NovelToon NovelToon
Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Shofiyah 19

Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Keesokan harinya sekitar pukul 9 pagi Asya sudah tiba di Indonesia. Ia pulang ke rumah dulu sebelum ke rumah sakit tempat kakaknya dirawat.

Asya berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Ia mencari ruang rawat kakaknya setelah bertanya kepada salah seorang perawat. Langkah Asya begitu berat saat melihat anggota keluarganya di depan ruang rawat. Apalagi di sana ada salah satu orang yang sangat dihindarinya selama ini.

"Assalamualaikum," salam Asya lembut

Semua orang menoleh sambil menjawab salam itu. Mata kedua orang tua dan abangnya berkaca-kaca melihat kedatangan seseorang yang sangat dinantikan kehadirannya.

Asya menyalami tangan kedua orang tuanya bergantian. Lalu beralih pada abang tersayangnya. Grep. Raffa memeluk adik bungsunya sangat erat.

"Kamu itu suka sekali jauh dari keluarga sampai 3 tahun. Udah gitu nggak pernah pulang," omel Raffa setelah melepaskan pelukannya

"Maaf Bang selama ini Asya terlalu fokus menyelesaikan pendidikan biar cepet pulang," ucap Asya terkekeh

"Kamu tinggal wisuda aja kan?," tanya Raffa

"Iyalah adiknya Abang kan jenius," ucap Asya

"Dih sombongnya," ucap Raffa sinis

Asya menyalami umi Syakira serta mengatupkan kedua tangannya pada pak kyai. Asya pamit masuk ke ruangan Anisa.

Asya berjalan perlahan menuju kakaknya yang sudah terpasang berbagai alat rumah sakit itu. Sesekali ia mengusap air matanya yang jatuh.

Asya duduk sambil menggenggam tangan Anisa.

Perlahan Anisa menggerakkan tangannya. Ia membuka matanya perlahan. Asya tersenyum melihat kakaknya sadarkan diri. Asya memberi tau Kafka yang duduk di sofa ruang rawat itu.

"Gus, kak Anisa sudah sadar," ucap Asya memberitahu

Gus Kafka bergegas menghampiri istrinya. Anisa memandang Asya dan gus Kafka bergantian.

"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian," ucap Anisa yang masih lemas

"Jangan terlalu banyak bicara dulu. Kamu masih baru siuman," ucap gus Kafka sambil mengelus kepala Anisa

Asya tersenyum miris melihat pemandangan itu. Anisa menyentuh tangan Asya sambil menatap adiknya sendu.

"Kenapa kamu nggak bilang sama Kakak?," tanya Anisa

"Bilang apa?," ucap Asya heran

Anisa tersenyum lalu memandangi gus Kafka dan Asya bergantian.

"Maafin aku yang sudah menjadi penyebab berpisahnya kalian," ucap Anisa lirih

Deg

Asya dan gus Kafka saling menatap. Lalu sedetik kemudian memutuskan kontak mata itu.

"Kak-," ucap Asya terpotong

"Kakak udah jahat banget sama kamu. Kakak udah menjadi penghalang bersatunya kamu dengan kekasih impian kamu. Kakak emang sangat buruk. Kakak sudah menghancurkan hidup kamu, Dek. Padahal Kakak sangat tau bahwa kamu tidak bisa jauh dari keluarga. Kamu bahkan nggak pulang selama 3 tahun," ucap Anisa terisak

Asya menggelengkan kepalanya. Ia memeluk kakak keduanya itu dengan hati-hati. Air matanya meluncur begitu derasnya. Gus Kafka menatap sendu keduanya.

"Kakak nggak pernah nyakitin aku. Jangan merasa bersalah ya. Semua ini sudah menjadi takdir Allah. Gus Kafka yang jadi jodoh Kakak. Manusia hanya bisa berencana tetapi tetap Allah yang menentukan," ucap Asya sambil mengusap air mata Anisa

Asya tersenyum menatap kakak keduanya itu. Ia menunjukkan bahwa semua sudah baik-baik saja. Anisa menggeleng sambil mengelus punggung tangan Asya. Anisa beralih menatap suaminya.

"Mas," panggil Anisa lirih

Gus Kafka tersenyum sambil mengusap kepala Anisa. Ia menggenggam tangan Anisa lembut.

"Aku rela jika kamu mau talak aku dan menikahi Asya," ucap Anisa yang membuat keduanya terkejut

"Kakak!," ucap Asya dengan nada tinggi

"Apa yang kamu katakan, sayang?," ucap gus Kafka

"Aku hanya ingin mewujudkan keinginan kalian untuk hidup bersama," ucap Anisa lirih

"Aku tidak akan menikahi kakak iparku sendiri," desis Asya

"Kakak mohon, Dek," pinta Anisa

Asya menghela napasnya. Ia menatap datar Anisa.

"Jangan mengambil keputusan sepihak. Kakak ingin menghancurkan hati semua orang? Kakak egois banget. Apa Kakak tidak pernah berpikir konsekuensinya. Bahkan anak kalian baru saja dilahirkan. Aku pulang ke Indonesia untuk menemui keluargaku. Aku ingin melepas rindu dengan kalian. Aku tidak ingin ada hal kayak gini. Kita sudah punya porsi bahagia masing-masing," ucap Asya tegas

"Dek, aku-," ucap Anisa terpotong

"Asya tetap tidak akan menuruti permintaan konyol ini. Asya keluar dulu, assalamualaikum," ucap Asya lalu keluar ruangan

"Waalaikumsalam," jawab Anisa dan gus Kafka

"Mas tidak akan menceraikan mu apapun yang terjadi," ucap gus Kafka lalu memeluk Anisa

Anisa terisak pelan dalam dekapan suaminya. Ia terlalu terburu mengambil keputusan tanpa memikirkan bagaimana resikonya.

Di sisi lain, Asya tengah duduk di bangku taman dekat rumah sakit. Berulang kali ia mengucap istighfar. Asya menatap kosong pemandangan di depannya. Hingga tiba-tiba dikejutkan dengan seseorang yang mengusap kepalanya.

Asya mendongak menatap orang tersebut. Ternyata Raffa yang datang. Ia tak datang sendiri melainkan dengan istrinya yang baru dijemputnya.

"Abang, Kak Lisa," ucap Asya lalu menyalami keduanya

Asya mempersilakan keduanya untuk duduk. Keduanya duduk dengan Asya yang berada di tengah.

"Kenapa sendirian di sini?," tanya Raffa

"Em lagi ngadem aja," jawab Asya

Raffa memicingkan matanya menatap adik bungsunya. Asya gelagapan dengan perlakuan abangnya.

"Apa yang kamu sembunyikan dari Abang?," ucap Raffa dingin

Asya menggigit bibir bawahnya. Raffa sangat teliti orangnya. Ia tau bahwa adiknya sedang berbohong. Lisa mencubit gemas lengan suaminya.

"Kamu itu jangan galak-galak by," ucap Lisa

"Kak Lisa terbaik," ucap Asya sambil memeluk Lisa dari samping

Lisa mengelus kepala Asya dengan lembut. Ia tau bahwa adik iparnya itu sedang banyak pikiran.

"Cerita aja sama kita," ucap Lisa

Asya menghela napasnya. Lalu menceritakan semua kepada Raffa dan Lisa tentang apa yang terjadi di ruang rawat Anisa.

"Maafin Abang, Dek," ucap Raffa

"Kenapa Abang minta maaf?," tanya Asya heran

"Anisa tau alasan kamu ke luar negeri karena tidak sengaja mendengar pembicaraan Abang sama kak Lisa," ucap Raffa lirih

"Lalu apakah abi dan umi juga tau?," tanya Asya lirih

Raffa menganggukkan kepalanya. Rahasia yang disembunyikan selama ini sudah terbongkar.

"Abi menyalahkan dirinya sendiri karena abi merasa menyakiti salah satu putrinya hingga memutuskan untuk menjauh dari keluarga bahkan satu kali pun tidak pulang. Umi juga menyalahkan dirinya karena sebagai ibu tidak peka atas rasa sakit anaknya," ucap Raffa

"Kakak nggak bisa bayangin gimana kamu melanjutkan hidup setelah patah hati seperti itu," ucap Lisa

"Udahlah Bang, Kak. Semua itu sudah berlalu. Biarkan jadi masa lalu. Asya sudah mengikhlaskan semuanya. Asya percaya bahwa Allah pasti akan menghadirkan sosok yang lebih baik untuk menjadi pasangan hidup Asya nantinya," ucap Asya lalu tersenyum

Raffa dan Lisa tersenyum lega menatap Asya yang sudah berdamai dengan keadaan itu.

'Semoga kamu mendapatkan jodoh terbaik dari Allah' batin seseorang yang menatap ketiganya

1
Mrs. Ren AW
mampir baca, semoga menarik ceritanya 😍
Mrs. Ren AW: siaaaappp kak author 😍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!