NovelToon NovelToon
Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: HaLiAs

Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saksi Bisu x Sidang Kampus 3

‎   Dua hari kemudian, awan mendung benar-benar turun di atas Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Sebuah sidang disipliner tertutup digelar di ruang rapat utama Dekanat. Ruangan itu dingin, berdinding kayu, dengan meja panjang berbentuk oval di tengahnya.

‎

‎Di kursi pesakitan, duduklah Reza. Kemeja flanelnya sudah dicuci bersih, wajahnya masih memar, tapi posturnya tegak lurus bak tiang bendera. Di seberangnya, bertindak sebagai majelis hakim, duduk Bapak Dekan FIB beserta jajaran komite etik kampus, termasuk Pak Yanto.

‎

‎Di sisi saksi dan korban, Dini duduk ditemani Siska, Maya, dan tentu saja, Kevin. Dini terlihat lebih rapi hari ini, namun tatapan matanya tetap kosong. Ia duduk seperti boneka yang nyawanya sudah dicabut, tangannya terus meremas ujung roknya.

‎

‎Dan di barisan belakang, di kursi penonton yang jumlahnya dibatasi, duduklah Poltak Hasibuan. Wajahnya kusut, kemejanya dimasukkan separuh, dan matanya melotot tajam mengawasi setiap jalannya sidang. Jika diizinkan, ia sudah pasti membawa toa untuk melakukan orasi tunggal.

‎

‎"Saudara Reza Adhitama," suara berat Bapak Dekan membuka sidang. "Anda dituduh melakukan tindakan asusila berat, yaitu penyerangan dan percobaan pemerkosaan terhadap mahasiswi atas nama Dini, di area Gudang Teater Lama. Bukti di lapangan menunjukkan Anda berada di lokasi kejadian, kemeja Anda ditemukan menutupi korban, dan saksi pertama, Pak Yanto, menemukan Anda dalam posisi yang sangat memberatkan."

‎

‎"Interupsi, Pak Dekan!" teriak Poltak dari belakang sambil mengangkat tangan tingi-tinggi. "Kemeja menutupi korban itu namanya empati, Pak! Bukan bukti pemerkosaan! Masa orang kedinginan dikasih daun pisang?!"

‎

‎"Saudara Poltak, harap tenang atau Anda saya keluarkan dari ruangan!" tegur Dekan tegas. Poltak bersungut-sungut, kembali duduk sambil menyilangkan tangan.

‎

‎Sidang dilanjutkan. Pak Yanto memberikan kesaksiannya yang sangat menyudutkan. Kemudian Siska dan Maya menambahkan bumbu-bumbu asumsi tentang motif Reza yang sakit hati karena menolak Dini, memutarbalikkan fakta hingga terdengar seperti plot sinetron murahan.

‎

‎Tiba saatnya Kevin berbicara sebagai 'pendamping saksi'. Dengan nada bicara yang tertata rapi ala politisi muda, Kevin memprovokasi komite.

‎

‎"Bapak Dekan dan jajaran komite yang terhormat. Kampus kita adalah kampus bermartabat. Membiarkan predator seperti Reza tetap berada di sini sama saja dengan mencoreng nama baik UI. Mahasiswi-mahasiswi lain tidak akan pernah merasa aman. Bukti sudah jelas. Trauma yang dialami Dini tidak bisa dibuat-buat. Saya rasa, sanksi terberat adalah hal yang mutlak," ucap Kevin, melirik sinis ke arah Reza.

‎

‎Poltak di belakang rasanya ingin melempar asbak ke kepala Kevin.

‎

‎"Sekarang, giliran Anda, Reza. Apa pembelaan Anda?" tanya Dekan.

‎

‎Reza menarik napas panjang. Ia menatap Dini sejenak. Hatinya perih melihat gadis ceria itu kini berubah menjadi cangkang kosong. Reza tahu, apa pun yang ia katakan tidak akan mengubah bukti visual yang sudah tertanam di otak para dosen. Tapi ia tidak akan menyerah tanpa perlawanan.

‎

‎"Bapak Dekan," Reza memulai, suaranya tenang tanpa nada ketakutan. "Saya tidak menolak perasaan Mbak Dini dengan dendam. Kami sudah sepakat berteman, dan dia menerima itu dengan baik. Pada hari kejadian, ada dua preman bayaran yang menyeretnya. Preman yang sama yang menghancurkan tempat saya bekerja malam sebelumnya."

‎

‎Reza menatap lurus ke arah mata Kevin. "Saya masuk ke Teater Lama untuk menolongnya. Saat saya tiba, preman-preman itu sudah lari. Saya menemukan Mbak Dini dalam keadaan hancur, dan saya melepaskan kemeja saya hanya untuk menutupi harga dirinya, bukan untuk merusaknya."

‎

‎"Lalu di mana preman-preman itu sekarang? Mengapa tidak ada satu pun satpam yang melihat mereka?" tantang Pak Yanto.

‎

‎"Teman saya, Poltak, mengejar mereka dan meminta bantuan satpam. Sayangnya mereka lolos. Tapi keberadaan mereka nyata," bantah Reza.

‎

‎Dekan menoleh ke arah Dini. "Saudari Dini. Apakah kesaksian Reza benar? Apakah ada pihak lain yang menyerang Anda?"

‎

‎Semua napas di ruangan itu tertahan. Poltak mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ayo, Kak. Ngomonglah Kak, selamatkan kawan aku ini, doa Poltak dalam hati.

‎

‎Dini mendongak perlahan. Matanya bertemu dengan mata Reza. Ada kilatan kesedihan di sana, namun seketika memori tentang kegelapan Teater Lama, tangan kasar yang mencengkeramnya, dan tawa preman itu kembali menyerang otaknya. Dini memejamkan mata kuat-kuat, napasnya memburu, dan ia menggelengkan kepalanya panik. Mulutnya terkunci rapat. Traumanya terlalu besar. Ia membisu, lalu menunduk dalam-dalam sambil menutup telinganya.

‎

‎"Korban tidak bisa bersaksi karena trauma yang Anda ciptakan, Reza," simpul Pak Yanto kejam.

‎

‎Reza tersenyum tipis, senyum yang sangat getir. Ia memalingkan wajahnya menatap dinding kayu. Selesai sudah, batinnya. Jika saksi kunci membisu, dan saksi palsu berteriak paling keras, maka kebenaran hanyalah cerita fiksi di ruangan ini.

‎

‎Di dalam kepalanya, saat hakim sedang berdiskusi pelan, Reza tidak memikirkan tentang gelar sarjana yang akan melayang. Ia memikirkan dompetnya. Ia memikirkan celengan ayam jagonya. Ia memikirkan kelereng di saku celananya.

‎

‎Beasiswa Sastra Mandarin udah hangus, pikir Reza dengan pragmatisme yang konyol di tengah tragedi. Tapi Cina itu negara nyata, bukan cuma bisa dijangkau pakai nilai A. Kalau pintu depan dikunci, gue bakal bobol pintu belakang.

‎

‎Tekad Reza sekeras baja. Ia mengingat opsi kedua yang dulu ia buang jauh-jauh: Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Menjadi kuli panggul di pelabuhan Hongkong, tukang las di pabrik perakitan Shenzhen, atau apa pun itu. Gelar sarjana hanyalah kendaraan. Tujuannya tetap sama: Guangzhou. Chintya.

‎

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!