NovelToon NovelToon
REPLAY

REPLAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:309
Nilai: 5
Nama Author: Anyelir 02

Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.

Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.

Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.

Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 - Kena Kau

“Ah, panasnya Jakarta!” keluh Nala yang baru saja keluar dari gedung Kolegium. Teriknya matahari begitu terpancar.

“Mang, antar Nala ke Moonlight Cafe yang ada di Cipete, bisa?”

“Bisa atuh neng. Mamang kan ditugaskan Tuan Dipta buat antar neng.” Mang Asep, sopir keluarga yang ditugaskan mengantar dan menjemput Nala kemanapun Nala ingin pergi. Mang Asep membukakan pintu penumpang belakang, mempersilahkan Nala untuk masuk.

Mang Asep dengan perlahan dan hati-hati melajukan laju mobilnya, sesuai dengan mandat dari Dipta. Menikmati jalanan Jakarta yang cukup padat membuat Nala bernostalgia. Teringat masa mudanya yang penuh akan kenangan. Meskipun kenangan itu tak penuh, Nala masih bisa membayangkannya. Nala duduk bersandar di kursi penumpang belakang sambil sesekali mengecek ponselnya. Namun, ketenangannya terusik saat mesin tiba-tiba mengerang tidak wajar dan kendaraan berhenti dengan sentakan mendadak.

 

Ckit!

 

Nala hampir saja terjerembap ke depan, untungnya ia refleks menahan diri dengan tangan yang bertumpu pada jok pengemudi.

"Ada apa, Pak?" tanya Nala dari kursi belakang dengan nada cemas.

"Kurang tahu, Non. Mesinnya mendadak mati. Sebentar, saya periksa dulu," jawab sang sopir yang tampak panik.

Nala memperhatikan dari kaca jendela belakang saat sopirnya bergegas keluar dan berjalan ke depan mobil. Begitu sang sopir mengangkat kap mesin, gumpalan asap abu-abu tebal langsung membubung tinggi ke udara.

Melihat asap yang keluar begitu banyak, Nala tidak bisa hanya duduk diam di kursi belakang. Khawatir terjadi sesuatu yang lebih buruk, ia segera membuka pintu mobil dan turun ke aspal jalanan Jakarta Selatan yang mulai terasa terik. Sambil menutup hidung dengan tisu untuk menghindari aroma hangus yang menyengat, ia melangkah maju menghampiri sopirnya yang masih kebingungan di depan mesin yang mengepul.

“Gimana Mang? Bisa, enggak mobilnya?”

“Bentar, neng. Mamang masih ngecek mesinnya.” Terlihat Mang Asep mencoba mengotak-atik mesin mobil. Nala yang berada di pinggiran, melihat betapa seriusnya Mang Asep memperbaiki mesin mobilnya. Berdiri, memperhatikan sekitar. Pemandangan kendaraan berlalu lalang adalah hal yang kini dilihat Nala.

Tak sengaja, Nala fokus lada satu titik. Objek manis, saling bergandengan tangan sambil memungut botol plastik. Nala dapat melihat bahwa si kecil manis yang dilihatnya itu saling menggantungkan diri mereka satu sama lain. Kakak beradik yang lucu dan manis itu, sungguh tergoda untuknya.

“Mang, Nala ke sebrang dulu!” Setelah berpamitan, Nala mengambil tasnya di dalam mobil. Melihat ke kanan dan kiri, jalanan begitu ramai. Nala kesulitan untuk menyebrang.

Saat terasa aman, Nala memberanikan diri untuk menyeberang.

Sreeet!

Bugh!

Sebuah tarikan yang cukup kencang, jatuh ke dalam sebuah pelukan. Nala terdiam, mencerna apa yang baru saja terjadi.

Tin... Tin...

“Lihat-lihat dong kalau menyeberang!” kesal pengendara mobil itu lalu pergi begitu saja

 

“Nala, kau baik-baik saja?”

Nala masih terdiam. Detak jantungnya berdetak cukup kencang. Nafasnya yang terengah-engah lambat laun menjadi normal kembali.

“Nala!” Panggilan itu menyadarkan Nala. Saat kesadarannya perlahan kembali, Nala teringat kondisinya kini. Menjauhkan diri dari pelukan, Nala mendorong pelan tubuh orang itu.

“Maaf... Maaf...!” Nala sedikit membungkukkan diri, sambil mengulang kata permintaan maaf.

“Tak masalah Nala, tenang saja.” Kalimat menenangkan dengan suara yang terdengar tak asing bagi Nala. Nala yang awalnya menundukkan kepala, akhirnya mendongak. Wajah tak asing, wajah yang ia temui di acara pernikahan kedua sahabatnya, sekaligus sepupu dari pihak pengantin.

Arya

Orang yang baru saja menyelamatkan Nala adalah Arya. Arya tak sengaja melihat Nala yang ingin menyeberang, disisi lain ada mobil yang melaju dan hampir menabrak Nala. Arya yang melihat itu segera berlari dan menarik Nala. Untung saja belum terlambat. Arya berhasil mencegah terjadinya kecelakaan itu, menarik Nala ke dalam pelukannya.

Nala yang merasakan sapuan di kepalanya hanya terdiam. Jika orang lain yang melakukannya, mungkin Nala akan memberontak atau berteriak kesal. Namun, saat Arya yang melakukannya Nala tak melakukan hal itu. Yang boleh melakukan itu hanyalah Dipta selaku kakak kandungnya, ayahnya dan kakek-neneknya. Hanya saja, saat Arya yang melakukannya terasa nyaman. Malah terasa begitu menenangkan, perasaan tenang menjalar begitu saja dari hatinya.

“Terima kasih Kak Arya sudah menolong Nala!” Nala begitu berterima kasih pada Arya. Jika tak ada Arya, mungkin Nala akan masuk ke dalam rumah sakit kembali untuk yang ketiga kalinya dalam tahun ini.

“Tak masalah, yang penting Nala aman.” Terdengar sederhana, namun mengganjal bagi Nala. Kalimat itu terdengar begitu melegakan di telinga Nala. Nala tau Arya itu teman kakaknya sekaligus

“Tuan!” Kevin berlari menghampiri Arya. Nala memperhatikan gaya berpakaian keduanya. Setelan jas rapi dan sebuah tas kerja yang dibawa Kevin menandakan mereka sedang bekerja.

“Kalian sedang kerja ya. Kalau begitu saya pergi dulu kak!”

“Tunggu!” cegah Arya yang melihat Nala hendak pergi. Kesempatan bertemu berdua secara kebetulan ini adalah momen langka yang tak mungkin ia lewatkan. Berjalan berdua, makan bersama bukankah itu terlihat romantis.

“Kau sudah makan siang?” tanya Arya dengan hati-hati.  Di belakang Arya, Kevin terbelalak terkejut mendengar pertanyaan dari bosnya. Mengingat mereka baru saja meeting sekaligus makan bersama klien, dan tuannya sedang mengajak seorang wanita makan siang.

“Belum kak. Ini tadi rencananya mau ajak anak-anak disana makan bersama sekaligus menawarkan pekerjaan. Tapi sepertinya mereka sudah pergi.” Nala melihat ke arah seberang dimana anak-anak tadi berada. Namun, kini sosok anak-anak itu sudah menghilang entah kemana.

“Pekerjaan?”

“Hanya membagikan selebaran kak. Aku ingin buka cabang kafe lagi dan mempromosikan menu baru kafe. Jika ada mereka bukankah membantu meringankan pekerjaan ku soal promosi.”

“Alasannya?”

“Kasihan. Jika hanya diberi uang, mereka akan kurang menghargai apa yang ia punya karena mendapatkannya dengan mudah. Jika uang didapat hasil kerja sendiri, bukankah ada kepuasan tersendiri.”

Kevin yang berdiri di belakang Arya, mendengar penjelasan Nala merasa kagum. Arya lun begitu. Merasa Vika-nya masih sama seperti di masa lalu. Membantu, tapi tidak ingin terlalu mudah memberi.

“Baiklah, nanti akan kubantu.”

“Bantu?” Nala heran akan hal itu.

“Aku juga membutuhkan seseorang untuk menyebarkan selebaran. Akan ada pembukaan perumahan baru. Bukankah selebaran itu bisa membantu?” tawar Arya

“Ah! Saya paham!” Arya diam-diam tersenyum, meskipun itu terlihat sangat tipis. Cara pendekatan seperti ini adalah cara yang pas untuk dirinya. Bersosialisasi mampu membantunya mendekat ke arah Nala.

“Tapi, ini bukan pekerjaan jangka panjang jika kau ingin membantu mereka.”

“Saya tau. Hanya saja belum terpikirkan.” Nala menunduk sedih. Dirinya ingin membantu, namun memiliki batas juga. Memikirkan cara membantu agar tak terlihat mencolok, itu adalah pertanyaan yang ada di pikirannya.

“Mau membuat panti ?” tawar Arya. Proyek jangka panjang inilah yang bisa ia tawarkan. Arya telah memikirkan setiap langkahnya. Terlihat natural, namun menyembunyikan niat lainnya.

“Panti?” Nala mengerutkan keningnya. Menimbang solusi yang Arya berikan. Bagi Nala, itu solusi yang baik. Hanya saja, dana yang dikeluarkan akan sangat besar dan mungkin dana pribadi yang ia miliki belum cukup untuk itu.

Arya tau apa yang dikhawatirkan Nala, segera mengode Kevin untuk menjelaskan segalanya pada Nala.

“Begini nona, Wijaya Group setiap tahunnya membuat acara amal. Terkadang kami mengunjungi panti atau membuat panti baru di bawah naungan yayasan keluarga Wijaya. Dalam panti yang dibuat, akan diberikan bekal soal wirausaha.”

“Bagaimana? Tertarik bergabung?” Arya sangat yakin Nala akan menerima tawaran itu. Mengingat bagaimana jiwa sosial Nala yang tinggi, tak mungkin ia menolak rencana itu. Mengulurkan tangannya, menunggu tanda persetujuan Nala.

“Iya!” Nala mengulurkan tangannya, menjabat tangan Arya.

“Mari kita bicara. Mau di kafe dekat sini atau–“

“Di Moonlight Cafe saja. Aku berencana kesana. Hanya saja, mobilku mogok,” Nala menunjukkan mobilnya yang masih terparkir rapi di tepi jalan dengan Mang Asep yang masih mencoba berkutat dengan mesin mobilnya.

Arya melihat arah tunjuk Nala. Tersenyum, memanggil Kevin mendekat, membisikkan sesuatu.

Tak lama, sebuah mobil terparkir di dekat mereka. Mobil mewah berwarna hitam, sangat berkelas.

“Mari, saya antar!” Arya membukakan pintu penumpang untuk Nala. Melihat itu, Nala menjadi bimbang. Dirinya tak tega meninggalkan Mang Asep sendirian.

“Tenang saja, saya sudah meminta seseorang kemari untuk memperbaiki mobilmu.”

“Baiklah, tunggu sebentar!” Nala berlari ke arah Mang Asep. Setelah selesai, ia kembali ke arah Arya dan masuk ke dalam mobil.

“Ayo!”

“Kena kau!” batin Arya

1
Noona Rara
Aku mampir yah kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!