Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.
Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.
Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.
Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Acara ulang tahun Selir Agung perlahan berakhir. Para tamu mulai berpamitan, suasana aula yang tadinya ramai kini perlahan sepi. Feng Wu tidak menunggu lebih lama lagi. Segera setelah berpamitan kepada Selir Agung dan Kaisar, ia bergegas mendekati Jenderal Wen, lalu menggandeng erat lengan kakeknya.
Ia tahu begitu banyak pasang mata yang sejak tadi memperhatikannya. Para pemuda bangsawan, pejabat muda, bahkan Pangeran Ketujuh dan Pangeran Ketiga pun masih berada di sana. Dengan menggandeng lengan Jenderal Wen, ia menyampaikan pesan tanpa bersuara, yang jelas kepada siapa pun jika jangan ada yang berani mendekat. Aku berada di bawah perlindungan Jenderal Wen. Tak ada satu pun pria yang berani melangkah mendekat.
Namun ketika mereka melangkah menuju pintu keluar, sesosok pria bergegas menghampiri mereka, ia adalah Menteri Feng. Wajahnya tampak cemas, bercampur harap dan takut. Ia berdiri di hadapan mereka, menatap Jenderal Wen dengan penuh rasa hormat sekaligus rasa bersalah, lalu matanya beralih kepada gadis di sampingnya, putri kandungnya sendiri.
"Jenderal Wen..." sapanya pelan, suaranya bergetar. "Izinkan saya... menyapa putri saya sebentar. Wu'er... apakah kau ingat pada Ayah? Kau tumbuh begitu besar... begitu cantik."
Ia mencoba melangkah sedikit mendekat, tangannya terulur seakan ingin menyentuh, namun terhenti di udara.
Feng Wu diam. Ia tidak menyapa, tidak tersenyum, bahkan tidak mengangguk. Ia hanya menatap Menteri Feng dengan tatapan yang sangat dingin, tajam, dan tanpa sedikit pun kasih sayang. Di dalam tatapan itu tersimpan ribuan luka, masa kecil yang terbuang, kelaparan, penindasan, dan kematian ibunya. Dendam yang belum usai masih membara di dadanya, dan ia tidak sanggup berpura-pura bahagia di hadapan pria yang membiarkan istrinya mati dan putrinya menderita.
Menteri Feng merasakan kedinginan itu hingga ke tulang sumsum. Ia tahu jika ia telah kehilangan haknya sebagai ayah. Anak itu bukan lagi anak kecil yang bisa ia panggil sesuka hati. Feng Wu sudah tumbuh menjadi wanita yang kuat, mandiri, dan jauh dari jangkauannya.
Jenderal Wen menyadari ketidaknyamanan cucunya. Ia tidak ingin Feng Wu terganggu lebih lama lagi. Dengan tegas namun tenang, ia menatap Menteri Feng.
"Menteri Feng, saat ini sudah larut. Cucu perempuanku butuh beristirahat. Mohon maaf, kami harus pulang."
Tanpa menunggu jawaban, Jenderal Wen langsung melangkah pergi, membawa Feng Wu bersamanya. Feng Wu tidak menoleh sedikit pun ke arah ayahnya. Ia terus berjalan tegap di samping kakeknya, meninggalkan Menteri Feng yang terpaku sendirian di tengah lorong istana, menatap punggung putrinya yang semakin menjauh dan semakin jauh, hingga tak bisa diraih lagi.
Menteri Feng menunduk dalam, tubuhnya terguncang.
"Benar-benar sudah terlambat... ia bukan lagi putriku. Dan aku... tidak pantas menjadi ayahnya". Gumamnya.
Pangeran Ketiga tidak ikut berdesakan di pintu keluar. Ia berdiri diam di balik pilar besar yang tersembunyi di sudut aula, tempat di mana ia bisa melihat semuanya tanpa terlihat. Matanya yang tajam tak lepas dari sosok Feng Wu dan Menteri Feng, Feng Yuan sejak pertama kali pria itu menghampiri gadis itu hingga akhirnya mereka pergi.
Ia melihat bagaimana Feng Wu menggandeng lengan Jenderal Wen dengan erat, seakan mencari perlindungan. Ia melihat tatapan dingin gadis itu, tatapan yang penuh luka, kecewa, dan kemarahan yang tertahan saat berhadapan dengan Feng Yuan. Dan ia melihat bagaimana Feng Yuan berdiri terpaku, penuh penyesalan namun tak berani melangkah lebih jauh.
Perlahan, sepotong teka-teki mulai tersusun di kepalanya.
"Jadi saat itu..." batinnya. Saat aku bertemu dengannya di kediaman Feng... dia bukan berkeliaran tanpa tujuan. Dia datang ke tempat itu, tempat yang seharusnya menjadi rumahnya, namun justru menjadi tempat yang menyakitkan baginya".
Semua hal mulai masuk akal. Alasan mengapa gadis itu bergerak seperti bayangan di tengah malam, mengapa ia terlihat begitu paham tentang racun dan obat, mengapa ia pergi begitu saja tanpa menoleh semuanya berkaitan dengan masa lalu yang kelam di kediaman Feng.
Dan semakin ia memahami, semakin rasa penasaran itu tumbuh tak tertahankan.
"Mengapa gadis kecil itu seperti memendam dendam yang begitu besar?" batin Pangeran ketiga yang diselimuti rasa penasaran.
Pangeran Ketiga berbalik perlahan, matanya menatap kegelapan di sudut ruangan. Dengan suara rendah namun tegas, ia berbicara pada ruang kosong tempat di mana sosok tak kasat mata berdiri menunggu perintahnya.
"Muncullah."
Seketika, sesosok bayangan hitam melayang turun dari langit-langit, berlutut di hadapannya tanpa suara sedikit pun,sosok itu adalah Pengawal Bayangan, orang paling dipercaya yang bertugas mengumpulkan informasi dan menjaga keamanan Pangeran Ketiga.
"Yang Mulia," sahutnya rendah.
Pangeran Ketiga menatap ke arah pintu keluar tempat Feng Wu menghilang, lalu berucap perlahan namun tegas.
"Selidiki segalanya tentang Nona Feng Wu. Mulai dari hari kelahirannya, masa kecilnya, bagaimana ia dibesarkan setiap detail, sekecil apa pun, aku ingin mengetahuinya. Jangan ada yang terlewat. Dan lakukan dengan diam-diam, jangan sampai ada yang menyadari."
"Baik, Yang Mulia. Perintah akan dilaksanakan."
Pengawal Bayangan itu lenyap seketika, seakan tak pernah ada. Hening kembali menyelimuti sudut aula itu.
Pangeran Ketiga berdiri sendirian, tangannya meremas perlahan dua botol porselen kecil yang tersimpan di dalam jubahnya, pemberian dari gadis itu.
"Feng Wu... apa yang kau sembunyikan di balik wajah tenang itu?" batinnya.
"Kau menyelamatkan nyawaku, lalu pergi tanpa nama. Kini kau berdiri di hadapan semua orang, namun tetap menjaga jarak dari siapa pun. Aku ingin tahu siapa dirimu yang sebenarnya dan mengapa hatimu begitu dingin, namun tanganmu begitu lembut saat menolong orang lain" gumam Pangeran ketiga.
Ia tidak tahu bahwa rasa penasaran ini perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang kelak akan mengubah seluruh hidupnya.