Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.
Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jika Mereka Menyerangmu, Mereka Berhadapan Denganku
Malam itu, Ardian berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Jakarta masih gemerlap di bawah sana. Namun pikirannya tidak tertuju pada laporan keuangan, proyek investasi, ataupun ekspansi perusahaan yang sedang berjalan. Pikirannya hanya tertuju pada satu orang.
Joyce.
Terutama setelah pertemuannya dengan Joyce sore tadi. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana perempuan itu berusaha terlihat kuat. Dia terlihat berusaha untuk tegar, berusaha mengabaikan semua. Tetapi Ardian juga melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.
Joyce mulai lelah. Dan itu membuatnya marah. Bukan kepada Joyce. Melainkan kepada siapa pun yang berusaha menghancurkan perempuan itu.
“Semua permasalahan yang dialaminya, semua bersumber dariku. Blind date itu menjadi awalnya.” Dia menggumam sendiri.
Dia berpikir sejenak, dan tidak lama ponselnya langsung terangkat. Satu panggilan. Tersambung dalam hitungan detik.
"Selamat malam, Tuan."
Suara Raka terdengar dari seberang.
"Di mana kamu?"
"Masih di kantor."
"Bagus."
Nada suara Ardian berubah dingin. Sangat dingin. Dan Raka langsung tahu, mendengar kemarahan pada boss nya. Seseorang sedang dalam masalah.
"Beri saya perintah."
Ardian menatap langit malam.
"Aku ingin tahu siapa yang menyebarkan laporan anonim itu."
Raka langsung duduk tegak.
"Apakah kita punya petunjuk tuan?"
"Ada."
"Siapa?"
Ardian terdiam beberapa detik. Kemudian tanpa ragu
"Jessica Gunawan."
Di seberang sana, Raka tidak terlihat terkejut. Jujur saja, nama itu memang sudah ada dalam daftar dugaannya. Dia tidak menduga, jika boss nya lebih jelas dan menunjuk perempuan itu penyebabnya. Padahal oleh nenek Ratih, mereka diharapkan terikat sebuah pernikahan, meskipun aliansi
"Baik. Saya akan segera menyelidikinya."
"Bukan cuma dugaan."
Suara Ardian semakin tajam. Dia merasa yakin, jika semua terjadi karena politik licik yang dimainkan perempuan itu.
"Aku ingin bukti."
"Lengkap."
"Dan tidak bisa dibantah."
"Siap tuan. Secepatnya"
***************************
Dua hari berikutnya.
Tim investigasi internal Aethera bergerak diam-diam. Mereka tidak bekerja seperti detektif film. Tidak ada penyadapan ilegal. Tidak ada pelanggaran hukum. Tetapi mereka sangat ahli menelusuri jejak digital, hubungan bisnis, dan aliran komunikasi. Aethera memiliki tim IT yang sangat brilian, beberapa di antaranya sengaja merekrut dari para hacker. Perusahaan itu memberi mereka kesempatan untuk bergabung, bekerja halal, dengan imbalan yang sangat tinggi.
Dan hasilnya mulai muncul. Satu demi satu. Sampai akhirnya Raka berdiri di ruang kerja Ardian sambil membawa sebuah map hitam.
"Bingo. Tugasku berhasil Tuan."
Ardian mengangkat pandangan dari laptopnya.
"Dapat bukti?"
Raka meletakkan map itu di atas meja. Dan Ardian langsung mengambil dan membukanya
"Lebih dari yang kita kira. Betul-betul sangat rapi, dan terkoordinir."
Ardian membuka halaman pertama. Lalu halaman kedua. Kemudian halaman ketiga. Rahangnya langsung mengeras. Sangat keras. Ketegangan memenuhi ruangan, dan Raka merasakannya. Dia merasa dalam mode bahaya.
Karena semuanya mengarah pada orang yang sama. Jessica Gunawan. Melalui seorang konsultan media. Melalui pihak ketiga. Melalui beberapa akun anonim. Semuanya dirancang agar tidak bisa ditelusuri langsung kepadanya. Namun jejak tetaplah jejak. Dan kini seluruhnya berada di tangan Ardian.
"Ada lagi."
Raka menyerahkan dokumen tambahan.
"Apa ini?"
"Grand Imperial Hotel."
Ardian membacanya cepat. Lalu matanya menyipit. Ternyata laporan anonim itu bukan hanya dikirim ke satu pihak. Tetapi ke tiga klien besar yang sedang bekerja sama dengan Joyce. Tujuannya jelas. Menghancurkan reputasinya. Reputasi Joyce perlahan dihancurkan, tanpa rasa kasihan. Perlahan. Sistematis. Dan sangat terencana.
Untuk beberapa saat ruangan menjadi sunyi. Sampai akhirnya Ardian menutup map itu. Pelan. Terlalu pelan. Pandangan mata laki-laki itu terlihat merah. Yang justru membuat Raka tahu bahwa bosnya sedang sangat marah.
"Apa yang ingin Anda lakukan?" tanpa menunggu di perintah, Raka bertanya duluan.
Ardian berdiri dari kursinya.
"Lindungi Joyce."
Raka mengangguk.
"Itu sudah kami mulai, sebelum tuan memberi perintah."
"Aku ingin lebih dari itu."
"Jangan sampai ada yang memanfaatkan kesempatan ini." lanjutnya
Ardian berjalan mendekati jendela.
"Hubungi Grand Imperial."
"Jelaskan bahwa informasi itu tidak benar. Jika mereka tidak mau bekerja sama, ancam balik dengan skandal mereka."
"Siap tuan.. apa lagi."
"Hubungi dua klien lainnya juga."
"Baik."
Raka mencatat semuanya. Namun Ardian belum selesai. Laki-laki itu masih berpikir dengan geram.
"Dan satu lagi."
"Ya?"
Ardian menoleh. Tatapannya dingin. Dingin seperti badai sebelum menghantam.
"Atur pertemuan dengan Jessica Gunawan."
Raka sedikit terdiam. Dia paham jika yang menginginkan Jessica dekat dengan bossnya adalah nyonya besar, nyonya Ratih. Sejenak dia ragu.. Namun tanpa pikir panjang, akhirnya..
"Waktu?"
"Secepatnya."
"Pribadi?"
"Ya."
Kini Raka benar-benar memahami situasinya. Boss nya sudah dekat secara emosional dengan MC premium itu. Dan dia paham, karakter Ardian. Dia selalu tegas, dan tidak ada tawar menawar jika sudah bertindak arogan. Ardian tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja.
Karena masalahnya sudah berubah. Ini bukan lagi tentang bisnis. Bukan lagi tentang reputasi perusahaan. Melainkan tentang seseorang yang penting baginya. Seseorang yang bahkan mungkin belum menyadari betapa penting dirinya. Dia terpanggil untuk membereskan urusan itu.
*******************
Malam itu.
Di apartemennya, Joyce sedang duduk sendiri sambil memandangi laptop yang terbuka. Ia berusaha melupakan masalahnya, dan berpikir positif jika semua akan baik-baik saja. Saat ini dIa sedang berpikir dan berusaha menyusun proposal baru untuk menyelamatkan salah satu proyeknya. Meski semangatnya hampir habis. Meski dunia terasa tidak adil. Ia tetap mencoba bertahan. Tanpa mengetahui bahwa di bagian lain kota Jakarta..., ada seseorang yang sedang membereskan kekacauan yang dibuat orang lain.
“Bukan kali ini saja aku jatuh.. Dan aku selalu bisa bangkit kembali.”
“Tuhan tidak akan menyengsarakan hamba -Nya yang benar dalam bertindak. Ini hanya ujian, dan pasti akan terbit matahari indah pada akhirnya.
Dia berusaha meyakinkan diri, bahwa dia akan mampu untuk melewati semuanya. Meski sendirian, dan dia tidak tahu jika ada seseorang yang berusaha untuk dirinya. Agar dia bisa melewatinya, dan membersihkan namanya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ardian Mahendra membuat satu keputusan yang tidak didasarkan pada logika bisnis. Melainkan pada perasaannya. Dari dalam lubuk hatinya, dia harus menyelamatkan gadis itu. Bukan karena, polemik itu bersumber dari dirinya.
Namun karena jauh di dalam hati, ia mulai sadar akan satu hal yang tidak bisa lagi ia sangkal. Ia tidak hanya peduli pada Joyce. Namun ia jatuh cinta padanya. Jatuh cinta pada gadis yang habis dikhianati cinta. Dia merasa ingin merengkuh, dan mengembalikan sisi Joyce yang ceria, dan optimis menatap masa depan.