romansa islami story
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Aroma khas kertas tua dan debu halus menyambut Dereen saat ia mendorong pintu perpustakaan dengan kasar. Matanya yang tajam bak elang langsung memindai setiap sudut ruangan, melewati deretan rak-rak tinggi, hingga akhirnya terkunci pada satu siluet di sudut paling belakang.
Nadiva duduk di sana. Gadis itu menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya di balik buku Sejarah tebal yang terbuka di atas meja.
Dengan langkah lebar yang menggebu-gebu, Dereen menghampirinya. Emosi yang sedari tadi tertahan di dadanya kini mendidih, mendesak untuk dikeluarkan. Ia berhenti tepat di depan meja Nadiva, lalu menumpukan kedua telapak tangannya di atas permukaan kayu itu dengan sedikit bantingan.
Brak.
Suara itu tak terlalu keras, namun cukup memekakkan telinga di tengah keheningan perpustakaan. Nadiva tersentak kecil, namun matanya tetap menolak untuk mendongak.
"Lo ada masalah apa sih, Div?" tembak Dereen langsung, suaranya berat, tertahan, dan sarat akan tuntutan. Napasnya memburu pelan. "Tiba-tiba banget bersikap kayak gini. Kalau lo ngerasa gue punya salah, atau ada omongan gue yang bikin lo marah, ngomong! Jangan tiba-tiba diam dan ngehindar kayak gini."
Keheningan yang mencekik turun menyelimuti meja itu. Nadiva menelan ludah yang terasa seperti serpihan kaca. Di bawah meja, kedua tangannya saling meremas kuat hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha menahan getaran hebat yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Perlahan, Nadiva menutup bukunya. Ia menegakkan punggung, namun pandangannya sengaja ia buang ke arah deretan rak buku di sebelah kiri, menolak menatap mata kelam Dereen yang ia tahu bisa meruntuhkan pertahanannya dalam sekejap.
"Nggak ada masalah apa-apa, Kak," jawab Nadiva. Suaranya mengalun sangat pelan, kelewat datar, dan dilapisi formalitas yang membekukan. "Jadi tolong... biarkan saya sekolah dengan tenang. Dan maaf, jika belakangan ini keberadaan saya membuat Anda merasa tidak nyaman."
Kata 'saya' dan 'Anda' yang meluncur dari bibir mungil itu sukses meninju ulu hati Dereen. Cowok itu mengatupkan rahangnya keras-keras. Urat di pelipisnya berkedut.
"Sumpah deh, lo kenapa sih, Div?!" desak Dereen, kali ini suaranya naik setengah oktaf, tak lagi peduli pada tatapan penjaga perpustakaan di ujung ruangan. Ego dan keputusasaannya mulai bercampur aduk. Ia memajukan wajahnya, berusaha mencari celah di balik tembok es yang mendadak dibangun gadis itu. "Ada apa sih sebenarnya? Siapa yang berani gangguin lo? Bilang sama gue!"
Nadiva menggigit bibir bawahnya kuat-kuat di balik jilbab putihnya yang menjuntai. Matanya mulai memanas, tapi ia tak boleh menangis. Ia harus mengakhiri ini sekarang juga, sebelum ibunda Dereen benar-benar membumihanguskan mimpinya.
"Kita beda, Kak," ucap Nadiva akhirnya, suaranya bergetar tipis namun dipenuhi kepahitan yang menyayat.
Kali ini, Nadiva memberanikan diri menatap lurus ke dalam mata Dereen. Menyalurkan seluruh rasa sakit dari kalimat-kalimat yang sempat dilontarkan Eva padanya. "Sangat beda. Kakak cuma akan menjadi orang rendahan kalau terus-terusan dekat dengan seseorang yang tidak sebanding dengan kasta dan keluarga Kakak. Jadi, tolong, kembalilah ke dunia Kakak yang sempurna itu."
Kalimat itu menghantam Dereen dengan telak. Cowok jangkung itu terpaku. Matanya menyiratkan kebingungan yang luar biasa dalam. Ia tak pernah menyangka kata-kata bernada kasta dan derajat sosial itu akan keluar dari mulut seorang Nadiva—gadis barbar yang biasanya tak pernah peduli pada aturan duniawi.
"Lo ngomong apa sih?!" bantah Dereen tak terima. Rasa frustrasi membuat napasnya semakin berat. "Tiba-tiba banget ngomongin hal sampah kayak gini! Dengerin gue, Div. Gue nggak pernah sekalipun mandang lo kayak gitu! Kalau lo cewek aneh, barbar, cerewet... emang iya. Tapi soal status, harta, atau hal-hal lain di luar itu, gue nggak pernah permasalahin!"
Namun, pembelaan tulus yang meluncur dari bibir sang bad boy justru membuat dada Nadiva semakin sesak. Dereen memang tidak mempermasalahkannya, batin Nadiva perih, tapi keluargamu mempermasalahkannya, Kak. Dan Tuhanku... juga mempermasalahkannya.
"Udahlah, Ren."
Sebuah suara bariton yang tenang namun tegas tiba-tiba menyela dari arah belakang.
Dereen menoleh dengan kasar, mendapati Mex sudah berdiri tak jauh di belakangnya. Di belakang Mex, Andrew dan Karin tampak berdiri kaku di ambang pintu, mengikuti diam-diam karena khawatir melihat Dereen yang keluar kantin layaknya kesetanan tadi.
Mex melangkah maju, meletakkan sebelah tangannya di bahu Dereen dengan tatapan memperingatkan. "Biarin Nadiva sendiri. Lo jangan maksa dia kalau dia lagi nggak mau ngomong."
Mata Dereen berkilat marah. Sentuhan Mex di bahunya terasa seperti sebuah deklarasi perang. Ia menepis tangan sahabatnya itu dengan kasar.
"Jangan ikut campur, Mex!" geram Dereen rendah, aura intimidasinya menguar pekat. "Ini urusan gue sama dia. Gue mau dia jawab jujur hari ini juga!"
"Benar kata Kak Mex," sela Nadiva cepat, sebelum perkelahian antara dua sahabat itu benar-benar pecah.
Gadis itu berdiri dari kursinya, memeluk buku Sejarahnya erat-erat di depan dada sebagai tameng. Ia menatap Dereen dengan sorot mata yang dipaksakan sedingin mungkin. "Jangan ganggu aku lagi, Kak. Aku pengin sendiri."
Tanpa menunggu balasan apa pun, Nadiva berbalik. Ia berjalan cepat meninggalkan sudut perpustakaan itu, melewati Mex, Andrew, dan Karin yang hanya bisa menatapnya dalam diam. Langkah kaki Nadiva terdengar terburu-buru, seolah sedang melarikan diri dari monster yang tak terlihat.
Meninggalkan Dereen yang masih mematung di tempatnya.
Tangan cowok berjaket kulit itu terkepal erat di sisi tubuhnya. Ia menatap kepergian Nadiva dengan dada yang bergemuruh hebat. Kebingungan, amarah, dan rasa kehilangan yang mendadak menohok relung hatinya, berbaur menjadi satu rasa sakit yang tak memiliki nama. Di ujung pintu, Andrew dan Karin hanya bisa saling bertukar pandang dalam keheningan, tak berani mengeluarkan sepatah kata pun untuk mencampuri badai yang baru saja menghantam pangeran es sekolah mereka.