkan muka datar.

"Ada masalah apa sih kamu Kak? Bilang sama Jess, siapa tau Jess bisa bantu Kak Arnold. Ya kan?" Jessica menatap Arnold yang sama sekali tidak menatapnya.

"Kak!" rengek Jessica seraya menggoyangkan lengan Arnold, "ada apa Kak? Kenapa kakak diam aja sih?" tanyanya lagi yang membuat Arnold melepaskan tangan Jessica lalu berdiri dan melangkah mendekat kaca besar dimana pemandangan ibu kota begitu terpampang nyata dan indah di depannya.

Jessica ikut berdiri lalu melangkah menuju dimana posisi Arnold berdiri lalu memeluk pria beristri itu dari belakang. "Ada apa kak?" tanyanya.

"Aku mau ketemu Papamu." ujar Arnold setelah menarik napasnya dalam.

"Ketemu Papa?" Jessica yang sedang menghidu aroma jas yang dipakai Arnold pun menegakkan kepalanya dengan tangan masih memeluk Arnold, "Kan kata Papa kemarin Kak Arnold baru aja ketemu sama Papa."

"Pak Raka cerita?" Arnold bertanya dan kali ini menoleh pada Jessica yang hanya terlihat matanya.

Jessica menganggukkan kepalanya.

"Cerita gimana?" Arnold bertanya seraya membalikkan badannya menghadap Jessica.

"Hmm." Jessica mengetukkan jari telunjuknya di dagu seraya mengingat perkataan Papanya, "Kata Papa, Kak Arnold maksa pengen ketemu Papa sampai-sampai satpam jaga nelpon Papa buat konfirmasi. Papa cuman cerita itu doang sih, Kak. Memangnya ada apa sih Kak kalau Jess boleh tau? Kok Kak Arnold pengen banget ketemu Papa lagi padahal kemarin baru aja abis ketemu?"

"Aku mau melamar kamu dengan Papamu." ujar Arnold seraya menatap Jessica yang langsung membulatkan mulutnya dan matanya berbinar senang.

"Kak Arnold serius?" Jessica bertanya dengan manja.

Arnold menganggukkan kepalanya, "Aku enggak pernah bercanda." tegasnya.

"Hmm! Kalau begitu, kenapa kemarin Kak Arnold cuman ketemu Papa dan enggak langsung bilang sama Papa kalau mau melamar Jess?" tanya Jess seraya menatap Arnold yang kini mengalihkan tatapannya.

"Aku mau tanya sama kamu dulu, kamu mau atau tidak. Soalnya kamu kan bakal jadi istri kedua, bukan istri pertama." jelas Arnold dan Jessica menganggukkan kepalanya paham.

"Kalau Jess mah mau-mau aja Kak, mau kedua kek, mau ketiga kek, mau kesepuluh pun enggak masalah asal sama Kak Arnold Jess mah rela." Jessica berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya dengan merapikan anak rambutnya ke belakang telinga.

"Tapi aku punya syarat. Apa kamu bisa mengabulkan syarat yang aku mau Jess?" tanya Arnold seraya menatap Jessica kembali.

"Syarat apa Kak?"

"Aku mau melamar mu di rumahmu yang di Kemang. Rumah yang ditempati Papamu sekarang." Arnold menunduk seperti mau mencium Jessica yang membuat Jessica tiba-tiba memejamkan matanya.

Padahal Arnold hanya berbisik tepat di telinganya.

"Bisa. Sangat bisa Kak! Jess akan atur semuanya biar kita bisa lamaran di Kemang."

"Oke! Jadi, Aku akan ketemu Papamu besok di Kemang." ujar Arnold yang membuat Jessica membuka matanya.

"Besok?" Jessica berteriak kaget, "apa enggak kecepatan itu Kak? Jess kan belum hubungi Event organizer, terus MUA hits yang Jess pengen, dress yang mau Jess pakai pun belum Jess pesen, terus--"

"Lebih cepat lebih baik Jess! Aku enggak mau berubah pikiran lagi." potong Arnold cepat, "lagian kamu kan orang kaya, buat semua keinginan kamu itu dalam semalam aja bisa kamu dapatin semuanya. The power of money, Jess!"

"Hm hm! Kakak benar juga. Oke deh. Deal kak!" Jessica loncat-loncat lalu memeluk Arnold dari depan dengan benar.

Dan Arnold menarik napasnya begitu dalam tanpa membalas pelukan Jessica.

Bersambung...

1
Inisial EY
Hai-hai readers, ini kisah tentang Arini anak jennifer ya, kalau kalian pengen tau siapa Arini, kalian boleh baca novel aku sebelumnya yang judulnya "JANDA ITU ISTRIKU" oke.. makasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!