Arumi cuma wanita biasa yang hidupnya sangat sederhana. Sampai akhirnya, sebuah kecelakaan membuat hidupnya berakhir. Bukannya tenang, Arumi malah bangun dengan kondisi yang bikin pusing. Jiwanya terjebak di dalam tubuh pria bernama Bagas.
Belum selesai kagetnya, di kepalanya muncul suara sistem yang menyebalkan dan hobi banget mengejeknya. Sistem itu menuntut Arumi harus jadi koki hebat, padahal Arumi sendiri nggak bisa masak apa-apa.
Lebih parah lagi, Bagas ternyata adalah siswa di sekolah tentara dengan jadwal latihan yang super padat. Arumi harus berusaha keras biar nggak ketahuan sifat aslinya, sambil diam-diam menjalankan misi memasak dari si sistem yang sangat menyebalkan.
Dapatkah Arumi melewati hari-harinya di sekolah tentara tanpa ketahuan, dan bertahan dari ocehan sistem yang bikin emosi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sembilan belas ~
Di tengah malam yang semakin larut dan gelombang kelelahan fisik yang sudah mencapai puncaknya hingga ke ubun-ubun, kerja keras Bagas malam itu akhirnya terbayar sudah dengan hasil yang sempurna. Di atas meja saji dapur, berbaris rapi piring-piring kecil berisi mousse cake tiga rasa buatan tangannya mulai dari cokelat pekat berkualitas tinggi yang meleleh sempurna di lidah, stroberi segar dengan bulir buah asli yang memberikan sensasi asam manis menyegarkan, hingga matcha autentik yang legit dan elegan. Tak lupa, secangkir teh chamomile hangat yang mengepulkan aroma menenangkan turut mendampingi setiap porsi kue tersebut.
Dengan langkah kaki yang terasa begitu gontai, berat, namun diiringi senyuman ramah yang dipaksakan di wajahnya, Bagas membagikan hidangan penutup istimewa itu satu per satu kepada seluruh staf koki yang masih setia berjaga merapikan dapur di malam yang dingin itu.
"Silakan dinikmati, teman-teman sekalian. Anggap saja ini sebagai hidangan manis persembahan dariku setelah kita semua babak belur bertempur di medan perang dapur hari ini." ucap Bagas dengan nada lesu namun tulus.
Para koki junior yang menerima piring porselen tersebut langsung menyambutnya dengan mata berbinar-binar penuh antusias. Tanpa menunggu lama, mereka langsung mencicipi mousse cake buatan Bagas. Suasana dapur yang tadinya sunyi senyap mendadak hidup kembali oleh suara pujian dan decakan kagum yang bersahutan dari segala penjuru ruangan.
"Wah, gila! Sumpah demi apa pun Bagas, kue ini benar-benar enak banget!" seru salah seorang koki junior dengan mata terbelalak lebar setelah menyuap sesendok penuh mousse cake rasa cokelat ke dalam mulutnya. "Teksturnya begitu lembut seperti awan, manisnya sangat pas di lidah dan sama sekali tidak bikin enek di tenggorokan!"
"Iya, kau benar! Sialan, yang rasa stroberinya juga juara banget!" sahut koki wanita di sebelah sambil menikmati potongan kue dengan taburan buah stroberi segar di atasnya. "Rasanya segar luar biasa, bener-bener terasa dari buah asli pilihan, bukan pakai perisa buatan murahan! Padahal kau kan sudah kelelahan setengah mati mondar-mandir memasak dari sore sampai malam bolong begini, tapi masih sempat-sempatnya meracik kudapan semewah ini untuk kami semua. Kau ini benar-benar malaikat penyelamat berwujud koki Bagas!"
Mendengar rentetan pujian tulus dan apresiasi hangat dari rekan-rekan kerjanya tersebut, rasa pegal dan lelah di sekujur tubuh Bagas seketika menguap begitu saja, digantikan oleh rasa haru dan kehangatan yang menyenangkan membuncah di dalam dadanya.
Namun, kedamaian malam itu tidak berlangsung lama. Begitu piring-piring kosong terkumpul rapi dan Bagas berniat membersihkan meja terakhir, suara dengungan digital yang sangat dihindarinya malam ini kembali berkelebat tajam tepat di depan retinanya.
Tring!
[Misi Pembuatan Mousse Cake Tiga Rasa dan Secangkir Teh Chamomile Istimewa Berhasil Diselesaikan dengan Sempurna tanpa Cela!]
[Pemberitahuan Hadiah Misi:]
[Tuan Rumah mendapatkan tambahan 500 Poin sebagai upah dari hasil kerja keras membuat dessert kelas wahid.]
[Total Saldo Poin Tuan Rumah saat ini: 1.500 Poin (setelah dikurangi pembelian kemampuan sebelumnya dan ditambah hadiah misi malam ini).]
[Peringatan dan Saran Krusial dari Sistem sebelum Tuan Rumah Beristirahat:]
[Sistem sangat menyarankan agar Tuan Rumah segera memborong item "Obat Kuat Level 3" di toko sistem malam ini juga sebelum tidur lelap.]
Melihat notifikasi teks berwarna biru terang yang mendadak muncul di depan matanya itu, Bagas langsung menghentikan gerakan tangannya. Ia mengerutkan keningnya dalam-dalam, merasa sangat heran, lalu membalas lewat gelombang batinnya dengan nada protes yang kesal.
"Tunggu sebentar Daisy! Buat apa aku harus beli obat kuat level tiga lagi malam-malam begini?!" protes Bagas setengah merengek di dalam kepalanya. "Bukankah sekarang aku sudah resmi dipindahkan menjadi asisten koki di dapur utama? Aku sudah tidak lagi mendapat hukuman fisik berupa lari keliling lapangan atau latihan militer ala algojo yang menyiksa itu! Kenapa aku masih butuh barang laknat bernama obat kuat itu hah?!"
[Jawaban dan Penjelasan Sistem:]
[Formulasi Obat Kuat Level 3 kali ini telah dimodifikasi dan disesuaikan secara khusus dengan kebutuhan mutakhir Tuan Rumah,] balas sistem dengan sangat tenang tanpa beban. [Obat edisi spesial ini tidak lagi berfokus pada peningkatan ketahanan fisik otot kasar, melainkan untuk mendongkrak tingkat kepekaan dan kekuatan indra pengecap Tuan Rumah secara maksimal hingga batas dewa!]
[Dengan mengonsumsi obat ini sebelum tidur, kemampuan analisis lidah Anda akan mengalami upgrade drastis, memungkinkan Tuan Rumah untuk langsung mengenali, meniru, atau menciptakan resep rahasia tingkat tinggi hanya dengan mencicipi suatu hidangan sekilas saja!]
Mendengar penjelasan detail yang terpampang di layar transparan tersebut, mata Bagas seketika langsung berbinar-binar penuh ketertarikan yang luar biasa. Memiliki skill dewa yang mampu mengenali dan meracik resep hanya berbekal indra pengecap adalah impian emas bagi setiap koki profesional di dunia kuliner.
Tanpa buang waktu lagi dan rasa penasaran yang menggebu-gebu, Bagas langsung membukA menu toko sistem di dalam ruang pikirannya.
Tapi begitu deretan harga barang tersebut muncul di hadapannya, mata Bagas sontak melotot lebar hingga nyaris keluar dari soketnya. Jantungnya serasa copot seketika.
"Hah?! Sialan! Kenapa harganya jadi melonjak brutal begini?!" teriak Bagas histeris di dalam batinnya, hampir melompat karena terkejut. "Kenapa Obat Kuat Level 3 ini harganya dibanderol 1.000 poin?! Kamu benar-benar berniat merampok sisa tabungan hasil keringat darahku ya?!"
[Jawaban Sistem:]
[Harga tersebut sudah sangat adil, rasional, dan setimpal dengan kualitas dewa yang ditawarkannya Tuan Rumah] balas sistem dengan nada yang terkesan santai menyebalkan tanpa rasa berdosa sedikit pun. [Obat mutakhir ini dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan tingkat tinggi dan formula sintesis rasa yang kecepatan adaptasinya tidak masuk akal. Jadi, mengeluh panjang lebar tidak akan menurunkan harganya sedikitpun.]
Melihat balasan teks yang menyebalkan itu, Bagas hanya bisa tersenyum miris seorang diri di tengah dapur yang sunyi.
Sialan... rentenir keparat berkedok sistem canggih ini memang akan selalu punya segudang alasan licik untuk memeras habis seluruh poin keringatku sampai tandas batin Bagas meratapi nasib dompet digitalnya yang mengenaskan.
Namun, menyadari betapa krusial dan pentingnya skill dewa tersebut untuk menunjang kelangsungan karier masaknya ke depan, Bagas akhirnya menghela napas panjang tanda pasrah total. Ia sama sekali tidak berniat memperpanjang perdebatan sia-sia karena sekujur tubuhnya sudah menjerit-jerit meminta kasur. Besok pagi-pagi sekali, ia harus kembali bangun pagi buta untuk menyiapkan sarapan bagi seluruh prajurit barak.
Tanpa keraguan yang bertele-tele lagi, Bagas langsung mengonfirmasi pembelian barang tersebut di dalam kepalanya.
[Konfirmasi Diterima! Pembelian Obat Kuat Level 3 Berhasil Dilakukan!]
[Sisa Saldo Poin Tuan Rumah saat ini: 500 Poin bulat.]
[Silakan beristirahat dengan nyenyak dan mimpi indah, Tuan Rumah. Sampai jumpa di misi menyiksa berikutnya esok pagi~]
"Tidur yang tenang kepalamu peyang..." gumam Bagas lemah secara lisan dengan suara serak, melampiaskan kekesalannya sebelum akhirnya menyeret langkah kakinya menuju kamar berek. Begitu merebahkan tubuhnya di atas kasur barak yang keras, matanya langsung terpejam lelap dalam hitungan detik, menghanyutkannya ke dalam tidur malam yang sangat dalam di tengah kesunyian barak militer.
kebalikan kita Thor,, aku cow yg masuk tubuh cew🤣
Ditunggu up berikutnya othor seksoy 😘