NovelToon NovelToon
Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius / Penyesalan Suami / Teman lama bertemu kembali
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Keira terdiam, dadanya kembali terasa begitu berat malam itu.

Seminggu kemudian, nama Keluarga Liem muncul lagi.

Bukan dari pesan anonim, bukan dari panggilan serak, melainkan dari undangan resmi sebuah malam amal di kawasan SCBD. Logo Liem Group tercetak kecil di sudut bawah undangan, bersama daftar tamu yang berisi nama-nama paling mahal di Jakarta.

Keira hampir menolak.

Kevin tidak menyarankan sebaliknya. Ia hanya berkata, "Kalau kamu ingin tahu siapa yang mengirim pesan itu, kadang lebih cepat masuk ke ruangan yang sama dengan mereka."

Maka malam itu Keira datang.

Aula lelang dipenuhi lampu hangat, meja sampanye, dan lukisan mahal yang lebih banyak menjadi alasan orang kaya saling mengukur kekuasaan daripada benar-benar dibeli untuk amal. Kevin berjalan di samping Keira, tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk membuat semua orang tahu ia bukan sekadar pengawal.

"Kau sengaja berdiri seperti pagar," bisik Keira.

"Pagar yang mahal."

"Pagar biasanya diam."

"Aku bisa belajar."

Keira hampir tersenyum.

Lalu ia merasakan tatapan seseorang.

Di seberang ruangan, seorang pria berdiri dekat pilar marmer. Jas hitamnya sederhana, tetapi tidak ada yang murah dari caranya membawa diri. Wajahnya dingin, garis rahangnya tegas, matanya gelap dan tenang. Ia tidak menatap Keira seperti pria yang tertarik pada kecantikannya.

Ia menatapnya seperti seseorang yang menemukan bagian dari hidupnya yang hilang.

Keira merasa aneh.

Bukan takut.

Lebih seperti ada pintu lama di dalam dirinya yang diketuk dari sisi yang tidak ia ingat.

"Siapa dia?" tanya Kevin.

"Aku kira kau lebih tahu."

Feng yang berdiri di belakang Kevin berbisik, "Boss, Jason Liem. CEO Liem Group. Baru kembali aktif di Jakarta beberapa tahun terakhir."

Kevin mengangkat alis tipis.

Jason Liem berjalan mendekat.

Langkahnya tidak tergesa. Beberapa tamu memberi jalan tanpa diminta. Itu bukan rasa takut seperti saat orang memberi jalan kepada Kevin, tetapi penghormatan lama kepada nama Liem.

Pria itu berhenti di depan Keira.

"Selamat malam."

Keira mengangguk. "Selamat malam."

"Saya Jason Liem."

"Keira."

"Saya tahu."

Kevin langsung bergerak setengah langkah lebih dekat. "Pak Jason, ada yang bisa saya bantu?"

Jason menatap Kevin sebentar. Senyumnya tipis, nyaris tidak terlihat.

"Kevin Hartono. Jangan tegang. Saya tidak punya niat tidak sopan kepada teman wanitamu."

"Kalau begitu jangan menatapnya terlalu lama."

Keira menoleh tajam. "Kevin."

Jason justru tampak sedikit geli. "Protektif."

"Selektif," balas Kevin dingin.

Keira menahan napas. Dua pria itu belum saling menyerang, tetapi udara di antara mereka sudah seperti meja kaca yang siap retak.

Jason kembali menatap Keira.

Kali ini suaranya lebih pelan. "Kamu sangat mirip seseorang yang pernah saya kenal."

Keira merasakan dada kirinya bergerak aneh.

"Siapa?"

Jason tidak langsung menjawab. Matanya turun sebentar ke tangan Keira yang memegang clutch. Di pergelangan kirinya, bagian kecil kulit terlihat saat lengan gaunnya bergeser.

Keira tidak sadar.

Jason sadar.

Di sana ada tanda lahir kecil berbentuk daun maple, samar tetapi jelas bagi orang yang mencarinya hampir seumur hidup.

Jari Jason mengepal di sisi tubuhnya.

"Keluarga," katanya akhirnya.

Kevin menatapnya lebih tajam.

Sebelum percakapan bisa bergerak lebih jauh, pembawa acara mengumumkan lot utama: sebuah liontin giok tua berbentuk setengah lingkaran, disimpan dalam kotak beludru hitam. Di permukaannya terukir satu huruf kecil bergaya kuno.

Jin.

Keira menatap liontin itu tanpa tahu kenapa napasnya tertahan.

Tangannya bergerak ke leher.

Di balik gaun hitamnya, ada liontin giok kecil yang ia simpan sejak kecil. Satu-satunya benda yang tersisa dari masa sebelum Mulyono. Engkong Mulyono dulu pernah berkata benda itu sudah ada bersamanya saat ia ditemukan.

Di permukaannya terukir satu nama pendek.

Yan.

Keira tidak pernah tahu arti nama itu. Saat kecil, ia pernah bertanya kepada Hendra. Hendra hanya menjawab, "Barang lama. Jangan dipikirkan." Siska bahkan pernah mencoba membuangnya karena dianggap membawa sial. Keira menangis semalaman sampai Engkong Mulyono diam-diam mengembalikannya.

Sejak itu, liontin itu menjadi satu-satunya benda yang tidak pernah ia titipkan kepada siapa pun.

Malam ini, melihat setengah pasangannya muncul di panggung lelang, Keira merasa seolah benda kecil di lehernya tiba-tiba menjadi panas.

Jason melihat gerakan itu.

Matanya berubah.

Kevin juga melihat.

"Kau mengenal liontin itu?" tanyanya pelan.

"Tidak."

"Jawabanmu terlalu cepat."

Keira menatap panggung. "Karena aku sendiri tidak tahu kenapa rasanya familiar."

Kevin tidak suka mendengar kata familiar dari mulut Keira ketika Jason Liem berdiri tidak jauh dari mereka dengan mata yang terlalu lembut.

"Kalau dia membuatmu tidak nyaman, kita pergi."

"Aku tidak takut padanya."

"Aku tidak bilang kau takut."

"Lalu?"

Kevin menatap Jason. "Aku yang tidak suka."

Keira hampir menoleh, tetapi palu lelang mulai bergerak dan ruangan kembali fokus pada liontin giok itu.

Lelang dimulai.

Harga awal langsung dilompati tiga kali oleh beberapa kolektor. Namun begitu Jason mengangkat nomor, ruangan menjadi lebih tenang.

"Lima miliar rupiah," kata Jason.

Bisik-bisik terdengar.

Kevin menoleh ke arahnya.

Jason tidak melihat siapa pun. Matanya hanya tertuju pada liontin itu, seolah yang ia beli bukan benda antik, melainkan potongan napas.

Ada penawar lain yang mencoba.

Jason mengangkat nomor lagi.

"Dua belas miliar."

Ruangan benar-benar diam.

Palu lelang diketuk beberapa menit kemudian.

Liontin itu jatuh ke tangan Jason.

Keira merasa semakin sulit bernapas. Ia tidak tahu mengapa benda itu membuat dadanya seperti ditarik dari dalam.

Kevin melihat wajahnya. "Keira?"

"Aku baik."

Jason menerima kotak beludru dari petugas lelang. Ia tidak membukanya di depan umum. Hanya memegangnya dengan dua tangan, terlalu hati-hati untuk sekadar koleksi.

Ketika acara berakhir, Jason berjalan ke mobilnya.

Sebelum pergi, ia sempat memberi isyarat kepada asistennya. Gelas air mineral yang Keira tinggalkan di meja tamu diambil dan dimasukkan ke kantong bukti bening. Gerakan itu cepat, sopan, hampir tidak terlihat. Jason membenci dirinya karena harus mencuri kepastian dari benda sekecil itu, tetapi ia lebih takut memberi harapan palsu kepada Bi Mei.

Di dalam mobil hitam itu, seorang perempuan tua menunggu melalui panggilan video. Wajahnya berkeriput, matanya basah sejak melihat Jason masuk.

"Tuan Muda?"

Jason duduk, membuka kotak beludru, lalu menatap layar.

"Bi Mei," suaranya serak, "aku melihatnya."

Perempuan tua itu menahan napas.

"Tanda di pergelangan tangannya ada. Liontin setengahnya juga ada di lehernya."

"Jangan terburu-buru," bisik Bi Mei, tetapi air matanya sudah jatuh. "Kita perlu bukti."

Jason menutup kotak itu dengan tangan gemetar.

"Aku tahu."

Ia menatap keluar jendela, ke arah pintu aula tempat Keira masih berdiri bersama Kevin.

"Tapi aku menemukannya, Bi. Dia hidup."

Bi Mei menutup mulut.

Jason berkata sangat pelan, seperti takut kata itu pecah jika diucapkan terlalu keras.

"Aku menemukan adikku."

1
sunaryati jarum
Kamu minta maaf bukan merasa bersalah hanya takut perusahaan kamu koleb
sunaryati jarum
Berarti ibu Rosalind masih hidup
Tri Septi
apakah Leon kakaknya Kevin? dia mirip Raymond ayahnya Kevin ya 🤔🤔🤔
Tri Septi
lanjut thor🙏🙏🙏🙏
Tri Septi
mama keira hilang diculik, mama Kevin juga ada di mana ??? makin rumit aja
Tri Septi
semangat Kevin 💪 terima kasih author meski sedikit 😁🙏🙏🙏
Tri Septi
Kevin, ayo buktikan bahwa kamu bersih dan mereka yang berbuat jahat terbukti bersalah /Casual/
Tri Septi
sepandai-pandai tupai melompat suatu saat akan gagal juga....niat jahat semoga dpat digagalkan😆💪🙏
Tri Septi
orang bertopeng ini apakah sama dengan yang mengambil Darren waktu bayi ya......banyak yg terlibat, musuh keira banyak😠 semoga bisa segera terungkap 💪🙏
Tri Septi
penyesalan selalu di akhir
Tri Septi
mama Rosalind mungkin jenius, sehingga ada yg berniat menyembinyikan dan memanfaatkan nya /Frown//Frown//Frown/
Tri Septi
selamat datang kembali "Kei" 😍😍😍
Tri Septi
ada konspirasi....apa motifnya ya /Casual/
Siti Maryati
sampe.ikut berdesir mambaca "kamu punya aku"
Tri Septi
yang dibelakang Maya patut diwaspadai /Casual/ makin penasaran thor😄😄😄
sunaryati jarum
Berarti saudara seibu artinya ayahnya beda
sunaryati jarum
Semoga kalian cepat bersatu
Tri Septi
Kevin mau pdkt apa menyelidik? 🤣🤣🤣
Tri Septi
seperti induk ayam yang melindungi anak2nya, keira semangat 💪💪💪
Tri Septi
musuh dalam selimut 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!