NovelToon NovelToon
Penyesalan Suami: Istriku Ternyata Seorang Konglomerat

Penyesalan Suami: Istriku Ternyata Seorang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.

Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 — Memintanya Kembali

Kinara datang tepat bersama dengan Fara dan Fani yang juga baru tiba. Ketiganya kemudian membuka toko kue itu bersama. Fara bertugas membersihkan toko, sementara Fani langsung pergi ke dapur untuk membuat beberapa adonan kue. Sedangkan Kinara sendiri mengurus kasir di depan sambil melihat persediaan barang yang masih tersedia. 

Awalnya, semua berjalan lancar seperti yang Kinara harapkan semalam saat tiba-tiba ia melihat seorang pria melangkah masuk ke dalam toko kuenya. Beruntung siang itu toko kue tidak begitu ramai pengunjung. 

Kinara terhenti sejenak. Tatapannya langsung tertuju kepada Rashid yang berdiri tidak jauh dari pintu toko. Pria itu datang tanpa pemberitahuan, seolah-olah kehadirannya masih memiliki tempat dalam kehidupan Kinara. Pemandangan itu seketika membuat ketenangan yang baru saja ia rasakan menghilang.

Kinara menarik napas panjang sebelum menoleh kepada Fara. “Fara, tolong gantikan aku sebentar. Aku perlu menyelesaikan sesuatu.”

Fara tampak ragu, tetapi akhirnya mengangguk. “Baik, Bu.”

Tanpa menunggu lebih lama, Kinara berjalan menghampiri Rashid. Ia tidak ingin percakapan mereka didengar oleh pelanggan maupun kedua pegawainya. Tanpa banyak bicara, ia menarik lengan pria itu hingga keluar dari toko. Setelah berada di luar, Kinara segera melepaskan tangannya dan menatap Rashid dengan sorot mata penuh ketidaksabaran.

“Mau apa lagi kau datang?” tanyanya ketus. “Apakah yang terakhir kali belum cukup? Apakah membuang dan mengusirku masih belum cukup bagimu?”

Rashid menatapnya beberapa saat. Berbeda dari pertemuan mereka sebelumnya, kali ini tidak ada kemarahan dalam sorot matanya. Justru ada keraguan yang membuat Kinara merasa semakin tidak nyaman.

“Aku datang bukan untuk bertengkar denganmu. Aku hanya ingin memastikan keadaanmu,” kata Rashid jujur. Bermimpi tentang Kinara membuatnya ingin menemui mantan istrinya itu. 

Kinara tertawa getir, lalu membuang muka, merasa muak dengan setiap kata yang diucapkan Rashid. 

Rashid menarik napas sebelum menjawab. “Aku ingin kita bicara baik-baik.”

Menatap toko yang mulai ramai kembali, Kinara lalu menatap Rashid dengan tajam. “Kurasa kita sudah tidak memiliki hal untuk dibicarakan. Hubungan kita sudah berakhir di atas kertas perceraian, jika kau lupa.”

“Aku ingin kau berpikir ulang, Kinara.”

Kinara kembali membuang muka dengan tangan yang terkepal. “Apa? Apalagi yang harus kupikirkan ulang?”

Rashid menatap langsung ke matanya, sorot matanya tampak serius. “Bagaimana kalau kita rujuk?”

Mendengar kalimat tak tahu diri itu membuat Kinara seketika terdiam tak habis pikir. Selama beberapa detik, ia benar-benar tidak mampu mencerna kalimat yang baru saja keluar dari mulut pria itu. Rujuk? Setelah semua yang terjadi? Setelah dirinya diceraikan demi perempuan lain? Setelah ia dipaksa meninggalkan rumah yang selama lima tahun dibangunnya bersama Rashid?

Kinara akhirnya tertawa kecil, bukan karena merasa lucu, melainkan karena benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Aku benar-benar tidak menyangka, ternyata ada laki-laki yang tak tahu malu sepertimu, ya?” 

“Kita bisa memperbaiki semuanya,” ujar Rashid dengan percaya dirinya. “Mungkin kemarin, kita terlalu terbawa emosi. Aku mengakui ada banyak kesalahan yang terjadi di antara kita. Tetapi lima tahun bukan waktu yang sebentar.”

“Lalu?” Tatapan Kinara tertuju ke arah toko kue, Fara terlihat mencarinya. 

“Kita sudah melewati banyak hal bersama. Aku rasa tidak seharusnya semuanya berakhir begitu saja.” Rashid berusaha meraih tangan Kinara, tetapi urung ia lakukan. 

Kinara menatapnya lekat-lekat. “Jadi sekarang kau ingin aku kembali?”

“Aku ingin kau mempertimbangkannya,” kata Rashid, berharap Kinara mau mengikuti permintaannya. Sejujurnya, Rashid baru bisa berpikir jernih setelah beberapa hari tinggal bersama dengan Marissa. 

Kinara menggeleng pelan. Rasa tidak percaya di wajahnya perlahan berubah menjadi kemarahan. “Rashid, kau benar-benar tidak tahu malu.”

“Aku serius, Kinara.” Rashid masih tak ingin menyerah. Ia membutuhkan Kinara di sisinya lagi. 

“Aku juga serius.” Kinara menunjuk dirinya sendiri. “Kau menceraikanku. Kau memilih perempuan lain. Kau membiarkan aku pergi tanpa memikirkan bagaimana aku akan menjalani hidup setelah semua yang kulakukan untukmu. Dan sekarang, setelah aku mulai bangkit, kau datang dan memintaku kembali?”

“Aku tidak bermaksud—”

“Tidak perlu menjelaskan apapun lagi. Pergilah dari sini dan jangan pernah datang lagi ke hadapanku. Kau benar-benar membuatku jijik.” Suara Kinara meninggi, tetapi ia berusaha tetap mengendalikan dirinya. “Jangankan kembali kepadamu, Rashid. Sekarang melihat wajahmu saja aku sudah tidak sudi.”

Rashid terdiam seribu bahasa, lebih tepatnya tak menyangka perempuan yang selama ini selalu berkata lembut padanya mengatakan hal yang begitu kasar. 

Kinara menahan napas. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi pada akhirnya hanya satu hal yang benar-benar ingin ia tegaskan. “Aku pernah mencintaimu dan mempercayaimu sepenuhnya. Aku bahkan aku rela meninggalkan keluargaku demi membangun kehidupan bersamamu. Tetapi semua hal yang kulakukan untukmu itu justru berakhir dengan pengkhianatan.”

“Aku sudah bilang, aku menyesal. Dan jika kau kembali kepadaku, aku janji akan mempebaiki semuanya.” Rashid masih tak kehilangan alibi untuk mendapatkan Kinara kembali. 

“Penyesalanmu bukanlah tanggung jawabku.” Kinara menatapnya dingin. “Dan aku tidak berkewajiban memberimu kesempatan kedua hanya karena sekarang kau mulai merasa kehilangan.”

Rahang Rashid mengeras. Untuk pertama kalinya, permohonan yang sempat terlihat dalam sorot matanya menghilang, digantikan oleh harga diri yang terluka.

“Jadi kau benar-benar tidak mau kembali? Bahkan setelah semua yang kita bangun bersama?”

Kinara tersenyum getir. “Justru karena aku mengingat semuanya, aku tidak mau kembali.”

Jawaban itu membuat Rashid terdiam cukup lama. Tatapannya lalu beralih kepada toko di belakang Kinara, sebuah tempat yang mungkin dulu tidak pernah ia bayangkan akan menjadi bagian dari kehidupan mantan istrinya setelah mereka berpisah.

Perlahan, ekspresi Rashid berubah. Tatapan yang semula terlihat memohon kini berganti menjadi sesuatu yang meremehkan. “Baiklah.”

Rashid memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Jika itu keputusanmu, jangan menyesalinya nanti. Aku sudah berbaik hati memintamu kembali, tapi kau justru menolaknya.”

“Aku tidak akan menyesal,” balas Kinara dengan tegas. 

“Kau terlalu percaya diri.” Rashid menunjuk ke arah toko kecil di belakangnya. “Apa kau benar-benar berpikir bisa hidup dari usaha kecil seperti ini?”

Kinara memilih diam dan tak menjawabnya, sebab ia tahu Rashid hanya mencoba untuk merusak kepercayaan dirinya dan menjatuhkan harga dirinya seperti yang sudah ia lakukan kepadanya. 

“Dulu kau hidup nyaman bersamaku. Sekarang kau berdiri di sini, mengurus toko kecil yang bahkan belum tentu bertahan beberapa bulan.” Nada bicara Rashid semakin merendahkan. 

“Jangan berpikir karena beberapa pelanggan datang, hidupmu sudah berubah. Bisnis seperti ini membutuhkan modal, tenaga, dan kemampuan. Kau tidak akan sanggup menjalankannya sendirian.”

Kinara mengepalkan tangan, ingin sekali rasanya ia meninju wajah laki-laki tak tahu diri itu. Tetapi ia memilih untuk meredamnya. 

“Jika kau masih tahu rasa malu, pergilah dari sini dan jangan pernah kembali lagi,” kata Kinara tegas sambil berlalu pergi meninggalkan Rashid. 

1
yosh—
wah, kelas✨
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Tentu saja, pulanglah 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
terlambat 😔
HK: 😔😔😔😔😔
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
serakah 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 👍🏻
Iffanaya 😽
double up kk 😁
Iffanaya 😽: semangat ya kak 💪
total 2 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Janji harus ditepati 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
terlambat 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Rasain 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mantan istrimu
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
nah kan 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pasti kerjaan Marisa 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
tas dan juga kopernya
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😏
Iffanaya 😽
si jalang itu gk cukup kah jd pelakor skrng ngehancurin usaha mantan istri suami nya 😠
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Rasain kegagalanmu 🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
hati" modus penjahat 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!