Miranda Amalia, seorang gadis miskin berumur 16 tahun, dilamar oleh keluarga Pratama yang kaya raya untuk dinikahkan dengan anak tunggal mereka, Kevin Pratama, yang baru berusia 17 tahun. Ternyata Miranda dijadikan menantu agar bisa merawat Kevin yang lumpuh akibat sebuah kecelakaan.
Hingga suatu hari, seorang dokter berhasil menyembuhkan Kevin dari kelumpuhan. Dan untuk membalas budi pada dokter itu, Keluarga Pratama menjodohkan Kevin dengan anak sang dokter yang bernama Celine Richardo. Karena itu, mereka menceraikan Miranda dari Kevin dan mengusirnya.
Sepuluh tahun berlalu, tiba-tiba Kevin menemukan Miranda bekerja menjadi karyawati di sebuah perusahaan yang baru dibelinya. Merasa bersalah pada gadis itu, ia pun mendekatinya. Namun, yang dirasakan ternyata lebih dari sekedar rasa bersalah, tetapi juga rasa cinta, yang dulu tak pernah terpikirkan olehnya saat masih menjadi suaminya.
Maukah Miranda menerima Kevin yang terus mengejarnya, sedangkan Kevin telah beristri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Three Flowers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEBUAH KENYATAAN
Kevin langsung menuju ke kamar pribadinya begitu sampai di rumahnya pada malam itu. Perasaannya bercampur aduk, sebenarnya ia ingin langsung menegur Celine yang telah memeras Miranda. Namun ia teringat janjinya pada Miranda untuk tidak mengatakan apapun pada Celine.
Celine yang berada di kamar utama menyadari kepulangan Kevin, namun setelah lama ia menunggu, ternyata suaminya itu tidak langsung ke kamarnya, melainkan masuk ke kamar lain di rumah itu. Kamar yang biasa ia gunakan saat ingin menyendiri atau sibuk mengerjakan sesuatu.
Dengan segelas air minum di tangannya, Celine mencoba mendekati Kevin. Ia membuka pintu kamar Kevin, namun ternyata pintu itu terkunci dari dalam. Celine lalu mengetuknya pelan.
Dengan langkah malas Kevin terpaksa membukakan pintu, lalu dilihatnya Celine tersenyum ceria padanya seraya menyodorkan gelas minuman kepadanya.
“Sayang, kamu kelihatan lelah hari ini. Nih, aku bawakan minuman buat kamu,” ujar Celine.
Kevin menggeleng dan menjawab, “aku tidak haus.”
Lalu ia membalikkan badannya dan berjalan menuju ke meja kerja yang ada di dalam kamar itu.
Celine mengikutinya dan berkata, “Percayalah, aku tidak menaruh obat lagi di dalamnya. Ini hanya minuman biasa yang akan menyegarkanmu.”
Celine lalu meletakkan gelas itu di atas meja dan berdiri di belakang Kevin, merangkul pundaknya dan ikut melihat ke layar laptop milik Kevin.
“Kamu lagi banyak kerjaan, ya? Apa ini?” Celine membaca file yang sedang terbuka di layar laptop Kevin.
Tampak seperti sebuah rincian anggaran biasa, namun Celine terbelalak saat membacanya dengan seksama. Itu adalah sebuah rincian anggaran biaya pengobatan rumah sakit atas nama Silvia, lengkap dengan biaya dokter, biaya obat, tindakan medis dan biaya kamar.
Kevin memang sengaja merinci biaya itu untuk memancing reaksi Celine. Dan ia berniat akan memberikan sejumlah uang yang sesuai dengan biaya pengobatan Silvia kepada Celine agar ia menghentikan pemerasan secara diam-diam terhadap Miranda.
“I-ini...” wajah Celine memucat, bicaranya gagap.
Kevin hanya diam menanti reaksi istrinya, tapi dalam hatinya berkata dengan geram, ‘kenapa? Ayo, bertanyalah apa ini! Aku akan lanjut kirim semua uangnya padamu!’
Celine mengatur nafasnya dan menelan ludah, menenangkan dirinya. Ia tidak berani menanyakan anggaran rumah sakit milik siapa itu. Ia justru masih belum siap jika Kevin berterus terang kepadanya.
Di balik topeng kepercayaan dirinya yang kuat, sesungguhnya Celine sangat rapuh dan tidak percaya diri bila harus membicarakan masalah Miranda dengan Kevin. Ia merasakan ada ikatan yang kuat antara Kevin dengan Miranda di belakangnya.
Karena belum siap mendebat Kevin, maka Celine berniat segera keluar dari kamar itu meninggalkannya.
“Kulihat kamu sangat sibuk, sebaiknya aku kembali,” pamit Celine cepat sambil melangkah pergi begitu saja.
Baru beberapa waktu lalu Kevin merasa kasihan pada Celine karena sangat mencintainya, namun setelah mengetahui sendiri kelakuan istrinya itu pada Miranda, Kevin menjadi marah dan kesal. Celine ternyata sangat licik dan berani menindas Miranda yang justru ingin dibahagiakan oleh Kevin.
“Tunggu, Celine!” seru Kevin.
Celine yang sudah hampir sampai di pintu langsung berhenti dan membalikkan badannya lagi, menghadap pada Kevin yang memanggilnya secara tiba-tiba. Dadanya berdebar tak beraturan.
“Ada apa, Sayang?” tanyanya, pura-pura biasa.
“Apakah ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku?” tanya Kevin.
“Maksudmu?” Celine mulai cemas lagi.
“Kamu datang ke kamarku untuk apa? Apa ada yang mau kamu sampaikan?” tanya Kevin lebih jelas.
“Tidak, aku hanya heran melihat kamu pulang, tapi tidak langsung ke kamar kita. Ternyata kamu sangat sibuk dan aku tidak ingin mengganggumu,” jawab Celine cepat.
“Baguslah kalau begitu. Aku harap kamu memang tidak ‘mengganggu’ku!” sahut Kevin dengan suara penuh penekanan, yang membuat Celine merinding.
Wanita itu berusaha menyembunyikan amarahnya, tapi rasanya sangat sulit. Ia meninggalkan kamar Kevin sambil membanting pintu kamar Kevin dengan kasar hingga tertutup.
BLAM!
Bunyi pintu yang ditutup paksa itu memang cukup mengagetkan Kevin, namun ia justru tersenyum menyeringai.
“Tunggu saja pembalasanku, Celine!” gumamnya geram.
Kemudian ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Tugasmu adalah mengikuti kemanapun Celine pergi. Dan kabari aku jika tujuannya bukan pulang ke rumah atau berangkat ke rumah sakit!” Kevin memerintah orang yang sedang diteleponnya. Suara di seberang menyatakan siap menerima dan menjalankan perintahnya.
Setelah itu, Kevin menutup panggilan teleponnya dan menelepon orang lain.
“Tugasmu adalah mengawasi seorang gadis yang bernama Miranda. Jika ada seseorang yang bersamanya selain tetangganya yang bernama Bu Tina dan keponakannya, Silvia, segera kabari aku untuk perintah selanjutnya!” perintah Kevin pada orang kedua.
“Miranda, mulai sekarang aku akan melindungimu karena Celine sudah tahu tentangmu,” ucap Kevin pelan.
Kevin sadar, posisi Miranda saat ini terancam. Bisa saja Celine akan melakukan tindakan yang lebih jauh lagi pada Miranda, misalnya mengajak Mamanya untuk melabrak gadis itu.
Sedangkan Kevin tidak bisa mengawasi Miranda setiap saat, jadi ia membutuhkan bantuan orang lain untuk mengawasi Celine dan Miranda. Mereka adalah teman-teman Kevin di masa lalu yang direkrutnya menjadi pengawal pribadi.
Masa remaja Kevin bukanlah tipe anak yang patuh, karena ia adalah anak tunggal yang sering ditinggalkan orang tuanya bekerja. Jadi, untuk mengusir kesepiannya, ia mencari kebahagiaan sendiri dengan menjadi anggota club anak muda di bidang otomotif. Itulah yang menyeretnya ke arena balap motor dan akhirnya membuatnya lumpuh akibat kecelakaan balap motor.
Ia bertemu kembali dengan beberapa orang temannya saat beberapa tahun setelah kejadian itu. Ada beberapa orang teman yang sudah berhasil dalam hidupnya, ada juga yang mengalami kegagalan karena bangkrut, misalnya Daniel. Selain itu ada pula yang tidak mempunyai pekerjaan sehingga Kevin memberinya pekerjaan sebagai pengawalnya.
Kali ini, Kevin merasa harus memberdayakan teman-temannya itu untuk membantunya mengawasi kedua istrinya yang dikhawatirkannya akan berseteru. Tugas mereka adalah memberikan informasi pada Kevin kalau ada sesuatu yang terjadi sehingga Kevin bisa cepat mengambil tindakan.
****
Sementara itu, di dalam kamarnya, Celine merenungkan perubahan sikap Kevin yang tidak seperti biasanya. Apakah Kevin juga telah mengetahui sesuatu? Apakah Miranda telah mengadu kepadanya?
Celine lalu mengetik pada ponselnya dan mengirim pesan pada Miranda.
‘Kamu mengadu pada Kevin, ya?’ tulisnya.
Miranda sudah tertidur pulas karena hari yang sangat melelahkan itu. Ia baru membaca pesan dari Celine itu pada keesokan harinya.
Miranda terbelalak membaca pesan Celine. Dengan geram, ia sengaja tidak langsung membalas pesan Celine, tetapi ingin mengkonfirmasinya lebih dahulu dengan mengetik sebuah pesan untuk Kevin.
‘Kevin, apakah kamu mengingkari janjimu semalam?’ ketik Miranda.
Pagi ini diawali dengan mood yang sangat buruk bagi Miranda. Kevin belum membaca pesannya. Dan tentu saja Miranda juga tidak berani membalas pesan dari Celine tadi malam.
Sesampainya di pabrik, Miranda merasa sangat pusing dan mual. Bahkan, di tengah pekerjaannya, ia terpaksa harus ke toilet beberapa kali untuk memuntahkan seluruh isi perutnya.
‘Rasanya stress sekali, aku sampai mual dan pusing begini,’ keluh Miranda dalam hati.
Dengan langkah gontai, ia kembali dan melanjutkan pekerjaannya. Gita yang ada di sebelahnya mengamati keadaan Miranda yang tampak tidak sehat.
“Kamu sakit, Mir? Wajahmu pucat dan berkali-kali kamu ke toilet?” tanya Gita.
Miranda mengangguk pelan, “Iya, aku pusing dan mual, Git. Sepertinya aku terlalu lelah dan banyak pikiran.”
“Kamu sedang ada masalah, yas? Padahal kemarin kamu tampak baik-baik saja dan seharusnya kamu bahagia karena baru jadian sama Sandy,” tanya Gita.
“Sst, jangan keras-keras, Git! Nanti kedengaran yang lain,” bisik Miranda.
Gita tertawa kecil, “Jangan khawatir begitu, seisi pabrik juga sudah tahu kalau kamu kekasihnya Sandy. Dia tidak menampik gosip itu, loh....”
Miranda tersenyum tipis, lalu melanjutkan pekerjaannya. Gita pun kembali fokus pada pekerjaannya setelah dilihatnya Miranda sudah membaik dan kembali bekerja.
Sambil bekerja, Miranda memikirkan Sandy. Pria yang begitu lembut padanya. Pria yang begitu bahagia mendapatkannya sebagai kekasih. Miranda tidak ingin mengecewakan Sandy, karena sekarang pria itu adalah pilihan terbaik baginya.
Sebelum jam istirahat tiba, Sandy menghampiri Miranda. Dengan wajah cemas, ia membisikkan sesuatu pada wanita itu.
“Miranda, tadi selesai meeting Pak Kevin memanggilku. Dia ingin aku memberitahu mu bahwa ia memanggil mu,” bisiknya.
“Apa?” Miranda tak percaya dengan apa yang didengarnya. “Buat apa dia memanggilku?”
“Entahlah. Kurasa kamu harus hati-hati saat menghadap nanti,” pesan Sandy.
Miranda pun beranjak dari tempatnya, lalu melangkah menuju ke ruang Direktur. Ia mengetuk pintunya dengan perasaan was-was.
“Masuklah,” terdengar suara Kevin dari dalam ruangan. Miranda membuka pintunya, ternyata hanya ada Kevin seorang diri di ruangan itu. Entah Daniel kemana.
Kevin menatap Miranda dengan tatapan rindu, sedangkan Miranda justru menatapnya dengan tatapan curiga. Sepertinya ia masih trauma dengan perlakukan Kevin kemarin.
“Ada keperluan apa anda memanggil saya, Pak Kevin?” tanya Miranda formal untuk membatasi kembali statusnya dengan pria itu.
“Bukankah kamu menanyakan apakah aku mengingkari janji semalam?” tanya Kevin langsung pada intinya.
Miranda menghela nafas, lalu berkata, “iya, benar. Tapi anda bisa menjawabnya dengan membalas pesan saya saja, kan? Maksud saya, tidak perlu memanggil saya seperti ini, karena ini terlihat tidak wajar di mata karyawan lainnya.”
Kevin lalu berjalan mendekati Miranda, membuat Miranda menggeser posisinya untuk menghindar. “Kamu terlihat takut sekali pada pandangan orang, Miranda,” ujar Kevin sambil tersenyum menyeringai.
“Jadi, bagaimana? Anda telah mengatakan sesuatu pada Bu Celine, kan?” tanya Miranda dengan nada kesal.
“Apakah Celine melakukan sesuatu padamu lagi?” Kevin malah bertanya balik.
“Kalau anda tidak mau menjawabnya, ya sudah!” Miranda membalikkan tubuhnya dengan cepat untuk meninggalkan Kevin, tetapi gerakannya yang tiba-tiba itu justru membuatnya merasa pusing dan mual.
“Huekk!!” Miranda menutup mulutnya dengan kedua tangannya, berusaha menahan mualnya.
Kevin segera memegang pundaknya dan berkata dengan khawatir, “Kamu ingin muntah, Miranda? Ayo, sini ke toilet!”
Kevin merangkul pundak Miranda, membawanya masuk ke toilet yang tersedia di Ruang Direktur. Mau tak mau Miranda mengikutinya karena tak tahan dengan mualnya.
Kevin menunggu di luar toilet dengan cemas, sementara Miranda memuntahkan isi perutnya yang sudah kosong, hingga hanya keluar busa asam lambung dan sedikit cairan berwarna kecoklatan yang terasa pahit. Miranda lalu berkumur dan mengatur nafas untuk menenangkan dirinya.
Setelah itu, ia keluar dari toilet dengan wajah yang sangat pucat dan lemas. Kevin langsung menuntunnya ke sofa. “Duduklah dulu, Miranda,” ujar Kevin dengan lembut.
Pria tampan itu lalu ikut duduk di sebelahnya sambil memegang keningnya. Tidak demam, tapi wajah Miranda sangat pucat. Matanya sayu dan berembun.
“Miranda, kamu sakit? Ayo, kita periksa ke dokter!” Kevin meraih tangan Miranda.
Miranda menggeleng, “tidak. Saya hanya lelah dan banyak pikiran.”
“Aku tidak peduli apa alasanmu, tapi yang jelas aku tidak bisa melihatmu begini. Ayo, ikut aku ke Klinik terdekat. Ini perintah, Miranda!” tegas Kevin.
Lagi-lagi Miranda tak bisa melawan kehendak Direkturnya itu. Mereka berdua akhirnya berjalan beriringan keluar dari pabrik itu tanpa mempedulikan beberapa pasang mata yang menatap mereka dengan tatapan curiga.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di Klinik terdekat. Seorang dokter wanita yang masih muda memeriksa tekanan darah Miranda, mengecek dada dan perutnya dengan stetoskop, lalu memberinya sebuah pot urine.
“Kami membutuhkan urine anda, Nona. Silahkan mengambilnya di toilet pasien,” ujar Dokter itu sambil menunjuk ke sebuah ruangan yang terletak di sudut klinik tersebut.
Kevin lalu bertanya pada Dokter itu, “bagaimana keadaan istri saya, Dok?”
“Tekanan darahnya sangat rendah, Tuan. Kami akan melakukan test kehamilan pada istri anda,” jawab Dokter itu.
Kevin terbelalak. Test kehamilan? Apakah ada kemungkinan Miranda hamil?
Tak lama kemudian Miranda keluar dari toilet pasien dan menyerahkan sampel urine nya pada Dokter. Miranda lalu dipersilahkan menunggu di ruang tunggu bersama Kevin.
Kevin menatap Miranda yang sedang duduk tertunduk dan tidak menghiraukan Kevin sama sekali. Pikiran Kevin bercampur aduk. Jika Miranda benar hamil, mungkinkah itu hasil perbuatannya di mobil pada malam itu? Gadis seperti Miranda tidak mungkin melakukannya dengan pria lain, bukan?
“Nona Miranda,” terdengar suara Dokter memanggilnya.
Miranda segera memasuki ruang Dokter diikuti oleh Kevin, lalu mereka duduk bersebelahan menghadap Dokter tersebut.
“Selamat, Nona Miranda, anda hamil,” ujar Dokter itu, ringan tanpa beban.
Kevin dan Miranda terkejut dan saling berpandangan.
“Sa-saya hamil, Dok? Benarkah?” tanya Miranda ragu sekaligus syok mendengar berita itu.
“Iya, hasil test urine menunjukkan kehamilan. Ini juga sesuai dengan gejala yang anda alami. Tapi untuk lebih pastinya, saya sarankan anda melakukan USG di Dokter Spesialis Kandungan,” jawab Dokter itu dengan sabar.
“Baiklah, Dokter. Terimakasih,” ujar Kevin cepat.
Setelah itu, Kevin langsung mengajak Miranda pulang. Dalam perjalanan, Miranda masih terdiam sambil memegang perutnya. Kevin meliriknya. Hatinya berbunga-bunga dan penuh harap pada Miranda.
“Miranda, janin itu..., milikku, bukan?” tanya Kevin dengan hati-hati.
Tak ada jawaban, namun bulir air mata mengalir di pipinya. Jika ia memang hamil, siapa lagi ayah dari janin itu kalau bukan Kevin? Miranda mengusap air mata di pipinya, mengapa hubungan ini semakin rumit?
*** BERSAMBUNG***
Apa yang akan dilakukan Miranda terhadap kehamilan itu?
IKUTI TERUS KELANJUTANNYA YA...
tapi mana mungkin, hehehehe...
biar kevin tahu rasa