Sequel Kembalinya Sang Agen Rahasia & Heroes
Zyan kembali menjalani misi. Kali ini akan menjadi misi terakhirnya, mencari keberadaan Arkan, juniornya.
Siapa sangka kembalinya pria itu ke lapangan malah menemukan konspirasi sejumlah petinggi menggagas Project Black Lock. Diam-diam mereka mengembangkan virus yang diberi nama Regalis-V.
Ada enam target yang sedang dibidik untuk memproduksi Regalis-V. Salah satunya adalah Arsela, anak presiden.
Ketegangan semakin bertambah ketika Zyan tahu target terakhir adalah anaknya sendiri.
Bersama dengan Arkan, pria itu berjibaku, berusaha menyelamatkan target dan menghancurkan Black Lock.
Dalam aksinya, mereka mendapatkan bantuan dari seorang agen tambahan.
Siapakah agen tersebut?
Jangan lupa ikuti medsosku di
FB : Khairunnisa (Ichageul)
IG : ichageul9563
TT : @novelme @ichageul21
Threads : Ichageul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Great Escape
“Mereka di sana!” teriak salah satu pengejar.
Sontak Mateo menarik tangan profesor. Keduanya berlari menjauh dari tempat tadi. Kenzo menunjuk satu tempat untuk keduanya bersembunyi. Dengan cepat mereka bersembunyi di balik batang pohon besar yang tumbang.
Kenzo, Kael, dan Sergio tetap berada di persembunyian masing-masing sambil melihat ke arah datangnya suara.
Tak berapa lama muncul sepuluh orang petugas ditambah dua orang yang Sergio tahu kalau mereka adalah anggota SIV. Salah satunya sudah pasti dokter Caelen.
Dokter Caelen memerintahkan semuanya untuk menyebar mencari keberadaan profesor dan tahanan lain yang kabur.
Kenzo bersembunyi di balik pohon sambil mengawasi tiga orang yang berjalan ke dekatnya. Tanpa suara Kenzo bergerak mendekati salah satu petugas. Dengan cepat dia menarik penjaga tersebut seraya menutup mulutnya.
Sebuah pukulan diberikan di tengkuk pria itu dan membuatnya pingsan. Kenzo lanjut mendekati petugas lain.
Menggunakan metode yang hampir sama, Kenzo berhasil melumpuhkan dua petugas. Saat berhadapan dengan petugas terakhir, dokter Caelen menyadari pergerakan Kenzo.
Sebuah tembakan dilepaskan dokter tersebut. Kenzo menggunakan petugas yang dihadapinya sebagai tameng. Dua tembakan beruntun menembus tubuh pria itu dia tewas seketika.
Dengan cepat Kenzo menuju pohon yang ada di samping kirinya sambil mendorong tubuh sang petugas yang sudah tidak bernyawa.
Kael juga menghadapi dua petugas sekaligus. Dalam waktu singkat dia berhasil melumpuhkan kedua petugas tersebut. Kael menunduk sambil menuju tempat persembunyian untuk menghindari tembakan rekan dokter Caelen.
Sergio melompat seraya melayangkan tendangan pada seorang petugas. Tubuhnya terpental dan mengenai dua petugas lain. Dengan cepat dia menghindar ketika seseorang menyerangnya.
Di tengah sorotan lampu tembak yang terus bergerak, Sergio bisa melihat rekannya di SIV yang sekarang berhadapan dengannya.
“Kenapa kamu berkhianat, Sergio?” tanya agen tersebut.
“Bukan aku, tapi kalian yang pengkhianat.”
“Apa maksudmu? Aku hanya menjalankan perintah dan kamu justru mengabaikan perintah!”
“Kamu mengikuti perintah yang salah!”
Perkelahian kembali terjadi di antara keduanya.
Di bagian lain, Kael sedang menghadapi sisa petugas. Sementara dokter Caelen terus memburu Kenzo, target utamanya. Kenzo yang membuat Sergio membelot. Beberapa kali dia melepaskan tembakan, namun Kenzo selalu dapat menghindarinya.
Kenzo merapatkan punggungnya ke pohon besar yang dijadikan tempat berlindungnya. Dia mengawasi dokter Caelen yang perlahan mendekat padanya. Pelan-pelan dia mengambil batu kecil di bawahnya kemudian melemparkan ke sebelah kiri.
Sontak dokter Caelen langsung menengok. Pada kesempatan itu Kenzo langsung melompat, menabrak tubuh dokter Caelen sampai pria itu terjatuh. Pistol di tangannya terlepas dari genggaman. Belum sempat dia bangun, Kenzo sudah berada di atasnya.
Tiga pukulan beruntun diberikan oleh Kenzo. Agen SIV lain yang melihat itu segera menembakkan senjatanya pada Kenzo.
Secepatnya Kenzo berguling sambil meraih pistol yang tergeletak tak jauh darinya. Setelah meraih pistol, Kenzo kembali menghampiri dokter Caelen, menarik pria itu sambil menodongkan senjata ke kepala pria itu. “Perintahkan semuanya untuk mundur!” titah Kenzo seraya menekan pistol ke kening dokter Caelen.
Melihat atasannya berada dalam ancaman, agen SIV yang tadi menembak Kenzo, hanya bisa mengikuti pergerakan pria itu sambil menodongkan senjatanya.
Karena ancamannya tidak digubris, tanpa ragu Kenzo menembak paha dokter Caelen. Seketika terdengar teriak kesakitan pria itu. “Akh!”
Darah segar keluar dari luka tembaknya, membuat pergerakan pria itu tertatih ketika Kenzo terus menyeretnya.
Suara tembakan tersebut sukses membuat perkelahian Sergio dan rekannya sendiri terhenti. Petugas dan dua agen SIV tidak bisa berbuat apa-apa melihat dokter Caelen dijadikan sandera.
“Kael, bawa profesor dan Mateo pergi!”
Kael langsung bergerak mengikuti instruksi Kenzo. Dia segera membawa profesor dan Mateo keluar dari hutan. Sergio sendiri segera mendekati Kenzo. Matanya tertuju pada paha dokter Caelen yang terus mengeluarkan darah.
Sambil menyeret dokter Caelen, Kenzo bergerak meninggalkan lokasi mereka diikuti oleh Sergio. Dua agen SIV dan petugas lapas hanya bisa mengikuti secara perlahan. Mereka khawatir kalau Kenzo akan kembali melukai dokter Caelen.
Akhirnya Kenzo sudah keluar dari hutan. Tampak dua buah mobil sudah menunggu. Di satu mobil, sudah ada Kael, profesor dan Mateo. Kenzo mengarahkan langkanya menuju mobil kedua. Pria itu masuk dari pintu kiri, sementara Sergio masuk dari pintu kanan.
Kenzo menarik dokter Caelen masuk ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup, sang pengemudi langsung melajukan kendaraan. Dua agen SIV berusaha mengejar tapi laju kendaraan begitu cepat, hingga mereka menghentikan pengejaran. Salah satunya menghubungi pusat dan melaporkan apa yang terjadi.
Setelah melaju sepanjang lima ratus meter, mobil yang ditumpangi Kenzo melambat. Pria itu membuka pintu lalu menendang dokter Caelen keluar. Setelahnya kendaraan roda empat itu kembali melaju.
Dokter Caelen terguling di aspal. Pria itu mencoba bangun sambil terus melihat pada mobil yang sudah menjauh. “Sial!” makinya sambil memukul aspal di bawahnya.
Mobil yang membawa Kenzo dan yang lain sudah tiba di Port Caleus. Semuanya segera dipandu menuju dermaga. Di sana Hector sudah menunggu. Pria itu sudah menyewa kapal yang akan membawa semuanya kembali ke Cadaques.
“Akhirnya kamu berhasil juga,” sambut Hector sambil tersenyum. Pandangannya kemudian beralih pada Sergio. “Apa kamu akan ikut mereka?” tanya Hector pada pria itu.
“Ya.”
Dengan kejadian tadi, Sergio sudah tidak bisa mempercayai siapa pun di institusinya. Sepertinya Vexion Pharma Global sudah merambah ke semua lini pemerintahan. Pilihannya saat ini hanyalah Kenzo. Apalagi pria itu juga membawa Profesor Elio Sarin. Orang yang menjadi kunci kasus ini.
Tanpa membuang waktu, semua langsung naik ke kapal. Mereka harus secepatnya meninggalkan negara ini sebelum pemerintah menginstruksikan penutupan jalur darat, udara dan laut.
Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit, rombongan sudah tiba di Cadaques. Mereka segera menuju safe house tanpa membuang waktu.
Sesampainya di safe house, Kenzo langsung mengajak semua orang yang berkepentingan berdiskusi. Mereka tidak boleh membuang waktu terlalu lama. Setiap menit yang terbuang akan membuat semakin banyak nyawa terancam.
Lebih dulu Sergio ingin mendengar tentang virus Regalis-V. Profesor Elio Sarin segera menerangkan semua tentang Regalis-V.
Kenzo yang duduk di bagian belakang bangkit lalu keluar dari ruangan saat Armin menghubunginya. Pria itu memilih berbicara di luar rumah. “Halo.”
“Bang, aku belum berhasil meretas Vexion Pharma Global. Keamanannya sangat ketat dan berlapis. Setiap hari sistem keamanannya diganti.”
“Jadi kamu tidak bisa meretasnya?”
“Bisa saja, tapi harus dilakukan dari dalam.”
“Maksudnya?”
“Harus menanamkan malware dari dalam.”
“Maksudmu menanamkan malware langsung ke server utama?”
“Iya, tapi resikonya besar.”
“Tidak masalah, aku akan melakukannya. Tapi aku butuh denah Vexion Pharma Global.”
“Kalau itu, aku bisa mendapatkannya untukmu.”
“Baiklah.”
“Aku akan mengirimkan USB berisi Rubber Ducky lewat paket kilat. Tolong kirimkan alamat Abang.”
“Oke.”
Panggilan segera berakhir. Kenzo masih berdiri di tempatnya. Dia tengah mengirimkan alamat safe house pada Armin.
Sementara di dalam, Kael juga keluar dari ruangan. Pria itu bermaksud menemui Niklas. Menurut Kenzo, Niklas juga berada di safe ini. Saat hendak menuju kamar Niklas berada, terdengar sebuah suara memanggilnya. “Kael!”
Arsela menuruni tangga sambil berlari. Niatnya hendak mengambil minum, ternyata dia melihat pria yang selama ini ditunggunya.
Kael terpaksa menghentikan langkahnya melihat Arsela mendekatinya. Pria itu terkejut ketika Arsela langsung memeluknya. “Syukurlah kamu selamat,” bisik Arsela sambil memeluk pinggang Kael dengan erat.
***
Eh Arsela🤭
huhah huhah huhahhhhhh🫣