NovelToon NovelToon
Back To Us, Zehar & Alesha

Back To Us, Zehar & Alesha

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik Terendah Alesha

☘️FLASHBACK

Tekanan hidup yang selama ini dipikul Alesha seolah mencapai puncaknya ketika sebuah musibah baru datang menimpa keluarganya.

Sudah beberapa bulan berlalu sejak kebangkrutan usaha ayahnya, dan keadaan belum menunjukkan tanda‑tanda membaik.

Sebaliknya, setiap hari terasa seperti perjuangan baru yang harus dilalui dengan tenaga yang semakin menipis.

Jika sebelumnya Alesha hanya perlu memikirkan biaya sewa kontrakan, makan sehari‑hari, dan kebutuhan kuliah, kini ia harus menghadapi beban yang jauh lebih berat, ibunya jatuh sakit akibat tekanan batin dan stres yang menumpuk sejak nasib keluarga berubah drastis.

Awalnya, gejalanya hanya berupa pusing yang sering datang dan perasaan lemas yang terus‑menerus.

Ibunya sering mengeluh tidak bisa tidur nyenyak di malam hari, nafsu makannya berkurang drastis, dan badannya terasa dingin meski cuaca sedang terik.

Namun karena tidak ingin menambah beban putrinya yang sudah bekerja keras siang dan malam, wanita itu hanya diam dan berusaha tetap melakukan pekerjaan rumah seperti biasa.

Hingga suatu pagi, saat Alesha hendak berangkat mengajar les, ia mendapati ibunya tergeletak lemas di lantai dapur, wajahnya pucat pasi dan napasnya terasa sangat pendek.

“Ibu! Apa yang terjadi?” seru Alesha panik, segera memapah tubuh ibunya dan membaringkannya di atas kasur tipis di kamar.

Ayahnya yang baru pulang mencari pekerjaan harian segera mendekat, wajahnya dipenuhi rasa cemas dan tak berdaya.

“Sudah beberapa hari ini Ibu sering mengeluh sakit kepala, Nak. Tapi dia selalu bilang hanya kelelahan biasa saja. Sepertinya beban pikirannya terlalu berat sejak semuanya berubah.”

Alesha memegang dahi ibunya, merasakan suhu tubuh yang terasa agak tinggi namun tidak sampai demam tinggi.

Ia ingin segera membawa ibunya ke rumah sakit untuk pemeriksaan lengkap, namun saat memikirkan biaya yang harus dikeluarkan, hatinya terasa diremas sakit.

Uang yang dimiliki saat itu hanya cukup untuk kebutuhan makan seminggu ke depan dan sebagian sisanya sudah disisihkan untuk cicilan sewa kontrakan.

Biaya pendaftaran, pemeriksaan, hingga obat‑obatan di rumah sakit swasta atau umum terasa terlalu tinggi untuk kemampuan mereka saat ini.

“Kita bawa ke puskesmas saja dulu,” ujar Alesha dengan suara lirih, menahan rasa sedih.

“Di sana pelayanannya gratis bagi warga kurang mampu, dan obatnya juga disediakan. Setidaknya kita bisa tahu penyebab sakitnya dan mendapatkan penanganan awal.”

Ayahnya hanya bisa mengangguk pasrah. Dengan tenaga seadanya, mereka membawa ibu Alesha berjalan kaki sejauh dua kilometer menuju puskesmas yang terletak di pinggiran desa, jauh dari pusat kota.

Selama perjalanan, Alesha memapah bahu ibunya erat‑erat, hatinya terasa hancur melihat keadaan wanita yang telah melahirkannya itu menjadi begitu lemah dan ringkih.

Setelah diperiksa oleh petugas medis, dokter menyampaikan hasilnya dengan nada yang lembut namun tegas.

“Ibu mengalami kelelahan fisik yang disertai stres berat dan tekanan pikiran yang berlangsung lama. Kondisi ini membuat daya tahan tubuhnya menurun drastis. Jika terus dibiarkan dan tidak cukup istirahat, penyakit ini bisa berkembang menjadi lebih serius. Ia butuh istirahat total, pola makan yang teratur dan bergizi, serta hindari beban pikiran apa pun.”

Mendengar penjelasan itu, air mata Alesha menetes tanpa terasa. Ia memegang tangan ibunya yang dingin dan kurus, berbisik dengan suara terguncang,

“Maafkan Alesha, Bu… Maaf karena belum bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk Ibu.”

Ibunya hanya tersenyum tipis, lalu mengusap air mata di pipi putrinya dengan jari yang gemetar.

“Jangan bicara begitu, Nak. Ini bukan salahmu. Ibu hanya lelah sebentar, nanti juga akan pulih seperti sedia kala. Kamu jangan memaksakan dirimu terlalu keras, ya?”

Pulang dari puskesmas, keadaan keluarga itu semakin terasa sulit. Alesha harus membagi waktunya menjadi lebih ketat lagi.

Sebelumnya ia hanya bekerja di pagi, siang, dan sore hari, namun kini ia harus bangun lebih dini untuk menyiapkan makanan, mengganti kompres air hangat, dan memastikan ibunya meminum obat tepat waktu.

Sepulang kuliah dan usai bekerja di kafe, ia langsung bergegas pulang untuk merawat ibunya, mengganti popok jika perlu, membersihkan badan, dan menyiapkan makanan yang mudah dicerna.

Waktu tidurnya yang sudah sangat sedikit kini berkurang lagi menjadi hanya dua hingga tiga jam sehari. Sering kali ia terjaga sepanjang malam, mendengarkan napas ibunya yang terputus‑putus, sambil memikirkan segala tagihan yang menanti.

Tekanan lain datang dari kampus. Di tengah kesibukan merawat ibu dan bekerja, surat pemberitahuan keterlambatan pembayaran uang semester jatuh tempo pun mendarat di hadapannya.

Jika tidak dilunasi dalam waktu dua minggu, ia terancam tidak diperbolehkan mengikuti ujian tengah semester, bahkan berisiko dikeluarkan secara administrasi.

Membaca surat itu, rasanya seolah dunia Alesha runtuh seketika. Ia sudah berjuang mati‑matian mempertahankan pendidikannya, namun kini jalan itu terasa semakin sempit dan hampir tertutup rapat.

Di tengah semua kepahitan ini, hubungan dengan Zehar pun sedang dalam kondisi yang paling buruk.

Seminggu sebelumnya, mereka sempat bertengkar lewat sambungan telepon yang terputus di tengah jalan karena gangguan sinyal.

Kesalahpahaman soal komunikasi yang terputus dan pekerjaan Alesha yang baru diketahui itu masih membekas.

Sejak saat itu, pesan yang dikirim Zehar menjadi lebih singkat dan dingin, sering kali hanya berisi tanya kabar tanpa kehangatan seperti dulu.

Beberapa kali Alesha tergoda untuk mengirim pesan panjang, menceritakan semua tentang kebangkrutan, kontrakan sempit, pekerjaan berat, sakitnya ibunya, hingga uang kuliah yang menunggak.

Ia ingin sekali membagi beban itu, ingin mendengar kata semangat, atau sekadar didengar dengan penuh pengertian. Namun setiap kali jari‑jarinya hendak menekan tombol kirim, pikirannya selalu terhenti.

“Jangan,” bisik hatinya sendiri.

“Dia sedang berjuang keras di tempatnya, menjalani pendidikan yang berat dan penuh disiplin. Jika aku ceritakan semua ini, dia pasti akan khawatir, pikirannya terbagi, dan mungkin merasa bertanggung jawab secara materi. Belum lagi setelah pertengkaran kemarin, dia pasti sudah mulai memikirkan hal‑hal yang tidak‑tidak. Kalau aku tambahkan masalah ini, dia mungkin akan mengira aku hanya ingin meminta bantuan atau mengeluh terus‑menerus. Lebih baik aku tanggung sendiri saja, biar dia tetap fokus dan bisa sukses nanti.”

Pikiran itu membuat Alesha memendam segalanya seorang diri. Ia membalas setiap pesan Zehar hanya dengan kalimat‑kalimat pendek yang menenangkan,

“Semua baik di sini. Ibu hanya sedikit kurang enak badan, sudah berobat dan mulai membaik. Kuliah berjalan lancar. Jangan khawatirkan aku.”

Namun kenyataannya, rasa kesepian itu terasa semakin menyesakkan.

Suatu malam, setelah memastikan ibunya sudah terlelap dan ayahnya sedang tertidur lelah di ruang tengah, Alesha duduk sendirian di depan jendela kontrakan.

Di tangannya, ia memegang selembar kertas pemberitahuan tunggakan biaya kuliah itu, meremasnya hingga berkerut.

“Mengapa rasanya aku berjalan sendirian di jalan yang gelap ini?” bisiknya lirih, air matanya mulai mengalir deras tanpa bisa ditahan.

“Dulu aku punya dia untuk tempat berbagi, tempat bersandar saat lelah. Sekarang dia jauh, tidak tahu apa yang aku alami, dan aku pun tidak berani mengadu. Apa gunanya hubungan ini jika saat paling membutuhkan pun aku harus diam saja?”

Suara langkah kaki perlahan mendekat, lalu ayahnya duduk di sampingnya, memegang bahu putrinya dengan lembut namun penuh rasa iba.

“Kamu sudah sangat kuat, Nak. Lebih kuat dari yang Ayah bayangkan. Maafkan Ayah yang tidak bisa berbuat apa‑apa, malah membiarkan kamu memikul beban seberat ini sendirian.”

Alesha menoleh, lalu menumpahkan kepalanya ke bahu ayahnya sambil terisak, melepaskan segala rasa sesak yang selama ini ditahan rapat.

“Ayah… rasanya aku sudah tidak sanggup lagi. Badanku terasa sangat lelah, pikiranku kacau. Ibu sakit, uang kuliah terancam tidak bisa dibayar, dan dia… dia juga mulai menjauh karena salah paham. Rasanya tidak ada jalan keluar lagi.”

Ayahnya mengusap punggung putrinya dengan pelan, suaranya bergetar namun tetap berusaha memberi kekuatan.

“Ingat satu hal, Lesha. Titik terendah bukan berarti akhir dari segalanya. Justru dari posisi paling bawah inilah kita baru bisa bangkit kembali tanpa rasa takut jatuh lagi. Kamu sudah melakukan segalanya dengan sangat baik. Yang terpenting sekarang, kamu tetap sehat dan bisa menjaga keluarga ini tetap utuh. Jangan memaksakan diri melebihi batas kemampuanmu. Biarkan Ayah yang berusaha.”

Kata‑kata itu sedikit menenangkan hati Alesha, namun rasa hampa dan kesepian itu tetap ada.

Ia tahu, ia harus terus berjalan, meski langkahnya terasa semakin berat dan tanpa ada tempat untuk bersandar. Ia harus tetap tersenyum di depan ibunya, tetap semangat bekerja, tetap masuk ke kelas dengan kepala tegak, meski di balik itu ia sedang berada di titik terendah hidupnya.

Rasa sendirian, diam, dan memendam segalanya hanya demi menjaga mimpi dan hubungan yang masih ia pegang erat, meski jarak dan kesalahpahaman perlahan mengikisnya.

Di ujung malam yang sunyi itu, Alesha mengangkat wajahnya menatap langit yang gelap dan dipenuhi bintang redup.

Ia berdoa dalam hati, memohon kekuatan agar bisa melewati hari‑hari yang semakin sulit ini, dan berharap suatu saat nanti beban ini akan terangkat, dan ia bisa kembali bernapas lega seperti dulu.

Namun untuk saat ini, ia hanya bisa melangkah perlahan, satu per satu hari, dengan sisa tenaga yang masih tersisa.

 

1
Siti Sarfiah
lancar kan urusannya kalau mengalah dari egois lanjutkan lagi cinta yg terputus dan perbaiki kembali
Siti Sarfiah
maju pakpol , buang jauh" egomu bisa nyesal kalau d ambil orang
Siti Sarfiah
itulah sama" egois🤭💪
Siti Sarfiah
pakpol yg buang" waktu , bilang saja ingin mengenang masa lalu😄👍
Siti Sarfiah
cinta lama bersemi kembali😍👍💪
Siti Sarfiah
dengan bertugasnya AKP zehar d daerah yg d tuju akan aman selalu👍💪
Siti Sarfiah
mantap ibu Dirut yg jenius👍
Elisabeth Ratna Susanti
semoga pak Zehar beneran tulus ya
Rosella
udh, 🙏
kalah saing kmu erhan
Rosella
baguss
Rosella
Zaskia sadar krna di bayarin tuh utang, coba kalau ga d bayarin, apa masih Nerima Zehar 😏
Rosella
sepakat din🙏
Rosella
keren juga Dinda 😍.
real sahabat ini mah😍
Elisabeth Ratna Susanti
harus tetap tegak berdiri 👍🥰
Rosella
aku paling suka karakter Zehar. apa yang dia ucapkan pasti positif. keren thor.
kalau bisa up banyak y. plis 🙏
Rani: tengkyu.

siapp,😍
demi readers rela up banyak kok😍
total 1 replies
Rosella
sudah pasti terpecah belah lah. gila aja anak sendiri di jadikan bahan untuk balas Budi.😏
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
ibu aja yg nikah sama erhan noh. kehormatan apaan, ngorbanin anak
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
egois bnget si ibu
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
idih
Rosella
emosian lngsung pas baca bab ini
Rani: sabar😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!