azalea menangis di sisi tubuh naima yang terbujur, kematian kakaknya menyisakan duka yang teramat dalam. matanya menatap nanar bayi merah di pangkuan kiano abang iparnya yang juga menangis tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
empat belas
Mata tua pak umar berbinar indah, melihat betapa akurnya rumah tangga kiano dan azalea. Sebagai orang tua, ia sempat khawatir kalau kiano dan azalea tidak bisa saling menerima.
Langkah kaki pria tua itu mengikuti istrinya yang berjalan menuju kamar yang disediakan untuk mereka.
Pak umar menatap sendu, rania yang berada dalam gendongan danila, istrinya. Walau tidak mengingkari kalau ia bahagia melihat rania tumbuh sehat, namun kerap kali rasa sedih menghampirinya.
Setiap kali melakukan panggilan video, pak umar tak kuasa menutupi kesedihannya. Lahirnya rania, adalah hari ia kehilangan putri sulungnya.
"bapak dan ibu sudah makan siang?"
Pak umar tersentak dari lamunannya, menatap putri bungsunya yang barusan bertanya.
Azalea, gadis itu berubah sekali. Pak umar sebenarnya senang melihat perubahan azalea, putri bungsunya itu terlihat sangat feminim.
Namun pak umar juga tak bisa menutupi rasa bersalahnya, kehidupan azalea harus berubah total. Gadis yang biasa santai, harus menjadi seorang ibu dalam semalam.
Mata tuanya melirik ke arah kiano yang ijin ingin salin pakaian dulu, ia hanya mengangguk.
"bapak dan ibu kok ngabarin aza sih mau kemari?" protes azalea, gadis itu duduk di depan kedua orangtuanya yang bersandar di sofa.
"kalau dikabari, aza kan bisa masak kesukaan bapak dan ibu"
Terdengar tawa renyah bu danila, sebelum menjawab wanita paruh baya itu menoleh ke arah suaminya.
"emang tujuannya bikin kejutan, iya ndak pak?"
Pak umar tidak menjawab, pria itu hanya tersenyum lembut. Tangannya meraih rania dari pelukan istrinya.
Azalea menggeleng gemas, berdiri. "aza buatin minuman segar dulu yah"
Kedua orangtua itu mengangguk bersamaan, keduanya sedang fokus bermain dengan rania yang mengoceh riang.
"bagaimana kamar sebelah za?"
Azalea menoleh kaget, tiba-tiba saja kiano sudah berdiri di belakangnya bertanya dengan suara berbisik pelan.
"kalau sudah aku mau anterin tas bapak dan ibu ke kamar"
"sudah mas, perlengkapan rania juga sudah kupindahin ke kamar kamu.."
Kiano mengangguk, sebelum pria itu beranjak, ia masih sempat menepuk lembut pundak azalea.
"nanti aku bantuin beberesnya"
Azalea hanya mengangguk tipis, perlakuan kiano barusan memberi efek aneh dalam perutnya. Sejak pria itu merangkul pundaknya tadi dan memanggilnya sayang di depan bapak dan ibunya, sejak itu rasa aneh dalam perutnya terus saja mengganggu.
Tentu saja azalea tahu apa penyebabnya, namun azalea tak menyukainya. azalea tidak pernah ingin rasa yang ada di hatinya ini diketahui oleh kiano.
Bukankah pernikahannya hanya demi rania, dan kiano memberi batas waktu untuknya. 2 tahun, tidak lebih tidak kurang.
Jadi buat apa azalea jatuh cinta sendirian seperti ini, padahal sudah sangat jelas endingnya, kalau pernikahan ini hanya untuk membesarkan rania.
Bukankah kiano juga sudah memiliki calon, sekretarisnya tadi dengan jelas mengatakan kalau azalea hanya pengasuh. Kiano menikahi dia untuk membesarkan rania, sampai sarah, sekretaris kiano mampu mengurus rania.
Azalea meletakkan masakannya di atas meja makan, karena orangtuanya datang tanpa pemberitahuan, azalea hanya masak seadanya.
Sejak pagi azalea memang belum masak apapun, kiano sudah 4 hari tidak pulang ke rumah dan azalea enggan sarapan sendirian.
Azalea menata dengan rapi, mengamati meja makan, melihat jika ada kekurangan. Hembusan nafasnya terdengar lega, azalea hendak memanggil kedua orangtuanya dan kiano untuk makan.
Di ruang keluarga, suara tawa ayah dan ibunya saling menimpali dengan suara ocehan rania, sementara kiano, pria itu juga ikut larut, walau sesekali matanya sibuk menatap ponselnya.
Pria itu terlihat membalas pesan, wajahnya berubah berulangkali, kadang terlihat cemas, namun sesekali terlihat tenang.
Azalea tahu, mungkin saja kiano sibuk mengurus urusan kantornya. Bukankah pria itu memang sedang disibukkan urusan kantor karena akhir tahun.
"udah beres masakannya?"
Bu danila menatap putrinya yang baru saja duduk, azalea mengangguk.
"bapak, ibu dan mas kian silahkan makan duluan, aza mau bobokkan rara dulu"
Azalea meraih rania dari pangkuan ibunya, bayi itu memang sudah terlihat rewel.
"haus yah sayang?"
Azalea menciumi pipi rania gemas, kiano yang sudah ikut berdiri mengikuti kedua mertuanya, berhenti sesaat, dengan santai tangannya nangkring di pinggang ramping azalea yang langsung membeku kaget.
"buruan yah, kamu juga harus makan"
Azalea hanya mampu mengangguk, susah payah ia menelan salivanya yang terasa mengganjal di tenggorokan.
Azalea meletakkan rania di atas buaian yang sudah ia pindahkan ke kamar kiano, ada rasa sungkan saat ia duduk di ranjang pria itu.
Sembari menepuk-nepuk lembut rania yang sedang minum susu, azalea teringat prilaku kiano seharian ini.
Ia tahu, pria itu hanya berusaha menunjukkan pada orangtua azalea kalau pernikahan mereka baik-baik saja. Azalea memahami itu, namun tetap saja hatinya sakit.
"zaaa"
Azalea menoleh, reflek jemari telunjuknya memberi isyarat untuk kiano jangan berisik. Gadis itu bersijingkat dengan ujung jari kakinya, agar tidak bersuara sama sekali.
"rara baru tidur mas"
Azalea mendorong tubuh kiano yang berada tepat di ambang pintu, pelan. Terasa tangannya menyentuh perut rata kiano, dengan cepat azalea menarik tangannya.
"mas kian udah selesai makan?"
Kiano menggeleng, azalea sudah mengangkat kakinya, hendak berlalu. Namun kiano mencekal tangannya, sedikit menunduk dengan mata melirik ke arah ruang makan.
"kita harus menyepakati sesuatu za"
Azalea mengerutkan alisnya, suara kiano yang berbisik,mempengaruhinya. Ia ikut-ikutan sedikit menunduk.
"aku minta tolong, selama bapak dan ibu di sini mari berpura-pura kalau rumah tangga kita baik-baik saja"
Azalea memicingkan matanya, "emang rumah tangga kita kenapa?" tanyanya tak kalah lirihnya. "bukankah kita baik-baik saja"
"bukan itu maksudku" geleng kiano cepat.
"mari berpura-pura kalau rumah tangga kita, seperti rumah tangga lainnya"
Azalea menggeleng bingung,"aku nggak paham maksud mas kian"
"hhhhhhh" kiano mendesah kasar, gimana caranya mengatakan pada azalea maksud hatinya ini.
"selama ibu dan bapak di sini, kita tidur bareng za"
Seketika wajah azalea merona merah, gadis itu membeku salah tingkah.
"cuman tidur sekamar aja, za."
Azalea berdehem pelan, kepalanya mengangguk, "aku paham kok mas"
Terdengar hembusan nafas kiano lega, wajah pria itu juga terlihat sumringah.
"kalau aku panggil kamu sayang di depan, bapak dan ibu nggak apa-apa kan?"
Azalea sudah salah tingkah lagi, namun ia tersenyum dan mengangguk cepat, berlalu meninggalkan kiano, azalea takut ketahuan pria itu kalau hatinya sedang jedag-jedug nggak karuan.
"kok bapak dan ibu belum mulai makan?" tanya azalea heran, menatap kedua orangtuanya.
Pak umar dan buk danila tersenyum bersamaan, mereka juga menggeleng.
"nungguin kamu nduk, kian juga sepertinya nggak biasa makan kalau nggak ada kamu, iya kan nak kian?"
"iya bu, heheh" tawanya pelan, pria itu langsung duduk di sisi azalea.
"karena biasanya aza yang siapin, iyakan sayang?"
Azalea tersenyum, meringis ke arah ibunya. Kepalanya mengangguk dengan tangannya yang sibuk menyiapkan nasi untuk kiano.
"aza dan na berbedakan?walau aza tomboy tapi tak melupakan kodratnya sebagai istri. Naima nggak pernah begini kan?"
Tangan azalea terhenti seketika, kiano yang wajahnya tadi tersenyum, seketika terdiam membeku. Pak umar yang menyadari itu menjawil istrinya agar diam, namun buk danila tak bergeming, ia tetap menatap kiano lekat, seakan meminta pria itu menjawabnya jujur.
Bersambung...
.