"Lima tahun pengabdianku dibalas dengan pengkhianatan menjijikkan di atas ranjang hotel."
Gaby Fritzyara hancur saat memergoki Gavin, tunangannya, berselingkuh dengan Luna adik kandungnya sendiri. Bukannya dibela, sang Ayah justru membuangnya dan menyebut Gaby sebagai anak tidak berguna.
Namun, badai besar datang menjemputnya. Edgar Emiliano Addison, sang Iblis Korporat sekaligus ayah kandung Gavin, mengulurkan tangan. Bukan untuk menghibur, tapi untuk menjadikannya seorang Ratu.
"Jadilah istriku, Gaby. Mari kita buat mereka merangkak di bawah kakimu."
Kini, Gaby kembali sebagai Nyonya Besar Addison. Ia bukan lagi wanita penurut yang bisa diinjak-injak. Ia kembali untuk melakukan audit berdarah pada hidup Gavin dan menghancurkan masa depan Luna.
Bagi Gaby, tidak ada yang lebih nikmat daripada melihat mantan tunangannya bersimpuh, mencium tangannya, dan memanggilnya dengan satu sebutan baru: "MAMA."
bukan buku ****-****...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arenna Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU
Ketenangan malam di Paris sama sekali tidak mencerminkan badai berkecamuk yang sedang melanda Jakarta. Di dalam ruang kerja privat Katara Suite yang kedap suara, Edgar Emiliano Addison berdiri memunggungi meja kerja mahogani, menatap hamparan lampu kota dari balik jendela kaca besar. Jubah satin hitamnya menjuntai anggun, melambangkan kekuasaan mutlak yang tidak pernah tersentuh.
Di atas meja, sebuah ponsel pintar yang terhubung langsung dengan sambungan enkripsi internasional diletakkan dalam mode pengeras suara. Suara dari seberang sana milik Kafi, asisten pribadi kepercayaan Edgar yang paling setia sekaligus orang yang memegang kendali atas rahasia internal Addison Group.
"Semua dokumen eksekusi penyitaan rumah Menteng telah ditandatangani oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Tuan Besar," lapor Kafi dengan nada takzim namun dingin. "Mulai pukul nol-nol malam ini, aset tanah dan bangunan yang ditempati oleh Gavin dan Oma Widya telah resmi ditarik kembali di bawah penguasaan mutlak Anda. Semua rekening pribadi Gavin pun sudah kami bekukan atas dasar manipulasi dana operasional."
Edgar tidak langsung merespons. Ia menyesap perlahan wiski amber di gelas kristalnya, membiarkan keheningan yang mengintimidasi itu bergulir.
Dunia luar selama puluhan tahun mengira bahwa Gavin Geraldi adalah putra kandung dari seorang Edgar Emiliano Addison anak yang memegang posisi mentereng sebagai Direktur Operasional di kantor pusat Addison Group.
Namun, kebenaran yang sesungguhnya jauh lebih kotor. Gavin adalah anak dari seorang wanita ular yang dulu memfitnah Edgar dengan skenario jebakan malam yang murahan. Demi membungkam kegilaan publik dan melindungi stabilitas saham korporasi saat itu, Edgar terpaksa menikahinya di atas kertas hukum tanpa pernah menyentuh wanita itu seujung kuku pun.
Gavin tumbuh besar dengan delusi bahwa dirinya adalah pangeran mahkota. Puncaknya adalah ketika Gavin yang menjabat sebagai Direktur Operasional di kantor Edgar, menjalin hubungan dengan Luna, model utama untuk divisi kosmetik di perusahaan yang sama. Pengkhianatan menjijikkan itu terjadi tepat di depan mata Gaby, yang saat itu bekerja profesional di balik meja sebagai analis bisnis muda di kantor tersebut.
Bukannya merasa bersalah, Gavin dan Luna yang berselingkuh justru mendapat restu dan dukungan penuh dari keluarga kandung Gaby yang silau harta. Mereka dengan teganya membuang Gaby, mencaci makinya, dan menyalahkan Gaby atas rusaknya hubungan tersebut hanya karena Gavin menjanjikan mereka seonggok investasi kosong dari Addison Group.
"Eksekusi malam ini akan mematikan langkah mereka, Kafi," ucap Edgar dingin, sepasang mata elangnya berkilat tajam di kegelapan kamar. "Aku ingin memastikan tikus-tikus yang dulu menginjak istriku merangkak di atas tanah."
"Baik, Tuan Besar. Tim kurator dan petugas sudah bergerak ke Menteng."
Sementara itu, di rumah mewah bergaya klasik di kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat, suasana yang semula tenang mendadak pecah oleh kegemparan yang luar biasa. Rumah besar yang selama ini ditempati Gavin bersama Oma Widya itu sebenarnya adalah aset pribadi milik Edgar sendiri yang dipinjamkan demi menjaga nama baik keluarga di mata publik.
Gavin Geraldi baru saja pulang dari kantor ketika pintu depan rumahnya didobrak paksa dari luar. Suara benturan keras itu membuat Oma Widya wanita tua yang selalu duduk dengan keangkuhan aristokrat palsunya tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan cangkir teh porselennya.
"Apa-apaan ini?! Siapa yang berani lancang mendobrak rumah keluarga Addison?!" teriak Gavin murka, melangkah lebar menuju ruang tamu dengan wajah memerah karena amarah.
Namun, langkah kaki Gavin langsung terhenti begitu melihat belasan pria berseragam dinas pengadilan, dikawal oleh aparat kepolisian bersenjata lengkap, melangkah masuk ke dalam rumahnya tanpa izin. Di depan mereka, berdiri tim hukum Addison Group yang diutus langsung oleh Kafi.
"Saudara Gavin Geraldi dan Nyonya Widya," ucap juru sita pengadilan formal, mengangkat sebuah dokumen tebal berstempel resmi negara. "Kami datang untuk melaksanakan eksekusi pengosongan fisik atas aset tanah dan bangunan ini berdasarkan perintah mutlak dari pemilik sah properti, Tuan Besar Edgar Emiliano Addison."
"Apa?! Pengosongan fisik?! Kau gila?!" Gavin berteriak histeris, wajah tampannya seketika berubah pucat pasi. "Ini rumahku! Ini rumah papaku! Siapa kalian berani mengusirku?!"
Oma Widya ikut berjalan tertatih-tatih dengan tongkatnya, wajah tuanya dipenuhi oleh kemarahan yang meluap-luap. "Lancang sekali kalian! Telepon Edgar sekarang! Katakan pada anak sialan itu untuk memecat kalian semua!"
Perwakilan hukum dari Addison Group itu tidak menanggapi amarah mereka dengan emosi; ia justru melempar dokumen hasil tes DNA forensik internasional ke atas meja kopi marmer.
"Nyonya Widya, tampaknya Anda dan cucu Anda ini harus segera bangun dari mimpi," ucap pengacara itu tenang namun menusuk. "Tuan Besar Edgar Emiliano Addison telah resmi menyerahkan bukti forensik ini ke pengadilan. Gavin Geraldi memiliki zero percent kesamaan DNA dengan Tuan Edgar. Hubungan hukum Anda berdua dengan keluarga Addison telah dihapus mutlak semalam."
Gavin menyambar kertas itu dengan tangan yang gemetar hebat. Matanya melebar, membaca baris demi baris hasil analisis genetika yang menyatakan dirinya sama sekali bukan darah daging sang CEO tertinggi.
"Tidak... Ini tidak mungkin! Ini palsu!" jerit Gavin, meremas kertas itu hingga hancur.
"Dan satu hal lagi, Gavin," lanjut pengacara itu dingin. "Posisimu sebagai Direktur Operasional di kantor pusat resmi dicopot per detik ini. Seluruh fasilitas jabatan, termasuk mobil dan tunjangan, ditarik tanpa pengecualian. Begitu kau berani mengkhianati Nyonya Besar Gaby bersama Luna di kantor itu... kau sendiri yang telah menggali liang kuburmu."
"Gaby?!" Oma Widya berteriak, suaranya melengking tinggi penuh kebencian. "Jalang sialan yang dulu cuma analis bisnis muda tidak berguna itu?! Dia yang menghasut Edgar untuk memiskinkan kami?!"
"Petugas, lakukan pengosongan sekarang," potong sang pengacara tanpa peduli.
Di saat yang sama, Luna yang belum resmi menikah dengan Gavin dan sedang berada di rumah keluarga kandung Gaby, langsung histeris ketika menerima telepon dari Gavin. Di luar rumah keluarga Gaby pun, beberapa mobil derek sudah bersiap menyita mobil-mobil mewah yang sempat dibelikan Gavin menggunakan dana perusahaan.
"Gavin! Apa yang terjadi?! Orang-orang kantor mendatangi rumahku dan membatalkan kontrak modelku secara sepihak!" tangis Luna pecah di seberang telepon.
Keluarga kandung Gaby yang berada di ruang tamu pun mendadak panik ketika mendengarkan kabar bahwa Gavin menantu idaman yang mereka agung-agungkan dan mereka bela mati-matian sambil menyalahkan Gaby ternyata hanyalah seorang anak haram palsu yang kini telah dimiskinkan total oleh Edgar Addison. Bisnis ayah Gaby yang semula dijanjikan suntikan dana oleh Gavin, seketika hancur lebur dalam hitungan jam karena intervensi dingin dari Kafi atas perintah Edgar.
Ponsel di tangan Gavin perlahan merosot jatuh ke atas lantai marmer rumah Menteng yang kini sedang dikosongkan. Petugas kepolisian dengan tegas menuntun Gavin yang syok berat dan Oma Widya yang terus berteriak histeris keluar dari pintu megah rumah tersebut.
Mereka yang dulu begitu sombong, yang menggunakan status jabatan Direktur Operasional dan model utama di kantor Edgar untuk menginjak-injak serta mengkhianati Gaby sang analis bisnis muda, malam ini dilempar ke jalanan Jakarta sebagai gelandangan sejati tanpa harta dan tanpa harga diri sedikit pun.
Kembali ke Paris, waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari. Edgar melangkah pelan masuk ke dalam kamar tidur utama yang temaram, tidak ingin membangunkan Gaby yang ia kira sudah terlelap di balik selimut tebal.
I
Namun begitu ia mendekati ranjang, ia melihat Gaby sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal sutra, memegang tablet pribadinya yang menampilkan laporan video siaran langsung yang dikirimkan oleh Kafi dari Jakarta. Di layar tersebut, Gaby menyaksikan dengan jelas bagaimana Gavin dan Oma Widya diusir paksa bagai sampah dari rumah Menteng.
Edgar menghela napas lembut, lalu duduk di tepi ranjang, merangkul pinggang ramping Gaby dengan posesif dan menarik istrinya ke dalam pelukan hangatnya.
"Kamu belum tidur, Sayang?" tanya Edgar lembut, suaranya berubah 180 derajat menjadi begitu memanjakan, sangat berbeda dengan aura dinginnya yang mematikan.
Gaby meletakkan tabletnya, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Edgar, menghirup aroma maskulin suaminya yang selalu memberikan rasa aman mutlak.
"Aku melihat semuanya, Mas," bisik Gaby tulus, matanya menatap lurus ke sepasang manik mata elang suaminya. "Gavin... dia benar-benar kehilangan semuanya malam ini. Jabatan di kantormu, rumah itu, semuanya."
"Dia mendapatkan apa yang pantas dia dapatkan setelah berani menyakitimu, Gaby," balas Edgar dengan tatapan mata yang sarat akan kebucinan yang pekat untuk istrinya. "Mulai besok, tidak akan ada lagi yang bisa merendahkanmu. Kamu tidak akan kembali ke Menara Addison sebagai analis bisnis muda yang dikhianati. Kamu akan kembali ke sana bersamaku, sebagai Nyonya Besar Addison, pemilik takhta tertinggi yang sesungguhnya."