Selama bertahun-tahun, Bee Catleen hidup sebagai putri kesayangan keluarga Luwis. Meskipun berstatus anak angkat, Bee selalu menerima cinta dan kasih sayang yang membuatnya merasa tidak pernah berbeda dari anggota keluarga lainnya.
Namun semuanya berubah ketika Jelita, putri kandung keluarga Luwis yang hilang selama lima belas tahun, akhirnya kembali.
Perlahan, perhatian yang dulu menjadi miliknya mulai beralih. Bee hanya bisa tersenyum dan berpura-pura bahagia demi melihat keluarganya kembali utuh. Di balik tawa ceria dan sifat humorisnya, Bee menyimpan luka yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Hari demi hari, Bee hidup dengan topeng kebahagiaan, hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang mampu melihat kesedihan yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memilihnya tanpa ragu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 PELINDUNG
Hujan turun begitu deras. Butiran air membasahi halaman restoran hanya dalam hitungan detik.
Sementara di belakang, perdebatan antara Darius dan Kak Juna masih berlangsung.
Bee memilih pergi, Tanpa berkata apa pun, Tanpa menoleh sedikit pun. Satu tangannya menutupi pipi yang masih terasa perih akibat tamparan kak Darius.
Setiap langkah terasa semakin berat.
"Tamparan pertama dari Mamah..."
"Sekarang dari Kak Darius..."
Bee tersenyum pahit. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, Beruntung hujan turun begitu deras.
Tak ada seorang pun yang bisa membedakan mana air hujan dan mana air mata, Bee terus berjalan tanpa tujuan, Ia hanya ingin menjauh. Menjauh dari semua rasa sakit yang memenuhi dadanya.
"Bee!" Suara seseorang memanggil dari belakang.
Bee mengenali suara itu.
Kak Juna.
Namun Bee berpura-pura tidak mendengar,, Langkahnya justru semakin cepat.
"Bee!" Kak Juna kembali memanggil.
Bee tetap tidak menoleh.
Hingga... Sebuah tangan meraih pergelangan tangannya.
Bee berhenti. Belum sempat berbalik...
Kak Juna menariknya perlahan ke dalam sebuah pelukan dari belakang, Pelukan itu hangat, Kuat.
Namun sangat hati-hati. Seolah takut Bee akan semakin terluka.
Bee membeku. Ia tidak menyangka Juna akan mengejarnya.
Suara kak Juna terdengar begitu lembut di tengah derasnya hujan. "Menangislah.. Ada aku di sini."
Kalimat sederhana itu... Justru menjadi pemicu runtuhnya seluruh pertahanan Bee.
"Hu... hik..." Tangis yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah.
Bee menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Tubuhnya bergetar hebat.
"Hiks... Kenapa... Kenapa semuanya berubah..." Tangisnya semakin keras.
Kak Juna tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mempererat pelukannya, Membiarkan Bee meluapkan semua rasa sakit yang selama ini ia pendam seorang diri.
"Aku capek..." lirih Bee di sela isaknya. " Aku benar-benar capek... Aku sudah berusaha... Berusaha mengalah... Berusaha tersenyum... Dan Berusaha menerima semuanya..." Tangis bee terdengar pilu "Tapi... Kenapa aku tetap selalu salah..." Tangis Bee kembali pecah.
Kak Juna memejamkan matanya. Dadanya terasa sesak mendengar setiap kalimat yang keluar dari bibir gadis itu.
Perlahan ia mengusap kepala Bee. "Kamu tidak salah."
Bee menggeleng kuat. "Mereka... Mereka bahkan tidak mau dengar penjelasanku... Aku cuma ingin bantu Jelita..."
"Tapi... Aku malah ditampar lagi..." Suara Bee semakin lirih. "Apa aku memang seburuk itu..."
Kak Juna segera membalikkan tubuh Bee agar menghadap ke arahnya, Wajah Bee sudah basah, Entah oleh hujan atau air mata.
Kak Juna mengangkat tangannya. Dengan sangat hati-hati ia menyibakkan rambut yang menempel di pipi Bee.
Tatapannya jatuh pada bekas tamparan yang masih memerah. Rahang Kak juna mengeras.
Ada kemarahan yang berusaha ia tahan, Namun saat menatap Bee, suaranya tetap lembut. "Dengarkan aku."
Bee mengangkat wajahnya perlahan.
"Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri atas kesalahan orang lain, Dan jangan pernah berpikir kalau kamu tidak berharga."
"Kamu jauh lebih kuat daripada yang kamu kira."
Bee kembali menangis. "Aku... Aku cuma ingin mereka tetap bahagia..."
"Aku rela mengalah..."
"Asal mereka tersenyum..."
Kak Juna menggeleng pelan. "Mengalah bukan berarti membiarkan dirimu terus disakiti."
Bee menunduk, Tangannya mencengkeram lengan bajunya sendiri.
Kak Juna kembali mengusap kepala Bee dengan penuh kasih.
"Mulai hari ini... Kalau kamu lelah... Kalau kamu sedih... Kalau kamu merasa sendirian... Kamu boleh datang kepadaku."
Bee menatap Juna dengan mata yang masih dipenuhi air mata.
"Kenapa..." Bee menatap kak Juna "Kenapa Kak Juna baik sekali sama Bee..."
Kak Juna tersenyum tipis. Karena baginya... Jawaban yang ada di dalam hatinya belum saatnya diucapkan.
"Aku hanya tidak ingin melihat orang baik terus menangis."
Bee menggigit bibirnya. Lalu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama memendam semua rasa sakitnya... Ia kembali memeluk kak juna.
Kali ini bukan karena ditarik, Melainkan karena ia benar-benar membutuhkan seseorang untuk bersandar.
Di bawah derasnya hujan malam itu... Bee menangis sepuasnya, Dan kak Juna tetap berdiri di sana.
Menjadi tempat paling tenang bagi seorang gadis yang selama ini selalu memaksakan dirinya untuk terlihat kuat.
Malam semakin larut. Mobil Juna berhenti tepat di depan gerbang rumah keluarga Luwis, Mesin mobil sudah dimatikan sejak beberapa menit yang lalu.
Namun Juna belum juga turun, Ia menoleh ke kursi penumpang. Bee tertidur dengan kepala sedikit bersandar ke arah jendela mobil.
Wajah gadis itu terlihat sangat lelah, Bekas air mata yang sempat bercampur dengan air hujan masih samar terlihat.
Kak Juna mengembuskan napas pelan. " Kamu pasti sedih banget ya..." gumamnya lirih.
Tatapannya kemudian berhenti pada pipi Bee yang masih tampak kemerahan, Bekas tamparan itu membuat rahangnya kembali mengeras.
Perlahan Kak Juna membuka laci kecil di dalam mobil, Ia mengambil sebuah salep untuk memar yang memang selalu tersedia di mobilnya.
Dengan sangat hati-hati, Kak Juna mengoleskan sedikit salep ke pipi Bee menggunakan ujung jarinya.
Sentuhannya begitu lembut.
Seolah takut membangunkan gadis yang sedang terlelap itu. "Mulai sekarang... Aku tidak akan membiarkan kamu terluka lagi." bisiknya hampir tak terdengar.
Tanpa sadar, jemarinya tidak hanya mengoleskan salep. Ia mengusap lembut pipi Bee beberapa saat.
Tatapannya begitu teduh.
Seolah ingin menghapus semua luka yang selama ini Bee sembunyikan, Beberapa detik kemudian... Kelopak mata Bee bergerak pelan.
"Hm..." Bee membuka matanya perlahan.
Pandangan pertama yang ia lihat adalah wajah Kak Juna yang masih menatapnya dari jarak sangat dekat.
Bee langsung membelalakkan mata. "K-kak Juna?"
Kak Juna yang baru sadar Bee sudah bangun segera menarik tangannya, Ekspresinya kembali datar seperti biasa. "Kamu bangun."
Bee masih terlihat bingung. "Kakak lagi ngapain?"
Kak Juna berdeham pelan. "Pipimu masih merah, Aku cuma mengoleskan salep."
Refleks Bee menyentuh pipinya, Baru ia merasakan ada sensasi dingin di sana. "Oh... Terima kasih, Kak."
Kak Juna mengangguk singkat. "Besok harusnya sudah lebih baik."
Bee menganggukkan kepala pelan. Namun entah kenapa... Jantungnya justru berdetak lebih cepat, Ia masih bisa merasakan hangat jemari Juna di pipinya beberapa saat yang lalu.
Suasana di dalam mobil mendadak terasa canggung.
Bee segera membuka sabuk pengamannya. "Ehm... Makasih ya, Kak." Kata bee "Sudah nganterin Bee pulang."
"Terus... Udah bantu Bee dari tadi." Lanjut bee
Kak Juna hanya tersenyum tipis. "Hati-hati masuklah..
"Iya." Bee buru-buru membuka pintu mobil "Selamat malam, Kak."
"Selamat malam."
Bee menutup pintu mobil dengan pelan, Ia melangkah menuju pintu rumah.
Kak Juna masih memperhatikan langkah Bee hingga gadis itu benar-benar masuk ke dalam rumah.
Barulah setelah itu ia menghidupkan mesin mobil dan pergi meninggalkan kediaman keluarga Luwis, Bee membuka pintu rumah secara perlahan , Keadaan rumah sangat sunyi.
Lampu ruang tamu hanya menyisakan cahaya redup.
Tidak terdengar suara siapa pun. "Mungkin semuanya sudah tidur..." gumam Bee pelan.
Bee berjalan menaiki tangga tanpa membangunkan siapa pun.
Sesampainya di kamar, Bee langsung mengunci pintu.
Ia mengambil pakaian tidur, lalu masuk ke kamar mandi.
Air hangat membasahi tubuhnya yang sejak tadi kedinginan karena hujan , Setelah selesai mandi, Bee mengeringkan rambut panjangnya menggunakan handuk.
Bee kemudian duduk di depan meja rias. Matanya menatap pantulan dirinya di cermin, Pipi yang tadi terasa perih kini sudah jauh lebih nyaman berkat salep yang diberikan kak Juna.
Tanpa sadar, jemarinya menyentuh pipi itu.
Bayangan beberapa menit yang lalu kembali terlintas.
Saat Juna memeluknya di tengah hujan.
Saat Juna berkata, "Menangislah... ada aku di sini."
Dan saat jemari laki-laki itu mengusap pipinya dengan begitu hati-hati.
Bee langsung menggeleng pelan. "Apa sih..." gumamnya malu pada diri sendiri. "Kenapa aku jadi kepikiran terus..." Ia memegang dadanya.
Detaknya masih terasa sedikit lebih cepat dari biasanya, Ada perasaan hangat yang perlahan memenuhi ruang di dalam hatinya.
Perasaan yang asing.
Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Bee tersenyum kecil tanpa sadar, Namun beberapa detik kemudian ia buru-buru menggelengkan kepala lagi.
"Bee... jangan berpikir yang macam-macam."
Meski berusaha menepisnya, jauh di dalam hatinya mulai tumbuh sebuah desiran halus setiap kali mengingat perhatian kecil yang diberikan kak Juna malam itu.