NovelToon NovelToon
Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:30.6k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.

Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19: Anjing Makan Lebih Enak dari Lu

"Bukan nanti," kata Awan. "Mereka sudah menatap area ini."

Surya Permadi tidak langsung datang hari itu.

Itu justru membuat Hendry lebih tenang.

Orang yang punya seratus lebih bawahan dan senjata api tidak bergerak seperti pencuri lapar. Mereka mengirim mata lebih dulu, menghitung gerbang, jumlah penjaga, bau dapur, arah patroli, dan siapa yang terlihat sebagai pemimpin.

Maka Hendry membiarkan basis berjalan seperti biasa.

Hari ketiga belas kiamat, Cluster Pondok Indah mulai terdengar seperti tempat hidup, bukan hanya tempat bertahan.

Fajar membagi patroli pagi. Yanto memeriksa truk dan solar. Dewi menyalakan dapur sebelum matahari tinggi. Mawar memeriksa korban dari benteng Bintang satu per satu, tidak memakai cahaya kecuali perlu. Awan berdiri di dekat bak air, telapak tangannya mengeluarkan dingin tipis untuk menjaga air tetap sejuk bagi yang demam.

Raja duduk di halaman belakang, menunggu sarapan dengan martabat seorang pejabat.

Setelah serangan benteng Bintang, Hendry memberi Raja beberapa Kristal Level 1 yang cocok untuk menstabilkan energi petirnya. Bukan banyak. Tidak cukup untuk membuatnya melompat liar. Tapi cukup untuk membuat listrik di bulunya lebih tebal, lebih biru, dan lebih patuh.

Thunder Power Level 2.

Raja tidak mengerti angka.

Raja mengerti daging.

Hendry mengeluarkan dua potong daging sapi segar dari Ruang Dimensi. Daging itu masih merah bersih, seolah dunia tidak pernah membusuk. Ia melemparkannya ke mangkuk logam khusus Raja.

Raja langsung makan.

Di sebelah dapur, beberapa anggota baru menatap.

Mereka baru kemarin diselamatkan dari benteng Bintang. Ada yang masih gemetar saat mendengar suara keras. Ada yang belum berani tidur tanpa lampu. Ada juga yang sudah mulai melihat piring orang lain lebih dulu daripada melihat tugas sendiri.

Pagi itu, Dewi menyajikan nasi goreng sederhana dengan telur ceplok untuk anggota tempur dan nasi putih dengan sayur bening untuk non-combat yang belum bekerja penuh. Tidak mewah, tetapi panas, bersih, dan cukup.

Seorang pria muda dari kelompok Bintang mengerutkan wajah.

"Itu anjing makan daging sapi," gumamnya, tidak cukup pelan. "Kita cuma makan nasi putih?"

Ruangan langsung diam.

Sendok Bagus berhenti di udara.

Melati menoleh lambat.

Fajar tidak bicara, tetapi matanya pindah ke pria itu seperti lampu pos.

Raja berhenti mengunyah.

Itu bagian paling buruk.

Hendry menaruh gelasnya di meja.

"Nama lu?"

Pria itu menelan ludah. "Saya cuma bilang..."

"Nama."

"Rian."

Nama itu tidak ada artinya bagi Hendry. Belum.

"Rian," kata Hendry, "Raja kemarin membunuh lima belas zombie dan menahan dua penjaga bersenjata supaya lu bisa tidur tanpa dirantai. Lu bunuh berapa?"

Wajah Rian memerah.

"Saya baru sembuh..."

"Maka makan porsi pemulihan. Kerja dulu, porsi naik. Jaga gerbang, porsi naik. Bunuh zombie, porsi naik. Selamatkan orang, porsi naik. Di sini makanan bukan hadiah kasihan. Makanan adalah bayaran untuk fungsi."

Dewi berdiri di pintu dapur, spatula di tangan. "Dan yang ambil lauk tanpa izin, porsi besok turun."

Bagus pelan-pelan menurunkan sendoknya. "Mbak Dewi lebih serem daripada zombie Level 2."

Dewi menatapnya.

"Gue memuji."

Raja kembali mengunyah daging, kali ini lebih pelan, seolah sengaja membuat semua orang mendengar.

Nasi duduk di atas lemari rendah dan menjilat kaki kecilnya. Karena Nasi tidak makan banyak, tidak ada yang protes. Atau mungkin semua orang tahu protes pada Nasi lebih berbahaya secara harga diri.

Awan memecah ketegangan dengan suara tenang. "Aturan seperti ini perlu. Di tempat Bintang, makanan dipakai untuk membuat orang takut. Di sini, makanan harus membuat orang bekerja."

Hendry menatap Awan sekilas.

Bagus mengangguk. "Kapten Awan ngomong dikit tapi nusuk."

Awan hanya menatap mangkuknya. "Saya bukan kapten."

"Belum," kata Hendry.

Kalimat itu membuat Awan diam.

Menjelang siang, Fajar membawa laporan lain. Ada dua orang asing terlihat di batas selatan, pergi sebelum didekati. Satu membawa teropong. Satu lagi mencatat sesuatu di kertas.

Hendry tidak mengejar.

"Biarkan mereka pulang."

Melati mengangkat alis. "Lu mau mereka lapor?"

"Ya."

"Kenapa?"

"Supaya Surya datang sendiri."

Bagus menyeringai. "Menghemat ongkos kunjungan."

Sore hari, gerbang utama Cluster Pondok Indah menerima tamu.

Mereka datang bukan seperti penyintas.

Dua puluh orang berjalan di belakang tiga mobil besar. Satu Fortuner hitam, satu Pajero putih, dan satu pickup terbuka. Beberapa membawa parang, beberapa membawa senapan angin, dan lima orang membawa pistol dengan cara yang terlalu percaya diri. Mereka bukan tentara. Mereka orang kaya dan preman yang menemukan senjata sebelum menemukan disiplin.

Di tengah rombongan, Surya Permadi turun dari Fortuner.

Usianya sekitar empat puluhan. Kemeja linen bersih, jam tangan mahal, sepatu kulit yang tidak cocok untuk jalan penuh darah. Perutnya sedikit maju, tetapi matanya licin. Orang seperti ini tidak perlu memukul sendiri saat dunia normal. Ia membayar orang untuk memukul.

Sekarang uang tidak lagi jadi hukum.

Tapi pistol membuatnya merasa hukum masih bisa dibeli.

Fajar memberi laporan lewat radio dari pos atas. "Dua puluh satu orang termasuk Surya. Lima pistol terlihat. Dua senapan angin. Sisanya senjata tajam. Tidak ada formasi militer."

"Buka gerbang luar. Gerbang dalam tetap tertutup," kata Hendry.

Hendry keluar bersama Raja di sisi kanan, Bagus di kiri, Melati sedikit di belakang, Awan dekat dinding dengan udara dingin tipis di sekitar jarinya. Fajar tetap di pos. Mawar dan Dewi tidak keluar, tetapi siap di dalam.

Surya tersenyum seperti tuan tanah yang datang menagih sewa.

"Hendry Wijaya?"

"Surya Permadi."

Mata Surya bergerak sedikit. Ia tidak suka namanya sudah diketahui.

"Bagus. Berarti kita bisa bicara cepat." Surya menunjuk gerbang, lalu rumah-rumah di dalam. "Area ini terlalu besar untuk anak muda pegang sendiri. Aku dengar kamu punya makanan, obat, solar, bahkan healer. Aku suka orang pintar. Karena itu aku datang baik-baik."

Bagus berbisik, "Ini versi baik-baik ya?"

Melati menjawab, "Katanya."

Surya tetap tersenyum. "Mulai hari ini, setengah stok kalian diserahkan ke kelompokku. Sebagai gantinya, aku jamin tidak ada geng lain yang ganggu cluster ini."

Hendry tidak bereaksi.

Surya menambahkan, "Kamu tetap bisa jadi kepala kecil di sini. Aku tidak pelit. Yang penting tahu posisi."

Raja menggeram.

Listrik biru menjalar di punggungnya.

Beberapa orang Surya mundur setengah langkah.

Surya melirik Raja, lalu tertawa pendek. "Anjing bagus. Tapi tetap anjing."

Semua orang di sisi Hendry mendadak diam.

Bahkan Bagus tidak bercanda.

Hendry akhirnya tersenyum tipis.

"Surya."

"Ya?"

"Lu datang ke gerbang gue, minta setengah stok gue, hina anggota gue, lalu masih berharap pulang dengan kaki utuh?"

Senyum Surya hilang.

Lima pistol terangkat.

Fajar dari pos atas langsung mengunci bidikan dengan crossbow. Melati mengangkat api. Awan menurunkan suhu tanah sampai embun tipis muncul di aspal.

Surya mengarahkan pistolnya langsung ke dada Hendry.

"Anak muda, jangan salah paham. Di dunia baru ini, yang pegang senjata yang bicara."

Hendry melihat pistol itu.

Lalu melihat mata Surya.

Ia tersenyum.

Satu hal yang Surya tidak tahu: pistol hanya berbahaya jika targetnya masih berada di depan laras.

Udara berkerut.

Hendry menghilang.

Surya membeku.

"Dia ke mana?!"

Di saat yang sama, dari sisi kanan gerbang, suara petir meledak.

Raja sudah melompat dalam selimut listrik biru.

1
umar aryo
novel yg bagus Thor, buat yg baca juga ikutan mikir... spt novel dokter Dewa... ini penulis bkn org biasa
umar aryo
makin kesini buat berpikir makin bingung, tp jujur ini novel yg bagus bgt
muhadsa
yang kristal level 6 saja sudah diserap dan aman saja kok,masa iya yang level 5 malah gak mampu../NosePick//NosePick/
muhadsa
anak buahnya dinaikin juga dong levelnya..
muhadsa
bunuh..gak ada tahanan perang..
muhadsa
namanya pada aneh aneh..ada suara,hujan,nasi..😄😄
muhadsa
anggotanya gak dinaikin juga levelnya..?
muhadsa
naik level juga cuma memperluas ruang dimensi,bukan untuk bertarung..
muhadsa
saya juga berpikiran gitu..kenapa namanya nasi..
muhadsa
terus kemampuan MC kita gak ada yang lain selain ruang dimensi ya..?
PonsParadiso
melati kok ga ada? kemana?
PonsParadiso
bagus thooor... tapi kok ga beli air siiih
PonsParadiso
air mana air.
Luthfi Afifzaidan
bagus apa santoso thor?
muhadsa: bagus santoso
total 1 replies
Hadi Hadi
lanjut 👍👍
Hadi Hadi
up 👍👍
Amiera Syaqilla
hi author🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!