Takdir membuat wanita bernama Anna terlempar ke zaman sebelum abad pertengahan. Menuntut agar ia bisa mengubah sejarah dan takdir kelam seorang raja tirani.
Namun, alih-alih kekejaman seperti yang di katakan semua orang, yang ia temukan hanyalah sesosok jiwa rapuh yang selalu memperlakukan dirinya dengan penuh kepedulian. Dan perlahan, sebuah rasa mulai tumbuh bersama raga yang ia tempati, tapi, apakah itu pantas? Apakah takdir sudah mengizinkan?
Anna terus menahan perasaanya, sampai ketika ia melihat raja datang dengan darah yang menetes di tangannya, sebuah permintaan akhirnya tidak bisa lagi ia tahan. Jauh di dalam hatinya terucap sebuah permohonan.
"Tolong biarkan aku tetap di sisinya, biarkan aku tetap di tempat ini untuknya, biarkan aku mencintanya sampai
akhir."
Tepat setelah permohonan itu terucap, ia langsung berlari, melangkahkan kakinya menuju orang yang telah menjadi sebagian dari jiwanya.
Namun, mampukah ia bertaruh takdir tidak akan membuatnya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Borraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selir Agung
...Pada malam yang sama, ada seseorang yang terus bersembunyi di balik kegelapan, merasa malu saat harus mengingat betapa tidak bergunanya takhta dan kedudukan yang ia miliki. Bahkan untuk sekedar mengangkat kepalanya saja ia tidak sanggup, ia tidak mampu menahan rasa malu di depan pusara sang Permaisuri. Air matanya terus menetes, meluapkan rasa putus asa dan kemarahan yang tidak bisa ia tunjukkan di depan dunia....
...Hening, hanya ada suara isakan tertahan sang Kaisar yang terdengar memenuhi ruangan ini, ruangan gelap tanpa ada satupun lilin yang menyala. Semua itu memang di sengaja, agar ia bisa bersembunyi sejenak dari dunia yang selalu membuatnya tak bisa berbuat apa-apa....
...Tak ada kata yang mampu ia ucapkan pada sang kekasih, semuanya tertelan begitu saja oleh rasa malu yang sangat besar....
" 𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘤𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪 "
...Saat malam telah mencapai puncaknya, akhirnya sang Kaisar mulai bangkit. Perlahan ia mengusap batu pusara sang Permaisuri untuk membersihkan sisa air mata yang terjatuh di atasnya. " Aku mencintaimu " bisiknya pelan, penuh kerinduan yang tak akan bisa tersampaikan. Lalu, sebuah ciuman perlahan mendarat di atas ukiran nama Permaisuri, ciuman yang begitu dalam sebagai bukti betapa besar cinta yang Kaisar miliki untuk seseorang yang telah pergi meninggalkannya....
...Langkahnya pelan, seolah masih tidak rela pergi dari ruangan di mana sang Permaisuri berada. Karena di sanalah ia bisa benar-benar merasa hidup, dan bisa keluar sejenak dari semua tuntutan dunia yang begitu kejam. Pandangannya sempat tertuju ke atas, melihat langit malam yang begitu gelap tanpa ada satupun bintang yang terlihat, dengan pikiran kacau yang seolah bisa membuatnya mati kapan saja....
...Tak butuh waktu lama bagi Kaisar untuk sampai ke kamar besar miliknya. Tapi, langkahnya sempat terhenti sejenak di depan pintu saat melihat seseorang sudah duduk di samping ranjang, seakan menunggu kepulangannya....
..." Kenapa Selir Agung lancang memasuki kamarku? " Kaisar bertanya dengan tegas, tepat setelah para pelayan menutup pintu kamarnya. Masih menjaga citra dan martabat sang istri dari para pelayan, agar tidak tercemar oleh pertanyaan yang ia ucapkan....
...Terlihat Selir Agung langsung berdiri dan mendekat pada Kaisar yang sama sekali tidak melihat ke arahnya. Sebuah perilaku yang memang menunjukkan ketidak senangan atas kehadiran Selir Agung....
..." Kenapa kau tidak pernah mengunjungiku?! " Selir Agung mulai bersuara dengan lantang, seolah ingin menuntut sesuatu dari Kaisar....
...Tak ada jawaban, Kaisar sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan itu, pertanyaan dari seseorang yang jelas tidak ia harapkan kehadirannya....
..." Kenapa kau tidak memberiku muka sebagai Selir Agung?! Kenapa aku harus terus berada di bawah bayangan orang mati itu?! "...
..." Diam! "...
...Seketika Kaisar mengepalkan tangannya dengan kuat, mencoba untuk menahan emosi yang hampir meledak karena kata itu....
..." Kenapa? Apa yang kukatakan itu salah?! Kenapa kau lebih memilih tidur di makam itu daripada denganku?! Kenapa?!....... " ...
...Hening cukup lama. ...
..." Aku hanya ingin kau memperlakukanku sebagai istrimu, aku hanya ingin kau memberiku kehormatan selayaknya seorang istri dalam hubungan ini " Selir Agung melanjutkan ucapannya, mengeluarkan sesuatu yang terus mengganjal di hatinya. Berharap bisa membuat Kaisar melihat ke arahnya sedikit saja. ...
..." Apa kau pantas? " Sebuah tawa mengakhiri kalimat itu, menertawakan permintaan yang tidak mungkin ia lakukan....
...Benar-benar jauh dari yang Selir Agung harapkan, ia hanya bisa tertawa getir saat mendengar kalimat itu. Ikut menertawakan dirinya sendiri yang telah berharap pada sesuatu yang sudah jelas tak akan pernah ia dapatkan....
...Tanpa sadar, air matanya mulai menetes membasahi wajah yang masih tersenyum karena jawaban itu, jawaban dari Kaisar yang membuatnya benar-benar sadar seperti apa dirinya bagi sang Kaisar selama ini....
...Lantas, Selir Agung menarik baju Kaisar dengan kuat, memaksa tubuh pria itu agar mengarah padanya....
..." Lihat aku!.........LIHAT AKU KAISAR!! "...
...Mata Selir Agung terbuka lebar dengan air mata yang masih tergenang, menunjukkan kemarahan yang tidak bisa lagi ia tahan. Semuanya keluar begitu saja, tak ada lagi yang ingin Selir Agung pendam. Berhubung sudah seperti ini, ia akan mengeluarkan segalanya, segala sesuatu yang terus menjadi duri dalam hati dan hidupnya....
..." Benar, aku memang tidak pantas, aku memang memalukan saat harus mengemis demi hal itu..... lalu? Apa kau sendiri merasa pantas? Apa kau tidak merasa memalukan saat terus mengemis cinta orang mati itu? " Ucapannya pelan, tapi menusuk, membuat Kaisar bisa melihat dirinya dari pandangan orang lain....
..." Diam! "...
..." Kenapa?! Baru sadar, jika kau juga se-memalukan itu? Sudahlah, kita memang telah di takdirkan untuk bersama sebagai suami istri di kehidupan ini, jadi.... lupakan saja orang mati itu. "...
..." DIAM! " Kaisar langsung mencengkram kuat leher Selir Agung, menumpahkan semua emosi miliknya pada cengkraman itu. Membiarkan wanita yang dari tadi terus mengungkit sang Permaisuri merasakan luapan amarahnya. ...
...Kaisar benar-benar sudah gelap mata, bahkan ia sempat tidak peduli pada nyawa wanita yang berada di cengkramannya. " Jangan pernah menyebutnya sebagai orang mati, dia tetap istriku, dia tetap Permaisuri ku, bahkan sampai aku mati sekalipun "...
..." Lepaskan!.... ughh, lepaskan aku..... Kaisar- " pinta Selir Agung dengan suara terputus-putus, memohon agar Kaisar melepaskan cengkraman kuat di lehernya. ...
..." Ingat! jangan pernah lagi kau menyebut Permaisuri dengan mulut kotor mu itu! " ...
...Kaisar merenggangkan tangannya, melepas cengkraman kuat dari leher Selir Agung. Membiarkan wanita itu sadar akan posisi yang seharusnya tidak pernah ia minta. ...
..." Ingat- " Kaisar berbalik, tidak ingin lagi memandang seseorang yang sama sekali tidak ia sukai. ...
..." Aku telah memberi gelar yang pantas untukmu, dan putramu juga sudah menjadi Putra Mahkota seperti yang kau inginkan..... jadi, jangan pernah lagi mengaharapkan sesuatu yang mustahil kau dapatkan " ...
...Terdengar suara tangisan dari Selir Agung yang sudah bersimpuh di belakang Kaisar. Tangisan yang menyimpan sebuah luka karena ucapan sang Kaisar yang benar-benar menyakitinya. ...
..." Putramu? Kau menyebut Roland, putramu? Dia anak kita, Kaisar, dia juga anakmu! " Selir Agung tidak habis pikir tentang bagaimana bisa Kaisar menyebut putra mereka hanya sebagai putranya saja? Bagaimana bisa Kaisar seolah tidak mengakui darah dagingnya sendiri? ...
..." Anakku? Apa kau lupa bagaimana anak itu bisa lahir? Apa perlu ku ingatkan lagi? " ...
...Selir Agung akhirnya terdiam, tidak ada lagi kata yang bisa ia ucapkan untuk membantah sang Kaisar. ...
..." Keluar! jangan permalukan dirimu sendiri " ...
...Kaisar langsung melangkah menjauhi wanita yang telah memperburuk keadaannya, meninggalkan Selir Agung yang masih terdiam di tengah tangisan itu. ...
...Perlahan Selir Agung bangkit, dan mulai merapikan penampilannya yang cukup berantakan akibat pertengkarannya dengan Kaisar. Tangannya tergerak untuk mengusap sisa air mata di wajahnya dengan kasar, merasa marah dan kecewa pada dirinya sendiri yang masih tidak bisa mendapat cinta yang selalu ia inginkan. ...