Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.
Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.
Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.
Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman baru
Dengan langkah pelan namun mantap, Reynan akhirnya mendekati bangku taman tempat Haruna duduk. Jantungnya berdegup kencang, seperti yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia berdiri beberapa langkah dari sana, sedikit ragu sebelum akhirnya memberanikan diri membuka suara.
"Hai," sapanya, mencoba terdengar santai meski hatinya sendiri dipenuhi kegugupan yang aneh.
Haruna menoleh, sedikit terkejut mendapati seorang pemuda asing berdiri di dekatnya. "Hai," jawabnya sopan, menatap sosok di hadapannya dengan pandangan penasaran.
"Boleh duduk di sini?" tanya Reynan, menunjuk bangku kosong di samping Haruna.
"Boleh," jawab Haruna, menggeser sedikit posisinya untuk memberi ruang.
Reynan duduk, mencuri kesempatan untuk mengamati wajah gadis itu lebih dekat.
Semakin ia menatap, semakin ia yakin bahwa kecantikan yang terpancar dari sosok di hadapannya begitu berbeda dari wanita-wanita lain yang pernah ia temui. Bukan kecantikan yang dibuat-buat dengan riasan berlebihan, melainkan sesuatu yang begitu alami dan tulus.
"Perkenalkan, aku Reynan," ucapnya, mengulurkan tangan.
"Haruna," jawab gadis itu, menyambut uluran tangan itu dengan senyum ramah. Senyum yang justru semakin membuat dada Reynan berdegup tak karuan.
"Kamu calon mahasiswa baru juga di sini?" tanya Reynan, mencoba mencari topik pembicaraan agar percakapan itu tak berakhir begitu cepat.
"Iya, tadi baru selesai daftar," jawab Haruna antusias. "Kamu juga?"
"Iya, tadi juga daftar, dianterin bokap," jawab Reynan singkat, tak ingin memperpanjang cerita tentang keluarganya.
Percakapan itu terus mengalir, dari topik seputar kampus, jurusan yang mereka ambil. Hingga hal-hal ringan lainnya yang sengaja Reynan cari-cari agar bisa lebih lama duduk berdampingan dengan gadis yang telah berhasil mencuri perhatiannya sejak pandangan pertama.
Namun di sela-sela obrolan itu, matanya terus saja tak bisa berpaling dari wajah Haruna, mengamati setiap ekspresi yang muncul di sana.
"Kok... dari tadi ditatap terus, sih?" tanya Haruna akhirnya, merasa risih namun juga sedikit malu dengan perhatian yang begitu intens itu, pipinya mulai merona tipis.
Reynan tersenyum tipis, tak menunjukkan rasa malu sedikit pun atas kelakuannya. "Jangan salahin aku yang terus natap. Salahin kamu yang kelewat cantik."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Reynan, membuat rona merah di pipi Haruna semakin kentara.
Ini adalah pertama kalinya ada seorang pria yang begitu terang-terangan mengungkapkan pujian semacam itu kepadanya, sesuatu yang belum pernah ia alami sepanjang hidupnya yang penuh dengan cemoohan dan hinaan.
Namun tak lama, senyum di wajah Haruna perlahan meredup. Ia menunduk, menatap kakinya sendiri yang terbungkus rapi di balik rok panjangnya. "Percuma cantik kalau cacat," ucapnya lirih, suaranya penuh getir yang sudah begitu lama ia pendam.
Dengan perlahan, Haruna menyingkap sedikit ujung roknya, memperlihatkan kondisi kakinya yang tak sempurna kepada Reynan.
Sesuatu yang selalu ia sembunyikan dari orang-orang baru yang ia temui, mengantisipasi tatapan jijik atau kasihan yang biasanya langsung muncul begitu orang lain mengetahui kekurangannya.
Reynan menatap kaki itu sejenak, namun tak ada sedikit pun perubahan dalam raut wajahnya,. Tak ada rasa jijik, tak ada tatapan kasihan yang berlebihan seperti yang selama ini selalu Haruna terima dari orang-orang di sekitarnya.
"Terus kenapa?" tanya Reynan santai, seolah hal itu bukanlah masalah besar sama sekali.
Haruna mendongak, terkejut mendengar respons yang begitu berbeda dari yang biasa ia dapatkan. "Kamu... nggak jijik?"
"Kenapa harus jijik?" Reynan mengernyit heran. "Itu kan bukan salah kamu. Lagian, itu nggak ngurangin apa pun dari diri kamu."
Kata-kata sederhana itu menghantam hati Haruna begitu dalam, membuat matanya berkaca-kaca menahan haru yang tiba-tiba membuncah.
Selama bertahun-tahun, ia selalu menduga bahwa siapa pun yang mengetahui kekurangannya pasti akan langsung menjauh. Sama seperti yang dilakukan anak-anak sebayanya dulu, atau setidaknya akan menatapnya dengan rasa kasihan yang berlebihan.
Namun Reynan sama sekali tidak menunjukkan reaksi semacam itu, justru semakin menunjukkan ketertarikan untuk mengenalnya lebih jauh.
"Boleh kita temenan?" tanya Reynan tiba-tiba, matanya menatap lurus ke arah Haruna dengan sungguh-sungguh.
Haruna terdiam sejenak, tak menyangka akan mendapat tawaran pertemanan yang begitu tulus dari seseorang yang baru saja ia kenal. "Boleh," jawabnya akhirnya, tersenyum lebar, sebuah senyum yang jauh lebih cerah dari sebelumnya.
"Kalau gitu, tukeran nomor yuk," ajak Reynan, mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
Mereka pun saling bertukar kontak, dan tepat setelah proses itu selesai, ponsel keduanya berdering hampir bersamaan. Reynan melihat layar ponselnya, mendapati nama ayahnya tertera di sana, sementara Haruna juga mendapati panggilan dari Kirana.
"Kayaknya kita berdua harus balik," ucap Reynan sambil tersenyum tipis, sedikit kecewa karena harus mengakhiri momen singkat namun berkesan itu.
"Iya, sepertinya gitu," jawab Haruna, ikut bangkit dari duduknya.
Mereka berjalan beriringan menuju gerbang depan kampus. Sesekali Reynan mencuri pandang ke arah Haruna yang berjalan tertatih di sampingnya. Hatinya dipenuhi rasa kagum yang semakin membuncah melihat bagaimana gadis itu tetap berjalan dengan kepala tegak, tanpa sedikit pun terlihat malu atau minder dengan kondisinya.
Sesampainya di depan gerbang, mereka berhenti sejenak. "Ya udah, sampai sini dulu, ya," ucap Reynan, sedikit enggan untuk berpisah.
"Iya, makasih udah nemenin ngobrol tadi," jawab Haruna, tersenyum ramah.
"Nanti kita chat-chatan, ya," ucap Reynan sebelum akhirnya berbalik menuju mobil ayahnya yang terparkir tak jauh dari sana.
Begitu Reynan mendekat, Bagas yang sejak tadi menunggu dengan wajah kesal langsung melontarkan teguran keras. "Kamu ke mana aja! Papa cariin dari tadi, malah menghilang tiba-tiba tanpa bilang-bilang!"
Namun sebelum Reynan sempat menjawab, mata Bagas tak sengaja menangkap sosok Haruna yang masih berdiri di kejauhan, melambaikan tangan kecil sebagai tanda perpisahan kepada Reynan.
Seketika, wajah Bagas berubah pucat pasi. Ada sesuatu yang begitu familiar dari sosok gadis itu... raut wajahnya, caranya tersenyum, bahkan aura yang terpancar dari dirinya. Semua itu membangkitkan ingatan lama yang selama bertahun-tahun berusaha ia kubur dalam-dalam.
Bayangan seorang bayi mungil yang menangis di tengah derasnya hujan, yang ia tinggalkan begitu saja di teras rumah kosong belasan tahun silam, tiba-tiba muncul begitu jelas dalam benaknya.
"Nggak mungkin," gumamnya pelan, hampir tak terdengar, kepalanya menggeleng cepat mencoba menepis pikiran gila yang tiba-tiba menghantuinya. "Bayi itu... pasti udah mati kedinginan waktu itu. Nggak mungkin bertahan."
"Pah?" panggil Reynan, menyadari ayahnya tiba-tiba terdiam melamun dengan tatapan kosong. "Papa kenapa?"
Bagas tersentak, buru-buru mengendalikan ekspresi wajahnya kembali ke keadaan normal. "Nggak apa-apa. Ayo, cepat masuk mobil, kita pulang."
Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa lebih hening dari biasanya. Bagas tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Sesekali melirik kaca spion seolah masih terbayang wajah gadis asing yang tadi ia lihat. Sementara Reynan sibuk dengan ponselnya, senyum tipis tak lepas dari bibirnya setiap kali membaca pesan yang masuk dari kontak baru bernama Haruna.
"Makasih ya tadi udah temenin ngobrol. Semoga kita bisa satu kampus beneran!" tulis Haruna dalam pesannya.
Reynan tersenyum membaca pesan itu, jarinya cepat mengetik balasan. "Pasti bisa. Btw, kamu ambil jurusan apa?"
Percakapan itu terus berlanjut sepanjang perjalanan. Membuat wajah Reynan yang biasanya begitu datar dan dingin kini dihiasi senyum tipis yang jarang sekali muncul.
Sementara itu di sisi lain kota, Kirana yang baru saja selesai dengan urusannya bergegas menjemput Haruna sesuai janji. Namun begitu sampai, ia mendapati sahabatnya itu sedang duduk di halte dekat kampus, sibuk memandangi layar ponselnya dengan senyum-senyum sendiri, sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya dari gadis yang biasanya begitu tenang dan kalem itu.
"Eh, ngapain senyum-senyum sendiri gitu?" goda Kirana begitu turun dari motornya, menghampiri Haruna dengan mata penuh selidik.
Haruna tersentak kaget, buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Nggak apa-apa kok, Kak."
"Nggak mungkin nggak apa-apa, dari tadi Kakak perhatiin kamu senyum-senyum sendiri sambil pegang HP," Kirana semakin penasaran, duduk di samping Haruna. "Ayo ngaku, lagi chattingan sama siapa?"
Wajah Haruna semakin merona merah, mencoba mengelak meski sia-sia. "Tadi Haruna nemu temen baru, Kak."
"Temen baru? Siapa?" tanya Kirana, alisnya terangkat penuh rasa ingin tahu.
"Namanya Reynan," jawab Haruna pelan, masih menahan senyum yang terus muncul tanpa bisa ia kendalikan.
Mendengar nama itu, sebuah nama yang jelas menunjukkan identitas laki-laki...mata Kirana langsung membulat penuh semangat, seringai jahil segera terpasang di wajahnya. "Reynan? Cowok? Ih, pantesan aja senyum-senyum kayak orang kesetrum begitu!"
"Kak Kirana apaan, sih," Haruna semakin salah tingkah, menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangan.
"Ayo, cerita dong, gimana ketemunya? Ganteng, nggak? Kok bisa langsung tukeran nomor gitu?" Kirana terus mencecar dengan pertanyaan bertubi-tubi, matanya berbinar-binar penuh rasa penasaran. Sama sekali belum pernah melihat sahabatnya bersikap seperti ini sebelumnya.
Haruna hanya bisa tertawa kecil menahan malu, mencoba menghindar dari serbuan pertanyaan Kirana yang tak kunjung reda. Sementara di dalam hatinya, sebuah perasaan baru yang begitu asing namun menyenangkan mulai tumbuh perlahan. Sebuah perasaan yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya mengerti maknanya.
aq GX bakal bosen buat ngucapin kata tu ,,
disaat org yg sempurna byk yg malas2aan ,, Krn merasa punya hidup yg serba berkecukupan ,,
malah menyia2kan hidup muda ny ,,
sedangkan km yg punya kekurangan tdk prnh menyrut kan semangat mu ,,
nenek mu pasti bangga melihat mu dari atas sana haruna ,,
tau2 keliatan ny sembuh seperti biasa ,, yx pertanda kalo tu kondisi sementara sebelum mereka pergii ,, 🥹😭😭😭 ,,
semangat trus haruna ,, km boleh berduka ,, tp cita2 jgn sampe di lupain,,
semangat haruna ,,
ni hanya kesuksesan yg tertunda ,,
msh ad jalan lain menuju sukses yg bisa km raih ,,