Cinta Kirana, hidup dengan masa lalu yang tragis ditinggalkan orangtua. Menyisakan trauma sampai dengan ia dewasa. Siapa sangka, seorang datang mengganti luka dengan suka cita. Perbedaan usia, status sosial dan keterkaitan di masa lalu membuatnya Cinta terpuruk dan kembali terluka. Akankah Cinta bisa menerima kenyataan yang menghampiri?
===
“Namaku Cinta, banyak yang cinta udah pasti. Yakin masih mau sama aku?”
“I love you, Cinta. Sekarang, nanti dan selamanya.”
“Masa?”
“Mahameru pantang ingkar janji.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Nanti Baper
Bab 10
“Cinta, dia gadis yang ada di foto bersama Eru.”
“Apa?” Akbar terbelalak. “Kamu yakin?”
“Cinta Kirana satu-satunya perempuan di tim 7, mereka dalam perjalanan ke Cirebon,” jelas Langit. Akbar mengusap wajahnya lalu menghela nafas.
"Apa yang pernah terjadi, jangan sampai mereka tahu. Cinta ataupun Eru, tidak boleh tahu masa lalu masing-masing. Biarkan semua tetap di tempatnya. Luka masa lalu tidak perlu diungkit lagi,” tutur Akbar.
“Eru sepertinya menyukai Cinta. Kemungkinan mereka saling tahu masalah ini cukup besar.”
“Tidak akan. Cinta menderita trauma karena kecelakaan itu. Jangankan bercerita mengingat saja bisa membuat dia gil4," jelas Akbar.
Langit menatap ayahnya dengan rahang mengeras. “CInta menderita karena keluarga kita. Orangtuanya meninggal dan dia menderita karena trauma. Apa kita harus senang karena nama keluarga ini tidak tersentuh."
"Eru juga kehilangan papinya," ujar Akbar dengan nada tinggi. Pria itu menghela napas berat, memijat pangkal hidungnya.
“Sejauh mana Ayah terlibat dengan kehidupan gadis itu? Sejauh mana Paman Artha bersalah?”
Akbar kembali menarik nafas.
“Ada orang yang mengurus semuanya. Biaya hidup, pendidikan dan kesehatan CInta tanpa ia tahu. Semua kita hentikan saat ia bekerja di Yess TV. Sudah lama ayah tidak mengawasinya. Semua sudah aman dan berada di tempatnya."
“Nyatanya Tuhan malah menggerakkan hati Eru. Malam itu, apa yang terjadi? Kenapa Paman Artha sampai celaka?”
“Tidak sekarang.” Akbar beranjak dari sofa dan kembali ke meja kerjanya. “Cukup jauhkan Cinta dan Eru. Kamu lebih tahu bagaimana caranya.”
Langit mengusap kasar wajahnya, mengingat pembicaraan dengan Ayahnya sore tadi. Awal masalah kecil berujung terungkapnya kejadian besar yang ia pun tidak tahu kronologisnya. Yang dia tahu Paman Artha meninggal kecelakaan, tanpa tahu ada keluarga yang tersakiti dan ikut menderita.
“Sudah sampai, pak.”
Langit tersadar kalau mobil sudah berada di carport kediamannya. Perintah sang Ayah cukup menyita pikirannya. Bagaimana Ia menjauhkan Eru dan Cinta, jelas-jelas Eru tampak menyukai Cinta. Teka teki apa yang ditinggalkan Artha atau ada yang disembunyikan oleh ayahnya.
Meilan menyambut kedatangannya di beranda.
“Kenapa sih, ada masalah?”
Hanya menjawab dengan senyum dan mengusap pelan kepala sang istri. Berjalan ke dalam sambil merangkul bahu wanita itu. menanyakan apa yang anak-anak mereka lakukan hari ini.
Masalah Eru dan Cinta tidak ia bahas bersama Meilan. Akbar saja menyembunyikan hal ini bertahun-tahun mana mungkin ia koar-koar begitu saja.
“Itu serius Eru sama cewek di foto?”
“Entahlah, tidak usah ikut campur.”
“Mas mandi ya, aku sudah siapkan air hangat. Beres mandi kita makan.”
***
Pintu kamar diketuk dengan gusar, Cinta beranjak dari ranjang dengan malas. Pasti ulah Asep, pikirnya. Padahal ia masih terlelap.
“Astaga, apaan,” keluh cinta sambil mengucek matanya mendapati Asep berdiri di depan pintu sambi tertawa.
Di depan kamar itu ada sofa untuk bersantai, Eru duduk di sana.
“Bangun woi, peraw4n jam segini masih molor.”
“Kang, ini jam 5 ngapain sih bangunin aku. Rese banget.” CInta akan menutup lagi pintu kamar, Eru menghampiri sambil teriak.
"Tunggu, mbak. Ikut ke toilet, di kamar itu ada Bang Umar. Aku kebelet,” seru Eru dan CInta menyingkir dari pintu memberi jalan.
“Sekalian mandi lo, bentar lagi gue yang mandi. Eh iya Ta, hasil shoot kemarin cek dulu biar hari ini jelas shoot apa yang kurang. Semalem orang pada lembur, lo malah mol0r.”
“Bod0 amat. Mana laptopnya, ambilin,” rengek Cinta.
“Nyuruh gue?”
“Nggak, nyuruh Bang Umar. Cepetan!”
Brak.
Pintu kamar ditutup lagi oleh Cinta. Ia berbalik dan ….
Bugh.
“Hih.”
“Ya ampun, mbak. Pelan-pelan dong.”
Ia bertubrukan dengan Eru.
“Mintaain laptop sama Kang Asep ya,” titah Cinta lalu kembali ke ranjang.
Eru menggeleng melihat CInta langsung meringkuk. Ingin ke toilet hanya alasan saja agar gadis itu tidak keluar kamar. Mengenakan piyama lengan pendek dengan celana selutut, rasanya tidak ingin membiarkan Cinta menunjukkannya pada yang lain.
Pintu kamar kembali diketuk, nyatanya Asep yang kembali.
“Nih, udah dicopy sama Abil. Satu folder sama file dari kamera bang Umar. Minta Cinta periksa,” titah Asep menyerahkan tas laptop.
Eru mengangguk menerima tas dari Asep.
“Mbak,” panggil Eru. Meletakan tas di atas meja dan mengeluarkan isinya. “Ini filenya di cek dulu.”
“Heran deh, Asep tuh senengnya ganggu aja. Padahal cek aja sama dia sekalian,” keluh CInta sambil memeluk bantal.
“Terus ini gimana?”
Sambil berdecak Cinta beranjak duduk, Eru menyerahkan laptop. Ikut duduk di samping Cinta dan mengamati hasil rekaman gadis itu. Begitu dekat, karena bahunya menyentuh entah bahu Eru atau dad4 pria itu.
“Kurang apanya mbak?”
“Kurang waktu tidur.”
“Ck, bukan kurang cacih cayang lagi nih.”
“Itu jga masih kurang, karena aku jomblo akut.”
“Mau aku kasih nggak, lagi luber nih,” sahut Eru. Tatapan keduanya masih tertutup layar laptop. Mendadak hening seketika, Cinta rupanya agak nge lag efek baru bangun tidur. Barulah dia menoleh dan menggeser duduknya menjauh dari Eru.
“Ru, ih, merinding tau.”
“Emang saya set4n mbak, bikin merinding.”
“Iya, kamunya gitu,” keluh Cinta dan pandangan mereka terkunci.
“Gitu gimana. Katanya kurang kasih sayang, aku mau ngasih nih. Malah merinding, gimana sih. Mau nggak?”
“Jangan gitu, nanti aku baper.”
“Bagus dong, jadi enak limpahkan kasih sayangnya. Pake perasaan,” sahut Eru dengan wajah tengil, tersenyum dan terkekeh geli.
Cinta mengambil bantal dan memukulkan pada Eru. “Nyebelin tau nggak. Kalau baper nanti gue suka beneran.”
Eru terkekeh lalu menarik bantal dari tangan Cinta yang sedang menghantamkan lagi, membuat gadis itu ikut tertarik. Tubuhnya menabrak Eru yang langsung rebah dan CInta berada di atasnya.
“Eh,” pekik Cinta, tangan Eru langsung mengalung di pinggang gadis itu. “Ru, lepas, Ru. Orang lihat nanti salah paham.”
“Posisinya udah pas ini.”
“Eru!” geram Cinta, tidak mungkin ia berteriak. Pasti terdengar ke kamar sebelah dan Asep akan ribut macam kebakaran jenggot. Tidak lucu kalau mendadak di grebek oleh tim 7.
"Sstt. Mbak makin cantik dilihat dari sini."
"Ish."
"Mbak deg-degan nggak?Cinta menjambak rambut Eru membuatnya kesakitan dan melepas dekapannya.
"Aduh, ampun mbak. Sakit banget ini."
Cinta pun beranjak duduk. "Jangan gitu lagi, nggak baik untuk jantung aku."
Eru gegas bangkit dari posisinya. "Deg-degan ya mbak?" Cinta mengangguk dan Eru malah terbahak.
"Nyebelin banget sih, keluar!" Memukulkan lagi bantal ke tubuh Eru.
"Keluarin sekarang? Yuk, ah!"
"Me-sum!"
egoisnya akbar hanya mementingkan ke baikan keluarganya sendiri. tanpa memikirkan orang lain.😤
siap2 reaksi cinta nrma ga ya kenyataan
kamu dah di kasih tau sama mamih kan dan di wanti² tentang gosip tidak enak nah ini maksudnya
harusnya kamu dukung dan restuin agar cinta dapet keluarga baru dari pihak keluarga laki². lah ini aneh² aja 😏
takut nama keluarga tercoreng,takut ini takut itu..
Takut saham hancur dan turun lebih pastinya..
tapi nggak mikir gimana cinta tidak mendapat keadilan untuk orang tuanya...
Perselisihan dan perpisahan pasti ada,tapi aku yakin cinta Eru itu tulus dan kuat.
lama lama Cinta juga akan luluh dan memaafkan Eru..
lagian bukan eru yang menabrak,mereka sama sama korban juga