NovelToon NovelToon
Benih Sang Mafia

Benih Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Aksi / Drama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸

Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.

Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.

"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Belum sempat dokter tiba, air mata Azalea kembali menetes di pipinya. Ia menatap Daxon dengan pandangan memelas di sela-sela isaknya.

"Aku… aku ingin sekali makan mangga…" ucapnya tersendat‑sendat, tangannya meremas selimut karena rasa ingin itu makin kuat bersamaan dengan rasa mual yang tak hilang.

Daxon tertegun sejenak melihat gadis itu menangis hanya karena keinginan yang tak terpenuhi. Ia segera menekan tombol panggil di sisi ranjang. Tak lama seorang pelayan datang.

"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanyanya sopan.

“Segera belikan mangga yang paling manis dan matang, bawa ke sini secepatnya.” perintah Daxon.

Pelayan mengangguk dan bergegas pergi. Daxon kembali menatap Azalea yang masih menyeka sisa air mata. Ia duduk kembali di sisi tempat tidur.

Tangannya mengusap pelan punggung tangan gadis itu untuk menenangkan. “Kamu diamlah, aku sudah menyuruh pelayan untuk membeli buah mangga,” ucapnya pelan, mencoba meredakan kegelisahan Azalea.

Tak butuh waktu lama, pelayan kembali membawa mangga yang sudah dikupas dan dipotong rapi di atas piring. Daxon mengambilnya, lalu menyodorkan satu potong kecil ke depan bibir Azalea. Begitu rasa manis asam itu menyentuh lidahnya, rasa mual perlahan mereda dan air matanya pun berhenti mengalir.

Daxon diam saja, namun matanya tak lepas mengamati setiap perubahan kecil pada wajah Azalea.

Belum lama Azalea menikmati potongan mangga itu, terdengar ketukan pintu. Dokter masuk membawa peralatan, wajahnya serius namun ramah. Daxon menyingkir sedikit namun tetap berada di dekatnya, tak berniat meninggalkan Azalea sendirian.

Saat diperiksa, dokter mengamati tanda‑tanda yang ada, lalu tersenyum tipis. Ia meminta Daxon berbicara sebentar di sudut ruangan agar tak terdengar oleh Azalea.

"Tuan, gejala yang dialami Nona—mual berulang, keinginan makan yang tiba‑tiba, perubahan suasana hati—semuanya mengarah pada satu hal," ucap dokter pelan namun tegas. "Kemungkinan besar Nyonya Azalea sedang mengandung,"

Daxon terdiam mendengar penjelasan itu. Di matanya tak tampak kebahagiaan berlebih, hanya ada tatapan tajam yang perlahan berubah yakin. Selama ini ia memang menginginkan pewaris, dan kenyataan ini justru menjawab tujuannya. Ia mengangguk singkat pada dokter, lalu kembali menghampiri Azalea.

Gadis itu menatapnya ragu, masih menggenggam potongan mangga. Daxon duduk kembali di tepi ranjang, menatap lekat wajah Azalea.

"Dokter bilang kau mengandung," ucapnya tenang, tanpa nada gembira namun juga tak menolak. "Itu kabar baik. Kau memberiku pewaris yang kucari." ucap Daxon lagi.

Azalea tertegun, matanya melebar tak percaya. Jantungnya berdebar kencang mendengar ucapan itu—ia mengerti makna di balik kata‑kata itu, namun tak tahu apakah harus merasa bahagia.

Melihat wajah Azalea yang tak memancarkan sedikit pun cahaya bahagia, dada Daxon tiba‑tiba terasa sesak. Ia terdiam, menatap diam‑diam gadis itu yang kembali menunduk meremas ujung selimut. Perasaan ini terasa asing—semalam ia tak bisa tenang sebelum memastikan Azalea aman, pagi ini ia cemas melihatnya sangat pucat. Semuanya begitu aneh, tak seperti yang biasa ia rasakan.

Ia mencoba menegaskan kembali pada dirinya sendiri. "Dia hanya wadah. Aku butuh dia hanya untuk mendapatkan pewaris." Namun benaknya kacau. Untuk pertama kalinya ia tak yakin, bisikan kecil bertanya, apakah ia benar‑benar sanggup melepaskan Azalea begitu saja setelah anak itu lahir nanti?

...****************...

Di dalam mobil, Daxon kembali teringat sesuatu. Hanya ia sendiri yang mendengar ucapan Azalea waktu itu, tak ada orang lain, apalagi Aldric. Sudah cukup lama ia menyuruh sahabatnya untuk mencari tentang pria sosok yang disebut kekasih Azalea, namun sampai kini tak ada hasil apa‑apa.

"Kau sudah lama mencari tentang kekasih Azalea, tapi tak ada sedikit pun petunjuk," ucap Daxon pelan, matanya masih menatap jalanan yang berlalu. "Makin lama makin aku yakin… mungkin tidak ada pria lain bersamanya selama ini."

Aldric mengangguk setuju. "Benar. Aku sudah telusuri ke mana‑mana, Azalea memang tidak mempunyai kekasih."

Daxon diam kembali, rasa perasaan sekaligus rasa cemburunya yang makin tak mudah ia jelaskan pada dirinya sendiri.

Aldric menoleh perlahan, menatap wajah Daxon yang tampak diliputi banyak pikiran. Ia memberanikan diri bertanya dengan nada tenang namun tajam.

“Apa kau menyukai Azalea?”

Daxon terdiam sejenak, matanya masih terpaku pada pemandangan di luar jendela. Ia tak langsung menjawab, seolah pertanyaan itu mengusik sisi yang selama ini berusaha ia tutup rapat.

“Dia hanya akan memberiku pewaris,” jawabnya akhirnya, nada suaranya datar namun tak sepenuhnya meyakinkan—bahkan dirinya sendiri pun merasakan ada keraguan yang menyelinap di sana.

Aldric tak berhenti di situ, ia kembali bertanya dengan pandangan menyelidik. “Kalau saja Azalea benar‑benar bersama pria lain… apa kau tak akan merasa cemburu? Atau kau bakal mengikhlaskannya pergi dengan pria lain?”

Daxon terdiam lebih lama kali ini. Jemarinya mengepal kuat di atas pahanya, rahangnya mengeras seolah menahan sesuatu yang tak ingin ia biarkan keluar.

“Dia milikku, dan anak yang dikandungnya adalah pewarisku, tidak ada yang boleh mendekatinya,” jawabnya pelan namun sarat penekanan, meski hatinya berdebar tak menentu.

Jawabannya tak menyebut rasa cemburu secara langsung, namun nada bicaranya sudah cukup jelas menunjukkan betapa ia takkan membiarkan hal itu terjadi.

Aldric tak mundur, malah membalas dengan pertanyaan yang langsung menusuk ke benak Daxon sendiri. “Milikmu? Bukankah kau bilang dia hanya sekadar wadah untuk melahirkan pewarismu?”

Daxon terdiam seribu bahasa. Kalimat itu benar‑benar menghujam dadanya, membuatnya tak bisa menjawab seketika. Ia mencoba kembali meyakinkan dirinya seperti dulu, namun kata‑kata itu terasa berat untuk keluar lagi.

“Dia… memang hanya itu,” jawabnya akhirnya, meski suaranya tak sekuat biasanya. “Tapi selama dia mengandung darah dagingku, tidak ada orang lain yang berhak menyentuhnya.”

Meski begitu, hatinya kembali dipenuhi kegelisahan—ia sadar perasaannya mulai bergeser jauh dari apa yang semula ia rencanakan.

...****************...

Mobil pun berhenti tepat di depan gedung miliknya. Daxon turun lebih dulu, langkahnya tegap namun benaknya masih berkecamuk. Pertanyaan Aldric terus berputar, meruntuhkan benteng yang ia bangun selama ini. Di satu sisi ia ingin tetap berpegang pada tujuannya semula, namun di sisi lain ada rasa tak rela yang makin kuat tumbuh di dada.

Aldric mengikutinya masuk ke dalam, tak lagi melontarkan pertanyaan namun menyadari betul bahwa Daxon mulai terjebak dalam perasaannya sendiri—sesuatu yang tak pernah ia rencanakan sebelumnya.

Sesampainya di ruang kerjanya yang luas dan dingin, Daxon duduk di balik meja besar namun tak segera menyentuh berkas‑berkas di hadapannya. Ia menatap keluar jendela kaca yang memandang ke seluruh penjuru kota, pikirannya masih tertinggal pada Azalea.

Aldric berdiri di dekat pintu, memberi ruang namun tetap siap. “Klien akan tiba sebentar lagi,” ucapnya pelan memecah keheningan.

Daxon mengangguk pelan, mencoba mengembalikan fokusnya. Namun setiap kali ia hendak membuka berkas, bayangan wajah Azalea yang tampak tak bahagia kembali muncul. Ia sadar, perasaannya mulai tumbuh melampaui sekadar keinginan memiliki pewaris—meski ia belum sanggup mengakuinya secara terang‑terangan.​

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Mia Camelia
semoga azalea dan anak nya selamat yaa😔
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
Mia Camelia
iiihhh...dasar ulat bulu jahat valeria, awas klo sampe azalea kenapa2, daxon siap beraksi🤣
Mia Camelia
ya ampun daxon posesif juga yaa😄
Mia Camelia
ciee..daxon terpesonaa juga🥰🥰🥰
Mia Camelia
hahaaha semua takut syaiton🤣🤣🤣
aldric paling penakut iiih🤣
Mia Camelia
azalea ngidam nya manja2 gitu,
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
Miu.Nuha
ahahaha betul
Miu.Nuha
nah loh, azalea sejujur itu apa nggak mengkeret itu ibu dn anak 😅
Miu.Nuha
ibu dn anak cantik dn modis juga ya 😅
Mia Camelia
daxon sweet banget sih🥰🥰🥰
lanjut thor😄
ɴs_sᴀᴘᴜᴛʀɪ✍︎: oke kak
total 1 replies
Risa Virgo Always Beau
Daxon mematung karena ulah berani kamu Azalea
Risa Virgo Always Beau
Daxon cemas banget memikirkan Azalea yang ada di rumah
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Azalea bohong ya bilang dia punya kekasih
Risa Virgo Always Beau
Sepertinya Azalea hamil ya sampai mual gitu
Risa Virgo Always Beau
Azalea kamu setelah melakukan hubungan badan dengan Daxon langsung mau beli cimol ngga istirahat dulu
Risa Virgo Always Beau
Daxon sepertinya cemburu setelah Azalea menyebut kata kekasih
Risa Virgo Always Beau
Daxon menyuruh Azalea supaya akting jadi suami istri sungguhan di depan mamanya Daxon
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon sudah menyuruh Azalea untuk bersandiwara menjadi suami istri sungguhan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon menjadikan Azalea tameng buat hindari perjodohan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata setelah Azalea hamil dan melahirkan Daxon akan membuang Azalea kejam banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!