NovelToon NovelToon
Kanvas Di Balik Baluwarti

Kanvas Di Balik Baluwarti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi / Kerajaan / Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Di tengah kaku dan dinginnya protokol Keraton Amarta, Arya Wijaya, sang Raja muda, merasa hidupnya hanyalah pengabdian tanpa warna. Segalanya berubah saat ia bertemu dengan Sekar, seorang guru taman kanak-kanak yang juga seorang pelukis berbakat. Sekar adalah perwujudan dari keanggunan yang bersahaja—lembut dalam tutur kata, ceria dalam bersikap, dan memiliki jiwa bebas yang dituangkannya ke atas kanvas. Bagi Arya, Sekar adalah jendela menuju dunia yang lebih manusiawi. Namun, bagi tembok keraton, Sekar hanyalah rakyat jelata yang dianggap tak layak bersanding dengan takhta. Saat Arya dihadapkan pada tuntutan perjodohan politik demi stabilitas kerajaan, ia harus memilih: mempertahankan mahkota yang hampa, atau memperjuangkan cintanya pada sang pelukis yang telah mewarnai kembali hatinya. Sebuah kisah tentang benturan antara tradisi yang kaku dan cinta yang tulus, di mana keanggunan seorang wanita biasa diuji di hadapan kemegahan istana yang penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sumpah di Keheningan Peraduan

Sebelum kaki Arya melangkah menuju Bangsal Utama untuk menghadapi pengkhianatan yang paling nyata, ia kembali ke sisi ranjang Sekar. Di kamar yang tenang itu, cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela seolah menyinari wajah Sekar yang tampak begitu suci dalam tidurnya.

Arya berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan Sekar yang masih terasa lembut namun tak berdaya. Ia menempelkan tangan itu ke pipinya, memejamkan mata, dan membiarkan satu tetes air mata jatuh mengenai jemari Sekar.

“Sekar… cahayaku,” bisiknya dengan suara yang bergetar hebat. “Sebentar lagi, aku akan melangkah ke medan perang yang berbeda. Bukan perang melawan musuh di luar batas negara, melainkan perang melawan darahku sendiri demi kehormatanmu.”

Arya menarik napas panjang, mencoba menahan isak tangis yang menyesakkan dadanya. “Restuilah langkahku, Sayang. Jangan biarkan kemarahanku melampaui keadilan, tapi jangan pula biarkan cintaku pada Ibu mengalangi kebenaran. Aku melakukan ini agar tidak ada lagi yang berani menyentuh kesucian hatimu.”

Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Sekar, membisikkan doa yang paling tulus yang pernah ia ucapkan. “Bangunlah, Sekar… aku memohon pada semesta, bangunlah dari mimpi panjangmu. Aku telah menyiapkan dunia yang lebih baik untukmu. Aku menunggumu di ujung kegelapanmu. Kembalilah padaku, kumohon…”

Setelah beberapa saat dalam keheningan doa, Arya bangkit. Raut wajahnya berubah drastis. Kesedihan yang tadinya meluap kini membeku menjadi es yang mematikan. Ia merapikan beskap hitamnya, memasang keris pusaka Kiai Naga Siluman di pinggangnya, dan mengenakan kembali cincin kerajaan.

Ia keluar dari kamar, di mana Seno dan Ki Ageng Suro telah menunggu dengan wajah yang kaku.

“Apakah mereka sudah di sana?” Tanya Arya, suaranya dingin dan tanpa emosi.

“Sudah, Gusti Prabu,” jawab Seno. “Ibu Suri dan Raden Ajeng Nastiti sedang menikmati hidangan pembuka di Bangsal Utama. Mereka tampak sangat bahagia, seolah-olah istana ini sudah sepenuhnya milik mereka.”

“Bagus,” desis Arya. “Biarkan mereka merasa di atas langit untuk beberapa menit terakhir. Mari kita tunjukkan bagaimana Amarta menghukum ular yang bersembunyi di dalam rumah.”

Di Bangsal Utama, suasana tampak begitu meriah. Meja panjang jati beralas kain beledu merah penuh dengan hidangan langka—ayam cemani bakar, ikan seluang madu, hingga buah-buahan yang dikirim dari negara lain. Nastiti tertawa kecil saat menyesap minuman madu hangat dari cangkir emas, sementara Ibu Suri duduk dengan angkuh, memimpin pembicaraan dengan beberapa menteri yang sebenarnya adalah orang-orang Arya yang sedang menyamar.

“Arya memang anak yang berbakti,” ucap Ibu Suri dengan nada sombong. “Dia tahu bahwa saat hatinya hancur, hanya pelukan ibunya yang bisa menyelamatkannya.”

Nastiti mengangguk, matanya berkilat penuh kemenangan. “Dan dia butuh pendamping yang kuat, Ibu. Amarta tidak butuh ratu yang rapuh dan hanya bisa melukis. Amarta butuh kemegahan.”

Tepat saat Nastiti hendak menyuapkan potongan buah ke mulutnya, pintu besar Bangsal Utama berdentum terbuka.

Langkah kaki Arya Wijaya bergema di lantai marmer, keras dan berwibawa. Namun, ia tidak datang dengan senyuman. Ia datang dengan langkah seorang algojo. Di belakangnya, barisan pasukan Jagabaya bersenjata lengkap segera menyebar, menutup seluruh pintu keluar dan mengelilingi meja perjamuan.

Senyum Nastiti memudar. Ibu Suri meletakkan sendok peraknya, dahinya berkerut. “Arya? Putraku? Kenapa kau membawa pasukan ke tengah jamuan makan keluargamu?”

Arya berhenti di ujung meja, menatap mereka berdua dengan tatapan yang membuat udara di ruangan itu seolah membeku. Ia tidak duduk. Ia tetap berdiri, menjulang tinggi di atas mereka.

“Jamuan ini bukan untuk merayakan kepulangan kalian,” suara Arya menggelegar, namun menghancurkan. “Jamuan ini adalah jamuan terakhir sebelum kalian mempertanggungjawabkan setiap tetes racun yang kalian masukkan ke dalam gelas Sekar Arum.”

Nastiti pucat pasi, cangkir emas di tangannya jatuh dan berdenting keras di lantai. “Mas… Mas Arya… apa yang kau bicarakan? Nimas Sekar meninggal karena takdir…”

“DIAM!” raung Arya. “Seno! Bawa pengkhianat itu ke depan mereka!”

Seno menyeret Ningsih yang terantai ke tengah ruangan. Wanita tua itu bersimpuh sambil menangis sejadi-jadinya, menunjuk ke arah Ibu Suri dan Nastiti.

“Sekar Arum tidak meninggal,” ucap Arya dengan nada yang rendah namun mematikan. “Dia sedang berjuang melawan maut yang kalian kirimkan. Dan malam ini, maut itu akan kembali kepada pengirimnya. Ibu… Nastiti… selamat datang di pengadilan Amarta.”

Panggung kemenangan yang baru saja dirasakan oleh Ibu Suri dan Nastiti hancur seketika, berubah menjadi jerat kematian yang kini mulai mencekik leher mereka sendiri. Arya telah berdiri sebagai hakim, siap membalas setiap inci penderitaan yang dirasakan oleh Sekar.

1
NP
Wah, makasih ya kak udah dingatkan, jujur pas awal bikin ini, ide nya terinspirasi drama nya iu.. wkwk.. masukan ya kak, jadi ga mikir taun setting nya.. nti aku revisi ya kak 🤗🙏
Niar Humairah
Thor, ini setting cerita kira" tahun atau abad berapa Thor?
Ganendra Dimitri
bagus banget thor ceritanya
NP: Makasih ya kak
total 1 replies
Ganendra Dimitri
ceritanya menyentuh banget thor.... kapan negriku punya pemimpin kayak di cerita ini😍😍
NP: Semoga ya kak, suatu saat nanti ada pemimpin negeri yg lebih mencintai rakyatnya
total 1 replies
Esti 523
sepertinya bagus nih
NP: Semoga suka ya kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!