Hari ini adalah hari ulang tahun Arla yang ke-18, dimana ia sudah dianggap dewasa dan 'matang'. Sehingga sudah saatnya ia dipanen dan dijual oleh rumah lelang ini.
Sebagai seorang gadis yang dijual oleh keluarganya sendiri, ia dirawat oleh rumah lelang ini untuk dijual kepada para laki-laki hidung belang dengan harga yang lebih mahal. Meski begitu, keluarganya sering datang dan mengatakan bahwa mereka menyesal menjualnya dan berjanji untuk membelinya kembali agar dapat pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya lagi.
Akan tetapi saat malam ulang tahunnya datang, tak ada satupun keluarga yang datang untuk menebusnya. Sehingga ia terpaksa dijual kepada laki-laki yang tidak ia kenal.
Bagaimana nasib Arla setelah dibeli oleh laki-laki itu, dan apakah ia akan berakhir menyedihkan seperti para budak nafsu yang telah mati karena kekerasan, seperti yang dialami oleh banyak gadis yang keluar dari tempat ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Q Lembayun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak ingin lepas
Saat Reza sampai di rumah, ia tak henti-hentinya tersenyum. Wajahnya tampak sumringah, seolah ia baru saja menemukan sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan oleh sahabatnya sendiri.
Dulu, ketika rumor bahwa Abimana adalah seorang gay beredar, Reza sempat mempercayainya. Namun bagi Reza, rumor maupun fakta tidak akan pernah menjadi masalah. Tidak ada bedanya baginya. Abimana tetap sahabat yang baik, dan Reza merasa nyaman berada di dekatnya. Akan tetapi, kali ini ia justru mengetahui sebuah fakta bahwa rumor tersebut ternyata tidak benar. Abimana ternyata memiliki seorang istri, dan istrinya terlihat sangat cantik.
“Kenapa kamu tersenyum begitu sumringah? Apakah ada sesuatu yang dikatakan Abimana padamu?” tanya Diana.
Sejak kepergian Reza, hati Diana justru semakin gelisah. Ia takut Abimana akan menceritakan hubungan mereka yang dulu kepada Reza. Hal itu membuatnya merasa sangat menyesal telah menampar Abimana dengan begitu keras. Seandainya ia lebih sabar dan mampu menahan amarahnya, mungkin Abimana tidak akan terpancing emosi hingga akhirnya membongkar hubungan mereka kepada Reza.
Namun saat melihat Reza pulang dengan senyuman menawan, Diana merasa sedikit lega. Sepertinya Abimana belum mengatakan apa pun.
Reza sendiri menatap kekasihnya dengan senyum yang lebih lebar. Ia sebenarnya sangat ingin langsung menceritakan bahwa Abimana kini sudah memiliki istri. Namun ia teringat bahwa dirinya belum meminta izin pada Abimana untuk menyampaikan hal itu.
“Aku pergi minum bersama Abimana di bar yang tidak jauh dari rumah sakit. Di sana kami minum cukup banyak, dan kamu tahu… ternyata Abimana mengetahui soal hubungan kita.”
Diana langsung terdiam kaku. Dadanya terasa semakin gelisah.
“Benarkah?” suaranya lirih.
“Iya. Dan kamu tahu dari mana dia mengetahuinya?” Reza menatapnya tajam, namun tetap tenang.
“Di… di mana?” tanya Diana dengan wajah yang sedikit pucat.
“Dia melihat kita berciuman di atap rumah sakit. Aku tidak tahu ciuman yang mana, tapi yang jelas itu membuatku sangat malu. Kita sudah berpacaran selama 7 tahun, dan kita bertiga hampir tak terpisahkan sejak kuliah. Tapi dia baru mengetahuinya belakangan ini. Aku sedikit merasa bersalah karena menyembunyikan hal ini darinya. Tapi sepertinya Abimana juga punya rahasia yang tidak kalah mengejutkan dan dia menyembunyikannya dari kita berdua.”
Diana semakin gelisah. Dalam benaknya, rahasia yang dimaksud Reza pasti berkaitan dengannya. Namun ia berusaha tetap tenang, lalu bertanya dengan ekspresi antusias yang dipaksakan.
“Benarkah? Rahasia apa itu?”
“Hmm… kamu bisa tanyakan sendiri padanya. Sebenarnya aku ingin memberitahumu, tapi aku takut Abimana akan marah, jadi lebih baik kamu tanyakan langsung. Yang jelas ini berita yang sangat mengejutkan, dan ini juga sekaligus jawaban atas semua rumor yang beredar bahwa Abimana disebut penyuka sesama jenis. Tapi jelas, dia masih sangat menyukai wanita.”
Di sisi lain, Arla tengah bersama Abimana di kamar. Laki-laki itu tampaknya terlalu lelah dan terlalu mabuk, hingga akhirnya tertidur di atas kasurnya. Arla menyelimutinya dengan hati-hati agar ia bisa beristirahat lebih nyaman.
Saat hendak beranjak, Arla berhenti sejenak. Untuk pertama kalinya ia benar-benar memperhatikan kamar itu. Di apartemen ini, mereka memang tidur di kamar terpisah, sehingga ini menjadi pertama kalinya Arla melihat langsung kamar milik suaminya.
Kamar itu ternyata jauh lebih cerah dari yang ia bayangkan. Abimana mungkin terlihat dingin, cuek, bahkan cenderung malas dan tidak berambisi. Namun Arla bisa melihat sisi lain yang lebih hidup—sisi yang ceria, mudah bergaul, dan memiliki selera humor yang baik. Sosok yang terasa seperti laki-laki muda dengan semangat hidup yang besar, meski profesinya sebagai dokter membuatnya tampak serius.
Pandangan Arla kemudian tertuju pada sebuah foto di meja kecil. Di antara tumpukan buku, foto itu diletakkan di sebuah sudut kecil yang terpisah, seolah sengaja diperlakukan istimewa.
Arla mendekat dan menatap foto itu lebih jelas.
Sebuah foto indah kelulusan, memperlihatkan seorang laki-laki dan seorang perempuan yang mengenakan toga, tersenyum bahagia sambil merangkul bahu satu sama lain.
Foto itu penuh kebahagiaan—dan membuat Arla langsung merasa marah.
“Apakah ini yang disebut dengan Diana?”
Wanita itu memang cantik, tetapi jelas tidak secantik dirinya. Pembawaannya lembut, teduh, dan manis. Hal itu justru membuat Arla semakin memahami mengapa Abimana bisa tertipu begitu lama.
“Heh… walaupun aku lebih muda darimu, aku jelas jauh lebih hebat,” gumam Arla pelan dengan nada dingin. “Aku akan membuatmu menghilang dari ingatan Abimana, dan hanya aku yang akan ada di pikirannya di masa depan.”
Kebaikan Abimana membuat Arla semakin terikat, semakin kecanduan, hingga ia tidak ingin melepaskannya sedikit pun. Ia pasti akan mendapatkan Abimana seutuhnya, dan memastikan laki-laki itu tidak akan pernah berpaling lagi. Bahkan jika ada seribu Diana sekalipun, Abimana harus memilih dirinya.
Arla tidak ingin kehilangan satu-satunya sosok yang memperlakukannya dengan baik. Ia sudah kehilangan keluarga, kehilangan tempat bergantung, dan ia tidak ingin kehilangan Abimana.
Ia menatap Abimana yang tertidur dengan tatapan yang semakin dalam—lebih dari sekadar cinta, lebih dari sekadar keinginan, ada sesuatu yang mulai berubah menjadi obsesi.
“Kamu bilang kamu patah hati, maka aku akan menyembuhkannya. Kamu bilang kamu ingin kembali padanya, maka aku akan memastikan itu tidak akan pernah terjadi. Kamu hanya boleh menangis karena aku, bukan karena wanita lain. Aku menyukaimu, dan aku ingin merasakan kasih sayang itu untuk waktu yang sangat lama. Jadi bersiaplah menerima itu. Aku tahu cintaku mungkin akan menyesakkan, tapi bukankah kamu harus bertanggung jawab padaku? Kamu membeli ku dan membawaku pulang—bukan hanya memberiku status sebagai keluarga, tapi juga memberiku kasih sayang yang selama ini aku dambakan. Jadi jangan salahkan aku jika aku tidak bisa melepaskan semua yang sudah kamu berikan padaku.”
Arla mendekat perlahan, lalu mengecup lembut pipi Abimana yang sedang tertidur.
“Aku harap kamu bersiap untuk jatuh cinta padaku.”
Ia menatap wajah itu sejenak, seolah berharap mimpi Abimana malam ini akan dipenuhi dirinya.