NovelToon NovelToon
Penjelajah Malam (The Nightwalker: After 2012)

Penjelajah Malam (The Nightwalker: After 2012)

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Horor / Action / Fantasi
Popularitas:304
Nilai: 5
Nama Author: Origin-Reynvold

Ketika matahari terbenam, dunia gaib dan nyata melebur menjadi neraka yang dipenuhi makhluk mengerikan. Hanya para Esper—manusia yang mampu mengendalikan energi spiritualnya—yang menjadi benteng terakhir umat manusia melawan penguasa kegelapan.
Ryan memilih menarik diri dari dunia luar. Selain karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar, ia sama sekali tidak tahu bahwa rasa malasnya adalah satu-satunya hal yang menahan kehancuran dunia—atau justru mempercepatnya?
Namun, takdir sialan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Sebuah tantangan besar yang dibalut tragedi mengerikan tiba-tiba mendobrak masuk, dan mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Di ambang keputusasaan dan di tengah emosi yang meluap, apakah Ryan akan menemukan alasan untuk mulai bekerja keras demi menjadi lebih kuat? Ataukah situasi ini justru akan memaksa kekuatan besar yang tertidur di dalam dirinya lepas kendali, bahkan sebelum ia sempat mempelajarinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Origin-Reynvold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia yang Terkubur

Ryan berdiri sendirian di tengah pemakaman, ditemani langit pagi yang masih gelap gulita. Walau jam malam sebenarnya masih berlaku karena fajar belum menyingsing, baginya aturan itu hanyalah sekadar angin lalu.

Angin berembus pelan, membawa kabut putih yang menyelimuti sekitarnya. Ryan berdiri di tengah area pemakaman, tepat di hadapan tempat peristirahatan terakhir keluarganya. Di bawah bayangan pohon beringin raksasa yang batangnya telah menghitam, ia terpaku.

Di hadapannya, tiga gundukan tanah yang masih tampak baru berjajar rapi, dihiasi taburan bunga melati yang mulai layu. Tiga buah batu nisan tertancap kokoh, mengukir nama-nama orang paling berharga di dalam hidupnya: Ayah, Bunda, dan adik kecilnya, Rehan.

Ryan menutup mata, lalu seketika pikirannya terlempar mundur. Momen-momen saat ia masih bisa bercanda lepas, mendengar omelan hangat sang Bunda, menerima nasihat tegas dari Ayah, hingga meladeni kejahilan konyol Rehan.

Semua kenangan itu meninggalkan sesak di dadanya.

Ryan menghirup napas panjang, berupaya menenangkan denyut jantungnya yang berdebar kencang. Pandangannya menatap lurus ke barisan nisan di depannya.

"Ayah... Bunda... Rehan..." bisik Ryan pelan, suaranya terdengar serak dan begitu lirih, membelah kesunyian makam. "Aku memutuskan untuk pindah sekolah. Aku akan masuk ke Sekolah Khusus Esper Kota Cirebon bersama teman baruku, Rahman dan Agil."

Sebuah senyuman tipis mengembang samar di bibirnya. "Lucu, bukan? Padahal baru dua hari sejak awal masuk sekolah di sana.”

Waktu terus bergulir di dalam keheningan yang panjang. Perlahan, garis merah keemasan mulai membelah cakrawala. Cahayanya menerobos di antara sela-sela dedaunan pohon, perlahan mengusir kabut samar yang sedari tadi menggantung rendah.

Setelah lama terdiam di bawah cahaya fajar, Ryan menghela napas panjang. Ia berbalik berniat segera pergi namun langkahnya membeku.

Sebuah batu nisan dengan retakan halus di segala sisinya terletak tak jauh dari makam sang bunda. Meskipun permukaannya sudah menghitam dan sebagian tulisannya terkikis, ia menangkap guratan nama yang terpahat di sana dengan sangat jelas.

Di atas batu nisan tua itu, terukir sebuah nama: Suhardi.

Ryan tidak tahu mengapa dirinya tiba-tiba terpaku menatap makam asing tersebut. Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir rasa penasarannya, lalu menyimpan nama itu di dalam benak untuk ia tanyakan kepada pamannya nanti. Tanpa menoleh lagi, Ryan segera melangkah pergi meninggalkan area pemakaman.

Di sudut lain Kota Cirebon. Pasca-bencana 2012, kota ini menyusut, terkurung di balik tembok tinggi yang memaksa kehidupan kelas bawah berjejalan dalam riuh yang pekat. Di sinilah Rahman bertahan hidup, di sebuah rumah kecil yang menjadi saksi kerasnya era ini.

Rumah itu sebenarnya tidak kecil. Namun demi menghemat biaya, bangunan tersebut dibagi menjadi dua. Akibatnya, masing-masing bagian memiliki lorong yang sempit.

Menyisakan dua kamar tidur yang hampir memenuhi seluruh area kamar, sementara area dapur dan toilet berdesakan di bagian paling belakang. Sementara itu, sisi sebelah rumah yang terpotong ditinggali oleh nenek serta keluarga besarnya yang lain.

Pagi itu, Rahman berdiri di ambang pintu lorong sempit tersebut. Pakaiannya tampak rapi, kontras dengan tas ransel besar di pundaknya yang terlihat sedikit lusuh. Ia bersiap untuk berpamitan kepada sang ayah yang sedang duduk di lantai.

Ayahnya menatap dengan sorot mata penuh kekhawatiran. "Apa benar tidak perlu memikirkan soal biayanya? Selain itu  kamu juga akan tinggal di asrama sana. Pengeluaranmu pasti tidak sedikit."

Rahman memaksakan seulas senyum, berusaha meruntuhkan kecemasan yang menggantung di wajah ayahnya. "Tenang saja, Yah. Rahman kan dapat beasiswa penuh. Lagipula..." Rahman mencondongkan tubuhnya sedikit, berbisik sambil terkekeh pelan, "Rahman masuk lewat jalur orang dalam. Jadi aman."

Mendengar gurauan putranya, sang ayah akhirnya tertawa kecil. "Ya sudah, baik-baik kamu di sana. Semoga saja... di sekolah yang baru nanti, tidak sampai terjadi insiden mengerikan seperti kemarin."

Senyuman Rahman seketika menggantung dengan sudut bibir yang berkedut samar.

Aku bahkan tidak yakin hal itu tidak akan terulang lagi, Yah... Apalagi ada Ryan di sana.

"Tunggu dulu, bawa ini!"

Suara keras sang ibu memecah suasana. Wanita paruh baya itu keluar dari arah dapur yang sempit sambil menyodorkan sebuah wadah bekal yang cukup besar ke tangan Rahman.

"Ibu tahu porsi makanmu itu banyak," goda ibunya dengan senyum hangat. "Walaupun nanti fasilitas di asrama gratis, pasti porsi makanan di kantin dibatasi. Jangan sampai kamu kelaparan di sana."

Tawa renyah tercipta di antara mereka bertiga, menghadirkan secercah kehangatan yang langka. Namun, tawa itu tidak bertahan lama.

Uhuk! Uhuk!

Sang ayah tiba-tiba terbatuk hebat sehingga tubuh ringkihnya terguncang. Rahman yang refleks hendak mendekat mendadak menghentikan langkahnya. Matanya membelalak lebar, jantung Rahman berdegup kencang, firasat buruk mencengkeram dadanya.

Melalui pandangan spiritualnya Rahman melihat sesuatu yang ganjil. Seberkas aura merah berdenyut sesaat di tubuh ayahnya, lalu lenyap begitu batuk itu mereda.

"Ayah... tidak apa-apa?" tanya Rahman, suaranya bergetar menahan cemas.

Sang ayah mengibaskan tangannya di udara, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. "Ayah tidak apa-apa, hanya tersedak ludah sendiri. Tunggu apa lagi? Cepat berangkatlah, nanti kamu terlambat. Hati-hati di jalan."

Meskipun dilingkupi rasa cemas akibat kilatan aura merah tadi, Rahman hanya bisa mengangguk pelan. Ia melangkah keluar dari lorong sempit rumahnya dengan pikiran yang kian memberat.

Di Rumah keluarga Agil yang berbanding terbalik dengan Rahman. Temboknya terlihat kokoh dengan lantai keramik yang mengilap bersih dan jauh lebih luas menjadi bukti nyata bahwa keluarganya hidup jauh lebih berkecukupan.

Namun pagi itu, keheningan rumah tersebut hancur berantakan oleh kehebohan satu orang. Di dalam kamarnya, Agil bergerak ke sana kemari, melemparkan berbagai macam barang ke dalam tas ranselnya yang sudah menggembung.

Darahnya mendidih oleh rasa antusias yang meluap-luap. Ia sudah tidak sabar untuk segera masuk ke Sekolah Esper dan menjejakkan kaki disana.

Pintu kamar Agil terbuka perlahan, menampilkan sosok ibunya yang menggeleng-gelengkan kepala melihat kekacauan di depan mata.

Barang-barangmu bisa tertinggal kalau mengepaknya seperti sedang dikejar setan," goda ibunya dengan senyum hangat.

Dasarnya, Agil memang bukan tipe anak penurut yang suka duduk manis di pojok kelas. Namun, kedua orang tuanya cenderung memanjakannya, sehingga selama kenakalan Agil masih berada dalam batas wajar, mereka tidak akan pernah memarahinya. Kasih sayang yang melimpah itu membuat Agil tumbuh menjadi remaja yang penuh percaya diri, bahkan kadang kelewat batas dalam hal keberanian.

"Tenang saja, Ibu! Ini adalah langkah awal menjadi Esper elit!" seru Agil dengan bangga.

Sambil menutup ranselnya, Agil teringat alasan ia tidak masuk ke Sekolah Khusus Esper swasta sejak awal. Meski keluarganya berkecukupan, biaya bulanan sebesar lima juta rupiah tetap terlalu berat di tengah situasi dunia saat ini. Tanpa tahu informasi soal beasiswa, sekolah umum pun terpaksa ia ambil.

"Aku pasti bisa menjadi kuat. Aku harus bisa menyamai kekuatan Ryan dan Rahman," gumam Agil, mengepalkan tinjunya erat-erat di depan cermin kamar.

Namun ketika bayangan wajah kedua temannya melintas di kepala, membuatnya terhantam oleh realitas yang dingin.

Rahman benar-benar curang. Bagaimana bisa dia sudah memiliki khodam, sementara kebanyakan orang baru mulai belajar menjadi Esper?

Dan yang lebih parah... Ryan Lee.

Mengingat Ryan hanya membuat bulu kuduk Agil berdiri, sekaligus memicu rasa dongkol di dadanya.

"Mengejar si wajah datar itu? Hampir mustahil," batin Agil pasrah. Energi hitam yang pernah ia lihat bukanlah sesuatu yang wajar.

Ia menghela napas panjang, mengusir bayangan mengerikan tentang Ryan dari otaknya. Dengan satu sentakan kuat, Agil menyampirkan ransel beratnya di pundak, melangkah keluar kamar sambil tertawa.

Tak satu pun dari mereka sadar, bahwa sekolah baru itu justru akan menjadi awal dari mimpi buruk yang lebih besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!