NovelToon NovelToon
Joni Fighter

Joni Fighter

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Game
Popularitas:960
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Dunia telah berubah sejak terbukanya Arcane Nexus—sebuah celah dimensi misterius yang menghubungkan bumi dengan dunia monster yang ganas. Demi bertahan hidup, umat manusia mendirikan tiga akademi elit untuk melatih para petarung faksi (Brawler, Swordsman, Archer, dan Shaman) agar mampu menyelaraskan getaran energi Ki mereka, yang dikenal sebagai sistem RAN (Resonance of Arcane Nexus).
​Joni, seorang mahasiswa baru faksi Brawler di Kampus Sacred Gate, awalnya hanya ingin fokus berlatih demi meneruskan jejak mendiang ayahnya. Namun, ia justru terseret ke dalam pusaran konspirasi gelap yang melibatkan kekuatan korporasi raksasa, militer kampus saingan, hingga ambisi berbahaya yang mengancam kestabilan dinding dimensi. Di tengah ancaman duel hidup-mati melawan rivalnya yang menggunakan kekuatan terlarang, Joni harus menjalani penempaan ekstrem di kedalaman wilayah tak bertuan untuk membangkitkan resonansi murni tubuhnya dan mengungkap kebusukan yang terstruktur di puncak kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Pertarungan pun berakhir. Keduanya sama-sama babak belur. Wajah Joni lebam di sana-sini, sementara Gondrong sibuk mengusap hidungnya yang kembali meler.

*Bip... Bip...*

Jam tangan pintar milik Joni tiba-tiba berbunyi. Sebuah layar hologram kecil muncul di atas pergelangan tangannya.

> **[SISTEM NOTIFIKASI]**

> * EXP +12

> * Progress Level 4 \rightarrow 99%

>

Joni langsung melongo. "Astaga... ampun, deh. Tinggal satu persen lagi buat naik ke Level 5. Pelit amat sistemnya."

"Hehehe..." Gondrong malah cekikikan.

Joni melirik tajam. "Napa lu ketawa?"

"Kagak apa-apa."

"Terus ngapain ketawa?"

"Ya... lucu aja. Gitu doang udah ngambek."

"Huh."

Belum sempat Joni membalas, Instruktur Johan menghampiri mereka dengan tangan di belakang punggung. "Woy, Jon."

"Iya, Master?"

"Temen-temen seangkatan lo udah banyak yang masuk Dimensi Monster buat *leveling*. Ada yang bahkan hampir tembus Level 10. Lah, lo? Masih muter-muter di gerbang doang. Kapan majunya?"

Joni hanya menunduk sambil mengaruk kepala.

Instruktur Johan menggeleng pelan. "Malu sama emak lo. Dulu dia legenda *Brawler*. Sekali masuk dimensi, monsternya yang kabur. Anaknya malah lebih takut masuk portal daripada lawan."

Joni cuma merengut. Bibirnya maju beberapa senti.

"Hehehe..." Gondrong kembali ngakak pelan.

Joni langsung menoleh dengan wajah kesal. "Heh, peak! Tukang ingusan. Mending lo ke Dokter Boyke sana. Minta obat biar nggak cepat ejakulasi ingus. Huh!"

"Hahaha... maaf, Jon. Refleks!"

"Refleks pala lo! Kalau besok masih nyiprat lagi, gue bawa lakban buat nutup hidung lo!"

*Teng... Teng... Teng...*

Bel istirahat akhirnya berbunyi.

Joni mengembuskan napas lega. Ia segera membersihkan wajahnya, mengganti sarung tinju, lalu berjalan menuju kantin kampus dengan perut yang sudah keroncongan.

Siang itu, kantin Sacred Gate benar-benar dipenuhi mahasiswa dari berbagai jurusan. Seragam mereka berwarna-warni sesuai divisi masing-masing. Para *Brawler* mengenakan jaket hitam-merah dengan sarung tinju menggantung di pinggang. Para *Swordman* membawa pedang kayu latihan di punggung. Mahasiswa *Qigong* tampil lebih anggun dengan jubah putih-biru yang dihiasi motif awan. Di sisi lain ada para *Gunner* dengan rompi taktis, sementara para Ninja berseragam hitam pekat nyaris tak bersuara saat berjalan.

Joni memilih meja paling pojok. Baginya, tempat itu paling aman untuk makan tanpa ada yang mengajaknya *sparing*.

"Ah... akhirnya bisa makan juga," gumamnya. Ia langsung melahap nasi dan ayam goreng seolah sudah tiga hari tidak diberi makan.

Saat sedang menikmati suapan berikutnya, suasana kantin mendadak sedikit berubah. Beberapa mahasiswa menoleh ke arah pintu masuk. Joni pun ikut melirik.

Dan seketika... sendok di tangannya berhenti di udara.

Seorang gadis melangkah masuk dengan mengenakan seragam putih-biru khas Jurusan *Qigong*. Rambut hitamnya yang panjang tergerai lembut hingga melewati bahu, bergoyang pelan mengikuti langkahnya. Kulitnya bersih seputih porselen, sementara sepasang matanya bening dengan sorot yang tenang, membuat siapa pun yang menatapnya serasa ikut menjadi damai. Wajahnya manis tanpa riasan berlebihan, dihiasi senyum tipis yang membuat suasana di sekitarnya terasa lebih hangat.

Aura gadis itu begitu lembut, bertolak belakang dengan para mahasiswa *Brawler* yang wajahnya penuh lebam.

"Cantik banget..." gumam Joni tanpa sadar. Rasanya ia belum pernah melihat gadis itu sebelumnya. "Mahasiswi baru, ya...?"

Matanya tak berkedip sedikit pun.

"Hehehe..."

Suara tawa kecil tiba-tiba terdengar tepat di samping telinganya. Pemandangan bak bidadari itu langsung menghilang, tergantikan oleh wajah Gondrong yang masih penuh memar. Hidungnya juga kembali memerah, siap mengeluarkan "senjata biologis" andalannya kapan saja.

Joni sampai tersentak. "Bujug buneng! Halah... demit ingusan! Lagi enak-enaknya lihat pemandangan indah malah ketutupan muka lo. Buyar dah keindahannya!"

"Hehehe..." Gondrong cuma nyengir polos, lalu duduk di samping Joni sambil menyeruput es teh. "Lo lagi ngeliatin si Laras, ya?"

Joni spontan menoleh. "Lah... lo kenal?"

"Ya kenal, lah." Gondrong menunjuk ke arah gadis berambut panjang itu. "Dia baru masuk Jurusan *Qigong*."

Joni mengangguk pelan. "Oh..."

"Dia adik gue."

*PFFFT!*

Joni yang baru saja meneguk es teh langsung menyemburkannya. "HUAAK! Gimana?!"

"Itu adik gue."

Joni menatap Laras. Lalu menoleh ke Gondrong. Menatap Laras lagi. Kembali melihat Gondrong. Otaknya seperti menolak kenyataan.

"Yang satu kayak bidadari turun dari langit..." gumam Joni dalam hati. "Yang satunya lagi kayak demit kuburan yang salah masuk kampus... Ini... kalian beneran saudaraan?" tanya Joni dengan wajah penuh curiga.

Gondrong mengangguk santai. "Iya. Saudara kandung."

Joni masih terdiam beberapa detik sebelum akhirnya bergumam lirih, "...Berarti genetik di keluarga lo lagi lempar dadu, ya?"

"Hehehe..."

Joni mengembuskan napas panjang. "Heran gue sama lo, Ndrong. Dari awal kita kenal, kerjaan lo cuma dua. Ngakak sama nebar ingus. *Btw*, kenapa sih lo ngikutin gue terus? Bangku lain masih kosong tuh."

Gondrong mengangkat bahu santai. "Ya elah, Jon. Kita kan udah sering jadi *sparing partner*. Masa masih ngusir aja?"

"Heh, *sparing partner* boleh. Partner kena cipratan ingus jangan!"

"Hehehe..."

*Sleekk...* Gondrong kembali mengusap hidungnya.

*Pluk...*

Setetes ingus nyaris jatuh tepat ke atas ketoprak milik Joni. Mata Joni langsung membelalak.

"Alamaaak! Ndrong! Gila lu, ya! Dikit lagi ketoprak gue jadi rasa sinus—"

Ucapan Joni terputus. Seseorang baru saja berhenti di samping meja mereka.

Joni mendongak. Ternyata Laras.

Dari dekat, gadis itu terlihat jauh lebih cantik daripada yang ia lihat dari kejauhan. Wajahnya bersih dengan senyum yang lembut, sementara aroma harum yang samar membuat Joni mendadak lupa kalau beberapa detik lalu ia sedang marah.

Laras sama sekali tidak memperhatikan Joni. Tatapannya tertuju kepada sang kakak.

"Bang, ini tisu obatnya," ucap Laras sambil menyodorkan sebungkus tisu berwarna hijau. "Kata Ibu harus rutin dipakai, biar hidung Abang nggak meler terus."

Gondrong langsung menggaruk kepala. Sebenarnya ia paling malas memakai tisu obat itu. Aromanya seperti campuran jamu, minyak kayu putih, dan daun herbal. Menurutnya, baunya bikin hidung makin geli.

Tapi kalau yang menyuruh Laras... mau tidak mau ia harus menurut. Kalau sampai ketahuan membandel, ibunya pasti bakal turun tangan. Dan bagi Gondrong, dimarahi ibu jauh lebih mengerikan daripada dihajar satu kelas *Brawler*.

"Hehe... makasih, Laras. Adekku yang paling manis."

Laras hanya tersentam kecil. "Iya, Bang. Jangan lupa dipakai."

Sementara itu, Joni masih membeku di kursinya. Matanya melotot lebar. Sendok masih menggantung di udara. Mulutnya sedikit terbuka.

Dalam hati ia cuma bisa bergumam, "Ya ampun... cantik banget..."

Kalau tadi dari jauh Laras terlihat seperti bidadari, dari dekat rasanya malah lebih parah. Sampai-sampai Joni lupa kalau ketopraknya hampir saja kena bonus ingus beberapa detik yang lalu.

1
Semoli Ginon
eh asa bruise jr. 👍
Semoli Ginon
wkwkwkw keluarga koplak🤣
Semoli Ginon
wahahah. ngenes amat nasib lo jon😄
Semoli Ginon
oke seru juga lanjut👍
Semoli Ginon
uhuyy 😄
Semoli Ginon
ini kan faksi2 di game ran online jadul ya?
Semoli Ginon
🤭🤭🤭
Semoli Ginon
adub baru mulai udah mirip gua 🤭
Boqin Changing
jelek. masa MC nya namnya , joni
👁Zigur👁: lah ya suka2 ku lah..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!