NovelToon NovelToon
Mahendra'S Possessive Love

Mahendra'S Possessive Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:720
Nilai: 5
Nama Author: Sonya_860

Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

"Makasih," ketus Ziva pada Mahendra yang baru saja mengantarkan dirinya pulang tepat di depan gerbang rumah.

​"Sama-sama, Sayang," balas Mahendra dengan suara rendah yang terdengar begitu tenang, sangat kontras dengan emosi Ziva yang sedang berada di ubun-ubun.

​"Lain kali nggak perlu nganter-nganter segala! Gue udah gede, tahu arah jalan pulang ke rumah!" omel Ziva. Padahal, hari ini ia memiliki urusan yang sangat mendesak, namun rencana itu berantakan karena 'drama penculikan' Mahendra di sekolah tadi.

​Mahendra mengernyit, rahangnya sedikit mengeras mendengar satu kata yang sangat ia benci keluar dari bibir Ziva. "Bahasanya, Sayang," tegur Mahendra geram. Ia paling tidak suka jika kekasihnya—yang ia klaim secara sepihak itu—menggunakan kata 'Lo' dan 'Gue' di depannya. Baginya, kata-kata itu terdengar sangat asing, seolah membangun tembok antara dirinya dan Ziva. Sementara 'Aku' dan 'Kamu' terdengar jauh lebih manis dan intim.

​Ziva mendengus, mencoba mengalah agar Mahendra cepat pergi. "Iya, iya. Udah sana pulang, aku mau masuk."

​Mahendra tersenyum tipis, merasa menang saat Ziva mengganti panggilannya. "Oke. Jangan lupa makan dan tidur. Besok pagi aku jemput kamu berangkat sekolah, hm?"

​"Eh, nggak perlu! Besok aku mau berangkat bareng Karlota! Iya, bareng Karlota. Kita udah janjian tadi lewat WhatsApp. Jadi, Mahendra nggak perlu capek-capek datang ke sini," sahut Ziva cepat, bahkan terlalu cepat hingga terdengar mencurigakan. Ia harus membatasi interaksinya dengan cowok posesif ini sebisa mungkin.

​Mahendra terdiam sejenak, menatap mata Ziva seolah sedang mencari kebohongan di sana, lalu ia mengangguk pelan. "Oke, mungkin lain kali. Masuklah."

​"Ya sudah, buruan jalan!" usir Ziva. Ia benar-benar takut jika ada orang rumah yang melihat keberadaan Mahendra, terutama Sanya, kakak tirinya yang hobi mencari masalah.

​Setelah memastikan motor besar Mahendra hilang di tikungan jalan, Ziva menghela napas panjang. Beban di bahunya terasa sedikit berkurang, namun tantangan berikutnya sudah menanti di balik pintu rumah itu.

​Ceklek.

​Ziva membuka pintu depan. Hal pertama yang menyambutnya adalah kesunyian yang mencekam. Ruang tamu itu kosong, rapi, dan dingin. Pemandangan ini selalu menyayat hatinya. Ia teringat masa kecilnya, saat kepulangannya selalu disambut hangat oleh ayah dan bundanya yang sedang bersantai di depan televisi. Namun, kebahagiaan itu kini hanyalah potongan memori yang berdebu.

​Ziva melangkah menaiki tangga menuju lantai dua.

Di pertengahan jalan, ia berpapasan dengan Govan, kakak tirinya. Ziva hanya diam, tak berniat menyapa atau bahkan sekadar melirik. Baginya, Govan hanyalah benalu yang malas bekerja dan hanya tahu cara menghabiskan uang ayahnya.

Meskipun sudah bertunangan, Govan tidak memiliki ambisi sedikit pun untuk mandiri.

​Sesampainya di kamar, Ziva langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.

"Huft, capek banget hari ini! Mana hidup gue nambah beban satu manusia ajaib lagi!" keluhnya sambil menatap langit-langit kamar.

​Matanya tak sengaja melirik jam dinding. Detik berikutnya, ia terlonjak kaget. "WHAT! OMG gue telat banget!!"

​Ziva berlari kilat menuju kamar mandi. Hanya dalam waktu sepuluh menit, ia sudah keluar dengan balutan kaos denim simpel dan celana jins. Ia menyambar tas selempang kecilnya dan bergegas turun. Langkah kakinya menggema di sepanjang anak tangga, memecah kesunyian rumah yang hampa.

​"Mau ke mana lo?" Sebuah suara tajam menghentikan langkah Ziva tepat di depan pintu depan.

​Ziva menoleh dengan malas, menatap Sanya yang berdiri dengan tangan bersedekap. "Nggak usah kepo urusan orang," tekan Ziva dingin.

​Sanya melangkah maju, menatap Ziva dengan kebencian yang mendalam. "Jauhi Mahendra! Dia hanya milik gue!"

​Ziva memutar bola matanya, hampir ingin tertawa mendengar klaim konyol itu. "Ambil aja! Gue nggak butuh!" sahutnya sarkastik sebelum benar-benar keluar dari rumah.

​"Sialan!" umpat Sanya dengan tangan terkepal.

"Mahendra hanya milik gue, Sanya Aulia! Gue nggak akan biarin bocah nggak dianggap kayak lo bersanding sama dia. Lo itu cuma sampah di rumah ini, Ziva!" gumamnya dengan senyum miring yang licik.

​Di sisi lain kota, di sebuah bangunan mewah yang tersembunyi di balik rimbunnya hutan pinus, sekelompok pemuda sedang berkumpul. Tempat ini adalah basecamp rahasia mereka.

​"Eh, lo bertiga kok dari kemarin nggak masuk sekolah? Ke mana aja?" tanya Rain, salah satu anggota geng mereka.

​David melempar kulit kuaci tepat ke dahi Rain.

"Ck, makanya sekolah jangan keseringan bolos! Temen sendiri pindah sekolah aja nggak tahu, dasar bangsul!"

​"Pindah sekolah?! Tega bener nggak ngajak-ngajak gue? Gue juga mau kali pindah ke tempat yang banyak cewek beningnya," protes Rain tak terima.

​"Otak lo isinya cuma cewek, tapi nggak ada yang mau sama lo!" ejek David.

​"Gue nggak mau tahu, gue harus ikut pindah! Bos, boleh ya gue ikut pindah ke sana? Di sekolah lama gue nggak ada temen kalau kalian nggak ada," rengek Rain pada Mahendra yang sedang duduk tenang sambil menyesap kopinya.

​"Hm," jawab Mahendra singkat.

​Mata Rain berbinar. "Denger kan, Nou? Bos aja bolehin! Lo yang cuma seupik debu berani banget ngatur gue?" ucap Rain songong pada David. David hanya bisa mengurut pelipisnya, membayangkan betapa berisiknya hari-hari mereka nanti jika Rain ikut satu kelas lagi.

​"Ngemeng-ngemeng, kalian pindah ke mana sih?" tanya Rain lagi.

​"SMA Cakra Buana," sahut David.

​"Di sana banyak buayanya nggak, Bang?" celetuk Beni, anggota termuda yang baru berusia lima belas tahun. Meskipun badannya bongsor dan wajahnya sangar, otak Beni masih sangat polos.

​"Beni... itu sekolah, tempat nyari ilmu, bukan tempat penangkaran satwa!" Rain gemas sendiri.

​"Loh, kan gue cuma nanya, Bang. Apa salahnya? Lagian kan nama sekolahnya Buana, kembarannya Buaya," bela Beni dengan wajah serius.

​"Kembar dari mananya?! Gue heran lo bisa lulus SD gimana caranya," keluh Rain pasrah.

​Ziva memacu motornya menuju sebuah tempat yang menjadi pelariannya dari realita: Cafe Mentari.

​"Aduh, Mbak Santi, maaf Ziva telat!" ucap Ziva terengah-engah begitu masuk ke area dapur kafe.

​Santi, pemilik kafe yang baru berusia dua puluh tahun, tersenyum lembut.

"Astaga Ziva, santai aja. Kan Mbak udah bilang, fokus sekolah dulu. Kamu boleh datang pas urusan sekolah selesai."

​"Nggak enaklah, Mbak. Zea—eh, Ziva maksudnya—nggak mau makan gaji buta. Tadi ada kendala sedikit di jalan, hehe," ringis Ziva. Ia merasa beruntung memiliki atasan seperti Santi yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri. Kafe ini adalah tempat Ziva mencari pundi-pundi rupiah demi kemandiriannya, jauh dari jangkauan ibu dan kakak tirinya.

​Setelah mengganti baju dengan seragam pelayanan kafe yang khas, Ziva mulai bekerja. Ia membersihkan meja-meja dengan cekatan. Baginya, kesibukan adalah obat terbaik untuk melupakan beban hidupnya yang berat.

​"Ziva, tolong antarkan pesanan ini ke meja nomor 06 ya," panggil Santi.

​"Siap, Mbak!" Ziva mengangkat nampan berisi makanan dan segelas jus segar, lalu melangkah menuju pelanggan yang duduk di sudut ruangan—seorang laki-laki paruh baya yang terlihat elegan namun guratan wajahnya menyiratkan kesedihan.

​"Permisi, ini pesanan Anda," ucap Ziva dengan senyum ramah yang tulus. Ia meletakkan pesanan itu satu per satu di atas meja.

​"Terima kasih," jawab pria itu sambil mendongakkan kepalanya.

​Deg.

​Pria itu mematung. Matanya terpaku pada wajah Ziva yang sedang tersenyum. Ada sesuatu pada diri gadis itu—getaran, binar mata, atau mungkin lengkungan senyumnya—yang terasa begitu familiar.

​"Baik, selamat menikmati," ucap Ziva sopan, lalu berbalik pergi untuk melayani pelanggan lain tanpa menyadari badai emosi yang ia tinggalkan di meja nomor 06.

​Pria itu terus menatap punggung Ziva yang menjauh. "Ada apa dengan diriku? Senyuman itu... kenapa terasa sangat mirip dengan milik dia?" gumamnya lirih, tangannya bergetar saat menyentuh gelas jusnya. Memori yang sudah lama ia kunci rapat-rapat seolah dipaksa terbuka kembali hanya karena sebuah senyuman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!