Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.
Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.
Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.
Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.
Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 19
Perlahan, sensasi hangat itu mulai memudar. Jemari Angie yang sedari tadi mencengkeram tangan Riven terlepas satu demi satu. Entah mengapa, ada secercah rasa enggan yang asing merayap di benak Riven saat sentuhan itu berakhir.
“Terima kasih,” bisik Angie, suaranya parau dan nyaris habis.
Riven mengangguk pelan. “Masuklah ke mobil.”
Angie berkedip, menatap Riven dengan sorot mata sembab dan bingung. “Kenapa? Aku... aku baik-baik saja.” Ia menundukkan kepala lagi, memandangi ujung sepatunya yang berdebu. “Aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar untuk menjernihkan pikiran.”
“Aku tidak menerima bantahan. Ayo.”
Riven berbalik menuju mobilnya tanpa menunggu persetujuan. Ia membukakan pintu di sisi penumpang, lalu berdiri tegak di sana, menunggu.
Angie sempat berdiri mematung selama beberapa saat di tengah gang, beralih antara melihat Riven dan mobil mewahnya yang tampak begitu kontras di lingkungan kumuh itu.
Namun akhirnya, dengan langkah ragu-ragu, ia berjalan mendekat dan menenggelamkan diri di dalam kursi penumpang.
Setelah memastikan Angie duduk dengan aman, Riven menutup pintu dengan dentuman solid yang kedap. Ia berjalan memutari kap mobil, lalu menyusup ke balik kemudi.
Mobil itu masih diam, belum bergerak. Riven menoleh ke samping dan mendapati Angie hanya duduk kaku, memandang lurus ke depan sementara sabuk pengamannya masih terbiarkan lepas.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Riven memajukan tubuhnya. Jarak mereka seketika mengikis habis saat lengan Riven terulur melewati dada Angie, wajah mereka bahkan hampir sedekat nadi, Riven bergerak meraih tali sabuk pengaman di sisi pintu.
Klik!
Sistem pengunci berdenting sempurna.
Posisi yang teramat dekat itu mengunci napas mereka di dalam ruang kabin yang sempit. Jarak mereka begitu intim, hingga Angie bisa melihat dengan jelas pantulan dirinya yang rapuh di dalam manik mata kelam Riven.
Sementara di sisi lain, Riven bisa merasakan hangat embusan napas gadis itu yang memburu pendek, tidak teratur. Untuk beberapa detik yang krusial, waktu seolah berhenti. Tidak ada kata, hanya ada debar yang samar.
Riven kemudian menarik tubuhnya kembali ke posisi semula secara perlahan. Ia menekan tombol start, menghidupkan kembali raungan halus mesin mobilnya. Tanpa membuang waktu lagi, kendaraan mewah itu melaju perlahan membelah gang sempit, bergerak mantap meninggalkan lingkungan kumuh yang selama ini menjadi penjara bagi hidup Angie
Matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya di balik cakrawala, menyerahkan takhta pada kegelapan.
Langit yang semula merona jingga perlahan meredup, menyisakan semburat keunguan sebelum pekatnya malam benar-benar tiba.
Di luar sana, lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, menciptakan lautan cahaya yang berkilau kontras dengan kesunyian yang merayap di dalam kabin mobil. Karena tidak tahu harus membawa Angie ke mana, Riven akhirnya memilih satu-satunya tempat yang ia yakini paling aman dari jangkauan publik. Sebuah griya tawang pribadi miliknya di kawasan eksklusif.
Apartemen itu sudah lama tidak ia tinggali sejak ia tinggal di Jepang, tetapi setidaknya, tempat tersebut menjanjikan ketenangan mutlak yang dibutuhkan Angie untuk mengumpulkan kembali serpihan jiwanya.
Mobil mewah itu meluncur mulus memasuki area parkir basement. Bunyi decit halus ban mobil bergesekan dengan lantai epoksi terdengar saat Riven memutar kemudi.
Dengan gerakan yang terampil dan presisi, ia memundurkan mobilnya hingga terparkir sempurna di slot khusus miliknya. Begitu tombol start-stop ditekan, mesin mati. Keheningan yang pekat langsung menyergap ruang kabin.
Riven melirik ke samping, menatap siluet Angie yang masih bergeming. “Maaf karena malam-malam membawamu ke sini,” ucapnya, memecah kesunyian dengan suara rendah. “Aku tidak terpikir tempat lain. Hanya ini yang melintas di kepalaku.”
Riven menjeda sejenak, menimbang kalimatnya agar tidak terdengar salah paham. “Tapi tenang saja. Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu.”
Angie tetap menunduk, jemarinya bertautan erat di pangkuan tanpa sepatah kata pun balasan.
Melihat respons itu, Riven kembali bersuara. “Kau bisa mengambil waktu sebanyak yang kau mau untuk menenangkan diri. Lagi pula...” Tatapan Riven jatuh pada pipi kiri Angie yang masih tampak memerah dan sedikit bengkak. “Kalau kita tetap berada di luar dan seseorang melihat wajahmu seperti itu, aku khawatir mereka akan mengira akulah bajingan yang telah menamparmu.”
Angie menggigit bibir bawahnya pelan. Keheningan kembali merayap.
Riven mengembuskan napas tipis, merasa mungkin tindakannya terlalu agresif. “Apa kau tidak suka tempat ini? Jika iya, aku bisa mencarikanmu tempat lain sekarang juga.” Ia berpikir sejenak. “Mungkin kafe milik Jack. Biasanya area privat di lantai atas akan ku sewa seluruhnya untukmu.”
“Terima kasih.” Jawaban Angie meluncur begitu cepat, nyaris memotong kalimat Riven hingga membuat pria itu sedikit terkejut.
Gadis itu menunduk lebih dalam, menyembunyikan rona samar yang mendadak muncul. “Aku... Aku juga akan sangat malu jika teman-temanmu melihatku dengan kondisi mengenaskan seperti ini.”
Sebuah senyum kecut yang getir terukir di wajahnya yang pucat. “Cukup kau saja yang melihatku berantakan.”
Riven mendadak kehilangan kata-kata. Ia tidak terbiasa menghadapi kejujuran yang rapuh seperti itu. Akhirnya, ia hanya mengangguk pelan untuk menetralisasi kecanggungan.
“Sebenarnya aku juga belum memejamkan mata sejak tiba di New Y.” ucap Riven sambil melepas sabuk pengamannya. “Aku juga baru saja lepas dari rapat direksi yang melelahkan.” Ia meraih tuas pintu.
“Jadi, selama kau menenangkan diri, mungkin aku akan tidur sebentar.”
Sebelum mendorong pintu, Riven menunjuk ke arah paper bag di kursi belakang. “Jangan lupa bawa dompet dan ponselmu.”
Angie mengangguk patuh. “Baik.”
Namun, tepat saat Riven hendak membuka pintu mobilnya sendiri, ia menyadari bahwa Angie sudah lebih dulu membuka pintunya dan melangkah keluar.
Gerakan itu seketika membuat gerakan Riven tertahan. Ini adalah kedua kalinya gadis itu berhasil membuka pintu mobilnya tanpa kesulitan berarti.
Pertama adalah malam itu ketika ia mengantarnya pulang, dan sekarang. Kening Riven mengernyit samar di balik kegelapan basement.
Mobil sport yang ia gunakan bukanlah kendaraan massal biasa. Sistem keamanannya berbeda, mekanisme pintunya mengusung fitur double-pull tersembunyi, seseorang harus menarik tuas bagian dalam sebanyak dua kali dengan ritme tertentu untuk benar-benar membukanya dari dalam.
Bagi orang awam, pintu itu sering kali membuat bingung pada percobaan pertama. Namun, Angie melakukannya dengan begitu alami. Seolah-olah tangannya sudah terlatih dengan mobil mewah.
Riven menatap punggung Angie selama beberapa detik sebelum menggelengkan kepala, mengusir kecurigaan yang mendadak melintas. Angie adalah seorang influencer papan atas, pikirnya rasional.
Bukan hal aneh jika ia sering diundang atau menaiki kendaraan mewah milik para konglomerat sebelumnya. Tidak ada alasan untuk menjadi paranoid seperti Jack.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju lobi lift khusus. Angie melangkah pelan beberapa senti di belakang Riven dengan kepala yang tetap tertunduk.
Sesekali, Riven sengaja memperlambat langkah atau menoleh ke belakang, memastikan gadis itu tidak tertinggal.
Begitu tiba di depan pintu metal lift, Riven menekan tombol sensor. Beberapa detik kemudian, pintu berdenting lembut dan terbuka. Riven memiringkan tubuhnya, memberi isyarat dengan tatapan mata agar Angie masuk terlebih dahulu. Angie menurut tanpa suara.
Riven melangkah masuk setelahnya, berdiri di sisi panel kendali. Lift bergerak naik dengan kecepatan tinggi, memotong gravitasi. Suasana di dalam kotak metal itu begitu sunyi, hanya menyisakan dengungan halus mesin lift yang membawa mereka menuju lantai teratas, griya tawang eksklusif.
Ting.
Pintu lift terbuka langsung menghadap koridor privat yang luas dan elegan. Lantainya dilapisi karpet tebal berbulu domba yang meredam setiap langkah kaki mereka.
Meskipun koridor itu megah, hanya ada dua pintu unit premium di lantai tersebut, menjamin privasi tingkat tinggi.
Dengan langkah mantap, Riven berjalan menuju pintu di ujung koridor. Tangannya yang besar menggenggam gagang pintu konseptual yang menyatu dengan dinding. Pemindai biometrik menyala biru, membaca sidik jarinya. Detik berikutnya, terdengar bunyi klik mekanis yang solid.
Pintu terbuka. Riven mendorongnya lebih lebar, memberikan jalan. “Masuklah.”
Bersambung
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor