NovelToon NovelToon
Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Arya Walker

[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]

Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sial Kami Ketahuan!

Melihat situasi di puncak bukit yang semakin kacau akibat teriakan tauntingnya, Simon tidak akan membuang waktu lagi.

Ia memanfaatkan kekacauan para pengikut Sekte Widow untuk menyelinap secara diam-diam menuju barisan tiang kayu tempat para tawanan diikat.

Lana terlihat gemetar ketakutan di tiang kayu, merasakan sesosok bayangan mendekat dari belakang tiang ia Lana sedikit berteriak.

"Berhentilah menangis. Jika kamu ingin hidup, diamlah," bisik Simon dengan suara yang dingin.

Lana tersentak dan menoleh ke arah sumber suara.

Ia melihat seorang pria mengenakan jubah hitam yang sama dengan para penculiknya, lengkap dengan topeng gagak yang menyeramkan.

Namun, ketika matanya menatap ke balik lubang topeng tersebut, ia melihat sepasang mata merah yang seolah menyala dengan lembut.

'Mata itu... aku mengenalnya! Orang ini adalah ksatria yang beristirahat di desaku sebelumnya!' pikir Lana dengan keterkejutan yang luar biasa.

"Btw, sapu tanganmu sangat membantu. Terima kasih," bisik Simon lagi sembari tangannya bergerak cepat memotong tali pengikat dengan belati.

Wajah Lana seketika memerah di tengah kegelapan malam, ia menunduk dan mengangguk pelan.

"S-sama-sama," jawabnya dengan suara yang nyaris tak terdengar.

...........

Di dekat altar, sang Uskup terdiam sejenak, membiarkan matanya melirik kegelapan hutan di sekeliling kamp yang kini riuh dengan teriakan pengikutnya.

'Siapa penyusup yang begitu berani datang ke desa terpencil di wilayah Utara ini? Apakah kavaleri Bangsawan lokal benar-benar sudah menemukan koordinat ritual suci kami?' pikir sang Uskup dengan kemarahan yang membara.

'Siapa pun itu, mereka akan berakhir secara mengenaskan!.

Tidak ada yang boleh mengganggu pengorbanan suci ini!'

.............

Simon terus bergerak cepat membebaskan Lana dan gadis-gadis desa lainnya satu per satu.

Kekuatan fisiknya yang kuat memungkinkannya bekerja dengan efisiensi seperti monster.

"Terima kasih... terima kasih banyak telah menyelamatkan kami, Tuan Ksatria!" bisik salah satu gadis dengan isak tangis lega

"Kami pikir kami akan mati di sini..." sambung yang lainnya sembari memegang tangan Simon sebagai tanda syukur.

Namun, keberuntungan tidak bertahan lama.

Uskup itu masih belum menyadari bahwa tawanannya sudah lepas karena perhatiannya terfokus pada hutan, namun kejadian tak terduga pun terjadi.

Salah satu gadis yang kakinya lemas akibat trauma dan kedinginan mendadak tersandung kayu api.

"Kyaaa!"

Jeritan melengking itu memecah fokus sang Uskup.

Ia seketika menoleh ke arah tiang pengorbanan dan matanya membelalak kaget melihat tiang-tiang itu sudah kosong.

"Bagaimana bisa mereka membebaskan diri?! Jaring-jaring itu seharusnya cukup kuat!" raung sang Uskup dengan kebingungan.

"Tangkap mereka semua! Jangan biarkan satu orangpun lolos!"

Lima pria berjubah hitam dengan pedang terhunus segera melesat menghampiri posisi Simon dan para gadis.

Gadis yang terjatuh tadi menatap Simon dengan wajah pucat dan penuh penyesalan.

"M-maafkan saya, Tuan... saya tidak sengaja mengeluarkan suara keras... maafkan saya..." isaknya ketakutan.

"Sialan," umpat Simon.

Sepertinya opsi untuk sembunyi-sembunyi sudah berakhir.

Simon menghunus Pedang Hitam miliknya dari balik jubah.

Kilatan logam hitam itu memantulkan cahaya api unggun.

Kabut hitam tipis mulai menyembur dari bilah Pedang Hitam milik Simon, menyelimuti logam dingin itu dengan aura kematian yang pekat.

"Teknik Pedang Silang!" geram Simon rendah.

[ Teknik Pedang Silang +3 ]

Syuut—BOOM!

Gelombang energi hitam berbentuk x melesat membelah udara dingin, menghantam lima anggota sekte yang mencoba mendekat.

Tubuh mereka terpental seketika seperti daun kering yang diterjang badai.

Namun, sebelum Simon bisa mengatur napasnya kembali, seorang wanita berkerudung hitam dengan pakaian yang membungkus ketat lekuk tubuhnya melesat keluar dari bayangan altar.

Wanita itu memegang pedang ramping namun memancarkan tekanan kuat.

Dengan gerakan yang lincah, ia menerjang maju dan mengayunkan pedangnya tepat ke arah dada Simon.

Ting!

Simon menahan tebasan itu dengan pedangnya, namun ia merasakan getaran tenaga yang sangat besar merambat hingga ke lengannya.

"Hehehe, tampan... menyerahlah sekarang, dan kakak perempuan ini akan memberimu 'hadiah' yang tidak akan pernah kau lupakan di ranjang," goda wanita itu dengan suara yang penuh nafsu, menatap wajah tampan Simon di balik celah topengnya.

Simon menyunggingkan senyum tipis namun dingin.

"Hadiahmu terlalu busuk untuk kuterima. Lebih baik simpan itu untuk pemakamanmu sendiri," balas Simon.

Tiba-tiba, wanita itu melakukan gerakan yang tidak terduga.

Ia melayangkan tendangan kuat ke arah sisi pedang Simon.

Brak!

Kekuatan fisik yang masif dari kaki mungilnya memaksa Simon mundur beberapa langkah seketika.

Simon menyipitkan mata, ia tidak menyangka wanita sekurus itu memiliki kepadatan otot yang menyaingi Ksatria Magang Tingkat 3.

Wanita ini pasti di tingkat 3 juga kan?

"Lana! Dan kalian semua, lari ke hutan sekarang! Aku yang akan menahan mereka!" teriak Simon tanpa menoleh, memerintahkan gadis-gadis desa yang baru saja dibebaskannya untuk segera melarikan diri.

"T-tapi kamu...." Lana berenti dan tidak segera pergi melihat Simon sendirian dia sangat khawatir.

"Tidak apa-apa, percayalah!" Teriak Simon.

Lana yang mendengar itu hanya mengigit bibirnya dan pergi bersama gadis lain.

Mendengar itu, Sang Uskup yang sejak tadi murka berteriak gila,

"Tangkap mereka semua! Jangan biarkan satu pun material suci itu lepas dari jaring dewi!"

Beberapa anggota berjubah hitam segera bergerak mengejar Lana, namun Simon bergerak lebih cepat.

[ Pernafasan Ular Hitam + 5 ]

Ia muncul di depan para pengejar dan mengayunkan pedangnya dengan presisi ke arah kepala.

Srat!

Kepala salah satu anggota sekte terlepas dari bahunya dalam sekali tebas.

"Lewati dulu mayatku sebelum kau bisa mengejar mereka!" tantang Simon.

Sang Uskup mengertakkan giginya hingga berderit keras.

"Janda Hitam! Apa yang kau lakukan?! Bunuh dia sekarang juga! Aku mau bocah bidah ini mati secepatnya!" raung Uskup itu dengan wajah merah padam.

Ksatria wanita yang dipanggil Janda Hitam itu mendengus tidak puas, merasa terganggu karena ritualnya diganggu.

Dalam sekejap, ia menghilang dan muncul tepat di samping leher Simon dengan tebasan horizontal yang sangat cepat.

Simon menangkis serangan itu menggunakan pedang di tangan kanannya.

[ Tinju Riak +2 ]

Kekuatan riak yang ia salurkan ke pedangnya menciptakan getaran frekuensi tinggi yang membuat pedang tipis wanita itu terlepas dari genggamannya dan melayang di udara.

Di saat yang sama, Simon memutar tubuhnya dan menghantamkan telapak tangan kirinya yang sudah bergetar hebat.

"Tinju Riak!"

[ Tinju Riak +4 ]

Namun, hal yang tidak terduga terjadi. Janda Hitam itu meliukkan tubuhnya di udara dengan cara yang tidak manusiawi, pinggangnya berputar melampaui batas sendi normal, menghindari pukulan Simon.

Bibirnya melengkung membentuk senyuman gila saat ia menangkap kembali pedangnya di udara dan melompat menjauh.

"Tampan... kau cukup kuat ternyata. Kakak perempuan ini mulai merasa panas sekarang!" seru wanita itu. Wajahnya mulai bergetar hebat dan otot-otot di pipinya berkedut liar seolah-olah ia sedang mengalami rangsangan di tengah pertempuran.

Simon merasakan gelombang rasa jijik merayapi punggungnya.

"Kau benar-benar gila," gumamnya.

Janda Hitam itu tiba-tiba merangkak di antara tembok altar kayu dengan kecepatan seperti laba-laba sejati.

Ia menendang tembok itu dengan kaki kuatnya untuk meluncurkan tubuhnya kembali ke arah Simon bagai peluru.

BOOM!

Tanah di bawah kaki mereka hancur berantakan akibat benturan keras pedang dan fisik.

Simon berhasil membelokkan pedang lawan dan melayangkan tinju riak tepat ke arah pinggang wanita itu.

Ugh! Janda Hitam itu mengerang kesakitan, riak getaran Simon menghancurkan struktur tulang rusuknya.

Namun, dalam momen kemenangan sesaat itu...

Puchi!

"Mati kau, bidah!" teriak seorang anggota sekte rendahan yang berhasil menyelinap dan menusukkan belati ke punggung Simon.

"Brengsek!" raung Simon.

Simon berbalik dan menghantamkan tendangan cambuk yang mematahkan leher orang itu hingga pingsan, lalu melompat mundur untuk menjaga jarak dari Janda Hitam.

Simon terengah-engah.

Ia baru menyadari bahwa kini ia telah dikepung sepenuhnya oleh segerombolan besar anggota Sekte Widow yang haus darah.

Ia hampir tidak bisa melihat celah keluar di antara jubah-jubah hitam yang mengelilinginya di tengah salju yang mulai memerah.

Darah segar mulai merembes dari sudut bibirnya, terasa seperti asin dan sedikit besi di lidahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!