NovelToon NovelToon
Terikat Dengan Cinta Atau Takdir

Terikat Dengan Cinta Atau Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:884
Nilai: 5
Nama Author: Ulfa Zahra

Ardian dan kebahagiaan nya.
Kembali berkumpul dengan putrinya serta menikah dengan wanita yang merubah dirinya menjadi pria dengan pribadi yang baik, membuatnya sangat bahagia walaupun cerita masalalu yang sedikit demi sedikit terbuka.
Jidan dan kisah cintanya.
Tidak sama seperti tuannya yang memilih berlabuh ke hati lain dan berdamai dengan masalalu nya. Jidan malah terjebak dengan perasaan nya yang belum benar-benar mencintai wanita lain. Seakan takdir berputar-putar ditempat nya, membuat Jidan selalu terjebak dengan perasaan sendiri, walaupun ada hati lain yang menariknya untuk beralih.
Bagaimana kisah selanjutnya? Simak yuk, biar nggak penasaran bagaimana kisah mereka selanjutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Jidan yang sudah selesai meeting keluar dari ruangan VVIP tempat mereka mengadakan pertemuan. Jidan memijat bahunya yang terasa pegal.

"Pantes saja tuan Ardian mempercayai mu, ternyata kamu sangat hebat mengambil hati para klien baru kita." puji Dalfi jujur seraya mengikuti langkah pria itu.

"Jangan memuji ku, Dalfi. Kamu juga bekerja keras untuk agenda kita hari ini. Seharusnya aku berterima kasih pada mu." jawab Jidan tidak nyaman jika asisten nya itu terlalu berlebihan memuji nya mengingat Dalfi juga bekerja keras untuk ini semua.

"Aku hanya membantu sedikit dan selebihnya kamu yang mengerjakannya."

"Jangan berkata seperti itu, dalam perusahaan semuanya setara." lanjut jidan."Untuk merayakan keberhasilan kita, bagaimana kalau kita makan siang. Nanti aku yang traktir." saran jidan mengalihkan topik pembicaraan mereka.

"Ide yang bagus, tau saja kalau aku belum makan. Hehe." sahut Dalfi sambil mengiyir memperlihatkan dataran gigi nya."Oh iya, jangan sampai lupa. Kamu harus mengenalkan aku pada temanmu seperti perkataanmu tadi."

Jidan terlihat berpikir."Kapan aku berbicara seperti itu?" Tanyanya serius karena dia benar-benar lupa.

"Oh astaga Jidan. Kamu sampai melupakan gadis magang yang kamu bawa. Ckckck padahal baru satu hari." sahut Dalfi geleng-geleng.

"Oh astaga aku sampai melupakan itu. Kita harus kembali ke kantor," ucap Jidan melangkah dengan terburu-buru ke arah mobilnya.

"Kau terlalu gila kerja sampai melupakan sekitarmu." ucap Dalfi dengan kepala menggeleng kecil. Dalfi bergegas mengikuti langkah Jidan sebelum pria itu meninggalkan nya.

Mobil Jidan melaju melewati jalan yang cukup ramai, karena waktu jam makan siang. Tidak berselang lama Mobil Jidan sampai di parkiran. Dengan terburu-buru pria itu turun dari mobil dan masuk kedalam perusahaan.

Jidan melangkah ke lantai empat karena yang Jidan tau kalau Nada magang di sana.

Sesampainya di lantai empat Jidan melirik kanan dan kiri mencoba mencari keberadaan gadis itu. Tapi dia tidak melihat keberadaan nya. Kaki terayun berat menelusuri setiap meja yang kini hanya menyisakan beberapa orang saja, sampai langkahnya terhenti saat melihat punggung seseorang.

"Nada?" Tentu pria itu kebingungan saat melihat gadis itu sedang berjongkok memungut berkas-berkas di atas lantai."Apa yang dia lakukan di sana? Kenapa dia yang memungut berkas-berkas itu, seharusnya pekerjaan itu bukan lah tugasnya." Ucap Jidan menatap gerak-gerik gadis itu.

Langkahnya terayun berat mendekati Nada. Sesampainya di depan gadis itu dia bisa melihat Nada yang menatap nya juga. Seperti nya Nada menyadari akan kehadirannya.

"Nada apa yang kamu lakukan di situ? Cepat berdiri." Titah Jidan Menyembunyikan geram nya saat ini.

"Sebentar kak, aku susun dulu berkas nya."

"Berdiri. Itu bukan tugasmu! Siapa yang menyuruhmu?” Sahut Jidan tidak terima saat gadis itu mengumpulkan beberapa berkas yang ditumpuk sangat banyak. Karena itu bukanlah tugasnya.

Nada terdiam. Dia ragu mengatakan sejujurnya siapa orang yang telah menyuruh nya. Dia tidak ingin mencari masalah lain dengan wanita-wanita tadi."Aku mengerjakannya sendiri Kak."

"Kamu berbohong Nada." Ucap Ardian tidak percaya."Cepat berdiri, dan katakan siapa yang menyuruhmu. Biar aku memberikan mereka sangsi. Ini sama saja seperti perundungan." Lanjut nya lagi masih tidak terima saat memikirkan kalau gadis itu mendapatkan perundungan di hari pertamanya magang.

Sementara Nada hanya terdiam. Perasaan ragu tadi seakan-akan menghilang tergantikan perlindungan yang entah kenapa mengantarkan lurung hati nya. Baru kali ini ia merasa di lindungi oleh seseorang yang terlihat tulus.

"Dalfi, selidiki siapa saja orang-orang yang melakukan perundungan pada anak magang. Aku tidak mau tau, mereka harus cepat ditemukan. Jika sampai tuan Ardian mengetahui kalau di perusahaan nya terdapat orang-orang yang tidak tau diri, dia pasti akan memecat nya." Perintah Jidan pada Dalfi yang berdiri di belakangnya.

"Baik, aku akan mencari tau." Seperti perintah Jidan, pria itu bergegas ke lantai tengah tempat di Ruang Kontrol CCTV.

"Berdiri." suru Jidan seraya mengulurkan tangan nya.

"Ah iya kak, sebentar."

"Cepat." Tekan Jidan membuat Nada terkejut. Suara biasa nya lembut kini terdengar tegas. Dengan ragu dan perasaan mendebarkan. Gadis itu menyambut uluran tangan jidan.

Deg

Saat tangan itu bersentuhan, Nada bisa merasakan debaran pada jantung nya apalagi dengan lembut pria itu menarik nya berdiri.

"Kak tapi berkas itu." lirik Nada.

"Tidak usah dipedulikan. Itu bukan tugasmu."

"Tapi itu penting kak."

"Itu mau di antar ke mana?”

"Eem, ruangan Administrasi."

"Sini biar aku yang antar. Kamu tunggu di sini."

"Jangan kak, biar aku saja."

Jidan menghela nafasnya. Akhirnya dia memilih mengalah. Pria itu menuruti kemauan Nada dengan mengikuti nya membawa berkas-berkas itu.

"Selesai mengantar berkas-berkas ini, kita makan siang."

"Tapi kak, ada banyak yang harus aku lakukan."

"Simpan sebentar pekerjaanmu itu. Istirahat lah sebentar untuk makan siang. Kebanyakan anak magang tidak seperti mu. Hari pertama mereka masuk tapi tidak sesibuk kamu. Tapi Kamu awal masuk sudah di rundung." Sahut Jidan terdengar seperti sindiran untuk Nada.

"Aku hanya ingin bekerja kak, bukan apa." Kesal nya.

"Sampai mau di rundung mana nggak mau mengatakan sejujurnya lagi." Sewot Jidan membuat Nada cemberut mendengar nya.

"Terserah kak Jabir saja. Padahal aku hanya ingin magang dengan serius agar lulus dengan cepat." Sahut nya sebelum nada melangkah dengan cepat meninggalkan pria itu.

"Aish pakai acara ngambek lagi.”

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!