Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.
ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.
Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.
tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima Murid Pertama
Pagi itu, kabut di Distrik Utara masih tebal, menyelimuti jalanan berbatu yang berlumpur. Gudang No. 4, yang semalam masih berupa bangunan tua yang menyeramkan, kini tampak berbeda. Pintunya telah diperbaiki sementara dengan papan kayu baru. Jendela-jendela yang pecah telah ditutupi kain kanvas bersih agar angin tidak masuk. Di dalam, aroma debu apek telah digantikan oleh bau kayu segar dan lilin lebah.
Julian berdiri di depan pintu gudang, mengenakan tunik kerjanya yang sederhana. Ia tampak gugup. Tangannya memegang sebuah papan tulis kecil yang ia buat sendiri dari sisa kayu dan arang.
Di belakangnya, empat pria lain dari Harem—termasuk Elian, si pemain seruling—sedang duduk bersila, menunggu. Mereka bukan guru, tapi asisten sukarela. Mereka membantu membersihkan, merapikan rak buku bekas, dan menyiapkan tempat duduk dari karung goni yang diisi jerami.
"Apakah mereka akan datang?" tanya Elian pelan, matanya cemas menatap jalan kosong. "Maksudku... anak-anak jalanan. Apakah mereka benar-benar mau belajar? Atau ini hanya lelucon Ratu?"
Julian menegakkan bahunya. "Ratu Floren tidak bercanda, Elian. Jika dia mengatakan murid-murid akan datang, mereka akan datang. Tugas kita adalah menyambut mereka dengan hormat, bukan dengan keraguan."
Elian menunduk, malu. "Maaf, Julian. Saya hanya... saya belum pernah mengajar siapa pun. Saya hanya tahu cara memainkan nada."
"Nada juga butuh struktur," kata Julian lembut. "Sama seperti huruf. A, B, C. Itu adalah nada dasar pengetahuan."
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar. Bukan langkah berat sepatu bot militer, melainkan langkah kecil, ragu-ragu, dan telanjang kaki.
Dari balik kabut, lima sosok kecil muncul.
Mereka adalah anak-anak. Usianya bervariasi antara enam hingga sepuluh tahun. Pakaian mereka compang-camping, penuh tambalan, dan wajah-wajah mereka kotor oleh debu jalanan. Mata mereka besar, waspada, dan penuh ketakutan. Mereka saling berpegangan tangan, membentuk rantai kemanusiaan yang rapuh.
Di ujung barisan, seorang gadis kecil dengan rambut kusut masai menatap Julian dengan curiga. Dia memegang erat lengan adik laki-lakinya yang lebih kecil.
Julian menarik napas dalam-dalam. Ia ingat instruksi Floren: Jangan memaksa. Jangan menakuti. Biarkan mereka merasa aman.
Julian berjongkok, sehingga tingginya sejajar dengan anak-anak itu. Ia menjaga jarak, tidak mencoba menyentuh mereka.
"Selamat pagi," sapa Julian, suaranya lembut dan hangat, berbeda dengan nada tegas yang ia gunakan saat berbicara dengan bangsawan. "Nama saya Julian. Saya akan menjadi guru kalian hari ini."
Anak-anak itu diam. Tidak ada yang menjawab.
Gadis kecil di depan menggeram pelan, seperti anak kucing yang terpojok. "Kami tidak punya uang," katanya kasar. "Jika kalian minta bayaran, kami pergi."
Julian tersenyum tipis. Senyuman tulus yang mencapai matanya.
"Tidak ada biaya," kata Julian. "Sekolah ini gratis. Kalian bahkan akan mendapatkan satu porsi makan siang di sini. Roti, sup sayur, dan buah."
Mata anak-anak itu membelalak. Makan? Bagi mereka di Distrik Bawah, makanan adalah hal langka. Mendapatkan makan siang gratis adalah mimpi yang mustahil.
"Benarkah?" tanya seorang boy kecil dengan hidung meler.
"Benar," jawab Julian. "Tapi ada syaratnya."
Wajah-wajah kecil itu kembali tegang. Syarat? Biasanya, orang dewasa selalu punya syarat yang menyakitkan.
"Syaratnya," lanjut Julian, "adalah kalian harus mau mendengarkan. Kalian harus mau mencoba. Dan kalian harus saling menghormati. Jika kalian bisa melakukan itu, kalian boleh tinggal dan belajar sepanjang hari."
Gadis kecil itu menatap Julian lama. Ia mencari kebohongan di mata pemuda tampan itu. Tapi ia hanya menemukan ketulusan.
"Aku Lira," kata gadis itu akhirnya, melepaskan tangan adiknya selangkah. "Dan ini adikku, Tomi. Mereka... teman-teman kami dari panti asuhan."
Julian mengangguk hormat. "Senang bertemu kalian, Lira. Tomi. Silakan masuk. Tempatnya mungkin tidak mewah, tapi hangat."
Perlahan, satu per satu, anak-anak itu melangkah masuk ke dalam gudang. Mereka menyentuh dinding kayu baru dengan jari-jari kotor mereka, seolah tidak percaya bahwa tempat seburuk ini bisa menjadi sekolah.
Julian memimpin mereka ke area tengah, di mana lima 'kursi' dari karung jerami telah disiapkan.
"Duduklah," ajak Julian.
Anak-anak itu duduk dengan kikuk. Mereka belum terbiasa duduk diam untuk waktu lama. Tubuh mereka gelisah, mata mereka liar mengamati sekeliling.
Julian mengambil kapur tulis—yang ia buat dari campuran tanah liat dan abu—dan menulis huruf besar 'A' di papan tulis hitam kecilnya.
"Hari ini," kata Julian, "kita akan belajar tentang awal. Huruf A."
Lira mengangkat tangannya. "Untuk apa?"
Julian tertegun. Pertanyaan yang tajam untuk seorang anak berusia tujuh tahun.
"Untuk membaca," jawab Julian. "Jika kalian bisa membaca, kalian bisa membaca tanda toko. Kalian bisa membaca surat. Kalian bisa membaca hukum. Pengetahuan adalah kekuatan, Lira. Dengan membaca, kalian tidak akan mudah ditipu oleh orang dewasa yang jahat."
Mata Lira berkilat. Ada sesuatu yang tersambar di dalamnya. Harapan? Atau mungkin rasa sakit masa lalu karena pernah ditipu?
"Ajari kami," kata Lira tegas.
Julian tersenyum. Ia mulai menjelaskan bentuk huruf A. Suaranya tenang, sabar, dan penuh penekanan.
Di luar gudang, tersembunyi di balik sudut bangunan tetangga yang runtuh, dua sosok mengamati.
Floren dan Kaelia.
Mereka tidak masuk. Mereka menjaga jarak, sesuai protokol. Floren memakai jubah kelabu sederhana dan tudung kepala, menyamar sebagai wanita biasa dari kelas menengah. Kaelia berdiri di sampingnya, tangan di pinggang, wajahnya tertutup topeng besi ringan untuk menyamarkan identitasnya sebagai Jenderal.
"Mereka masuk," bisik Kaelia. "Kelima anak itu. Dari panti asuhan St. Mary, sesuai laporan."
Floren tidak menjawab. Matanya terpaku pada jendela gudang yang tertutup kanvas. Ia bisa membayangkan apa yang terjadi di dalam. Julian, sang pangeran harem yang patah hati, sedang berusaha menanam benih peradaban di tanah yang tandus.
"Bagaimana reaksi Lira?" tanya Floren pelan.
"Lira awalnya menolak," lapor Kaelia, yang telah menempatkan salah satu anak buahnya sebagai pengemis di dekat lokasi untuk memantau. "Tapi Julian berhasil meyakinkannya dengan janji makan siang. Anak itu cerdas, Yang Mulia. Dia skeptis. Dia tidak mudah percaya."
"Itu bagus," kata Floren. "Kepercayaan buta adalah kelemahan. Skeptisisme yang sehat adalah awal dari kebijaksanaan."
Kaelia menoleh ke arah Floren. "Anda tidak masuk? Anda tidak ingin melihat langsung?"
"Tidak," kata Floren tegas. "Kehadiran saya akan mengubah dinamika. Anak-anak itu akan takut. Mereka akan melihat saya sebagai Ratu, bukan sebagai sumber ilmu. Julian harus membangun otoritasnya sendiri. Jika dia gagal, sekolah ini gagal. Saya tidak bisa selalu ada di sana untuk menopangnya."
Kaelia mengangguk, meski ada keraguan di matanya. "Julian terlihat... alami. Dia tidak bertindak seperti bangsawan yang turun tangan. Dia bertindak seperti saudara tua."
"Mungkin itu karena dia juga merasa terbuang," gumam Floren. "Dia memahami rasa sakit menjadi tidak diinginkan. Itu membuatnya empati."
Mereka diam sejenak, mendengarkan suara samar Julian yang sedang mengajar dari dalam gudang.
"A... seperti Apel. A... seperti Angin."
Suara anak-anak menirukan, canggung tapi antusias.
Floren merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Sebuah kehangatan kecil. Bukan cinta romantis, tapi kepuasan. Kepuasan melihat roda perubahan mulai berputar, sekecil apa pun.
"Tapi awasi Vane," kata Floren tiba-tiba, suaranya kembali dingin. "Dia pasti sudah tahu tentang sekolah ini. Dia tidak akan menyerang secara langsung. Dia akan menunggu momen yang tepat untuk memukul."
"Kami menemukan jejak mata-mata Vane di sekitar Distrik Utara kemarin malam," lapor Kaelia. "Mereka mengamati gudang. Mencatat siapa yang masuk dan keluar."
"Biarkan mereka menonton," kata Floren sinis. "Biarkan mereka melihat bahwa 'eksperimen gila' Ratu mereka sebenarnya bekerja. Saat Vane menyadari bahwa anak-anak jalanan ini bisa menjadi aset—bukan beban—dia akan panik. Karena jika rakyat bawah sadar dan terdidik, mereka tidak akan mudah dikontrol melalui ketakutan dan kemiskinan."
Kaelia tersenyum tipis. "Anda bermain panjang, Yang Mulia."
"Saya tidak punya pilihan," jawab Floren. "Revolusi tidak terjadi dalam semalam. Itu terjadi huruf demi huruf. A, B, C..."
Tiba-tiba, suara teriakan terdengar dari dalam gudang.
"Tomi jatuh! Tomi pingsan!"
Jantung Floren berhenti berdetak sesaat.
Tanpa berpikir, ia melangkah maju, berniat menerobos masuk. Tapi Kaelia menahan lengannya.
"Tunggu," kata Kaelia tegas. "Itu ujian pertama Julian. Biarkan dia menanganinya."
Floren mematung. Darahnya mendidih. Insting maternal nya—atau mungkin insting manusiawinya—berteriak untuk membantu. Tapi logikanya tahu Kaelia benar. Jika Julian tidak bisa menangani krisis kecil seperti ini, bagaimana dia bisa memimpin sekolah?
Dengan gigi terkunci, Floren mundur ke bayangan. Ia memaksa dirinya untuk menunggu. Untuk percaya.
Di dalam gudang, kekacauan terjadi. Tomi, adik Lira yang berusia enam tahun, tiba-tiba pucat pasi dan ambruk ke lantai setelah berdiri terlalu lama.
Lira menjerit. "Tomi! Bangun!"
Julian segera berlutut di samping Tomi. Ia tidak panik. Wajahnya tetap tenang, meski tangannya gemetar sedikit.
"Elian, ambil air!" perintah Julian tajam. "Cepat!"
Elian, yang tadinya bingung, segera lari mengambil kendi air di sudut ruangan.
Julian memeriksa napas Tomi. Lemah. Denyut nadi cepat. Dehidrasi dan kurang gizi.
"Lira, dengarkan saya," kata Julian, menatap mata gadis itu yang penuh air mata. "Adikmu lelah. Dia butuh istirahat. Bantu saya baringkan dia di atas jerami."
Lira, meski takut, mengikuti perintah Julian. Bersama-sama, mereka membaringkan Tomi.
Julian membuka kerah baju Tomi agar ia bisa bernapas lebih lega. Ia mengambil roti kecil dari sakunya—bekal makannya sendiri—dan meremasnya hingga halus, lalu mencampurnya dengan sedikit air menjadi bubur encer.
"Buka mulutnya, Lira," instruksi Julian.
Dengan hati-hati, Julian menyuapkan bubur roti itu ke mulut Tomi yang setengah sadar. Perlahan, warna kembali ke wajah anak itu. Napasnya menjadi lebih teratur.
Lira menangis, tapi kali ini air mata kelegaan. "Terima kasih... terima kasih, Guru Julian."
Julian mengusap keringat di dahinya. Ia menatap Lira, lalu ke anak-anak lain yang menonton dengan takut.
"Belajar itu penting," kata Julian pelan, suaranya bergetar sedikit karena emosi. "Tapi kesehatan lebih penting. Mulai besok, kita akan ada sesi olahraga ringan. Dan makan siang akan dibagi sebelum pelajaran dimulai, bukan sesudahnya. Kita tidak boleh belajar dengan perut kosong."
Anak-anak itu mengangguk, mata mereka penuh kekaguman.
Di luar, Floren menghembuskan napas panjang yang tertahan. Tubuhnya rileks kembali.
"Dia berhasil," bisik Kaelia.
Floren menatap jendela gudang. Bayangan Julian terlihat sibuk mengurus Tomi. Pemuda itu tidak sempurna. Dia gugup. Dia tidak punya pengalaman medis. Tapi dia peduli. Dan dia cepat berpikir.
"Ya," kata Floren. "Dia berhasil."
Floren berbalik, siap meninggalkan tempat itu. Namun, saat ia berbalik, matanya menangkap gerakan di atap bangunan seberang.
Seperti bayangan hitam, cepat dan lincah, melompat dari satu atap ke atap lainnya. Gerakan itu terlalu cepat untuk manusia biasa. Terlalu ahli.
Kaelia juga melihatnya. Tangannya instan berada di gagang pedang.
"Mata-mata?" desis Kaelia.
"Bukan mata-mata biasa," kata Floren, matanya menyipit. "Gerakan itu... seperti ninja. Atau pembunuh bayaran."
"Zenthoria?" tanya Kaelia.
"Atau seseorang yang tidak ingin sekolah ini sukses," jawab Floren dingin. "Kaelia, kirim tim terbaikmu. Tangkap dia hidup-hidup. Saya ingin tahu siapa yang mengirimnya."
Kaelia mengangguk, lalu menghilang ke dalam gang gelap, mengejar bayangan itu.
Floren tinggal sendirian di sudut gang. Ia menatap kembali ke arah gudang, di mana suara tawa kecil anak-anak mulai terdengar lagi.
Aman untuk sekarang, batinnya. Tapi bahaya sudah mengintai.
Permainan tidak hanya terjadi di ruang dewan atau di kamar harem. Bahaya sudah ada di jalanan, di atap-atap, mengintai setiap langkah kecil menuju perubahan.
Floren menarik tudungnya lebih rendah, dan berjalan menjauh, menyatu dengan kerumunan warga Distrik Utara. Ia bukan lagi Ratu di istana. Dia adalah pelindung bayangan dari harapan kecil yang baru saja lahir.