"Dimana Papaku, Ma?"
Pertanyaan seorang bocah cilik bernama Arka Daru Hutama itu membuat wanita dewasa bagaikan tersambar petir. Raut wajah perempuan bernama Ariska Sandra Hutami seketika pucat karena mendengar pertanyaan sederhana itu. Pada akhirnya pertanyaan itu takkan pernah mendapatkan jawaban pasti sampai takdir kembali mempertemukan Ariska dengan sosok seorang laki-laki yang mirip dengan Arka.
Siapakah sosok laki-laki itu? Apakah pertemuan mereka itu bisa menguak cerita masa lalu yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjelasan
"Arka, Mama boleh tanya?" tanya Ariska pada sang anak yang tengah mengotak-atik laptop barunya.
"Tanya apa, Mama yang cantik?" tanya Arka yang langsung mengalihkan pandangannya dari laptop.
Melihat wajah Mamanya yang tampak serius dan penasaran, Arka menghentikan kegiatannya bermain laptop. Arka membalikkan badannya menghadap sang Mama. Arka tersenyum sambil kepalanya direbahkan pada pangkuan Ariska. Di ruang keluarga itu juga ada Nenek Yuli dan Nana. Keduanya sangat penasaran dengan laptop baru milik Arka. Apalagi tadi melihat banyak belanjaan dari brand ternama. Mereka ingin mendengar cerita lengkapnya dari Arka.
"Kok kamu bisa percaya dan tidak takut sama orang baru? Biasanya kamu kan paling anti kalau dekat sama orang baru," tanya Ariska sambil mengusap lembut rambut Arka.
"Meleka bulan olang balu dan asing, Mama. Meleka kelualganya Alka," ucap Arka membuat ketiga perempuan itu menatapnya bingung.
"Mama, Nenek, dan Tante Nana nggak kenal lho. Kalau saudara kan seharusnya kami lebih kenal dulu," ucap Ariska mengatakan kebingungannya.
"Saudala sebangsa dan setanah ail, Mama." ceplos Arka membuat Ariska, Nana, dan Nenek Yuli melongo tak percaya.
"Bukan begitu maksud Mama, Arka."
Ariska sampai menguyel pipi gembul Arka karena geregetan. Bahkan Arka sampai tertawa cekikikan karena berhasil menjahili keluarganya. Memang benar adanya jika Arka ini paling anti orang asing yang baru dikenal. Ariska juga sering memberi pesan pada Arka agar jangan mau untuk dekat orang asing. Pasalnya sekarang sedang marak kasus penculikan anak.
"Mama sudah maafin Papa?" tanya Arka tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. Raut wajah Ariska langsung berubah tegang. Nenek Yuli pun langsung mengelus lengan Ariska agar cucu angkatnya itu bisa menenangkan diri.
"Maafin? Emangnya Papa buat salah apa sama Mama?" tanya Ariska dengan gugup. Berusaha menyembunyikan rasa takutnya pada peristiwa kelam itu.
"Papa sudah jahat sama Mama. Bikin Mama kehilangan masa depan dan hamil Alka," ucap Arka membuat keluarganya memelototkan matanya.
"Alka dapat semua dali intelnet," Arka pun bangun dari posisinya kemudian memperlihatkan sesuatu dari laptopnya.
"Ini Mama kan? Lalu ini Papa?"
Arka menunjuk sebuah rekaman CCTV beberapa tahun lalu di sebuah hotel. Dia melihat sendiri bagaimana tangan Ariska ditarik. Bahkan Arka juga berhasil mendapatkan rekaman CCTV kepergian Ariska dari kos. Hal itu membuat dirinya sangat sedih. Ternyata hidup Mamanya sebelum ada dirinya itu kesulitan. Harus bekerja sambil kuliah dan kos di lingkungan yang kurang baik. Arka bisa mengartikan CCTV itu melalui sebuah aplikasi penerjemah gambar dan suara. Ariska menutup mulutnya tak percaya melihat rekaman itu.
"Itu laki-laki yang Arka temukan gambarnya waktu itu kan? Berarti benar dia Papanya Arka?" gumam Ariska sambil meneteskan air matanya.
"Lalu lihat ini, Mama." Arka memberikan rekaman CCTV ruang kerja Frans saat Papa Bayu menampar laki-laki itu. Tentu saja hal itu membuat Ariska bertambah shock.
"Jadi Tuan Bayu itu Papanya Papamu?" tanya Nana setelah melihat sosok Papa Bayu berada di rekaman CCTV itu.
"Ya, belalti Alka benal kan kalau Opa dan Oma itu saudala." ucap Arka dengan tatapan polosnya.
"Mama masih malah dan takut ya sama Papa? Kalau masih takut, ndak usah beltemu dulu ndak apa Alka ini. Alka cuma kasih tahu saja bial Oma dan Opa ndak diculigai. Papa belum tahu kok kalau Mama punya Alka. Mau Alka omelin nanti kalau ketemu sudah buat Mama susah dan takut," Arka melihat Ariska terdiam tapi bibirnya bergetar dan air mata mengalir pada kedua pipinya.
Cup... Cup...
"Menangis lah, Ma." ucap Arka yang langsung memeluk Ariska.
Hiks... Hiks...
Ariska menangis dalam pelukan Arka. Dia tak menyangka kalau anaknya bisa menemukan rekaman CCTV itu. Bahkan Mama Anisa dan Papa Bayu ternyata sudah mengetahui bahwa Arka adalah cucunya. Pantas saja mereka sangat baik. Apalagi saat Papa Bayu menampar anaknya karena berbuat hal tak senonoh pada Ariska. Bahkan Ariska mendengar bagaimana Frans mengatakan bahwa dia ingin bertanggungjawab. Nana dan Nenek Yuli hanya bisa saling menggenggam tangan untuk menguatkan hati. Mereka tidak tega mendengar tangis pilu dari Ariska. Bahkan saat melihat rekaman CCTV itu, terlihat jika memang Ariska dipaksa oleh Frans.
"Papa sampai sekalang cali Mama telus. Cuma sama Opa ndak boleh dulu soalnya pelusahaannya sebental lagi bangklut. Ndak mau Alka punya Papa bangklut, nanti malah Alka disuluh kelja." ucapnya mengatakan keinginannya.
"Kamu juga biasanya kerja, Arka. Kenapa sekarang jadi nggak mau kerja?" tanya Nana sambil menggelengkan kepalanya. Padahal Arka dengan senang hati ikut bekerja untuk Mama dan Neneknya.
"Beda dong. Masa Alka bekelja untuk Papa yang juga seolang laki-laki. Papa itu laki-laki sudah besal, masa dikasih uang sama Alka yang masih kecil." ucap Arka tak mau mencarikan uang untuk Papanya itu.
"Arka, kalau kamu mau bertemu Papa ya tidak masalah. Apalagi Oma dan Opamu juga sudah tahu tentang kamu. Kalau Mama, nanti dulu ya. Tidak mudah melupakan hal pahit dalam hidup," ucap Ariska dengan suara seraknya.
"Oke, ndak masalah. Bial nanti Alka seleksi dulu itu Papa pantas ndak ketemu Mama. Kalau ndak, Alka calikan wowok lain aja." ceplos Arka dengan santainya.
Ariska terkekeh pelan mendengar apa yang diucapkan oleh Arka. Jangankan mencari cowok lain, untuk membuka hati kepada sosok Papa Arka saja dirinya tidak ada pemikiran ke sana. Apalagi setelah mengetahui siapa sosok laki-laki bernama Frans itu yang ternyata adalah pemilik hotel tempat dia bekerja dulu. Dia membaca semua informasi itu dari laptop baru milik Arka. Perbedaan status sosial antara dia dan Frans membuatnya takut.
Ariska khawatir kalau Frans dan orangtuanya akan mengambil Arka darinya. Jika itu terjadi, dirinya tak bisa melawan dengan uang. Pasti mereka bisa menggunakan kekuasaan dan uang. Pantas saja Arka bisa sepintar dan segenius ini. Ternyata Papa dan Opanya adalah pebisnis. Tak lupa dengan Papa Bayu yang dulunya seorang INTEL.
"Daripada kamu carikan Mamamu cowok lain, mending Tantemu ini dulu. Kasihan lho Tantemu ini masih jomblo, Arka." ucap Nana untuk mencairkan suasana.
"Tante Nana tuh kuliah dulu yang benal, ndak usah mikilin wowok." ucap Arka memberikan pesan.
"Kamu itu juga sekolah dulu, jangan pacaran terus sama si Azura." ledek Nana membuat Arka membulatkan matanya.
"Alka dan si ompong ndak pacalan ya. Ngajalin anak kecil ndak benal ini Tante Nana. Kami masih kecil, ndak boleh pacal-pacalan. Ajalan sesat nih Tante Nana," seru Arka dengan tatapan sinisnya.
Hahaha...
Apapun pilihanmu nanti mau ikut Papa atau Mama, semoga itu yang membuatmu bahagia, Arka.
kmu tu dulu pas diap kejadian kurang usaha nyari keberadaan ariska
tq thor🙏😍
lanjutt lg ya🤭💪😄
pov Carlo : lanjuuut pak bos ,, 🕺🕺🕺🕺🕺
🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣