NovelToon NovelToon
PUTRA KE EMPATKU

PUTRA KE EMPATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: ElQue ElQue

Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.

Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.

Suaminya ke mana??

"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"

Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.

" Mas...maaf " lirih suara Arista.

Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.

Arista tergugu, tak ada air mata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

"Bagaimana kabar anak itu? Apa adikmu , Anisa, merawatnya dengan baik."

Pram membuka pembicaraan saat mereka berada di kamar.

Arista menghentikan aktivitasnya di depan meja rias. Sekilas dia menengok ke arah Pram. Tersenyum sinis.

" Anak itu punya nama. Kalau alergi menyebut namanya, tak perlu basa basi atau pura-pura menanyakan keadaannya." Arista melanjutkan gerakan tangannya yang sempat terhenti.

Pram mendengus kesal. Dia seperti kehabisan kata-kata.

" Ada yang lihat dan bilang , kalian habis dari ruangan dokter Mirna. Apa ada yang sakit?." Pram mencoba tetap menjaga ucapannya.

" Sepagi itu udah ada orang perusahaan ke rumah sakit? Setahuku ada jadwal dari rumah sakit, yaitu setelah jam istirahat siang." kata Arista tenang.

" Mak...maksud mas, ada salah satu istri staf pengadaan barang melihat kalian." Pram dengan muka cemas.

(Siap kenapa juga aku harus membuka pembicaraan dengan menanyakan kabar anak itu." batin Pram)

" Oh...istri staf itu lagi hamil? Apa suaminya yang datang dan masuk ruangan dokter Mirna untuk konsultasi. Hmm..sejak kapan Mirna berganti haluan, menerima konsultasi bapak-bapaknya juga."

" Kecuali memang mendampingi istrinya yang sedang hamil. Apa jangan-jangan dia ambil jobdesk Menarik, sih." kata Arista sambil tertawa kecil.

" Kenapa lama-lama ngelantur ngomongnya." Pram merasa tersindir.

" Yang ngelantur itu yang bikin laporan. Setahuku setelah aku keluar dari ruangan Mirna, nggak ada lagi pasien nunggu di bangku antrian. Kalau menurut laporan dia melihat, berarti dia ada di sana."

" Ya..mungkin aja dia melihat dari kejauhan." Pram tetap beropini.

" Ya...mungkin." Arista memilih menyudahi perdebatan itu. Dia beranjak ke ranjang bersiap untuk tidur. Seharian bermain dengan Hanif membuat badannya lelah, tapi dia bahagia.

Tak lama Pram pun menyusul dan berbaring di samping Arista. Sedang Arista tengah sibuk membuka gallery foto di gawainya. Dia tersenyum melihat dirinya dan Hanif dengan berbagai pose.

"(Masih bayi udah sadar kamera. Semua gayanya fotogenik semua. Arista tersenyum lebar.)

Pram yang penasaran mencoba melirik ke gawai istrinya. Arista yang mengetahui Pram sedang berusaha mengintip , sengaja menarik posisi tangannya ke atas.

Pram mendengus dan membalikkan badan memunggungi istrinya. Sementara Arista tersenyum sinis.

    ************

Hari sudah menunjukkan jam 11 malam. Anisa memandangi gawainya yang masih sepi. Sejak tadi dia menghubungi Restu, tapi hpnya sepertinya tidak aktif. Kirim pisan ceklis satu, di telepon tertulis " memanggil."

Tiga bulan belakangan ini Restu sudah jarang ke rumah orang tuanya. Sejak ada Hanif , Restu selalu pulang tepat waktu. Kangen, katanya. Weekend pun dia habiskan waktunya di rumah menemani Hanif dan membantu pekerjaan Anisa di rumah.

Bahagia? Tentu saja itu yang Anisa rasakan. Walaupun bukan lahir dari rahimnya , Restu terlihat sangat menyayangi Hanif.

Bahkan kalau malam, tak segan dia ikut membantu menggantikan Pampers dan membuatkan susu untuk Hanif.

(Ke mana mas Restu, tidak biasanya di seperti ini. Walaupun pulang malam atau mau nginap dia pasti kasih kabar." batin Anisa)

Anisa mengambil gawainya, dia berniat menghubungi Budiman , adik Restu. Dia ingin memastikan kalau suaminya ada di sana.

Baru saja mau telepon, suara mobil memasuki halaman rumahnya. Anisa tak langsung ke depan membukakan pintu. Dia menunggu suaminya mengetuk pintu dulu.

Tok...tok..tok

Dengan langkah pelan Anisa berjalan ke depan. Dia harus bersikap setenang mungkin.

Sebelum membuka pintu Anisa menarik nafas perlahan.

Ceklek...

Begitu pintu terbuka, seulas senyum manis menyapa Anisa. Di angkatnya tangan kanan di depan wajah istrinya.

" Coba tebak aku bawa apa?." kata Restu sambil merangkul pundak istrinya mengajak masuk ke dalam.

Selalu sama. Setiap pulang terlambat, ada saja buah tangan yang di bawanya. Anisa memasang wajah senang.

" Apa itu, mas." tanya Anisa .

" Ayam bakar madu kesukaan kamu. Tadi pulang dari rumah ibu , mas mampir ke resto langganan kamu. Tapi karena antri , jadi lama dan pulang jalanan sedikit macet. Jadi sampai rumah kemafaleman."

" Maaf, ya." Restu mengusap punggung istrinya dengan lembut.

" Bagaimana kabar bapak dan ibu. Apa mereka baik-baik saja." Anisa meraih bungkusan yang di letakkan di meja.

Aromanya menerbitkan selera makannya.

"Kita makan bareng, mas."

Restu mengangguk . Sebenarnya dia tadi sudah makan , tapi demi menemani istrinya dia rela makan lagi.

" Alhamdulillah. Bapak dan ibu sehat, mereka titip salam."

"Besok boleh nggak, Hanif saya bawa ke sana."

"Bo...boleh." kata Restu gugup.

" Kenapa mas? Kok, kayaknya nggak senang gitu, aku ke sana." Anisa menatap heran ke arah suaminya.

" Itu perasaan kamu aja. Nggak biasanya kan, kamu mau main ke rumah mereka." kata Restu sambil menyuap nasi beserta ayam bakar ke mulut.

" Bukannya selama ini mas yang melarang ke sana. Katanya nanti nggak tahan, ibu terlalu cerewet, suka ngomel nggak jelas, banyak minta ini itu." Anisa bingung dengan pernyataan suaminya.

" Hehe...iya juga, yaa.." Restu sambil menggaruk tengkuknya.

" Mas...udah kenyang." Restu menyudahi makannya. Anisa pun sudah selesai, dia makan dengan lahap. Memang dari sore dia belum sempat makan.

" Mas..ke kamar dulu, ya. Kangen sama Hanif." setelah membersihkan diri Restu beranjak ke kamar.

Tapi tak berapa lama, Restu kembali lagi. Anisa memandang heran.

"Kenapa mas?"

"Hp ketinggalan." Restu menuju ke meja tamu dan mengambil gawainya yang tertinggal di sana.

( Padahal biasanya kalau ketinggalan, nyuruh di ambilin. Sekarang kayaknya malah takut aku pegang. Ah...masa bodo , penting sekarang aku punya kesibukan dan hiburan. Kalau sekarang dia mulai nggak betah lagi di rumah, dan lebih betah di tempat orang tuanya, suatu saat nanti aku kabulkan ) batin Anisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!