Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
elion??!!!
"Sial," umpat Axel rendah setelah sosok Anna menghilang dari pandangannya. Selama ini ia dikenal sebagai pria yang sangat disiplin dan selalu bisa menjaga kontrol dirinya dengan sempurna, namun malam ini ia justru kehilangan kendali hanya karena seorang gadis remaja yang merupakan teman keponakannya. Meski pikirannya berkecamuk, Axel segera mengatur ekspresinya kembali dingin dan tenang, lalu melangkah kembali ke kamarnya seolah tidak pernah terjadi apa-apa semalam.
Pagi harinya, sinar matahari masuk melalui celah gorden kamar Jolina. Jolina yang sudah bangun lebih dulu mulai melancarkan aksi "teror" paginya.
"Woy! Bangun! Emma! Anna! Matahari sudah di atas kepala, masa mau jadi putri tidur terus!" seru Jolina sambil menarik selimut Emma hingga temannya itu menggerutu.
"Aduh, Jolina! Lima menit lagi, film semalam kan seru banget," gumam Emma sambil menutup wajahnya dengan bantal.
Jolina beralih ke Anna dan menggoyang-goyangkan bahunya pelan. "Anna, bangun yuk! Mama sudah masak enak di bawah. Kalau kamu nggak bangun, jatah sosis kamu aku makan ya!"
Mendengar kata makanan, Anna perlahan membuka matanya. Ia sempat terdiam sejenak, ingatan tentang kejadian di dapur semalam tiba-tiba melintas cepat di kepalanya, membuat pipinya mendadak merona merah. "I-iya, aku bangun," jawab Anna pelan sambil mencoba duduk.
Mereka bertiga turun ke ruang makan yang sangat mewah. Di sana sudah duduk Tante Siska (Mama Jolina) yang tampak anggun dan Om Hendra (Papa Jolina) yang terlihat berwibawa namun ramah. Di ujung meja, duduklah pria yang membuat jantung Anna berdegup kencang semalam: Axel Van Elion.
"Pagi, Ma! Pa! Paman!" sapa Jolina ceria sambil menarik kursi untuk Anna. "Kenalin, ini teman baru aku, namanya Anna."
Siska tersenyum manis. "Wah, cantik sekali ya temanmu ini. Selamat datang di rumah kami, Anna."
"Terima kasih, Tante," jawab Anna dengan suara lembut dan sopan.
Jolina kemudian menunjuk ke arah Axel. "Nah, kalau yang itu Paman aku, namanya Axel. Dia itu gila kerja, kaku, dingin, dan... kayaknya dia itu gay deh, soalnya belum pernah aku lihat dia bawa cewek ke rumah," celetuk Jolina tanpa dosa.
TAK!
Axel meletakkan garpunya dengan sedikit keras, memberikan tatapan tajam yang mematikan ke arah Jolina. Jolina hanya menjulurkan lidahnya tidak takut.
Jadi dia paman Jolina? Axel? gumam Anna dalam hati sambil menunduk dalam, tidak berani menatap mata pria yang semalam telah menciumnya dengan begitu intens. Ia berusaha fokus pada piringnya, sementara Axel tetap duduk dengan tenang seolah interaksi intim mereka semalam hanyalah mimpi belaka bagi Anna.
Setelah sarapan usai, suasana ruang makan masih terasa cukup kaku bagi Anna, sementara Om Hendra tampak mulai membuka percakapan serius dengan Axel.
"Jadi gimana soal proyek pelabuhan itu, Axel? Aman semuanya?" tanya Om Hendra, memecah kesunyian.
Axel hanya menjawab dengan gumaman rendah, "Hmm. Selesai," jawabnya singkat. Ia memang pria yang sangat hemat bicara.
Om Hendra terkekeh pelan. "Ya, begitulah Axel. Dia selalu perfeksionis. Yah, memang sudah jadi ciri khas keluarga Elion untuk tidak pernah membiarkan satu detail pun luput dari pengawasan, bukan?"
Mendengar nama "Elion" disebut, Anna yang sedang menyeruput tehnya hampir tersedak. Ia tertegun, matanya membulat sempurna. Elion? Tunggu dulu...
Di dalam novel yang ia tahu, keluarga Elion adalah pemilik tahta tertinggi yang kekuasaannya mencakup seluruh dunia bisnis. Namun, di novel aslinya, latar belakang keluarga Elion tidak pernah dijelaskan secara mendetail karena cerita hanya berfokus pada dinamika drama SMA para karakter utama.
Jadi... ini keluarga Elion? batin Anna tak percaya. Ia melirik Om Hendra dan Axel bergantian. Pantas saja aura mereka begitu mencekam dan berkuasa. Dan Om Hendra ternyata kakak kandung Axel...
Anna baru menyadari bahwa ia tidak hanya berurusan dengan teman biasa, melainkan keluarga yang memegang kendali atas dunia di mana ia terjebak sekarang.
"Elion memang selalu beda level kalau urusan strategi," tambah Tante Siska menimpali. "Axel sudah mengurus ekspansi bisnis kita ke luar negeri minggu lalu, jadi dia cukup lelah."
Anna menunduk, mencoba menyembunyikan keterkejutannya. Ia merasa seperti baru saja menemukan bom waktu di tengah keluarga yang terlihat normal ini. Semalam ia mencium pria yang ternyata adalah "Raja" dari dunia ini, dan sekarang ia duduk satu meja dengan mereka. Anna merasa dunianya semakin rumit.
Gedung pencakar langit berlantai 50 itu berdiri megah di pusat distrik bisnis, menjadi simbol kekuatan absolut keluarga Elion yang tak tergoyahkan. Saat mobil mewah Axel berhenti tepat di depan lobi utama, suasana yang tadinya sibuk mendadak sunyi.
Axel keluar dari mobil dengan aura kekuasaan yang begitu pekat, mengenakan setelan jas buatan tangan yang sempurna membungkus tubuh tegapnya. Di belakangnya, Jigar, asisten pribadinya yang sigap, melangkah dengan tatapan waspada. Setiap karyawan yang berpapasan dengannya langsung menepi dan membungkuk dalam—tak ada yang berani menatap langsung mata dingin sang penguasa Elion itu. Kehadiran Axel di gedung ini sudah cukup untuk membuat siapa pun merasa kecil, mengingat Elion adalah pemegang tahta tertinggi yang kekuasaannya bahkan melampaui keluarga ternama lainnya.
Sepanjang perjalanan menuju lift pribadi, Jigar mulai melaporkan jadwal padat tuannya.
"Tuan Axel, laporan untuk pagi ini," ucap Jigar dengan nada profesional yang rendah. "Rapat dewan direksi mengenai akuisisi sektor energi akan dimulai dalam sepuluh menit. Setelah itu, Anda memiliki janji makan siang dengan gubernur untuk membahas proyek infrastruktur baru di pusat kota."
Axel terus berjalan tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang datar. "Bagaimana dengan sisa saham di perusahaan De Luca?"
"Sesuai perintah Anda, kami sudah mulai menarik dukungan perlahan," jawab Jigar tenang. "Tanpa suntikan dana dari keluarga Elion, mereka mulai menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan di pasar saham. Semua sesuai rencana Anda, Tuan."
Axel hanya mengangguk tipis saat pintu lift terbuka. Baginya, menggerakkan ekonomi sebuah negara atau menjatuhkan keluarga berpengaruh sekelas De Luca hanyalah bagian dari rutinitas harian keluarga Elion. Namun, jauh di sudut pikirannya, bayangan wajah polos Anna dan sensasi manis dari ciuman semalam masih sesekali melintas, mengusik kontrol dirinya yang biasanya tak tergoyahkan.
Di kediaman De Luca, suasana terasa sangat mencekam. Suara hantaman meja yang keras bergema di seluruh ruangan kerja yang luas itu.
"BRAKK!"
Marco De Luca, ayah dari Kiel, berdiri dengan wajah memerah karena emosi yang meluap. Napasnya memburu saat ia menatap tajam ke arah laporan keuangan yang berantakan di atas mejanya.
"Bagaimana bisa?! Bagaimana mungkin saham kita melemah secepat ini?!" teriak Marco dengan suara menggelegar. "Bahkan keluarga Elion... mereka mulai menarik dukungannya perlahan-lahan! Tanpa pasokan dana dan pengaruh dari Elion, posisi kita benar-benar di ujung tanduk!"
Marco berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Ia tahu betul bahwa di dunia ini, keluarga Elion adalah raja, dan De Luca selama ini sangat bergantung pada koneksi mereka. Jika Elion benar-benar memutus hubungan, kejayaan De Luca yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam semalam.
"Pokoknya kita harus bisa mendapatkan pasokan lagi!" perintah Marco kepada orang-orang kepercayaannya. "Cari cara apa pun! Kita harus memastikan perusahaan ini aman. Kalau perlu, kita harus menemui langsung Axel Van Elion dan memohon agar dia tidak menarik investasinya. Kita tidak boleh hancur hanya karena kehilangan dukungan mereka!"