Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.
Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.
"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 — Di Balik Celah Pintu
Reino buru-buru menunduk hormat dan melangkah keluar, tergesa-gesa hingga tanpa sadar ia tidak menutup pintu itu dengan rapat — daun pintu tertahan sedikit, terbuka celah sempit yang membiarkan suara dan cahaya dari lorong masuk ke dalam. Ia berjalan menjauh dengan jantung berdebar, tak habis pikir apa yang baru saja terjadi.
Baik Vano maupun Ina sama sekali tidak menyadari hal itu.
Ina berbalik, senyum lebar dan penuh kemenangan terukir di wajahnya.
"Tak perlu repot-repot memberi izin," ucapnya santai, berjalan mendekat tanpa diundang.
"Kau sudah menungguku, bukan?"
Vano berdiri perlahan, kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuh, wajahnya memerah menahan amarah yang membara sekaligus rasa malu yang mendalam.
"Kau tidak seharusnya ada di sini, Ina…" suaranya bergetar.
"Aku tahu… semua ini bermula dari kesalahanku."
Ina berhenti tepat di hadapannya, menatapnya lekat-lekat, senyumnya tak pudar sedikit pun — justru makin lembut, penuh kepuasan yang tak disembunyikan.
"Kesalahanmu? Tidak, Vano… itu bukan kesalahan." Ia mengangkat tangan, menyentuh lengan kemejanya pelan.
"Malam itu kau menginginkanku. Dan aku menerimanya dengan sepenuh hati."
Vano menggeleng, menelan ludah yang terasa pahit.
"Aku tidak melihatmu, Ina. Mataku kabur, pikiranku hancur. Aku kehilangan arah… dan aku hanya melihatnya. Dia." Ia menarik napas panjang, menyebut nama itu dengan getir.
"Laudys… yang bisa menenangkan ku. Aku membayangkan tangan yang menyentuhku adalah tangan nya. Aku menumpahkan segala ke inginan ku untuk memiliki nya dan kesepianku padanya… dan kau, kau hanya pelampiasan ku"
Ina tersenyum makin manis, tak terganggu sedikit pun.
"Aku tahu kau memanggil nama itu. Aku tahu kau membayangkan orang lain." Ia mendekatkan wajahnya, suaranya lembut namun penuh keyakinan.
"Tapi itu tak mengubah kenyataan — yang ada di pelukanmu adalah aku. Aku yang kau peluk, aku yang kau cium, aku yang kau minta untuk tidak pergi, vano. berkali-kali."
Jemarinya merambat naik ke bahunya, menatapnya dengan tatapan yang begitu menginginkan.
"Dan aku bahagia, Vano. Setiap sentuhanmu, setiap pelukanmu… aku menerimanya dengan sukacita. Karena yang aku inginkan sejak awal bukan Damian. Bukan gelarnya, bukan hartanya. Tapi kau. Hanya kau."
Vano tertegun, tak menyangka pengakuan itu keluar dengan mudah begitu saja.
"Kau tahu aku membayangkan orang lain… dan kau tetap…"
"Dan aku tetap bersyukur itu terjadi," potong Ina tegas namun lembut.
"Karena malam itu untuk pertama kalinya kau menatapku, kau memelukku seakan aku segalanya. Kau menginginkanku berkali-kali, Vano. Tak cukup sekali. Kau kembali mendekat, memohon, menginginkan lebih. Dan setiap kali… aku membiarkanmu. Karena bagiku, itu anugrah."
Ia menatapnya lekat-lekat, penuh tekad.
"Aku tidak peduli siapa yang kau bayangkan. Yang penting kau menginginkanku. Kau membutuhkanku. Dan aku tak akan membiarkanmu pergi begitu saja."
Vano mundur selangkah, kakinya terasa lemas.
"Itu tak benar, Ina… kau hanya menggantikan tempat yang bukan milikmu."
"Siapa yang memegang tempat itu sekarang?" Ina melangkah mendekat kembali, tak mundur.
"Damian tak pernah membuatku menatapnya seperti itu. Hanya kau. Aku tak pernah menginginkannya. Aku hanya menginginkanmu."
Ia menarik napas panjang, lalu suaranya berubah tegas kembali.
"Jadi sore ini, temui aku di ruang tamu lantai atas. Sendirian. Datanglah kepadaku seperti malam itu. Lakukan padaku apa yang kau lakukan padanya. Dan aku akan menjaga rahasiamu — rahasia tentang siapa yang kau bayangkan, rahasia tentang apa yang terjadi. Atau… jika kau menolak, Damian akan mendengar semuanya. Bahwa tunangannya diinginkan oleh sepupunya, berkali-kali, dengan begitu hebatnya."
Vano menggeleng, hatinya hancur bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk saudaranya.
"Aku tak akan menyakitinya… lebih baik aku yang jujur daripada terus dipermainkan olehmu."
"Kita lihat saja." Ina tersenyum penuh percaya diri, lalu berbalik menuju pintu yang terbuka sedikit itu.
"Sore ini. Aku menunggumu."
Ia melangkah keluar — tanpa menyadari bahwa di balik celah pintu itu, seseorang berdiri kaku, mendengar setiap kata, setiap pengakuan, setiap nama yang terucap.
Vano berdiri terpaku, menutup wajah dengan kedua tangannya, bahu yang biasanya tegap kini tergoyahkan sepenuhnya.
Laudys… nama itu kembali bergema di kepalanya, menyakitkan bagai serpihan kaca yang tertelan.
Maafkan aku… Dan Damian… saudaraku… maafkan aku.
Ia menarik napas kasar, mengusap wajahnya seakan ingin membuang semua bayangan itu. Tangan kanannya meraba saku celana — sebungkus rokok teraba di sana. Ia memastikannya terselip rapat, lalu melangkah keluar tanpa menoleh, meninggalkan pintu yang masih terbuka sedikit itu di belakangnya.
Langkahnya berat, seakan dipasung rasa bersalah yang menumpuk. Ia tak menuju lobi, melainkan tangga darurat — menanjak terus, menapaki satu per satu anak tangga, hingga akhirnya mendorong pintu besi menuju atap gedung. Angin sore menyambutnya seketika, sejuk dan bebas, menerpa rambutnya yang berantakan. Ia mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya dengan tangan yang masih gemetar, lalu menghisapnya dalam-dalam, berharap asap itu ikut membawa pergi sedikit sesak yang mengikat dadanya.
Belum lama ia berdiri di sana, membiarkan pandangannya mengembara ke arah cakrawala yang mulai memerah, ponsel di saku celananya tiba-tiba bergetar hebat. Nama yang muncul di layar membuatnya mengernyit —
Eren Rayyan Firansyah.
Ia mengangkatnya dengan malas, suaranya terdengar serak dan berat.
"Ya?"
Suara Eren terdengar tegas namun sarat kekesalan dari seberang sana.
"Vano, kau di mana? Elona bersamaku sekarang, di klub biasa. Dia mabuk berat, berteriak-teriak memanggil namamu, tak mau berhenti sedetik pun. Dia menuntut kau datang ke sini sekarang juga."
Jantung Vano mencelos. Ia menutup mata sejenak, menghela napas panjang hingga asap tipis keluar dari sela-sela bibirnya.
"Eren… aku tidak bisa sekarang. Katakan padanya aku sibuk."
"Sudah kubilang begitu, tapi dia tak mendengar!" potong Eren tegas.
"Dia menangis, berteriak, mengamuk di sini. Semua orang menatap. Aku tak bisa menahannya lebih lama. Kau datanglah, atau aku yang akan mengantarnya sendiri ke tempatmu — sekarang juga."
Panggilan terputus seketika. Vano menatap layar yang kini gelap, lalu pandangannya jatuh ke arah kota yang mulai diterangi lampu-lampu sore. Rokok di jemarinya hampir habis, namun ia tak peduli. Satu beban belum terangkat — Ina, ancamannya, rahasia yang mengancam menghancurkan Damian — dan kini satu lagi datang menimpa. Elona. Yang ia hindari justru kini semakin mendesak, semakin tak bisa dielakkan.
Ia menghela napas panjang sekali lagi, membuang sisa rokok ke lantai dan menginjaknya pelan. Tak ada jalan lain. Ia tak bisa membiarkan Eren mengantar Elona ke sini — itu hanya akan menimbulkan keributan lebih besar. Dengan langkah yang terasa semakin berat, ia berbalik menuju pintu atap, bersiap menghadapi satu masalah lagi yang tak pernah ia inginkan.
^^^Bersambung...^^^